17 September 2007

[cerpen] Maaf Akh, Saya Tidak Bisa Menerimamu

Pagi itu, Senin 6 Agustus 2007, pukul 9.30, handphone CDMA-ku berdering, tampil di layarnya sebuah nama yang sudah sangat ku kenal.

"Assalamualaikum", aku sapa duluan dengan ramah, "wa'alaikumsalam" ia menyahut, "ada apa akh?", aku bertanya melanjutkan. Sejenak ia tertegun. "Hani, saya telpon jam segini, ganggu ngga?", dia mulai melanjutkan pembicaraan, "ngga kok", sahut diriku singkat, "begini, mau tanya, Hani sekarang sedang dalam proses ta'aruf dengan seseorang ngga?", suaranya terdengar gugup, "emang kenapa?", responku pelan dengan sedikit terkejut yang kusembunyikan, "ya mau tau dulu", dia menjawab, "ya kenapa dulu" aku berbalik bertanya, he3x... memang aku ini agak keras kepala ya... "Hmmm... kalau tidak sedang proses ta'aruf dengan seseorang, saya mau mengajukan diri untuk berproses denganmu", suaranya terdengar sangat grogi, "sudah yakin?", aku memastikan, "sudah istikhara dulu belum?", aku tambahkan, "Ya Allah ni, ini juga dah beberapa kali mau telp tapi ngga jadi jadi melulu" dia menyahut, "ya udah kalau gitu, saya minta waktu dulu ya", dan ngga usah tegang gitu dong", aku sedikit mencandainya, "he he he, ya udah, silakan dipikirkan dulu". Lalu pembicaraan via telpon itu terhenti.

Sejurus kemudian ada SMS yang masuk.
"Assalamualaikum. Wuih ngga nyangka, akhirnya bisa juga terucap kata-kata itu. Itu serius ya ni, jadi mohon dipikirkan baik-baik. Saya memberikan waktu satu minggu, jika Hani berkenan, nanti kita berproses lewat perantara aja, saya minta nomor telpon dan nama perantara yang Hani punya. Semoga Allah memberikan limpahan kebaikan bagi kita."

Ya Allah... perasaan hati ini bergejolak. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang saya rasakan sekarang. Apakah senang, gembira, terkejut, marah, kecewa, atau mati rasa...

---

Akh Ipin adalah salah seorang teman sekelasku. Dulu, sewaktu masih mahasiswa, kami memang sudah sering beraktivitas bersama, meskipun secara resmi saya beraktivitas di Senat Mahasiswa Fakultas dan dia salah seorang anggota Badan Pengurus Harian Rohis Fakultas, kami memang sudah beberapa kali beraktivitas bersama, baik di acara-acara umum maupun dalam acara-acara kelas. Kami dan beberapa teman yang lain memang memiliki kesamaan visi agar bisa membuat kelas yang kami tempati menjadi lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan keislaman teman-teman kelas yang lain.

Saya pun mengetahui bagaimana transformasi besar yang terjadi pada dirinya. Jika dulu sewaktu ia masuk ke kampus dengan gaya yang unik, jeans belel dan rambut gondrong yang tidak terurus, namun karena komitmen terhadap mentoring yang ia ikuti merubah banyak hal dalam dirinya. Lambat laun ia menjadi salah satu bagian dari mesin penggerak dawah di fakultas kami.

Dan ia pun merupakan pribadi yang unik. Kombinasi antara komitmen keislamannya dipadu dengan kecerdasan intelektual dan hubungannya yang baik dengan teman-teman non Rohis telah banyak membawa kebaikan.

Namun sudah satu tahun kami berpisah, kami wisuda tahun 2006, dan setelah itu masing-masing sibuk dengan aktivitasnya profesinya masing-masing. Ia memilih bergelut di jalur swasta sedang saya tetap berada di kampus sebagai asisten dosen dan bekerja di bagian Mutu untuk program Magister Administrasi Pelayanan Kesehatan.

Berapa kali saja kami pernah bertemu dalam acara nikahan teman, acara kumpul-kumpul kelas dan saat dia sedang berada di kampus tuk mengikuti forum komunikasi mahasiswa dan alumni departemen tempatnya mengambil studi sewaktu kuliah dulu.

---

Tiga hari setelah telpon itu, ia berkirim SMS menanyakan jawabannya:
"Assalamualaikum. gimana Hani? Apakah sudah ada jawaban?"

Aku kirim balik SMS jawaban:
"Wassalam. Saya kan masih punya waktu tiga hari lagi. Pernikahan bukan hal yang sembarangan, sehingga saya butuh pertimbangan yang matang. Sampai selama ini, mohon antum tadaburi kembali Hadits Arba'ain nomor 1. Afwan."

Lalu ku dapat lagi SMS dari akh Ipin lagi:
"Iya, afwan, bukan bermaksud tergesa-gesa/terburu-buru, tapi kemarin Hp sedang ada problem, dan ada SMS yang masuk tapi tidak terbaca, saya khawatir itu dari kamu. Ya sudah, silakan ambil waktunya, tapi jika sampai melewati waktu tersebut tidak ada keputusan, maka saya akan menganggap Hani tidak berkenan tuk melanjutkan proses, dan saya akan akan berikhtiar dengan cara lain tuk mencari pasangan hidup."

Hmmm, kenapa ya ia sepertinya tergesa-gesa, apakah ini merupakan pertanda yang tidak baik? Keraguan segera menyelimuti diriku.

---

Apakah dulu saya pernah mengotori hatinya dalam beramal..? Aduh... pertanyaan ini membuatku sesak. Memang beberapa teman telah sering memperingati diriku bahwa hal ini lambat laun pasti akan terjadi, dan aku harus mempersiapakan hal ini. Tapi saya tidak menyangka bahwa hal itu terjadi pada dirinya...

Tidak bisa kupungkiri bahwa diriku memang tidak cantik cantik amat, tapi kalau untuk dibilang jelek, akan sangat susah.

Apakah setan telah bermain dalam dirinya.... Aduh....

----

Hari ini saya dan teman-teman satu pengajian baru saja menghadiri acara kajian yang dibawakan oleh ustadz Anis Matta LC di Masjid At-Taqwa Pasar Minggu, tema yang dibawakan adalah mengenai Persiapan Menuju Pernikahan.

Beliau berkata bahwa bekal persiapan menikah ada empat macam, persiapan pengetahuan, persiapan psikologis, persiapan fisik dan persiapan finansial.

Persiapan pengetahuan meliputi pengetahuan mengenai ideologi keislaman, pengetahuan visi pribadi, pengenalan mengenai konsep diri (yang nantinya akan mengarah kepada pemilihan pasangan yang tepat untuk diri kita, dan penerimaan terhadap kelebihan-kekurangan pasangan), hak-hak suami-istri, pengetahuan dasar kesehatan dan seksual, serta pengetahuan pendidikan anak. Persiapan psikologis mengenai kematangan emosi. Persiapan fisik mencakup kematangan organ reproduksi dan kesiapan fisik. Sedang persiapan finansial menceritakan mengenai kemampuan dalam hal keuangan keluarga.

Hmmm, sepertinya masih ada banyak hal nih yang perlu kubenahi sebelum melangkah lebih jauh ke jenjang pernikahan nih, aku bergumam pelan dalam hati.

---

Setelah beberapa hari ini saya shalat istikhara dan berkonsultasi dengan pembimbing keislaman yang selama ini membina diri saya, ku buat sebuah jawaban dalam bentuk email kepada akh Ipin.

"Asssalamualaikum wr wb

Apa kabar iman? Semoga selalu menapak maju.
Apa kabar hati? Semoga tetap bersih dari kelabu.
Apa kabar jasad? Semoga terus berpeluh meraih Ridho-NYA.

Pertama-tama saya mohon maaf jika baru bisa memberikan jawabannya sekarang, karena pernikahan adalah suatu hal yang besar, makanya Quran menyebutnya dengan ungkapan "Perjanjian yang Kuat" (QS. 4: 21)

Yang kedua, mohon maaf sekali lagi akh, karena sampai sekarang saya belum diberikan kemantapan hati tuk melanjutkan proses ini dengan antum.

Dengan dua alasan utama, pertama karena ada perhatian lebih yang harus saya curahkan kepada keluarga dan kedua masih ada banyak hal yang perlu saya persiapkan sebelum menapaki biduk rumah tangga.
Sekali lagi mohon maaf, Semoga tidak ada kekecewaan yang berlebihan dalam diri antum dan saya yakin bahwa antum kan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari saya.

Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. 6: 18)

Astagfirullah hal adzim
Wassalamualaikum wr wb"

Ku tekan tombol send yang ada di layar komputer ku dengan tangan yang sedikit bergetar.
Sebetulnya ada beberapa paragraf yang ku hilangkan dari dalam surat tersebut. Paragraf tersebut adalah sebagai berikut.

"Terus terang saya kecewa terhadap diri saya sendiri, mengapa akhirnya engkau, orang yang ku kagumi malah menjadi seperti ini.
Apakah diriku telah memberikan fitnah yang cukup besar tuk dirimu lawan wahai akhi...
Apakah perjuangan yang dulu tlah kita lalui bersama terkotori oleh bisikan setan yang terkutuk wahai akhi...
Sungguh saya pun manusia biasa seperti dirimu. Dan sungguh sudah cukup keras usaha yang ku lakukan dalam menghalangi munculnya rasa ini dalam dada ketika kita berjibaku dalam amal nyata.

Dan terlebih lagi, saya kecewa terhadap dirimu...
Jika saja kau mau bersabar, tentu kau kan bisa mendapatkanku...
Jika saja cara-cara yang kau gunakan tidak meragukan diriku, tentu kan kuterima tawaranmu dengan hati yang penuh suka cita perjalanan sunnah yang mulia ini.

Dan sungguh kau pun tahu bahwa sesungguhnya aku tidak punya alasan yang berarti dalam menolakmu.
Namun harus kuambil keputusan yang berat ini.
Entah apa yang telah merubah dirimu, namun ku merasa engkau tidak lagi satu visi dengan diriku.
Kau bukanlah orang yang tepat tuk diriku. Pergilah jauh dari diriku, agar tidak sia-sia amalku selama ini...

(Jawaban yang kutulis dengan linangan air mata)
-Hani binti Azkam-

---000---

Catatan:
Dalam cerpen ini, taaruf adalah sebuah istilah yang mengalami penyempitan makna. Makna aslinya adalah berkenalan, namun di cerpen ini, taaruf yang dimaksud adalah sebuah proses perkenalan/saling mengeksplore yang lebih intensif/terbuka antara seorang wanita dan pria untuk tujuan pernikahan.

Jakarta, 18 Agustus 2007
Syamsul Arifin
Alhamdulillah… Akhirnya, sampai juga ke titik (.) Maafkan aku ya…
*Cerpen ini bersambung ke cerpen "Kegigihan adalah Nafas dari Cinta"

[cerpen] Kegigihan adalah Nafas dari Cinta

Ibnu Abbas ra berkata, “Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits, seakan-akan aku melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, air matanya menetes sampai ke jenggotnya. Nabi SAW berkata kepadaku , “Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub pada cinta Mughits pada Barirah..." (HR Bukhari)

---

Hiks... setelah membaca email dari Hani, tubuhku merosot turun dari bangku yang kududuki, lututku terbentur lantai. Pandangan kosong, tubuhku serasa hancur berkeping-keping, dan dunia serasa gelap gulita.

Tidak ku sangka jawaban itu yang keluar dari dirinya. Semua harapan dan impian sirna terhempas realita. Dia telah menolakkan, dia telah menampik tawaranku tuk ta'aruf dengannya.

---

Hari ini, kupasang status "menghapus jejakmu..."*) di YM ku. Kuredam segala keinginan dalam diri tuk memiliki dirinya.

Baru setelah lulus satu tahun dari kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, aku merasakan rasa ketertarikan kepada sesosok akhwat bernama Hani. Hani memang cantik secara fisik, dan itupun diakui oleh banyak laki-laki yang normal di kampusku. Namun yang lebih menarik hatiku adalah semangat da'wah yang membara pada dirinya, kecerdasan dan kemampuan komunikasinya yang telah memikatku. Dalam banyak hal, ia lebih tepat ku anggap sebagai akhwat galak dibandingkan akhwat yang lembut, namun dalam beberapa kesempatan ku perhatikan ia mampu memainkan peranannya dengan baik sekali, jika dengan teman-temannya di Senat Mahasiswa Fakultas, ia merupakan sosok yang supel dan ramah, sehingga banyak orang yang dengan mudah dekat pada dirinya, namun dalam beberapa kesempatan, tak jarang ia sangat tegas sekali, bahkan bisa dibilang keras kepala dan sulit diajak kompromi.

Kami memang beberapa kali terlibat kerja bareng bersama di beberapa kepanitiaan, baik acara yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa maupun acara-acara yang diselenggarakan oleh Rohis tempat dimana aku beraktifitas. Dan Subhanallah, hanya ada satu kata yang dapat menggambarkan dirinya, akhwat qawwiy alias akhwat yang "kuat".

---

Hiks... hari ini adalah hari ketiga dimana aku berkabung. Ku pasang status "maafkan aku yang tak sempurna tuk dirimu..."**) di YM ku.

Hari ini adalah hari ketiga setelah ku baca email yang berisi penolakannya tuk melanjutkan proses menuju ta'aruf.

Ah... besok mau cerita sama pembina keislaman yang selama ini membina ku ah...

---

Aku dimarahi habis-habisan oleh sang pembina, beliau sepertinya  kecewa dengan sikapku... aduh jadi tak enak hati nih.

Sebetulnya beliau sangat sayang kepadaku, dan itu dapat kulihat dari nasehat yang ia berikan kepada kami semua (para peserta kajian keislaman rutin terpadu). Di akhir nasihat, beliau menawarkan dua pilihan kepadaku, tetap memilih Hani dengan melalui fasilitasi dari beliau atau dicarikan akhwat lain. Aku dengan cepat menyambut pilihan kedua. Namun ternyata beliau melanjutkan tausyiahnya dengan menjelaskan mengenai makna kegigihan.

"Kesuksesan di dapat setelah pertarungan panjang konsistensi dan kegigihan. Disitu teruji motivasi dan daya tahan seseorang, visinya, kekuatan cita-citanya, dan kesabaran imannya.

Janganlah bersedih jika waktu yang kita keluarkan belum jua menelurkan kesuksesan, jangan berhenti jika usaha yang kita lakukan belum juga menghasilkan kesuksesan seperti yang kita harapkan. Semua itu membutuhkan proses, agar keringat dan air mata yang kita keluarkan dapat mengkristal menjadi permata yang indah.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al Insyiraah: 5-6)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankaabut:69)

Jika engkau benar-benar cinta, tunjukkanlah rasa cinta itu dalam keteguhan dan kegigihan memperjuangkan cinta."

Hmmm... membangkitkan semangat lagi nih...

Aku memang cinta pada beliau... terima kasih ustadz...

---

Jangan pernah putus asa, karena sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf: 87) dan orang-orang yang sesat (QS. Al-Hijr: 56).


---000---

*) Lagu Menghapus Jejakmu oleh Peterpan
**) Lagu Kisah tak Sempurna oleh Samson

Jakarta, 22 Agustus 2007
Syamsul Arifin
"Jadi bagaimana ukhti, apakah masih ada secercah harapan bagi diriku…?"
*Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen "Maaf Akh, Saya Tidak Bisa Menerimamu" dan bersambung ke cerpen "Ketika Cinta Harus Menang"

15 September 2007

How Does the Heart Fast?*

By Aa'id Abdullah Al-Qarni

[And if anyone believes in Allah, Allah guides his heart] (At-Taghabun 64:11)

Having a guided heart is the basis of all guidance, the secret of all success, the origin of every good deed, and the core of every action. Illuminating this fact, The Prophet said

Truly there is a piece of flesh in the body which if it should be wholesome, the whole body will be healthy, and if it should be corrupt the whole body will be corrupt. Truly it is the heart.

Thus the goodness of your heart is the guarantee of your happiness in this world and in the hereafter. Likewise, the heart's corruption is the surest way to destruction.

The heart of the believer fasts during Ramadan and in the whole year. The fasting of the heart is done by purifying it from all sorts of corruption, including the different forms of shirk (associating others with Allah), false beliefs, evil suggestions, filthy intentions, and degenerate thoughts.

The believer's heart is adorned with the love of Allah. It shines like the sun and increases in faith whenever the believer listens to the verses of the Qur'an. It grows in conviction when it contemplates its verses, and increases in guidance when it reflects on its provisions.

O Allah, guide our hearts to the straight path!


*Excerpted with some modifications from www.discover-islam.com.

Aa'id Abdullah Al-Qarni is a prominent Saudi scholar and da`iyah. He has made many audio lectures and a number of TV programs. He has a doctorate in Hadith.

Source: islamonline.net

12 September 2007

My Last Day at Sya'ban 1428 H

Today is my last day at this year sya’ban, tonight I will enter the holy ramadhan month.

I have to feel happy nih, since prophet Muhammad saw had said that the people whom happy during the ramadhan will be granted with a lot of kindness.

If I can not feel that kind of happiness… maybe I need to force it/pretend that I’m happy  can we do like that ??? ha3x

Just like crying during shalat...

So... can we feel like we are happy during ramadhan..?

Or what did you feel during ramadhan? feel happy/sad/just like ussual(nothing special)?

11 September 2007

Kesalahan yang Sering Di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, musim berbagai macam ibadah seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur'an, bersede-kah, berbuat baik, dzikir, do'a, istighfar, memohon Surga,  berlindung dari masuk Neraka serta macam-macam ibadah dan amal kebajikan lainnya.

Orang yang beruntung adalah yang menjaga setiap detik waktunya, baik di siang atau malam hari untuk berbagai amal perbuatan yang menjadikannya berbahagia serta lebih dekat kepada Allah, sesuai dengan yang diperintahkan, tanpa menambah atau mengurangi. Karena itu, setiap muslim wajib belajar tentang hukum-hukum puasa.

Sayangnya, tak sedikit orang yang melalaikan masalah ini, sehingga banyak terjerumus pada kesalahan-kesalahan. Di antara kesalahan-kesalahan yang jamak (umum) dilakukan orang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah:


1. Tidak mengetahui hukum-hukum puasa serta tidak menanyakannya. Padahal Allah berfirman: "Maka bertanyalah kepada orang yang  mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui." (An-Nahl: 43).
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya." ( Muttafaq Alaih).

2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan hura-hura dan bermain-main. Padahal yang seharusnya  adalah menyambut bulan yang mulia tersebut  dengan dzikir dan bersyukur kepada Allah, karena masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan. Lalu hendaknya ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, kembali kepada Allah serta melakukan muhasabatun nafs (perhitungan dosa-dosa pribadi), baik yang kecil maupun yang besar, sebelum datang hari Perhitungan dan Pembalasan atas setiap amal yang baik maupun yang buruk.

3. Ta'at hanya di bulan Ramadhan. Sebagian orang, bila datang bulan Ramadhan mereka bertaubat, shalat dan puasa. Tetapi jika bulan Ramadhan telah berlalu mereka kembali lagi meninggalkan shalat dan melakukan berbagai perbuatan  maksiat.  Alangkah  celaka  golongan orang seperti ini, sebab mereka tidak mengetahui Allah Ta'ala kecuali di bulan Ramadhan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Tuhan bulan-bulan pada sepanjang tahun adalah Satu jua?  Bahwa maksiat itu haram hukumnya di setiap waktu? Bahwa Allah Ta'ala mengetahui perbuatan mereka di setiap saat dan tempat?

Karena itu, hendaknya mereka bertaubat kepada Allah Ta'ala dengan taubat nashuha (sebenar-benar taubat), meninggalkan maksiat serta menyesali apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, selanjutnya berkemauan kuat untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Dengan demikian insya Allah taubat mereka akan diterima, dan dosa-dosa mereka diampuni.

4. Beranggapan keliru. Sebagian orang beranggapan bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan di siang hari, serta untuk begadang di malam hari. Lebih disayangkan lagi, mayoritas mereka begadang dalam hal-hal yang dimurkai Allah Ta'ala, berhura-hura, bermain yang sia-sia (seperti main kartu dsb.), menggunjing, adu domba dan sebagainya. Hal-hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan mereka sendiri.
Sesungguhnya hari-hari bulan Ramadhan merupakan  saksi  ta'atnya  orang-orang yang  ta'at  dan saksi maksiatnya orang-orang yang ahli maksiat dan lupa diri.

5. Bersedih dengan datangnya bulan Ramadhan. Sebagian orang ada yang merasa sedih dengan datangnya bulan Ramadhan dan bersuka cita jika bulan Ramadhan berlalu. Sebab mereka beranggapan bulan Ramadhan akan menghalangi mereka melakukan kebiasaan maksiat dan menuruti syahwat. Mereka berpuasa sekedar ikut-ikutan dan toleransi. Karena itu mereka lebih mengutamakan bulan-bulan lain daripada bulan Ramadhan. Padahal ia adalah bulan penuh barakah, ampunan, rahmat dan pembebasan dari Neraka bagi setiap muslim yang melakukan kewajiban-kewajibannya dan meninggalkan setiap yang diharamkan atasnya, mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang.

6. Begadang untuk sesuatu yang tidak terpuji. Banyak orang yang begadang pada malam-malam Ramadhan dengan melakukan sesuatu yang tidak terpuji, bermain-main, ngobrol, jalan-jalan atau duduk-duduk di jembatan atau trotoar jalan. Pada tengah malam mereka baru pulang dan langsung sahur kemudian tidur. Karena kelelahan, mereka tidak bisa bangun untuk shalat  Shubuh berjamaah pada waktunya. Ada banyak kesalahan dan kerugian dari perbuatan semacam ini:

a. Begadang dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membenci tidur sebelum Isya' dan bercengkerama (ngobrol) setelahnya kecuali dalam hal kebaikan. Dalam hadits riwayat Ahmad, Rasulullah shallallahu a'laihi wasallam bersabda: "Tidak boleh bercengkerama kecuali bagi orang yang shalat atau bepergian." (As-Suyuthi  berkata, hadits ini hasan).

b. Sia-sianya waktu mereka yang sangat berharga. Mereka sama sekali tidak  memanfaat-kannya sedikitpun. Padahal masing-masing orang akan menyesali setiap waktu yang ia lalui tanpa diiringi dengan mengingat Allah Ta'ala di dalamnya.

c. Menyegerakan sahur sebelum waktu yang dianjurkan. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan sahur pada akhir malam sebelum terbit fajar.
Musibah  terbesar mereka  adalah tidak dapat menunaikan shalat Shubuh berjamaah tepat pada waktunya. Betapa tidak, sebab pahala shalat Shubuh berjamaah menyamai shalat satu malam atau separuhnya. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:"Barangsiapa shalat Isya'  berjamaah maka seakan-akan ia shalat separuh malam dan barangsiapa shalat Shubuh  berjamaah maka seakan-akan ia shalat sepanjang (satu) malam." (HR. Muslim dari Utsman bin Affan radhiyallahu anhu).

Orang yang meninggalkan shalat Shubuh secara berjamaah tersebut berkarakter sebagaimana orang-orang munafik,  mereka tidak melakukan shalat kecuali dalam keadaan malas, mengakhirkan waktunya dan tidak berjamaah. Mereka  mengharam-kan dirinya dari mendapatkan keutamaan serta pahala yang besar.

7. Hanya menjaga hal-hal lahiriah. Banyak orang yang menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara lahiriah seperti makan, minum dan bersenggama dengan isteri, tetapi tidak menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa secara mak-nawiyah seperti menggunjing,  adu domba, dusta, melaknat, mencaci, memandang wanita-wanita di jalanan, di toko, di pasar dan sebagainya.

Seyogyanya setiap muslim memperhatikan puasanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan dan membatalkan puasa. Sebab betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga belaka. Betapa banyak orang yang shalat, tetapi ia tidak mendapatkan kecuali begadang dan letih saja. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al Bukhari).

8. Meninggalkan shalat taraweh. Padahal telah dijanjikan bagi  orang  yang  menjalankannya  -karena iman dan mengharap pahala dari Allah Ta'ala-  ampunan akan dosa-dosanya yang telah lalu. Orang yang meninggalkan shalat taraweh berarti  meremehkan adanya pahala yang agung dan balasan yang besar ini.
Ironinya, banyak umat Islam yang meninggal-kan shalat taraweh. Barangkali ada yang ikut shalat sebentar lalu tidak melanjutkannya hingga selesai. Atau rajin melakukannya pada awal-awal bulan Ramadhan dan malas ketika sudah akhir bulan. Alasan mereka, shalat taraweh hanyalah sunnah belaka.

Benar, tetapi ia adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Khulafaur Rasyidin dan para Tabi'in yang mengikuti petunjuk mereka. Ia adalah salah satu bentuk taqarrub  (mendekatkan diri) kepada Allah Ta'ala, dan salah satu sebab bagi ampunan dan kecintaan  Allah Ta'ala kepada hambaNya. Orang yang meninggalkannya berarti tidak mendapatkan bagian daripadanya sama sekali. Kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari yang demikian. Dan bahkan mungkin orang yang melakukan shalat taraweh itu bertepatan dengan turunnya Lailatul Qadar, sehingga ia mendapatkan keberuntungan dengan ampunan dan pahala yang amat besar.

9. Puasa tetapi tidak shalat. Sebagian orang ada yang berpuasa, tetapi meninggalkan shalat atau hanya shalat ketika bulan Ramadhan saja. Orang semacam ini puasa dan sedekahnya tidak bermanfaat. Sebab shalat  adalah  tiang dan pilar utama agama Islam.

10. Bepergian agar punya alasan berbuka. Sebagian orang melakukan perjalanan ke luar negeri pada bulan Ramadhan untuk tujuan  yang  baik, tetapi agar bisa berbuka puasa dengan alasan musafir.

Perjalanan semacam ini tidak dibenarkan dan ia tidak boleh berbuka karenanya. Sungguh tidak tersembunyi bagi Allah Ta'ala tipu daya orang-orang yang suka menipu. Sebagian besar orang yang melakukan hal tersebut adalah para tukang mabuk dan minum-minuman keras. Mudah-mudahan Allah Ta'ala menjauhkan kita dari yang demikian.

11. Berbuka dengan sesuatu yang haram. Seperti minuman yang memabukkan, rokok dan sejenisnya. Atau berbuka dengan sesuatu yang didapatkan dari yang haram. Orang yang makan atau minum dari sesuatu yang haram  tak akan diterima amal perbuatannya dan tak mungkin pula do'anya dikabulkan

Akhirnya, semoga uraian ini menjadi bahan renungan kita bersama di bulan yang mulia dan suci ini, sekaligus bisa menghantarkan kita mengarungi kehidupan di bulan Ramadhan  -baik dalam ibadah maupun kehidupan sehari-hari-  sebagaimana yang dituntunkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Mudah-mudahan Allah Ta'ala meneguhkan iman Islam kita, mengampuni kita, orang tua kita dan segenap kaum muslimin. Amin....

 

 

Sumber: myQuran.org

Menghidupkan Ramadhan

I. Amaliyah Ramadhan

Satu-satunya bulan yang di sebutkan dalam Al-Quran adalah bulan ramadhan. Penyebutan bulan ramadhan di kaitkan dengan turun nya Al-Quran dan di wajibkannya puasa. seakan satu isyarat dari Allah Swt. bahwa untuk meraih kesucian, cahaya dan lautan ilmu Al-Quran, hati orang beriman harus suci dan bersih, dan itu dapat diraih dengan berpuasa. Al-Quran menjadi pedoman bagi orang yang bertaqwa dan puasa mengantarkan orang beriman menjadi mutaqqiin. Amaliah ramadhan terfokus pada dua aktifitas tersebut. sedangkan amaliah lain nya tidak lepas dari ibadah untuk mengkondisikan hati dalam menerima Al-Quran dan upaya orang beriman untuk mengaplikasikan Al-Quran.

Untuk lebih mengetahui amaliyah ramadhan, maka kita harus melihat dan mencontoh amaliyah Rasulullah saw. di bulan ramadhan. Secara prinsip Rasulullah lebih memperbanyak dan meningkatkan ibadah di bulan ramadhan, dari mulai shaum, sholat, tilawah, dzikir, i'tikaf dan lain-lain. di bawah ini amaliyah yang di lakukan Rasulullah saw. di bulan ramadhan.


1. Shiyam (puasa)


Shaum atau shiyam bermakna menahan, dan menahan itulah aktivitas inti dari puasa. Menahan makan dan minum serta segala macam yang membatalkannya dari mulai terbit fajar sampai tengelam matahari dengan di iringi niat. Jika aktifitas ini dapat dilakukan dengan baik, maka seorang muslim memiliki kemampuan pengendalian, yaitu pengendalian diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah.

A. Memahani fikih shiyam

Setiap ibadah dalam islam pasti ada fikih nya, begitu juga shiyam. Maka memahami fiqih dalam setiap ibadah adalah suatu keniscayaan yang tidak boleh di tinggalkan orang-orang yang beriman. Dengan fiqih inilah, puasa yang dilakukan oleh umat islam benar-benar bernilai ibadah dan bukan tradisi yang di lakukan hanya sekedar ikut-ikutan tanapa mengetahui adab-adab nya dan segala sesuatu yang terkait dengan puasa. Bukankah banyak umat islam yang berpuasa cuma ikut arus orang banyak dan tradisi yang berjalan secara turunan temurun?

"... barang siapa berpuasa ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan di ampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan..." (HR Bukhori dan muslim).

B. Mengetahui awal dan akhir ramadhan dengan benar

Salah satu yang perinsip dan harus di ketahui oleh setiap muslim adalah pengetahuan tentang awal dan akhir ramadhan, sehingga ibadah yang di lakukan nya sesuai sunnah Rasul saw. Dalam beberapa hadits Rasulullah telah menetapkan awal dan akhir ramadhan, beliau bersabda:


"... puasalah kamu jika melihat bulan, dan berbukalah kamu jika melihat bulan. jika terhalang ( mendung ) maka sempurnakan bilangan nya..." (HR Bukhiri dan Mualim).

C. Tidak berbuka tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat islam

Seorang muslim yang di bulan ramadhan tidak berpuasa dan berbuka tanpa alasan syar'i, maka dia telah melakukan doa besar, karena puasa ramadhan adalah salah satu dari rukun islam. Rasulullah saw bersabda:

"... barang siapa tidak puasa pada bulan ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa di tebus, bahkan seandai nya ia berpuasa salama satu tahun..." (HR At-turmudzi)

D. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam

Puasa merupakan pengendalian diri dari segala sesuatu yang haram, syubhat, dan perkataan serta perbuatan yang tidak terpuji. Rasulullah bersabda:


"... barang siapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan memapraktekannya, maka tidak ada nilai nya bagi Allah, apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalakan makan dan minum..." (HR Bukhori dan Muslim).

E. Bersungguh-sungguh puasa karena Allah Swt dengan keyakinan penuh akan kebaikan-kebaikan nya


Rasulullah bersabda:


"... barang siapa berpuasa seharian di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajah nya dari api neraka selama 70 tahun..." (HR Bukhori dan Mualim).

F. Bersahur


Rasulullah bersabda:
"... makan sahurlah, karena pada makan sahur ada keberkahan..." ( HR Muslim )
G. Ifthar (berbuka puasa)


Ketika waktu magrib telah tiba, yakin saat matahari telah terbenam, maka saat itulah waktu berbuka. Sangat di tekankan kepada yang berpuasa untuk segera berbuka puasa.

H. Berdoa


Sesudah menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthar, Rasulullah Saw sebagaiman yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan satu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah, beliau membaca do'a.


2. Berinteraksi dengan Al-Quran

Ramadhan adalah bulan di turunkan A-Quran (Qs 2:185) pada bulan ini Al-Quran benar-benar turun ke bumi untuk menjadi pedoman manusia dalam segala macam aktivitas nya di dunia

.
"... sebaik-baik nya kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan yang mengajarkan nya..."(HR At-tirmidzi).

3. Qiyam ramadhan (sholat tarawih).


Ibadah yang sangat di tekankan Rasulullah Saw di malam ramadhan adalah Qiyam ramadhan. Qiyam ramadhan diisi dengan shalat malam atau yang biasa di kenal dengan sahalat tarawih. Rasulullah bersabda:

"... barang siapa yang emalakukan qiyam ramadahan dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dasa nya yang telah lalu..." (HR Bukhori Dn Muslim).

4. Memperbanyak dzikir, do'a dan istighfar

Bulan ramadhan adalah bulan di mana kebaikan pahala nya di lipatgandakan. Oleh karena itu jangan membiarkan waktu sia-sia tanpa aktivitas yang berarti.

5. Do'a dan istighfar pada saat mustajab

- saat berbuka
- sepertiga malam terakhir
- memperbanyak istighfar pada waktu sahur
- mencari waktu mustajab pada hari jum'at yaitu pada saat terakhir pada sore hari jum'at
- duduk dan dzikir, do'a dan istighfar di masjid

6. Shadaqa, infak dan zakat

Rasulullah adalah orang yang paling pemurah dan di bulan ramadhan beliau lebih pemurah lagi. kebaikan Rasulullah di bulan ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyak.

7. Menuntut ilmu dan menyampaikannya


Bulan ramadhan adalah saat yang paling baik untuk menuntut ilmu keislaman dan mendalaminya. Karena di bulan ramadhan hati dan pikiran sedang dalam kondisi bersih dan jernih, sehingga sangat siap menerima ilmu-ilmu Allah Swt. Maka waktu-waktu seperti bada shubuh, bada dhuhur dan menjelang berbuka sangat baik sekali untuk menuntut ilmu. Pada saat yang sama para ustadz dan dai meningkatkan aktifitas nya untuk berdakwah menyampaikan ilmu kepada umat islam yang lain.

8. Umrah

Umrah pada bulan ramadhan juga sangat baik di laksanakan, karena akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, sebagaimana yang di sebutkan dalam hadis Rasulullah kepada seorang wanita dari golongan anshar yang bernama ummu sinan:

'... agar apabila datang bulan ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilai nya setara dengan haji bersama Rasulullah Saw..." (HR Bukhori dan Muslim).

9. I'tikaf

I'tikaf adalah puncak ibadah di bulan ramadhan. Karena pada hakekat nya inti ibadah ramadhan adalah upaya menahan diri dari makan dan minum dan segala sesuatu yang membatalkan nya di siang hari, dengan harapan dapat menahan diri dari segala yang di haramkan oleh Allah. Dan i'tikaf bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi menahan dari untuk tetap tinggal di masjid taqqrrub kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala aktifitas keduniaaan.

10. Mencari lailatul qodar

Lailatul qodar merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada umat islam melalui Rasul-Nya. Malam ini nilai nya lebih baik dari seribu bulan biasa. Ketika kita beramal dari malam itu berarti seperti beramal dalam seribu bulan.

11. Menjaga keseimbangan dalam ibadah

keseimbangan dalam beribadah adalah sesuatu yang prinsip. Walaupun umat islam melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah di bulan ramadhan, tetapi tetap saja harus menjaga keseimbangan.

 

 

Sumber: myQuran.org

08 September 2007

Jatuh Cinta

Jatuh cinta di luar pernikahan sebenarnya bukan hanya problema kita. Tetapi hal yang sama juga pernah dirasakan oleh seorang Nabi sekalipun. Sebutlah Nabi Yusuf as misalnya. Beliau pun pernah merasakan jatuh cinta. Bahkan dengan seorang wanita yang sudah jadi istri seseorang. Kalau bukan jatuh cinta, paling tidak tertarik dan terpesona kepadanya.

Dalam surat ke-12 yaitu surat Yusuf, romatika kisah beliau diceritakan dengan tuntas. Bagaimana awal prosesnya, konfliknya hingga klimaks dan endingnya. Jadi bila kita merasakan hal-hal seperti itu, justru hal itu sangat manusiawi sekali. Dan orang sekaliber nabi pun bisa saja saja mengahadapi konflik seperti itu.

Justru apa yang dialami oleh seorang nabi itu menjadi pelajaran buat kita untuk bagaimana bertindak dan menghadapinya. Apa yang dilakukan oleh Nabi Yusuf as tidak lain adalah beliau sadar dan mengerti betul bahwa hal itu terlarang, meski ada gejolak dalam hati. Bahkan dorongan itu dinyatakan dalam Al-Quran:

Dan sungguh wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan itu dengan Yusuf dan Yusuf pun telah bermaksud melakukan pula dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. (QS. Yusuf: 24)

Tapi memang kondisi itu tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya Yusuf pun telah berusaha untuk menolaknya ketika wanita itu terus merayunya.

Yusuf berkata, “Aku belindung kepada Allah. Sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesunggunya orang zalim tidak akan beruntung”. (QS Yusuf: 23).

Dan ketika gejolak nafsu sudah tak tertahan lagi di dada wanita itu, maka nabi Yusuf pun dikejarnya. Langkah yang dilakukan oleh beliau tidak lain adalah mengambil langkah seribu.

Kisah Nabi Yusuf ini menjadi pelajaran yang sangat penting buat kita manakala kita dihadapkan pada situasi yang sama.

1. Bahwa setiap orang pasti memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya. Rasa itu sebenarnya sangat manusiawi dan merupakan fithrah dan sekaligus anugerah.

2. Namun gejolak itu harus diatur sedemikian rupa agar tidak membawa diri ini ke jurang kenistaan. Seseorang tidak boleh diperbudak oleh gejolak jiwanya. Merana karena angan-angan semu. Karena gejolak jiwa itu selalu mengajak kepada keburukan. “Innan nafsa la ammaaratun bis-suu”.

Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejahatan kecuali nafsu nafsu yang diberi rahmat oleh Allah (Yusuf: 53)

3. Sebenarnya pada titik dimana seseorang jatuh cinta pada lawan jenisnya dan mengharapkan terbalas cintanya, ada sebagian dari akal dan logikanya yang hilang. Sekian banyak pertimbangan akal sehat yang tadinya dimikili menjadi disfunction, ngadat dan tidak jalan. Fenoma ini baru akan terasa manakala misalnya seseorang sudah menikah dan berumah tangga dengan orang yang tadinya dicintainya dan dikejarnya setengah mati. Tetapi begitu pasangan ini sudah memasuki dunia rumah tangga yang sebenarnya, cinta dan nafsu yang dulunya menggebu itu menjadi sesuatu yang biasa saja.

Kalau dulu, pagi sore siang malam yang muncul di benak hanya namanya, tepi setelah masuk ke dunia yang sesungguhnya gejolak itu hilang sudah berganti dengan rutinitas dan bisa jadi kebosanan. Dan itulah sifat manusia. Sebelum dimiliki dikejar setengah mati, begitu dimiliki hilanglah pesonanya. Biar seganteng atau secantik apapaun dia.

Karena itu bila mencintai seseorang, cintailah dengan sewajarnya, karena siapa tahu nanti kita akan membencinya. Dan sebaliknya, bila membenci seseorang, bencilah sewajarnya, karena siapa tahu nanti kita akan mencintainya.

4. Tidak semua yang diinginkan itu harus terpenuhi. Tidak semua cita harus terkabul. Dan tidak semua gejolak harus dituruti. Dunia adalah sejumlah pilihan. Bila tidak bisa menggapai salah satunya, maka pilihan yang lain masih banyak, bahkan bisa jadi lebih baik.

5. Tidak semua yang kita anggap baik itu baik dan tidak semua yang kita anggap indah itu indah. Segala sesuatu pasti ada cacat dan cela. Saat jatuh cinta, cacat dan cela tiada. Padahal bisa jadi cacat dan celanya jauh lebih banyak dari baik dan indahnya.

6. Puncak masalah pernikahan itu bukan lah pada siapa yang akan jadi pasangan kita, tapi bagaimana kita bisa survive di dalamnya, siapa pun pasangan kita.


Sumber: syariahonline.com (dengan sedikit modifikasi)

Persiapan Menyambut Ramadhan

Untuk menyambut bulan Ramadhan diperlukan sejumlah persiapan. Maksudnya agar ketika memasuki bulan ramadhan kita bisa mengoptimalkannya sehingga tujuan untuk menjadi orang bertakwa tercapai.

Di antara persiapan tersebut adalah:

a. Persiapan Mental

Islam menganjurkan dalam melaksanakan amal shalih harus didahului dengan niat. Bahkan dalam beberapa amal shalih, niat itu merupakan syarat atau rukun dari amal yang akan dilaksanakan. Secara psikologis niat atau motivasi sangat membantu amal yang akan dilakukan dan memberikan dampak yang sangat positif. Niat akan memunculkan semangat dan ketahanan seorang muslim dalam mengerjakan ibadah. Oleh karena itulah niat menjadi pilar utama dalam beribadah.

Ramadhan adalah bulan penuh ibadah yang akan dilakukan orang-orang beriman selama sebulan. Oleh karenanya diperlukan kesiapan mental dalam menyongsong berbagai macam bentuk ibadah tersebut, khususnya puasa, bangun malam, tarawih dan lain-lain. Tanpa persiapan mental yang prima, maka orang-orang beriman akan cepat loyo dalam beribadah atau bahkan meninggalkan sebagian ibadah sama sekali.

Kesiapan mental sangat dibutuhkan pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dan sebagainya sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusyuan ibadah Ramadhan. Padahal, kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan i’tikaf dan taqarrub serta ibadah lainnya, maka insya Allah, dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

b. Persiapan spiritual

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, shaum sunnah, dzikir, do’a dan lain-lain. Dalam hal mempersiapkan ruhiyah, Rasulullah Saw mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah Ra. berkata: ”Saya tidak melihat Rasulullah Saw menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban” (HR Muslim).Bulan Sya’ban adalah bulan dimana amal shalih diangkat ke langit.

Rasulullah Saw bersabda:

وَلَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قَال: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فيه الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أحمد وأبو داود وابن حزيمة والنسائى )

Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda: ”Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

c. Persiapan intelektual

Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang terkait dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dikarenakan puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup. Seorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

Dua orang yang mengamalkan ibadah yang sama tidak otomatis mendapatkan hasil yang sama. Rasulullah Saw menginformasikan ada dua kelompok orang yang sama-sama melakukan ibadah puasa, sedangkan hasilnya yang pertama mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya, sementara yang lain cuma mendapatkan lapar dan dahaga.

Rasul Saw bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيماناً واحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ ما تَقَدّمَ مِنْ ذَنْبِهِ،”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampunkanlah dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR. Bukhori dan, Muslim )كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطشُ“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

d. Persiapan Fisik dan Materi

Fisik dan materi sangat menopang ibadah di bulan Ramadhan yang dilakukan seorang muslim. Seorang muslim tidak akan mampu berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan rumah, masjid dan lingkungan. Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan.

Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa di bawah ini :

· Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhari dan Abu Daud).
· Berobat dengan berbekam (Al-Hijamah) seperti yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim.
· Memperhatikan penampilan, seperti pernah diwasiatkan Rasulullah Saw kepada sahabat Abdullah ibnu Mas’ud Ra, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. Al-Haitsami)

Sarana penunjang yang lain yang harus disiapkan adalah materi yang halal, untuk bekal ibadah Ramadhan. Idealnya seorang muslim telah menabung selama 11 bulan sebagai bekal ibadah Ramadhan. Sehingga ketika datang Ramadhan, dia dapat beribadah secara khusyu, dan tidak berlebihan atau ngoyo dalam mencari harta atau kegiatan lain yang mengganggu kekhusyuan ibadah Ramadhan.


Sumber: syariahonline.com

07 September 2007

Strive for the Best

Rating:★★★★★
Category:Other
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

as for those who strive hard In us (Our Cause), we will surely Guide them to Our paths (i.e. Allâh's Religion - Islâmic Monotheism). and Verily, Allâh is with the Muhsinûn (good doers).

(QS. Al-'Ankabuut: 69)

[cerpen] I Love You, I Cry For You, and You Give Me Someone Better

Only God and my self know how much I love her. The blistering thunder in my heart is heard like a tornado, and I’ve been kept it for a long time.

She is the girl that I don’t have faith to look at their face. I have some beautiful female friends, but I always take them not special, so I usually look at people face when I talk or when I meet. But I don’t want to look at her face too long, to calm my self and to press the temptation. More over, I had work with her in one organization during study at campus, so I know how great she is.

The feeling is still burn inside, though it had been one and a half year I’ve graduate.

---

It just an ordinary weekend day in my life, after finish teaching kids at near home mosque after ashar pray, my cell phone is beeping, tell me that there is a message that just arrive.

There are no stories or news that shocks me more than the news I’ve just read from my cell phone. It’s like a thunder that strikes me in a clear noon. With a half of doubt, I try to gather my self up.

“Please give me your pray and congratulate me in my wedding day on February 28, 2007 from 11.00 – 14.00 at Gedung Peternakan, Cilandak, Jakarta Selatan. The happy couple, Fitri and Heru”

I feel that this body is break apart, fall down to the earth, without any energy left.
I continue my day without a soul and spirit. Sleepless at night.

For all the times we had been spend
It leaves no scratch inside your heart
If only heart can cry it loud
You’ll mourn it out until your tears are drought.

---

February 28, 2007.

Today, I’m preparing my self for an invitation, where in the same time, place and event, I also make an appointment with my classmates through mailing list, so as well fulfilling the invitation, we can also reunion.

I get my self closer to the happiest person in the venue, just like usual, she looks lovely. With a big smile and a cheerfulness look, I shake a man beside of her, “Barakallahu laka, barakallahu alaika, wajama’a baina kuma fi khairin ya akh”, “Syukron jazakumullah khairan katsiran akh, I hope you can catch me up soon” he reply with a smile. My heart still heavy, while I do my best to cover it up.

---

One day, my cell phone beeping, the number that come in is unrecognized by my phone.

“Assalamualaikum” I said, “Wa’alaikum salam” he reply, “Is this brother Ipin”, “Yes, I’m ipin him self, is there anything that I can help you?”, I ask. “It’s me Heru, Fitri husband”, deng, my heart is beating, why that he call me, in what occasion that he call me.

“Oh akh Heru, what can I do for you brother?’ I ask carefully. “I would like to talk to you, but I can’t said it on the phone, can we met somewhere akh?” he replies. “Sure, where do you want to meet?”, “How about at Citos Starbuck Cafe tomorrow after office hours” he ask me. Café…, I ask my self, but because I had been doing a lot of meetings with client at informal places like that, I agree to me at Citos Starbuck Café.

“OK, we’ll meet there after Isya pray ya..”, I said, “Great” he said. “OK then, I’ll meet you tomorrow, assalamualaikum”, “Wassalamualaikum’ I close the call.

---

I rush my self out of office after shalat magrib to the Citos, I don’t want to be late, that is my Principle, as a Muslim, I had to do my best to keep my words.

I wait for him at about twenty minute, enough for me to finish my hobby, surfing the net, blogging, and went to MyQuran portal using the café hot spot.

He came with a well dressed jilbaber, at first I thought it was Fitri, but she wasn’t her. The clock point at ten to seven.

“Assalamualaikum, sorry to keep you waiting akh Ipin”, “Wa’alaikum salam akh, no its OK, it just me that came to early”, I sake his hand, “Please take a seat” I said, this is my favorite spot if I went to Citos starbuck, cozy, private, and not much people walking around, good for writings.

Both of them are sitting in front of me. Akh Heru is still using his working dress, he is an engineer at Tripatra, oil and gas construction engineering company, his office is near from my office, while the girl next to him is wearing a black long dress and a white beautiful jilbab.

“Oh ya, I would like you to meet my sister, Nisa”, she smile to me and shake her head. “I’m Ipin”, I said, “Yes, I know, Fitri had told me a lot about you”, she reply with smile. What a beautiful smile my heart whisper, I try to distract my eye off of her and look to akh Heru.

“She is just graduate from LIPIA”, akh heru breaks the silent. “The best graduation student of her class”, he added follow by looking to his blushing sister. Oh, a smart girl, my type of dream wife, I said in my heart. “Wow, that’s great”, I comment, she just smile.

“Oh ya, what did you want to drink?”, I said to them, “I would like a cappuccino, how about you nisa?”, he looks to her sister, “Same with you” she said, “OK wait in here, I’ll order it for both of you” I went up and go.

In my mind, I still wonder what did he want to talk to me that it can be said by phone.

I brought two cappuccino to the desk we’ve sat, “Anyway, what is so important that you want to say, so it can be said by phone?”, I ask as I pass the cappuccino. Their face is change, serious mode is on.

Akh Heru drink his cappuccino a little bit, “At first, I would like to ask you, I’m sorry if this is a private question, but the question that you ask to me will be related to your answer, are you on a ta’aruf with someone right now”. He said. “Well, I’m trying to know your sister right now, so does it mean that I’m on a taaruf with your sister?” I answer his question with a little joke. “No, not this kind of ta’aruf, but ta’aruf with someone to be your wife” he reply with serious.

Actually I was so shame that akh Heru ask me that question in front of a girl, but I shouldn’t called Ipin, if I haven’t had an over self confident.

“Not yet for momentarily”, I answer with a full confidence, “So…” akh heru stop his dialogue as her sister grab his hand. “Would you marry me?” his sister cut.

---

For this couple of days, I always woke up at a third of night to pray, istighara pray. I still remember the conversation with akh Heru and his sister Nisa whom propose me to be her husband.

Sometime I laugh my self as I remember my silly face as I react to her question. “do you surprise with my question?” she said, “did I ask you for a sinful act? In prophet era, there is also a girl offering her self as the prophet wife. I’m sure that you also understand this more” she said. Tough I not going to an Islamic school, I also learn much and not less that those people whom go to a pesantren, so I know what she said.

Luckily akh Heru can understand my confusion and said “I understand that this decision can not be made in a rush, this is a heavy decision as Quran said so. so I will leave you with a week of consideration time, while at the mean time you can do istighara and study my sister profile”, he said that and give me a pack of files.

“What makes you think that I can be a good husband for you?” I ask curiously, “Ukh Fitri had given me enough reason and so does akh Pohan, your closest friend” she said, “There is no consideration that makes me feel that you can be the right option except for your factual contributions for this ummah, your character, and your faith to Allah” she added with a full confidance

What a hard night, as I recall it now.

---

I pray to Allah for His guide, while He knows all and the most wisdom.

---

My heart is come with a unanimous decision, I call a number written in a file, “Assalamualaikum ukhti, so when did I can meet your parent to propose you with my parent?, I ask confidently, “Alhamdulillah” she said. “May Allah pour His bless upon us”.


(May 9, 2007, Syamsul Arifin)

[cerpen] Bila Momongan Tak Kunjung Datang

Seperti biasa, jika memungkinkan, hampir setiap malam minggu tiba, ku selalu sempatkan diri tuk bercengkrama dengan sang istri tercinta sembari menikmati hiburan kotak ajab dengan berleha di karpet, bersandar di sofa dan menikmati keripik singkong yang dijual di ujung jalan rumah kami.

“Bang…” tiba-tiba istriku menyeletuk, “Ingat tidak sudah berapa lama kita menikah?”, deng, jantungku langsung berdegup keras, sambil bertanya dalam hati kenapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu. Rasa-rasanya hari ini bukan hari jadi pernikahan kami, sebab pasti handphoneku akan memberikan reminder pagi tadi kalau memang benar hari ini merupakan hari jadi pernikahan kami, sebab semua hari-hari penting dalam kehidupanku selalu ku masukan kedalam reminder handphone, maklum pelupa, tanggal lahir istriku saja terkadang aku masih suka lupa. Dan setiap hari-hari penting tersebut selalu ke sempatkan untuk di rayakan, meskipun dengan membeli hanya sekedar martabak telor sepulang bekerja.

Kutatap lembut wajah istriku yang teduh. Tidak terasa sudah lebih dari 5 tahun yang lalu ku jabat tangan ayahnya sambil berulang kali mengikrarkan perjanjian yang kuat itu. “Iya, ingat, sudah lima tahun” sahutku, “Memangnya kenapa?” ujarku santai.
“Maukah kamu mengadopsi anak, supaya kita juga bisa cepat punya momongan?” dia melanjutkan. Hah, setengah tidak percaya aku mendengarkan ucapannya.

Memang kami sudah lama mengikuti program kesuburan untuk pasangan suami-istri, hasil tes kesuburan kami berdua pun normal, dan sudah hampir bosan kami mendatangi acara aqiqahan pasangan yang juga ikut dalam program tersebut. Bukan hanya cara modern, bahkan cara tradisional pun telah ditempuh kami berdua. Yang aku lucu dan terus tersenyum jika mengingatnya adalah, istriku rela dan mau meminum air perasan tauge setiap pagi, hanya karena ada seorang ibu penjual sayuran yang menyarankannya, biar cepat punya anak katanya, padahal bisa jadi motifnya ekonomi belaka, he2x.

Namun belum kusadari bahwa keadaannya sedemikian parah, mungkin karena tekanan orang tua kami yang sangat menginginkan cucu mengingat usia mereka yang sudah sepuh dan kamilah anak satu-satunya, atau juga karena iri melihat teman-taman sepengajiannya sudah memiliki anak semua, yang kalau mereka saling curhat, pembahasannya pasti tidak jauh dari seputar anak dan permasalahannya; atau mungkin karena latar belakang medis yang ia miliki, karena katanya kalau hamil di usia lebih dari 40 tahun bisa membahayakan ibu dan anaknya, entahlah.

Ku palingkan seluruh badanku menghadapnya, ku matikan sejenak siaran pertandingan bola klub kegemaranku.

“Dik, mengadposi anak itu merupakan hal yang mulia, karena bisa meringankan beban ekonomis keluarga anak yang yang diadopsi, namun bukan dengan tujuan supaya cepat dapat anak” ujarku pelan.
“Pena telah diangkat dan tintapun telah kering” ku berikan perumpamaan yang paling ku sukai jika membicarakan mengenai ketetapan Ilahi

“Nabi Ibrahim Alaihi Salam, belum memperoleh seorang anakpun sampai usianya lanjut dari istri beliau, Sarah. Namun apakah kita mendengar dalam sejarah bahwa sang Kalilullah berdoa memohon seorang anak”
“Yang ada adalah nabi Zakaria yang memohon agar diberikan anak, agar dapat meneruskan tugasnya sebagai pemberi peringatan terhadap kaumnya, itupun ketika usianya beranjak 90 tahun”. Ku ambil sejenak terjemahan Al Quran yang biasa ia baca dan ku buka surat Maryam, lalu ku minta ia membacakan terjemahannya.

“Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".

“Nabi Muhammad pun tidak memiliki seorang anak pun dari istri-istrinya yang lain selain dari Khadijah, namun apakah kita pernah membaca sirah bahwa beliau pernah bahkan untuk sekedar berdoa diberikan anak, padahal doa merupakan sesuatu amalan yang beliau sebut sebagai senjatanya seorang muslim. Kalaupun beliau berdoa, mas yakin doanya pun pasti mustajab” aku melanjutkan.

“Istri ku sayang”, ku genggang tangannya erat dan ku tatap wajahnya mesra, “Memiliki seorang anak bukanlah suatu rezeki, namun ia merupakan amanah yang berat. Dan sebelum meningkat dalam tahapan tersebut, diperlukan banyak kemampuan dan persiapan. Sampai hari ini saja, abang masih perlu banyak belajar untuk menjadi seorang suami, mungkin inilah persiapan yang sedang Allah siapkan bagi kita untuk membesarkan seorang anak, ketawakalan dan kesabaran ekstra”.

Sejenak kami berdua terdiam. Kulihat air mukanya yang seperti merasa bersalah, ku kecup keningnya, lalu ku berbalik lagi menghadap televisi untuk mengikuti gempuran sepak terjang The Red Devils membantai Aston Villa, untuk mencairkan suasana.

“Tapi tetap boleh adopsi anak kan?” dia bertanya lagi setelah suasana kembali mencair, “Ehm.. pikir-pikir dulu deh” jawabku, “Aku punya bude yang punya seorang puteri, katanya kalau mau boleh diadospi sementara atau minimal tinggal di sini” balasnya. “Wuih, punya satu orang perempuan dalam rumah saja sudah repot apalagi ada dua” ujar batinku dalam hati sambil tersenyum.


---
14 Maret 2007

Teruntuk saudara/i ku yang sedang bersabar menanti datangnya seorang mujahid/ah muda hasil persilangan antara gen X dan Y kalian. Isbiru wa sobiru…