10 November 2022

[Puisi] Buat Apa?

Buat Apa? 

Buat apa jadi burung emas kalau terkungkung sarang besi?
Bukankah lebih baik jadi burung pipit kecil yang merdeka mengepakkan sayapnya ke sana kemari?


---
Bandung, 10 November 2022
Ipin4u

16 August 2021

VIA Survey of Character Strengths

I try VIA Survey of Character Strengths, here are my result of the test.
The ranking of the strengths reflects your overall ratings of yourself on the 24 strengths in the survey, how much of each strength you possess. Your top five are the ones to pay attention to and find ways to use more often.

Your Top Strength: Spirituality, sense of purpose, and faith -

You have strong and coherent beliefs about the higher purpose and meaning of the universe. You know where you fit in the larger scheme. Your beliefs shape your actions and are a source of comfort to you.

Your Second Strength: Love of learning -

You love learning new things, whether in a class or on your own. You have always loved school, reading, and museums-anywhere and everywhere there is an opportunity to learn.

Strength #3: Fairness, equity, and justice -

Treating all people fairly is one of your abiding principles. You do not let your personal feelings bias your decisions about other people. You give everyone a chance.

Strength #4: Hope, optimism, and future-mindedness -

You expect the best in the future, and you work to achieve it. You believe that the future is something that you can control.

Strength #5: Honesty, authenticity, and genuineness -

You are an honest person, not only by speaking the truth but by living your life in a genuine and authentic way. You are down to earth and without pretense; you are a "real" person.



You can try it too at: https://www.authentichappiness.sas.upenn.edu/testcenter

20 June 2021

Pujian itu seperti hadiah

Pujian itu seperti hadiah. Jika ada yang memberimu hadiah, terimalah, ucapkan terima kasih. Jika mau, balaslah hadiahnya.

Jika ada yang memujimu, terimalah, ucapkan terima kasih (atas pujiannya).

Kita bisa jadi tidak terbiasa memuji, apalagi menerima pujian. Akibatnya kita bingung merespon apa.

Jangan jadi orang tak tahu budi, dikasih hadiah, malah hadiahnya dilempar. Dipuji malah bilang "ah ngga begitu deh kayaknya saya" (atau yang serupa itu).

Bilang saja "terima kasih".

Dalam Islam bahkan kita diajarkan untuk berharap/berdoa agar bisa lebih baik lagi (dari apa yang telah dipuji), bukan karena ingin dipuji (lagi), tapi karena semangat 'selalu menjadi lebih baik dari hari sebelumnya' itu diajarkan.

"Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan." (HR. Bukhari)

"Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya." *

*Perkataan dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad ketika mimpi bertemu dan mendapat wasiat dari Rasulullah SAW. Riwayat serupa berasal dari Ali bin Abi Thalib dianggap dhaif menurut para imam hadits.

17 June 2021

Ok to say no

It is perfectly OK to say "no" as an answer.

Sometime, the best answer is "no".

"No" can be seen as rejection, negatif respond or decision. It does mean that way. 

However, "no" can sometime play as an important tool, path, way, to learn, to be creative (thinking other alternatives), to achieve a better result, to pivot and pass the previous target/goal.

No can be a gift.

Learn to use it. Please.

26 February 2021

Jesus adalah Nabi yang Menyembah Tuhan yang Esa

Jesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

  • Tuhan tidak menyembah tuhan yang lain.
  • Yohanes 17:3 Bapa adalah satu Tuhan yang benar
  • Jesus sujud dan berdoa kepada Tuhan di taman getsemani agar tidak disalib, menandakan ada zat/Tuhan yang maha berkuasa, dan Jesus bukan Tuhan yang berkuasa
  • Tidak ada satupun ayat yang nyatakan ucapan Jesus bahwa ia adalah Tuhan di dalam injil.
  • Juga tidak ada tentang ayat yang menyebutkan konsep trinitas secara nyata dan benar konteksnya di dalam injil. Ada beberapa ayat yang dijadikan landasan trinitas, padahal kalau ditelaah di ayat sebelumnya dan dilihat konteks ucapannya, hal itu tidak sesuai. Yang ada hanyalah kredo trinitas yang ditambahkan 4 abad setelah Yesus diangkat

Jesus mengakui hanya satu Tuhan.

Yesus adalah Nabi, sama seperti Musa dan Ibrahim, yang disusul oleh Nabi terakhir Muhammad saw.

02 January 2021

Maksimalkan Ikhtiar dan Lengkapi dengan Doa

Kita memiliki kebebasan kehendak dan pilihan, namun kita tidak pernah bisa lari dari takdir yang sudah digariskan.

Itulah sebabnya kita diajarkan untuk optimal dalam berusaha. Bermusyawarah dengan orang yang ahli/bijak/berilmu/berpengalaman untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, mengerahkan seluruh sumber daya terbaik dalam bekerja. Memonitor dan menyesuaikan diri dengan kondisi atau informasi terkini untuk bisa mencapai target yang dituju.

Pada akhirnya, kita tidak pernah dituntut untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Yang dituntut adalah usaha yang maksimal.

Banyak orang percaya bahwa hasil itu berbanding lurus dengan usaha yang diberikan. Dan memang secara umumnya benar demikian. Itulah hukum alamnya, sunatullah.

Tapi bisa jadi ada pengecualian tertentu, sekali waktu.

Pencilan atau outlier, dalam terminologi statistik.

Meyakini bahwa semua sudah digariskan tidak untuk membuat kita malas berusaha. Tapi untuk membuat kita semakin banyak zikir kepada-Nya. Bersyukur atas segala anugerah dan berlindung atas kesombongan diri.

Keyakinan akan takdir adalah satu sisi mata koin, sisi yang satunya lagi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan/usaha hamba-Nya.

Alhamdulillah dan astagfirullah untuk semua di 2020 (segala kebaikan dan kekurangan diri).

Semoga Allah memberikan lebih banyak lagi kenikmatan, kesehatan, dan keimanan di 2021 #amin ya rabbal alamin.





---000---

Jakarta, 2 Januari 2021
Syamsul Arifin. 

08 September 2020

Keep Learning –if You want to Change to Become Better

If you’re stupid when you were young, there’s a chance you grow up to become stupid old man –if you don’t change along the way-.

If you’re mean, ignorance, stubborn, harsh, selfish, cruel, bully, or enjoy treating people bad when you were young, the same character will stick with you as your age added up –if you don’t do nothing about it-.

Becoming older doesn’t necessary make you wiser, better, knowledgeable person.

It required an effort to become a better man/women. Physical devotion, time allocation, financial spending, and most of the time: self-consciousness.

Learning, contemplating, taking input, acknowledging mistake we make; none of those sort kind of things are taken for granted. 

Learning is never ending process.

The only thing that can stop us from learning, becoming better person is only one thing, our grave/death.


---000---

Depok, 8 September 2020
Syamsul Arifin.

08 June 2020

Belajar dari Kelahiran Pancasila

1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Sangat menarik kalau kita membaca proses sejarah penetapan dasar ideologi negara ini.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar kisahnya, tapi hari ini lebih dari sekedar hari libur.

Beberapa kata kunci dan tokoh yang ada pada proses di belakang lahirnya Pancasila diantaranya #Penjajahan, #Jepang, #BPUPKI, #DasarNegara, #Radjiman Wediodiningrat, M. #Yamin, #Soepomo, #Soekarno, M. #Hatta, AA #Maramis, Abikoesno #Tjokrosoejoso, Abdul Kahar #Muzakir, Agus #Salim, Achmad #Soebardjo, Wahid #Hasjim, #Panitia9, #PPKI, #Pancasila, #UUD1945, #PiagamJakarta, #Nasionalisme, #Kemerdekaan, #Indonesia

Silakan digoogling cerita lengkapnya.

Setelah mengetahui kisah di balik Pancasila, kita sebagai milenial zaman now bisa menarik beberapa pelajaran berharga untuk pengembangan diri.

Pertama, jadilah kreatif/inovatif.

Sidang pertama BPUPKI mulai 29 Mei sampai 1 Juni 1945.

M Yamin (29 Mei) mengusulkan 5 dasar negara: peri kebangsaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Soekarno (1 Juni) juga menyampaikan pidato usulan dasar negara: internasionalisme atau peri-kemanusiaan; mufakat atau demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; kesejahteraan sosial; dan ketuhanan.

Masih jauh berbeda dari isi Pancasila yang kita kenal sekarang.

Ide kita bisa jadi tidak akan langsung sempurna, tapi ia bisa menjadi bibit yang akan tumbuh seiring waktu.

Inovasi juga tidak mesti muncul dari diri kita sendiri, mintalah pendapat/saran pihak lain, bisa jadi berguna.

Seperti yang dilakukan Soekarno, bisa jadi kita akan mengenal 5 asas negara dengan nama Panca Dharma jika ia tidak mengakomodir saran ahli bahasa.

Kedua, kolaboratif.

Menjadi pintar dalam pencapaian pribadi berbeda konteks dengan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain.

Banyak kita temukan individu yang cerdas tapi kesulitan atau tidak mampu bersinar dalam interaksi dinamika tim.

Perumusan Pancasila mengajarkan kita bahwa para bapak (dan ibu) pendiri bangsa adalah pribadi-pribadi yang cerdas dan mampu berkolaborasi secara baik guna mencapai tujuan besar bersama.

Mereka mungkin memiliki pengalaman hidup dan pendidikan yang berbeda, tapi semangat kerja sama tim yang ditunjukkan sungguh patut ditiru.

Ketiga, toleran, persatuan, dan positif thinking.

Dengan rasa saling memahami, pelibatan semua pihak, menghindari egoisme, kita bisa jadi bangsa besar yang merdeka.

Seperti yang terjadi pada sidang PPKI yang heterogen, terdiri dari orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan peranakan Tionghoa.

Dikatakan bahwa diversifikasi/keberagaman dalam pemikiran, latar belakang, budaya, dll dapat menjadi kekuatan suatu tim/organisasi, karena bisa mengambil banyak sudut pandang, pengalaman, praktik terbaik yang tersebar pada beragam personil, tapi hal ini butuh toleransi, semangat kebersamaan, dan lingkungan yang saling mendukung.

Itulah sedikit pelajaran yang bisa kita ambil dari lahirnya Pancasila.

Semoga bisa kita ambil hikmah dan melanjutkan semangat yang menjadi pendorong kebangkitan bangsa di masa lalu, agar bisa juga menjadi kebangkitan bangsa di masa kini.

Merdeka!

#BangkitkanEnergiPancasila



---000---

Depok, 1 Juni 2020
Syamsul Arifin.

Kesehatan Mental, Penting Juga Lho

Jika seseorang mengungkapkan secara verbal ataupun non verbal (tulisan/posting sosmed), badan/anggota tubuhnya sedang sakit, kemungkinan besar ia akan mendapat empati (atau minimal simpati), ucapan doa semoga lekas sembuh/GWS (get well soon), dukungan kesabaran*, maupun kalimat penghibur lainnya.

Di sisi lain, jika seseorang mengatakan kalau mental atau psikisnya sedang sakit/menderita (stres, depresi, dll), berapa banyak empati yang akan ia terima?

Ataukah justru perundungan (bullying) dan cemoohan yang akan ia terima, karena dianggap tidak tegar, cemen, lebay, lemah, drama queen, atau sebutan negatif lainnya?

Sangat bertolak belakang ya.

Sakit fisik dapat umpan balik/feed back yang positif, tapi sakit psikis kok malah dapat hal yang negatif?

Sepertinya ada yang salah dengan pola pikir kita.

Kita harus mulai mengakui bahwa sakit psikis itu nyata dan ada.

Hal yang sama harus diberikan juga pada penderita sakit psikis. Pengobatan, dukungan, motivasi, atau setidaknya sedikit simpati.

Banyak hal yang bisa membuat kesehatan jiwa seseorang terganggu. Terutama di era pandemi seperti sekarang ini.

Jangan takut untuk mencari bantuan atau memberitahu orang lain kalau dirimu mengalami depresi.

Dan jangan mem-bully penderita sakit mental. Kita tidak tahu kondisi apa yang telah ia alami/lalui.

Setidaknya dengarkan ia terlebih dahulu. Terkadang, obat terbaik adalah tersedianya telinga yang mau mendengar. Hanya sekedar melepaskan kegundahan dari dalam diri.

Mari hentikan diskriminasi sakit mental/psikis.



---000---

Depok, 31 Mei 2020
Syamsul Arifin.

* Definisi sabar secara aktif yaitu terus berusaha/optimis dalam usaha pengobatannya)

Membangun Normal (ke Dalam) di Zaman Now

Covid-19 telah menjungkirbalikkan banyak hal, kesehatan, bisnis, ekonomi, tak terkecuali praktik beribadah dan tradisi budaya banyak negara -dimana kita tidak imun juga atas dampaknya.

Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup, apalagi dalam skala pandemi.

Kita perlu fokus pada hal-hal yang BISA kita kendalikan untuk menghindari kecemasan berlebihan.

Salah satunya adalah bagaimana kita akan menjalani praktik ibadah, tradisi berlebaran, dan menghabiskan waktu dalam isolasi mandiri di rumah saja di zaman now, seperti sekarang ini.

Bicara via telpon atau video call kepada keluarga dekat yang berada jauh karena tidak bisa mudik.

Tidak perlu memaksakan diri. Tidak pergi mudik di momen seperti sekarang ini adalah normal. Wajar. Tidak salah alias benar bahkan patut didukung.

Shalat ied di rumah juga boleh. Ada fatwa MUI mendukungnya, banyak ulama juga telah menguatkannya.

Tidak bersalaman fisik dengan tetangga juga normal, justru perlu dikampanyekan di zaman now.

Berlawanan dengan pemikiran kebanyakan orang -bukan hanya sekedar anti mainstream- tapi saya justru menyarankan kita mengelola (membatasi) kuantitas waktu online/screen time ketika berlebaran.

Jangan sampai, dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan yang jauh, kita malah justru jadi semakin jauh dengan yang dekat (keluarga yang ada di rumah).

Kita perlu jujur mengevaluasi diri, seberapa besar intensitas kita menatap layar hp, apakah lebih banyak melihat gadget dibandingkan menatap wajah pasangan atau anak?

Tentu menyedihkan kalau iya.

Luangkan waktu, fokus perhatian, dan kedekatan fisik dengan mereka. Jangan hanya mendengar, tapi simaklah perkataan mereka.

Ada perbedaan antara mendengar (hearing) dengan menyimak (listening), perhatian penuh kuncinya. Mendengar sambil main hp beda dengan menyimak sembari menatap mata anak.

Pesan WA di berbagai grup yang diikuti tidak perlu dibaca/balas semua.

Menjaga kesehatan pribadi dan keluarga itu penting. Sehat fisik dan psikis. Luangkan waktu bermain bersama anak, jangan asyik/sibuk sendiri dengan gawai dan sosmed.

Kehidupan mereka (anak-anak) juga berubah. Mungkin jadi tidak bisa main di luar rumah, bertemu teman sekolah, dll. Mereka juga punya jiwa, bahkan mungkin lebih rentan.

Perhatikan tanda-tanda kelelahan mental. Jangan dicekoki terus dengan tayangan tv yang sering tak berguna atau screen time yang tanpa batas.

Bermainlah bersama mereka.

Jadikan momen ini menjadi penguat cinta kasih dalam keluarga.

Minta maaflah dengan tulus atas pengasuhan yang tak sempurna, kurangnya cinta kasih, dan buruknya kepemimpinan dalam keluarga.

Masa-masa sekarang ini tepat untuk menormalkan kembali hubungan dengan terkasih yang ada di dekat kita.

Hubungan yang normal dengan pasangan dan anak, perlu dicari, dibangun, dan dipertahankan.

Jika kita kesulitan mencari bentuk kehidupan yang ‘normal’ di luar sana, setidaknya kita masih bisa merasakan kehangatan normal di dalam (keluarga), di rumah sendiri.

Kalau kita kebetulan masih bisa bekerja dari rumah (dimana banyak orang tidak punya ekslusivitas ini), manfaatkanlah sebaiknya. Sebab waktunya bisa jadi berakhir esok hari, atau entah lusa nanti.



#PertaminaEmployeeJournalism #PertaminaSiagaCovid19 #Energitakberhenti #Berkahdirumah
@pertamina


---000---

Depok, 26 Mei 2020
Syamsul Arifin

03 March 2020

Relieved to be Pulled out of Balikpapan

For once, i can feel relieved to be pull out of Balikpapan.

25 March 2019, i remembered the first day i became a task force worker at Holding company, stationed at Jakarta.

It was a mix feeling stepping out of our comfort zone.

Balikpapan was a wonderful place to stay. I grew my small family, starting from just 2 youngsters living together, ended up having 4 beautiful children.

It was part of heaven. Small town near the beach, no traffic jam with plenty of quality time for the family.

Coming here can always able bringing back those memory. The smell of the sun in Saturday morning near the Kemala beach where white sand and shell clamp being collected by kiddos.

1 year a head. I feel that this city seems to loose it attaction. 3 March 2020, during a visit, i can't help to notice the place where we use to eat at Plaza Balikpapan are dissappeared. Shoping shops are also closing their doors.

There seem to be a constant draw back.

So, now my heart can stop mourning, for leaving this city.

Embarking a new journey, still together with the full pack. 1 wife, 4 children.

It probably time for me to release my self from the captive of the past, to a full set of opportunities.

Those who are stuck with their past, will surely have a hard time conquering their future.

I need to remember one thing. God plan will always be the best for us.

Even though it will be impossible to understand what God plan is, until it was revealed to us.

What i just need to do is to understand that the causality (God law) are being met. Do the best, grow capabilities, always learning, have open minded, never feel satisfied (in a good way), be humble (networking with anyone, learning from anyone), have integrity, dont be afraid to fail, challenge status quo, ask question(s), fulfill obligations to God, be kind to parent (and to siblings), love your family (wife and children) -schedule time with them, educate, and be their role model, etc.

By doing so, insya Allah, good things will come.


---000---

Balikpapan, 3 March 2020