29 January 2016

Engkaulah Pelita Hidupku

Mendengarkan lagu Flashlight - Jessie J jadi terbayang berada di malam hari, di tengah hutan, berjalan perlahan mencoba menghindari akar-akar pepohonan yang mencuat dari tanah sembari mengarahkan lampu sorot di jalan setapak.

I got all I need when I got you and I. I look around me, and see a sweet life. I'm stuck in the dark but you're my flashlight. You're getting me, getting me, through the night. Kick start my heart when you shine it in my eyes. Can't lie, it's a sweet life...  

Dan pikiranku pun berkelana kepada sosok Nabi Muhammad SAW, seseorang yang menjadi lentera hidup kami sebagai seorang muslim.

I see the shadows long beneath the mountain top. I'm not afraid when the rain won't stop. 'Cause you light the way. You light the way. You light the way.

Ingin rasanya memeluk Rasulullah. Beruntungnya para Sahabat yang hidup sezaman dengan dirinya. Dekat dengan sumber petunjuk dan pengingat. Melihat langsung contoh beragama.

Stuck in the dark but you're my flashlight. You're getting me, getting me, through the night.

Setiap kita pasti akan binasa, kematian tinggallah menunggu waktunya saja. Dunia cukup menggoda. Jebakannya bisa membuat gelap kuburan kita. Berjalan bersama sunnah Nabi kita, meskipun perlahan, akan pasti mengantarkan kita ke tujuan sesungguhnya, keselamatan dunia dan kesempurnaan hidup di akhirat sana. Kesusahan hidup tidak akan membuat gentar, selama iman masih menyala di dalam dada, semua itu tidak ada artinya, asalkan genggaman tangan kita masih tersambung dengan orang yang mulia. Hidup akan selalu terasa manis selama ajaran beliau masih ada di dalam dada.

I got all I need when I got you and I. I look around me, and see a sweet life...



Balikpapan, 29 Januari 2016
Syamsul Arifin

19 January 2016

Tupoksi Profesional K3

Profesional K3 (Keselamatan Kesehatan Kerja) sering dipandang sebelah mata, bahkan tidak jarang jabatan K3 dipandang sebagai posisi buangan bagi pekerja tua tidak produktif yang karirnya sudah mandeg di perusahaan. Apakah benar begitu?

Pandangan tersebut jelas keliru. Profesional K3, terlepas dari apapun sebutan dan tingkatnya (petugas, pengawas, koordinator, atau manajer K3) memiliki tugas, pokok, dan fungsi (Tupoksi) yang tidak mudah. Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan benar, seorang profesional K3 memerlukan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang disokong dari beragam rumpun ilmu, diantaranya fisika, kimia, biologi, fisiologi, statistika, matematika, komputer, teknik mekanika, proses industri, bisnis, komunikasi, dan psikologi.

Beragam studi harus mampu dilakukan oleh profesional K3, diantaranya toksikologi dan higiene industri, desain teknis pengendalian bahaya, perlindungan kebakaran, ergonomi, keselamatan proses produksi, manajemen K3, analisa dan investigasi kecelakaan, keselamatan konstruksi, metode pendidikan dan pelatihan, pengukuran kinerja K3, perilaku manusia, perlindungan lingkungan, regulasi hukum K3, dan standar teknis industri.

Maka dari itu, tidak heran jika profesional K3 bisa berasal dari disiplin pendidikan yang bervariasi, semisal teknik, administrasi bisnis dan manajemen, ilmu pendidikan, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lain.

Tidak jarang pula, sebagai bagian dari pekerjaannya, praktisi K3 harus bisa melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan dan sumberdaya, bertanggungjawab untuk mengawasi staf ahli yang beragam kompetensi dan lokasi.

Standar American National Standard Institute (ANSI) Z590.1, yang berjudul Criteria for Establishing Levels of Competence in the Safety Profession menyebutkan 4 fungsi utama seorang profesional K3 sebagai berikut:

Pertama, mengantisipasi, mengidentifikasi, dan mengevaluasi kondisi dan tindakan berbahaya. Beberapa kemampuan dan aktifitas perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi berbahaya, semisal inspeksi peralatan dan fasilitas, investigasi kecelakaan, analisa bahaya pekerjaan, studi penataan bangunan, dan wawancara serta diskusi dengan pekerja yang terpapar bahaya. Pemahaman yang baik terhadap bahaya dalam berbagai situasi dan pengetahuan terhadap persyaratan peraturan pemerintah menjadi tambahan yang cukup membantu.

Kedua, membuat desain, metode, prosedur dan program pengendalian bahaya. Kemampuan untuk menganalisa kejadian, kondisi, dan perilaku sangatlah penting guna memahami proses yang berlangsung dan memikirkan solusi untuk mengubahnya. Para praktisi K3 perlu melakukan proses berpikir deduktif dan kreatif dalam menjalankan fungsi kedua ini.

Ketiga, menerapkan, mengelola, dan memberikan saran kepada pihak lain guna mengendalikan bahaya. Seringkali, para praktisi K3 menggunakan lebih dari sekedar komunikasi verbal sederhana ketika menjalankan fungsi ketiga ini. Seringkali, kemampuan membujuk/negosiasi/interpersonal diperlukan agar orang lain memahami dan mau menerapkan tindakan pengendalian tertentu. Sebagai tambahan, kemampuan memimpin tim dapat membantu orang lain menentukan hal-hal yang penting/harus dilakukan. Kemampuan komunikasi yang baik sangatlah penting untuk melaksanakan fungsi kerja ini.

Keempat, mengukur, mengaudit, dan mengevaluasi efektifitas program pengendalian bahaya. Proses evaluasi ini umumnya mempergunakan pengumpulan data mengenai kinerja manusia selama aktifikas pekerjaan berlangsung, mulai dari inspeksi, keluhan pekerja, data investigasi, dan sumber data lainnya yang dapat dipergunakan untuk menentukan apakah tindakan dan/atau perilaku berbahaya telah berhasil dikendalikan.

Profesi K3 bisa berada dalam konteks swasta maupun pemerintah, di industri manufaktur, asuransi, pemerintahan, pendidikan dan pelatihan, jasa konsultasi, konstruksi, kesehatan, desain dan teknik, manajemen limbah, minyak dan gas, transportasi, dan lain sebagainya. Sehingga seorang praktisi K3 harus mampu beradaptasi sesuai fungsinya agar sesuai dengan misi, pekerjaan, dan budaya tempat kerjanya.


Meski tugas praktisi K3 berbeda tergantung industrinya, namun beberapa tugas berikut umumnya dilakukan:
  • Rekognisi bahaya: mengidentifikasi kondisi dan tindakan berbahaya yang dapat menyebabkan cedera, sakit atau kerusakan aset perusahaan
  • Inspeksi dan audit: menilai risiko keselamatan dan kesehatan terkait peralatan, material, proses, fasilitas
  • Perlindungan kebakaran: mengurangi bahaya kebakaran dengan menginspeksi, penataan fasilitas dan proses, dan mendesain sistem pendeteksi dan pemadaman api
  • Pemenuhan peraturan perundangan: memastikan peraturan pemerintah terkait keselamatan dan kesehatan dipenuhi
  • Pengendalian bahaya kesehatan: mengendalikan bahaya kesehatan, semisal kebisingan, paparan bahan kimia, radiasi, atau biologi yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja
  • Ergonomi: meningkatkan tempat kerja dengan pemahaman fisiologi dan psikologi pekerja terkait karakterisitik, kemampuan, dan keterbatasan manusia
  • Manajemen bahan berbahaya: memastikan bahan kimia dan produk berbahaya lainnya dibeli, disimpan, dipergunakan, dan dimusnahkan dengan cara yang layak -tidak menimbulkan bahaya kebakaran, tidak memapar pekerja
  • Perlindungan lingkungan: mengendalikan bahaya yang jika terlepas tidak terkendali dapat membahayakan lingkungan (udara, air dan tanah)
  • Pelatihan: memberikan pekerja dan manajer pengetahuan dan kemampuan untuk dapat mengenali bahaya dan melakukan pekerjaannya secara selamat dan efektif
  • Investigasi kecelakaan: menentukan fakta terkait kecelakaan berdasarkan keterangan wawancara saksi, inspeksi lapangan dan pengumpulan bukti
  • Pemberi saran kepada manajemen: membantu manajer menetapkan tujuan K3, perencanaan program untuk mencapai target dan mengintegrasikan K3 di dalam budaya perusahaan
  • Pencatatan dokumentasi: mengelola informasi K3 guna memenuhi persyaratan pemerintah, juga memberikan data sebagai bahan pertimbangan dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
  • Evaluasi: menilai efektifitas program dan aktifitas K3 yang dilakukan
  • Tanggap darurat: mengelola, melatih, dan mengkoordinasi tenaga terlatih dalam menindaklanjuti keadaan darurat semisal kebakaran, kecelakaan atau bencana lainnya
  • Mengelola program K3: merencanakan, mengelola, menganggarkan, dan mengawasi penyelesaian dan efektifitas program-program yang dilakukan untuk mencapai tujuan K3 perusahaan atau program-program pengendalian administratif dan/atau teknis guna menghilangkan atau meminimalisir bahaya
  • Keselamatan produk: menilai kemungkinan paparan produk dalam setiap tahap proses produksi yang dapat memberikan dampak tidak baik bagi kesehatan atau lingkungan dan menentukan tanda peringatan visual dan auditori
  • Keamanan: mengidentifikasi dan menerapkan prosedur yang dapat melindungi fasilitas dan bisnis perusahaan dari ancaman yang membahayakan.


---000---

Penyusun: Syamsul Arifin, SKM., MKKK.
D&C HES Specialist, Chevron Indonesia Company

Referensi:
·         ANSI Z590.1 Criteria for Establishing Levels of Competence in the Safety Profession
·         American Society of Safety Engineers. Career Guide to the Safety Profession

01 January 2016

10 Tahun Perjalanan Karir

Desember 2015 lalu, sebuah milestone baru saja terlampaui, 10 tahun perjalanan karir profesionalku sebagai praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Desember 2005 - Desember 2015. Sebetulnya, jika dihitung dari pengalaman magang (April - Mei 2005) sewaktu kuliah di site Lirik - Riau, Medco E&P Indonesia, sehingga bisa dianggap 10+ tahun.

Selepas lulus kuliah, setelah wisuda S1 (Agustus 2005) saya juga sempat menjadi enumerator atau petugas survei dan data inputer di proyek-proyek penelitian kampus. Hasilnya pun lumayan.


Baru kemudian saya masuk di instansi swasta, Pandu Selamat Utama (Desember 2005), spesialisasi di bidang penyedia jasa K3 deteksi gas khususnya H2S, SCBA, confine space training dan produk untuk industri migas.

Kemudian pindah ke Multi Production Solution (November 2007), perusahaan Engineering Procurement Construction Installation (EPCI) yang bekerja membangun fasilitas produksi migas,

Kemudian ditarik ke client tempat dimana proyek pertama MPS, yaitu EMP Semberah (Juli 2008), bertugas di lapangan/field, sehingga menyebabkan saya migrasi dari Jakarta ke Samarinda.

Hingga akhirnya pindah lagi ke Chevron Indonesia Company (Agustus 2009) bertempat di Balikpapan. Awalnya di posisi HES Engineer di departmen OE-HES (Operational Excellence - Health Environmental Safety), kemudian pindah di departemen D&C (Drilling and Completion) sebagai HES Specialist.

Baca juga postingan Linkedin saya 10 Pelajaran dari 10 Tahun Perjalanan Karir


23 December 2015

(cerpen) Kunang-Kunang Tanpa Cahaya

Aku terlahir di dekat rawa, dalam komunitas kunang-kunang yang hidup nokturnal –aktif di malam hari, tidur di siang hari.

Namun ada yang berbeda dalam diriku. Ketika teman-temanku memiliki lucifer sehingga mampu memancarkan cahaya, aku tidak bisa mengeluarkan sinaran dingin yang sama. Hal itu membuatku stres, apalagi ketika mengetahui bahwa ada beberapa teman-temanku yang bahkan sudah mengeluarkan cahaya ketika masih di dalam telur.

Makanan kami sama, cairan tumbuhan, siput-siputan kecil, cacing, maupun serangga kecil lainnya, tapi kenapa perutku tidak bisa memancarkan entah warna warna kuning, merah terang, hijau, atau  oranye seperti yang lainnya.

“Hey.., itu si kunang-kunang tanpa cahaya,” suara samar terdengar saling berbisik di lorong bawah tanah ketika aku berlalu.

Pandangan mata setengah mengejek menghiasi hari-hariku di sarang kami.

Bahkan larva-larva kecil akan menatapku aneh, mencoba memperhatikan bagian perutku, saling menebak kira-kira kenapa aku tidak mengeluarkan sinar yang sama.

“Mungkin dia terkena kutukan.”
“Ah, mana mungkin, para penyihir kan sudah musnah semenjak zaman dahulu,” tutur temannya.
“Itu akibat tidak patuh pada orang tuanya,” seorang tua ikutan menyahut, alasan yang digaungkan para tetua agar anak-anak mereka patuh dan nurut kalau diberi wejangan.
“Ih serem ah.., aku tidak mau jadi seperti itu,” mereka berlarian menjauh.

***

Rasanya menyedihkan menjadi pribadi yang berbeda dan dijauhi teman-teman, seakan-akan aku ini wabah penyakit yang harus dikarantina saja.

Jadi bahan perbincangan, ejekan –walaupun aku tidak bersalah apa-apa- sudah biasa. Walau sudah terbiasa, hal itu tetap membuatku muram.

Hari-hariku kulalui dengan suram, sekedar menjalani hari.

Sampai suatu malam, aku bertemu dan menjalin persahabatan dengan ngengat, semacam kupu-kupu malam. Berbeda dari saudaranya yang aktif di waktu siang –diural- dan memiliki sayap yang warnanya indah cemerlang, ngengat hampir mirip dengan diriku –berbeda dengan saudaranya-, sama-sama nokturnal dan memiliki sayap yang cenderung gelap, kusam atau kelabu.

“Usahlah mempedulikan suara sumbang kunang-kunang lain,” katanya suatu kali, “anggaplah suara-suara itu sebagai angin lalu. Sesekali bertiup, kemudian hilang tak berbekas.”

“Tak perlu kau tanggapi. Jangan dimasukkan ke dalam hati,” tambahnya, “jangan kau biarkan perkataan-perkataan itu membuatmu jatuh dan terpuruk.”

“Perkataan mereka tidak boleh sampai membentuk dirimu. Jadilah hebat dengan apa yang kamu miliki,” tuturnya santai.

“Nasihat yang super”, ujarku dalam hati. “Terima kasih kawan.”

***

Suatu malam, datang segerombolan manusia ke depan sarang kami. Mereka membawa plastik kecil dan botol kaca besar.

“Mari kita cari kunang-kunang sebanyak mungkin, untuk hiasan perayaan besok lusa,” seru salah seorang yang berbadan besar.

Mulailah mereka meraup, mengejar, menjebak, dan menangkapi sebagian besar kawan-kawanku. Kami berterbangan kocar-kacir, berteriak saling memperingatkan, “SELAMATKAN DIRIMU, Terbanglah sejauh mungkin dari sini!” jeritan bersahutan mengisi hutan malam.

Aku menjatuhkan diri ke lantai hutan. Tanpa sinar berkelap-kelip di dalam perutku, mereka melewatkanku yang tersamar oleh tanaman.

Beberapa jam mencekam akhirnya berlalu. Sarang kami porak poranda.

Anak-anak maupun dewasa, banyak tersekap di wadah botol yang mereka bawa. Sinarnya berkilauan terang. Tampak jelas ketakutan kunang-kunang yang telah tertangkap.

“Hari sudah semakin larut. Aku letih sekali. Mari kita beristirahat dulu di sini. Kita bangun tenda dan berangkat ke kota esok pagi,” kata seorang pemburu kunang-kunang itu.
“Baiklah,” mereka mulai membangun tenda, menyalakan api unggun, dan menggelar selimut

Malam beranjak semakin larut. Para pemburu itu sudah terlelap dalam kantuk.

Pikiran berkecamuk dalam diriku. Apakah aku akan meninggalkan semua kunang-kunang yang tertangkap dan mencari jalan selamat sendirian saja, terbang menjauh. Atau berusaha mendekat dan mencari jalan untuk membebaskan mereka semua yang sering mengejek dan menggunjingkanku.

Arrgh…, aku bingung.

“Jadikanlah kekuranganmu sebagai sumber kekuatanmu,” terngiang pesan ngengat sahabatku.

Aku memberanikan diriku menyelinap di antara para pemburu kunang-kunang.

Nyaring terdengar suara dengkuran, mereka semua sudah pulas terlelap.

Setengah berbisik, aku berkata di sisi toples, “ssssstt, jangan berisik, aku akan berusaha membebaskan kalian,” jariku memberi isyarat di depan bibir.

Kuperhatikan wadah ini tertutup kawat kasa, terikat di samping. Kutarik kuat-kuat. Satu-dua-tiga. Tutup wadah bisa terlepas.

Ratusan kunang-kunang berhamburan keluar. Kembali menghirup udara bebas.

“Mari menjauh dari sini!” seruan tercekat perlahan, ramai terbang beriringan.

Ada perasaan bahagia terselip dalam dada. Ucapan maaf dan terima kasih dari semua kunang-kunang malam menghapus memori luka masa lalu yang tadinya kelam menjadi terang benerang.

Perut gelap  tak bercahaya yang dulu kubenci, kini aku syukuri, terlepas dengan kondisi apapun yang kamu miliki, tidaklah jadi alasan untuk tidak bisa menjadikan dirimu bermakna bagi sesama.


---000---

Balikpapan, 30 November 2015
Syamsul Arifin, SKM, MKKK


Penulis adalah blogger, praktisi keselamatan kerja dan karyawan migas yang berdomisili di Gn Guntur Asri, Balikpapan. Kunjungi blogsnya di http://genkeis.blogspot.com



*cerpen ketigaku di Kaltim Post, edisi Minggu, 13 Desember 2015. Bisa dibaca di edisi digital Kaltim Post: http://epaper.kaltimpost.co.id/arsip/byTanggal/2015-12-13 (hal 35)

19 October 2015

Investigasi Ledakan dan Kebakaran Sumur Macondo, Teluk Meksiko

Rig Semisubmersible Deepwater Horizon

20 April 2010, kecelakaan yang mengakibatkan kematian banyak pekerja terjadi di sumur minyak Macondo, sekitar 80 KM dari lepas pantai Louisiana di Teluk Meksiko.

Insiden terjadi ketika pekerjaan well-abandonment sementara yang dilakukan rig pengeboran Deepwater Horizon (DWH). Rig kehilangan kendali atas sumur, sehingga terjadi blowout –pelepasan cepat dan kuat gas dan cairan hidrokarbon dari dalam sumur ke rig. Hidrokarbon yang terlepas itu kontak dengan sumber nyala api dan terbakar. Ledakan dan kebakaran pun terjadi. Korban jiwa atau cedera, kerusakan lingkungan dan kerusakan aset yang terjadi adalah kematian 11 pekerja, cedera serius 17 pekerja, tenggelamnya rig pengeboran dan kerusakan pantai dan laut yang luas akibat tumpahnya 5 juta barel (≈600 juta liter) hidrokarbon dari dalam sumur. Kejadian ini merupakan salah satu kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alam terburuk dalam sejarah Amerika.


Rig Deepwater Horizon terbakar dan meledak di sumur Macondo

Penyebaran minyak akibat kebakaran dan ledakan sumur Macondo

BP Exploration & Production Inc. (BP) adalah operator atau pemegang konsensi blok yang terdapat sumur Macondo. BP adalah pemegang konsensi terbesar di laut dalam (deepwater) Teluk Meksiko Amerika, memiliki lebih dari 650 blok dengan kedalaman laut lebih dari 1,200 feet (≈365 meter).

Untuk mengebor sumur Macondo, BP mengontrak Transocean, kontraktor pengeboran dan penyedia jasa sumur lainnya, termasuk Halliburton dan Sperry-Sun Drilling Services –subsidari Halliburton.
Bagan interaksi perusahaan yang terlibat kejadian

Cameron tidak memiliki kontrak langsung dengan BP, namun kontrak antara Transocean dan BP mempersyaratkan konfigurasi dan referensi spesifik Blowout Preventer (BOP) yang akan digunakan dalam pengerjaan sumur. Cameron menyediaakan part, pengetesan, bantuan teknis dan jasa perbaikan pada BOP Deepwater Horizon.

Personil yang bertanggung jawab akan pengendalian sumur ketika kejadian adalah:

Posisi
Perusahaan
Tanggung Jawab
Well Site Leader
BP
Memimpin semua aktifitas, K3LH, operasional dan logistik di lapangan
Offshore Installation Manager (OIM)
Transocean
Mengelola krew dan sumberdaya di rig untuk mencapai kinerja optimum agar program pekerjaan sumur dapat dilaksanakan dengan baik
Senior Toolpusher/ Toolpusher
Transocean
Mengawasi dan mengkoordinasi pekerjaan pengeboran
Driller
Transocean
Mengoperasikan peralatan pengeboran dan memonitor instrumen rig
Subsea Supervisor
Transocean
Mengawasi perawatan dan perbaikan pada peralatan dan sistem di bawah laut (subsea) dan permukaan (surface)
Cementer
Halliburton
Melaksanakan program penyemenan, termasuk perencanaan dan pemompaan semen serta memberikan saran teknis
Mudlogger
Sperry-sun
Memonitor parameter pengeboran sebagai acuan untuk mengerti kondisi di bawah sumur dan memberikan saran ke BP ataupun Transocean implikasi keselamatan/efisiensinya.

Posisi personil pengendali sumur


Ruang kendali driller di anjungan pengeboran lepas pantai yang serupa di Deepwater Horizon

Urutan kejadian kebakaran/ledakan


Aktifitas utama yang menyangkut kejadian ledakan dan kebakaran sumur Macondo adalah:

Tanggal
Keterangan
6 Okt 2009
Sumur Macondo di spud (dimulai pengeborannya) oleh rig Marianas (milik Transocean)
8-27 Okt 2009
Rig Marianas di evakuasi karena kerusakan oleh badai Ida
31 Jan – 6 Feb 2010
Rig Deepwater Horizon menggantikan Rig Marianas.
6 hari perawatan dan pengetesan BOP.
Memulai aktifitas pengeboran pada 6 Februari.
19 April 2010
Menyelesaikan pemasangan casing produksi sampai kedalaman 18,304 feet
19-20 April 2010
Melakukan pekerjaan penyemenan sumur
20 April 2010
Pengetesan tekanan positif dan tekanan negatif casing produksi
20 April 2010
Pemantauan sumur dan pekerjaan bersamaan.
Memompa air laut menggantikan lumpur dan spacer di dalam riser sumur.
Sumur dalam keadaan underbalance dan mulai mengalir.
Aliran yang keluar dari dalam sumur meningkat.
20 April 2010
Respon terhadap kendali sumur.
Lumpur mulai mengalir melebihi pipa. Dan mengalir lewat derrick.
Menutup diverter dan lumpur melewati gas separator.
Mengaktifkan lower annular preventer BOP.
Gas tekanan tinggi terlepas dari gas separator vent.
Alaram gas pertama berbunyi. Gas menyebar dengan cepat membunyikan alarm lainnya.
Rig kehilangan listrik.
Terjadi ledakan pertama (5 detik setelah rig kehilangan listrik).
Mengaktifkan Emergency Disconnect Sequence (ESD) BOP, namun paket lower marine riser tidak membuka.
Mentransfer 115 personel termasuk 17 pekerja yang terluka ke M/V Damon Bankston. 11 pekerja hilang dan dicari.
22 April
Deepwater Horizon tenggelam
21-22 April
Mengoperasikan Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk menutup Variable Bore Rams dan Blind Shear Rams dari BOP di bawah laut. Tidak berhasil.
Urutan waktu kejadian

Faktor penyebab kejadian kebakaran/ledakan (direct and indirect cause)


Dengan mempergunakan fault tree analysis, berbagai skenario, failure mode dan faktor kontribusi yang memungkinkan, ada 8 temuan utama kejadian ini:
a)    Semen annulus tidak mengisolasi hidrokarbon
b)    Shoe track tidak mengisolasi hidrokarbon
c)    Test tekanan negative diterima walaupun integritas sumur tidak diperiksa
d)    Influx dari sumur tidak diidentifikasi hingga hidrokarbon berada di riser
e)    Respon kendali sumur gagal untuk menjaga kendali sumur
f)     Pengalihan ke mud gas separator mengakibatkan gas ter-venting di rig
g)    Sistem kebakaran dan gas tidak mencegah ignisi hidrokarbon
h)   Mode darurat BOP tidak dapat menutup sumur.

Swiss cheese model kejadian ledakan dan kebakaran


Ringkasan kegagalan di Sumur Macondo

Analisis program dan sistem Pencegahan dan Proteksi Kebakaran


Ada beberapa potensi sumber penyalaan di rig Deepwater Horizon:
  • Klasifikasi area listrik (electrical area classified)
  • Sistem gas dan kebakaran
  • Sistem ventilasi
Marine Operation Manual (MOM) Deepwater Horizon tertanggal Maret 2001 menyatakan bahwa: area kapal dibagi dan diidentifikasi memiliki kemungkinan pencampuran udara/gas mudah terbakar/meledak. Sebagian besar are rig tidak masuk klasifikasi mudah terbakar/meledak karena hanya sedikit atau bahwa tidak ada peluang pencampuran gas/udara mudah terbakar bahkan dalam kondisi yang paling ekstrim sekalipun.

Area klasifikasi listrik di Deepwater Horizon meliputi area drill floor dan area di atas drill floor, termasuk juga derrick. Area deck yang langsung dibawah drill floor juga masuk klasifikasi listrik. Berbagai macam intake dan outlet ventilasi dan outlet diverter juga masuk klasifikasi listrik. Moon pool dan ruangan mud pit juga masuk area klasifikasi listrik.

Sistem gas dan kebakaran Deepwater Horizon memiliki 27 detektor gas mudah terbakar. Seluruh gas detektor berfungsi otomatis terhadap alaram visual dan audio. 13 dari 27 detektor memiliki respon otomatis, sedang 14 sisanya tidak beraksi otomatis, hanya memberikan alarm visual dan audio.

Dari hasil Analisa data, perawatan dan penilaian terakhir oleh pihak ketiga menunjukkan bahwa gas detektor dalam kondisi cukup baik, diuji dan terawat.

Fungsi dan layout sistem ventilasi juga diperiksa. Fire damper di rig didisain untuk otomatis menutup ketika listriknya mati. Disediakan juga fusible link untuk memastikan damper menutup jika terjadi kebakaran.

Hipotesis analisis kejadian kebakaran


Modeling vapor dispersion menunjukkan bahwa campuran gas mudah terbakar dengan cepat menyelimuti area rig, termasuk beberapa ruangan tertutup dibawah deck. Area di bow dan aft deck utama serta di bawah deck tidak klasifikasi listrik. Karena itu beberapa penyalaan mungkin terjadi.

Sistem HVAC (Heating, Ventilating, dan Air Conditioning) mungkin mentransfer gas mudah terbakar ke area tertutup mesin, sehingga mesin menjadi melebihi kecepatannya. Yang menjadi sumber penyalaan.

Sumber penyalaan mekanikal juga mungkin terjadi. Tekanan yang sangat besar terjadi ketika pelepasan hidrokarbon bisa menyebabkan kegagalan peralatan, dan mengakibatkan kerusakan kolateral sehingga menimbulkan percikan.

Rekomendasikan program pencegahan dan proteksi kebakaran


Laporan investigasi kecelakaan Deepwater Horizon oleh BP memberikan 2 hal besar perbaikan:
  • Drilling dan Well Operation Practices (DWOP) dan Operating Management System (OMS)
  • Pengawasan dan kontrol kualitas kontraktor dan provider jasa
Perbaikan DWOP dan OMS:
a)    Prosedur dan praktek teknis engineering
·         Perbaikan panduan penyemenan
·         Perbaikan persyaratan well control
·         Perbaikan desain teknis: tubular, casing hanger seal
·         Perbaikan persyaratan untuk mencakup pengetesan tekanan negatif
·         Memperjelas standar pelaporan dan investigasi kejadian pengendalian sumur
·         Mengusulkan American Petroleum Institute untuk mengembangkan rekomendasi untuk desain dan pengetesan busa semen pada penggunaan tekanan tinggi dan suh tinggi
·         Penilaian dan meninjau penerapan Management of Change (MOC)
b)    Kompetensi dan kapabilitas
·         Memperkuat peran teknis di bidang penyemenan dan isolasi
·         Memperkuat kompetensi dan kepemimpinan di operasi laut dalam
·         Mengembangkan program pelatihan laut dalam tingkat lanjut
·         Membangun ahli internal BP dibidang subsea dan kontrol sistem BOP
·         Meminta International Association of Dirlling Cotnractor (IADC) untuk mempertimbangkan sertifikasi di bidang subsea engineering
c)    Audit dan verifikasi
d)    Proses Safety Performance Management
·         Membuat indikator leading dan lagging terkait integritas sumur, pengendalian sumur dan peralatan keselamatan kritis rig
·         Mempersyaratkan kontraktor pengeboran untuk membuat sistem monitoring audio terkait indikator leading dan lagging di atas.

Pengawasan dan kontrol kualitas kontraktor dan provider jasa:
a)    Pemastian jasa penyemenan
b)    Memastikan praktek pengendalian dan monitor sumur diterapkan di semua kontraktor pengeboran
c)    Keselamatan proses rig:
·         Hazop review pada sistem gas permukaan dan cairan pengeboran sebagai bagian dari rig audit dan penerimaan
·         Memasukkan semua venting hidrokarbon sebagai bagian dari Hazop
d)    Pengawasan kualitas desain BOP:
·         Menetapkan minimal redudancy dan reliabilitas BOP yang dimiliki kontraktor
·         Memperketat persyaratan minimum pengetesan BOP
·         Memperketat persyaratan minimum perawatan BOP
·         Menetapkan persyaratan minimum Management of Change subsea BOP
·         Membuat perencanaan yang jelas untuk ROV intervensi sebagai bagian dari tanggap darurat
·         Membuat kontraktor pengeboran menerapkan proses kualifikasi yang memverifikasi kinerja kemampuan shearing BOP
·         Termasuk verifikasi pengujian dan kesesuaian dengan point redudancy dan kemampuan shearing BOP.

Kerja sama industri di bidang penanganan tumpahan


Juli 2010, 4 dari 5 perusahaan besar minyak dan gas membangun perusahaan non profit Marine Well Containment sebagai langkah bersama untuk meningkatkan kapabilitas penanganan tumpahan sumur di Teluk Meksiko. Masing-masing perusahaan komitmen berinvestasi 1 milyar USD untuk pengembangan sistem cepat tanggap perusahaanMarine Well Containment yang terdiri dari peralatan modular kontainment yang dapat mengumpulkan minyak yang mengalir dari laut dalam. Sistem ini didisain untuk dpt dimobilisasi dalam waktu 24 jam dan siap dioperasikan selama berminggu-minggu, siap menampung tumpahan sedalam 10,000 feet dari permukaan, untuk volume sampai 100,000 barel per hari.


Skematik sistem Marine Well Containment

---000---



Penyusun:  Syamsul Arifin, SKM
HES Specialist, Chevron Indonesia Company
Mahasiswa Pasca Sarjana K3 FKM UI


Referensi

  • British Petroleum. Deepwater Horizon Accident Investigation Report. September 2010. UK
  • US Chemical Safety and Hazard Investigation Board. Investigation Report, Explosion and Fire at the Macondo Well. Juni 2014. US
  • Deepwater Horizon Study Group (DHSG). Final Report on the Investigation of the Macondo Well Blowout. University of California Berkeley, US
  • The Bureau of Ocean Energy Management, Regulation and Enforcement. Report Regarding The Causes Of The April 20, 2010 Macondo Well Blowout. September 2011. US
  • National Commission on the BP Deepwater Horizon Oil Spill and Offshore Drilling. Deep Water the Gulf Oil Disaster and the Future of Offshore Drilling: Report to the President. Januari 2011. US