Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

23 December 2015

(cerpen) Kunang-Kunang Tanpa Cahaya

Aku terlahir di dekat rawa, dalam komunitas kunang-kunang yang hidup nokturnal –aktif di malam hari, tidur di siang hari.

Namun ada yang berbeda dalam diriku. Ketika teman-temanku memiliki lucifer sehingga mampu memancarkan cahaya, aku tidak bisa mengeluarkan sinaran dingin yang sama. Hal itu membuatku stres, apalagi ketika mengetahui bahwa ada beberapa teman-temanku yang bahkan sudah mengeluarkan cahaya ketika masih di dalam telur.

Makanan kami sama, cairan tumbuhan, siput-siputan kecil, cacing, maupun serangga kecil lainnya, tapi kenapa perutku tidak bisa memancarkan entah warna warna kuning, merah terang, hijau, atau  oranye seperti yang lainnya.

“Hey.., itu si kunang-kunang tanpa cahaya,” suara samar terdengar saling berbisik di lorong bawah tanah ketika aku berlalu.

Pandangan mata setengah mengejek menghiasi hari-hariku di sarang kami.

Bahkan larva-larva kecil akan menatapku aneh, mencoba memperhatikan bagian perutku, saling menebak kira-kira kenapa aku tidak mengeluarkan sinar yang sama.

“Mungkin dia terkena kutukan.”
“Ah, mana mungkin, para penyihir kan sudah musnah semenjak zaman dahulu,” tutur temannya.
“Itu akibat tidak patuh pada orang tuanya,” seorang tua ikutan menyahut, alasan yang digaungkan para tetua agar anak-anak mereka patuh dan nurut kalau diberi wejangan.
“Ih serem ah.., aku tidak mau jadi seperti itu,” mereka berlarian menjauh.

***

Rasanya menyedihkan menjadi pribadi yang berbeda dan dijauhi teman-teman, seakan-akan aku ini wabah penyakit yang harus dikarantina saja.

Jadi bahan perbincangan, ejekan –walaupun aku tidak bersalah apa-apa- sudah biasa. Walau sudah terbiasa, hal itu tetap membuatku muram.

Hari-hariku kulalui dengan suram, sekedar menjalani hari.

Sampai suatu malam, aku bertemu dan menjalin persahabatan dengan ngengat, semacam kupu-kupu malam. Berbeda dari saudaranya yang aktif di waktu siang –diural- dan memiliki sayap yang warnanya indah cemerlang, ngengat hampir mirip dengan diriku –berbeda dengan saudaranya-, sama-sama nokturnal dan memiliki sayap yang cenderung gelap, kusam atau kelabu.

“Usahlah mempedulikan suara sumbang kunang-kunang lain,” katanya suatu kali, “anggaplah suara-suara itu sebagai angin lalu. Sesekali bertiup, kemudian hilang tak berbekas.”

“Tak perlu kau tanggapi. Jangan dimasukkan ke dalam hati,” tambahnya, “jangan kau biarkan perkataan-perkataan itu membuatmu jatuh dan terpuruk.”

“Perkataan mereka tidak boleh sampai membentuk dirimu. Jadilah hebat dengan apa yang kamu miliki,” tuturnya santai.

“Nasihat yang super”, ujarku dalam hati. “Terima kasih kawan.”

***

Suatu malam, datang segerombolan manusia ke depan sarang kami. Mereka membawa plastik kecil dan botol kaca besar.

“Mari kita cari kunang-kunang sebanyak mungkin, untuk hiasan perayaan besok lusa,” seru salah seorang yang berbadan besar.

Mulailah mereka meraup, mengejar, menjebak, dan menangkapi sebagian besar kawan-kawanku. Kami berterbangan kocar-kacir, berteriak saling memperingatkan, “SELAMATKAN DIRIMU, Terbanglah sejauh mungkin dari sini!” jeritan bersahutan mengisi hutan malam.

Aku menjatuhkan diri ke lantai hutan. Tanpa sinar berkelap-kelip di dalam perutku, mereka melewatkanku yang tersamar oleh tanaman.

Beberapa jam mencekam akhirnya berlalu. Sarang kami porak poranda.

Anak-anak maupun dewasa, banyak tersekap di wadah botol yang mereka bawa. Sinarnya berkilauan terang. Tampak jelas ketakutan kunang-kunang yang telah tertangkap.

“Hari sudah semakin larut. Aku letih sekali. Mari kita beristirahat dulu di sini. Kita bangun tenda dan berangkat ke kota esok pagi,” kata seorang pemburu kunang-kunang itu.
“Baiklah,” mereka mulai membangun tenda, menyalakan api unggun, dan menggelar selimut

Malam beranjak semakin larut. Para pemburu itu sudah terlelap dalam kantuk.

Pikiran berkecamuk dalam diriku. Apakah aku akan meninggalkan semua kunang-kunang yang tertangkap dan mencari jalan selamat sendirian saja, terbang menjauh. Atau berusaha mendekat dan mencari jalan untuk membebaskan mereka semua yang sering mengejek dan menggunjingkanku.

Arrgh…, aku bingung.

“Jadikanlah kekuranganmu sebagai sumber kekuatanmu,” terngiang pesan ngengat sahabatku.

Aku memberanikan diriku menyelinap di antara para pemburu kunang-kunang.

Nyaring terdengar suara dengkuran, mereka semua sudah pulas terlelap.

Setengah berbisik, aku berkata di sisi toples, “ssssstt, jangan berisik, aku akan berusaha membebaskan kalian,” jariku memberi isyarat di depan bibir.

Kuperhatikan wadah ini tertutup kawat kasa, terikat di samping. Kutarik kuat-kuat. Satu-dua-tiga. Tutup wadah bisa terlepas.

Ratusan kunang-kunang berhamburan keluar. Kembali menghirup udara bebas.

“Mari menjauh dari sini!” seruan tercekat perlahan, ramai terbang beriringan.

Ada perasaan bahagia terselip dalam dada. Ucapan maaf dan terima kasih dari semua kunang-kunang malam menghapus memori luka masa lalu yang tadinya kelam menjadi terang benerang.

Perut gelap  tak bercahaya yang dulu kubenci, kini aku syukuri, terlepas dengan kondisi apapun yang kamu miliki, tidaklah jadi alasan untuk tidak bisa menjadikan dirimu bermakna bagi sesama.


---000---

Balikpapan, 30 November 2015
Syamsul Arifin, SKM, MKKK


Penulis adalah blogger, praktisi keselamatan kerja dan karyawan migas yang berdomisili di Gn Guntur Asri, Balikpapan. Kunjungi blogsnya di http://genkeis.blogspot.com



*cerpen ketigaku di Kaltim Post, edisi Minggu, 13 Desember 2015. Bisa dibaca di edisi digital Kaltim Post: http://epaper.kaltimpost.co.id/arsip/byTanggal/2015-12-13 (hal 35)

18 December 2014

Masa Lalu (Biarlah) Berlalu…

“Saya bukan gay, dan kamu tidak jelek. Tapi ini ngga bener, kita sebaiknya berteman biasa aja.”

Penggalan dialog itu masih saja terngiang ditelingaku. Yusuf, pemuda tampan di sekolah, ketua OSIS pujaan siswi-siswi di SMA itu baru saja memutuskan hubungan kami, padahal kita baru jadian 2 minggu lalu.

Pria lainnya mengejar-ngejar aku untuk menjadi pacar mereka, selain cantik, aku juga ngga membatasi diri dalam berinteraksi, bahkan sudah sering beberapa kali aku ditegur guru karena dianggap kelewatan batas dalam bermesraan dengan mereka, ketangkap basah di kelas ketika jam pelajaran kosong.

---000---

Wajah yang terpampang di baliho pinggir jalan itu tampak begitu familiar. Tertulis dibawah fotonya, Yusuf, ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia). Rupanya mereka akan mengadakan seminar gratis di Balikpapan 3 minggu lagi. Wajah itu mengingatkanku akan momen sekolah 15 tahun lalu. Figurnya masih tetap sama, segar tampan, hanya tambah gagah –dulu kurus tinggi.

“Sukses Muda itu Bisa!” itu judul seminarnya, hatiku bimbang, kepingin rasanya hadir, hanya sekedar menyapa, toh acaranya di adakan di hotel yang sama tempat aku bekerja.

---000---

Sayup-sayup kudengar gemuruh tepuk tangan gembira.

Aku menguping dari sisi ruang ballroom hotel. Isi ruangan penuh, kuduga hampir 300 peserta memadati acara.

Itu dia, sepertinya Yusuf ada di depan ruangan.

“Yang pertama harus kita lakukan kalau ingin sukses adalah tentukan akan seperti apa masa depan kita kelak. Bayangkan, apakah kamu akan duduk di depan toko roti milikmu, bercengkrama dengan pengunjung cafe kopimu, atau berkeliling menghabiskan hari di kebun pepaya milikmu.”

“Selanjutnya, dan ini yang terpenting. Mimpi seindah apapun akan tetap menjadi mimpi kalau kita tidak bangun dari tidur kita. Mulailah bangun dan susun rencana kerja. Sama seperti mau ke lantai tertinggi hotel ini, pasti ada anak tangga atau lift. Bangunlah anak tangga itu, dan melangkahlah setapak-demi setapak. Tidak ada yang namanya kesuksesan instan, adanya mie instan dan katanya itu bikin sakit kalau kebanyakan–makanya yang anak kostan, jangan sering-sering makan mie instan,” seisi ruangan tertawa.

“Terakhir, dibutuhkan kesabaranan dalam berusaha. Jangan maunya senang-senang saja di masa muda, bergaul berlebihan, nongkrong sampai malam, sekolah bolos terus, belajar ngga mau, lantas di masa tua mau hidup nyaman dan sukses. Hal itu ngga akan terjadi. Trust me,” suaranya berubah bergetar.

“Ketika SMA, saya sekolah di kota Balikpapan ini. Saya niat pengen masuk Universitas Indonesia. Tapi bukan sekedar masuk UI, tapi masuk UI dan dapat beasiswa. Orangtua saya bukan orang kaya, sudah syukur saya bisa sekolah sampai SMA –itupun karena dapat beasiswa dari Pemprov Kaltim juga. Makanya ketika teman-teman asyik pacaran, main sepulang sekolah, saya tidak melakukan itu. Ketika siang hari jam istirahat, saya menghabiskan waktu di perpustakan, bukan karena suka baca buku, tapi terpaksa baca buku, karena tidak punya uang untuk jajan makan siang.” Tawa membahana mengisi ruangan.

“Ketika banyak teman yang berangkat dan pulang sekolah naik motor atau diantar orangtuanya, atau setidaknya naik angkot, saya sering jalan kaki hampir 2 kilometer, karena uang jajan saya hanya cukup untuk sekali naik angkot saja.”

“Alhamdulillah, karena tidak malu hidup prihatin, jualan kecil-kecilan ke teman-teman, saya jadi mengenal seni marketing di usia muda. Paham siapa segmen pasar saya, bisa memprediksi trend market, terbiasa berpromosi dan bernegosiasi.”

“Sekarang, saya memiliki 100 mobil rental, 21 cabang toko gadget, 11 travel agent, 7 rumah makan, dan 2 pesantren quran.” Tepuk tangan bergemuruh.

Aku ingin berlama-lama mendengarkan cerita Yusuf, tapi aku harus segera kembali ke bagian reception penerima tamu menggantikan temanku.

---000---

Malam itu, dalam perjalanan pulang ke rumah, di dalam angkot yang dentuman musiknya memekakkan telinga, pikiranku hanyut melayang pada kejadian pagi tadi.

Aku kagum akan perjalanan hidup Yusuf. Tidak seperti diriku, masih tinggal di rumah orangtua dalam usia yang beranjak 35, menjadi single parent dengan suami yang entah kemana tidak bertanggungjawab ketika menghamiliku dahulu ketika SMA.

Persetan dengan cinta!

Pria kalau ada maunya saja berlagak seperti pelayan. Kalau sudah menikah, jangankan bersikap romantis, menafkahi cukup saja tidak, bahkan tega-teganya berselingkuh dengan wanita lain!

Seandainya dari dulu aku lebih bisa menjaga diri dan berhati-hati dalam berinteraksi, mungkin keadaan akan jauh lebih baik dari kondisi saat ini.

Dingin angin malam menusuk ke dalam rusuk. Tak terasa, air mataku mengalir perlahan memecah keheningan malam.


---selesai---


Balikpapan, 19 November 2014
Syamsul Arifin


 *cerpen ini dimuat di kaltim post edisi minggu, 14 Desember 2014, bisa dilihat epapernya di: http://epaper.kaltimpost.co.id/arsip/byTanggal/2014-12-14 (hal 22)

05 October 2010

[cerpen] Langkah Nisa

Mentari menampakkan sedikit sinarnya di pagi yang tak cerah.

"Heh, kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di sini, nemenin tamu-tamu yang datang ke kafe ini. Uangnya lumayan banyak, tapi kamu harus lepas tudung kepalamu itu. Kamu lumayan cantik, pasti banyak yang mau ditemenin olehmu."

Tawaran kerja di kafe -diskotik- itu terbayang lagi. Senyum Pa Misran, pemiliki kafe -diskotik- yang menawarkan kegembiraan pelepas stres pada orang-orang yang haus kebahagiaan, mengembang senang.

Mungkin Tuhan akan memaafkan dosaku. Bukankah Ia maha pemaaf? Jika aku (mengambil tawaran) kerja itu, toh juga karena paksaan takdirNya -yang membuat aku mencicipi profesi nista. Humm, tidak nista ah, kan hanya menemani pengunjung yang datang minum bir -sebotol atau dua botol-, tapi kan aku tidak minum bir juga, hanya duduk saja menemani mereka.

Walaupun akalnya mengatakan hal demikian, tapi hatinya berontak, ia masih ingat betul pelajaran fiqh yang ia terima di madrasah tsanawiyah -yang tak sempat sampai lulus- bahwa orang yang duduk di meja yang sama dengan para peminum khamar, juga mendapatkan dosa yang sama.

Rasulullah SAW telah melaknat terkait dengan khamar ini 10 orang: yang memerasnya, yang minta diperaskan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan, yang menuangkan, yang menjualnya, yang mendapat keuntungan dari jual belinya, yang membelinya, yang dibelikan (HR At-Tirmizy dan Ibnu Majar dengan rawi yang tsiqah)

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk pada meja yang diedarkan di atasnya khamar. (HR Ahmad dalam musnadnya)


Wajah teduh Ustadz muda Amir ketika dulu menyampaikan hadits-hadits itu terbayang di wajah Annisa Ramadhani.

Ah.., mungkin ia memang harus mengubur dalam-dalam imannya, untuk sementara waktu, demi menyelamatkan adiknya, agar tidak terus menerus tersiksa dengan kondisi tanpa anus!



***

Hari ini adalah hari pertama Nisa bekerja di kafe -diskotik-nya pa Misran. Ia mematut-matutkan diri di hadapan cermin yang sedikit terlihat kusam, walau cermin itu terlihat bersih -tanda terawat- tapi beberapa goresan di sisi dan pudarnya pantulan menandakan bahwa cermin itu sudah uzur. Pun begitu, wajah Annisa Ramadhani yang sebening awan masih tetap tampak mempesona ter-copy di balik cermin.

"Huh..," ia menghela nafas panjang.

Bismillah, seharusnya ucapan itu yang semestinya terucap sebelum melakukan aktivitas bekerja. Tapi untuk pekerjaan yang terbayang akan dilakukan di kafe -diskotik-nya pa Misran, ucapan Istigfar malah berkali-kali terlontar.

Ragu membayangi. Apakah ia akan melepas tudung kepala yang sudah setia menemaninya menjalani hari? Apakah ia harus meletakkan di balik lemari, simbol keshalehan dirinya kali ini? Apakah nanti pa Misran akan marah kalau ia datang dengar berpakaian seperti yang sekarang ini?

"Oh..," tak tega rasanya ia melepaskannya.

Dikuatkan niat, bahwa ia akan datang dengan memakainya, nanti kalau pa Misran marah, barulah ia akan melepaskannya. Astagfirullah..!

Ayunan langkah Nisa menapaki jalan yang tak pasti. Terlihat jelas kegalauan sinar wajahnya. Lambat laun, ia sampai juga di tempat kerja -kemaksiatan- yang belum pernah sama sekali ia datangi. Untuk yang pertama kali -dan bisa jadi selanjutnya ia akan terbiasa menyambangi tempat ini.

Pandangan matanya diarahkan mengelilingi ruangan yang samar-samar tidak begitu terang. Suara musik house berdentum. Beberapa orang sedang asyik berkaraoke menyanyikan lagu tidak jelas -terlihat mereka sedikit mabuk, ada dua wanita berpakaian seronok yang menemaninya.

"Oh tidak! Apakah aku akan menjadi seperti itu nanti?"

Pandangan matanya terhenti pada sesosok orang yang telah ia kenal lama.

"Masya Allah!1) Itu adalah ustadz Amir, guru fiqhnya di Tsanawiyah dulu," batinnya terkejut, "sedang apa ia disini?"

Dua botol minuman bergambar topi merah tergeletak di meja, satu sudah kosong, satunya lagi masih ada setengah.

Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya;2)

Terbayang juga salah satu episode dimana ketika ia masih dibimbing Ustadz tersebut semasa sekolah dulu, dirinya pernah disentuh-sentuh olehnya. Bukan hanya dirinya, bahkan beberapa teman-teman wanitanya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Cabul! Sehingga akhirnya kelakuannya menyebabkan ia dikeluarkan dari sekolah. Ntah bagaimana nasibnya setelah itu. Ternyata kali ini dia kembali bertemu lagi dengan ustadz cabul yang membuatnya trauma belajar agama. Dilihatnya pria itu sedang mengelus-elus tubuh wanita yang sedang menemaninya. Naudzubillahininzalik!

Segera ia berlari keluar, sambil menangis. Air matanya berderai menetesi tanah. Berkali-kali ia beristigfar memohon ampunan-Nya.

Di tengah jalan, ia bertabrakan (lagi) dengan seseorang ibu paruh baya. Ibu yang waktu itu pernah ditabraknya juga di pasar!

Brak!!! "Aduh, maaf bu saya tidak sengaja," Nisa mencoba menghapus air matanya. Pandangannya tertunduk.

"Aduh! Kamu ini! Lain kali hati-hati dunk!" sang ibu memperhatikan wajah gadis yang menabraknya. "Lho kamu..? Wah, sepertinya kita tidak bisa tidak bertemu selain dengan bertabrakan seperti ini ya..?" sang ibu itu sedikit tertawa melihat gadis yang menabraknya adalah Nisa, gadis yang sama yang menabraknya sewaktu di pasar dulu.

"Lho lho lho.., kamu kenapa nangis?"

"Ngga apa-apa bu," jawab Nisa tersengal-sengal, sesekali nafasnya beradu cepat meredakan tangisan.

"Hayuh-hayuh, ke tempat ibu dulu, kita bicara disana."


* * *

Segelas teh hangat berada di dalam genggaman Annisa Ramadhani.

"Oh, jadi itu toh ceritanya sehingga kamu menangis sampai seperti itu."

Nisa bercerita semua hal tentang dirinya, mulai dari kenapa ia akhirnya harus menerima tawaran pa Misran.

"Ah, mungkin kamu bisa bekerja di toko komputernya Alif, anak sulung ibu, siapa tahu dia punya posisi yang pas untuk kamu," ujar si ibu optimis. "Sabar ya anakku, ingatlah bahwa Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya3). Kamu shalat, berdoa dan berusaha cari kerja lain yang lebih baik ya.., nanti klo ibu sudah ada kabar dari Alif, ibu akan hubungi kamu," senyum ibu itu hangat mengembang.

Benar kata ibu itu, Allah tidaklah luput melihat hamba-hambaNya. Ia tahu. Dan sungguh Ia maha berkuasa atas segala sesuatu.




---bersambung?---

27-05-2010 & 31-05-2010
Syamsul Arifin

foot note:
1) Ucapan masya Allah untuk keterkejutan sesungguhnya bukanlah suatu hal yang tepat. Masya Allah lebih tepat untuk ekspresi kekaguman. Untuk keterkejutan karena sesuatu yang buruk, perkataan "Innalilah" atau "Astagfirullah" lebih tepat. Lihat QS. Al Kahfi: 39
2) QS. Fathir: 8
3) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. 2: 286)

*pernah diposting di sini & sini

16 November 2009

[cerbung] Soul Match - Bagian IV: Pertemuan

Drop Banner berukuran 2 x 3 meter menjadi latar sebuah sofa besar lebar berwarna krem, sebuah sofa kecil yang hanya muat diduduki satu orang berada serong di samping kanannya, meja kayu panjang setinggi dudukan sofa berada di tengah, setangkai bunga lili putih berdiri cantik dalam vas bening kristal di tengah meja. Terbaca tulisan di di banner tersebut, “Workshop Penulis Muda komunitas myQuran.org. Langkah Kecil untuk Menjadi Penulis Besar”.

Sekitar lima puluhan bangku-bangku tersusun rapi menghadap susunan sofa yang akan menjadi tempat para pembicara. Ada jeda jarak di tengah-tengah. Ruangan aula masjid Sunda Kelapa tampak penuh, beberapa orang sudah menempati tempat duduk, beberapa panitia tampak sibuk lalu-lalang, ada yang sedang mengetes microphone, ada yang sedang memeriksa lensa kamera, eh, ternyata ada juga panitia yang sedang asyik ngupil dipojokan sana, sambil sarapan roti pula :toe:

Udara pagi masih sejuk dan baru beranjak menghangat, terang. Pukul 8.25 WIB.

Seorang pria yang mengenakan kemeja casual dilapis sweater tanpa lengan berwarna merah gelap maju kedepan, mengambil microphone, acara akan segera dimulai.

Annisa Ramadhani melangkahkan kaki memasuki ruangan aula berbentuk oval, terbagi dua bagian, sebelah kanan untuk para pria, dan sebelah kiri untuk para wanita. Ia mengisi buku tamu, mendapatkan souvenir kecil, lumayanlah untuk kenang-kenangan.

Pembukaan oleh MC, sambutan dari Novi Khansa, sang ketua panitia yang menjadi dalang utama pelaksanaan workshop, menjelaskan latar belakang diadakannya acara ini, mungkin dia akan menjelaskan pula mengenai latar depan kegiatan ini, udah kayak pekarangan rumah aja, ada latar belakang dan latar depan! eh maksudnya harapan bagi para peserta setelah menyelesaikan workshop penulisan myQ.

Selesai sesi-sesi (tak penting) yang mengawali pembukaan acara, tibalah salah satu bagian workshop bagian satu bertema “Idealisme dalam Menulis”, Fatih Arya, sang penulis novel “Rembulan Merah di Langit Aussy”, yang menjadi teman korespondensi Nisa sewaktu dia masih kuliah di Australia, dipanggil maju ke depan.

“Ow, begini toh penampakan aslinya si Arya,” Nisa bergumam pelan. Tampak kalem, dengan sorot mata yang tajam, berenergi, badannya tidaklah terlalu berisi namun ia tampak tegap.

Sang moderator memperkenalkan singkat biodata dirinya, dan sedikit mencadainya tentang statusnya yang masih single.

“Menulis merupakan suatu hal yang mudah. Dari kecil kita sudah bisa menulis, sedari masih di Sekolah Dasar dulu bahkan. Tapi kemudian ketika kita beranjak besar, diri kita sendirilah yang memberikan batasan atas kemampuan penulisan kita, mematikan karunia yang telah Allah berikan bagi diri kita, merekam bahasa dalam bentuk tulisan.

Dari sesi-sesi workshop yang nanti akan kalian dapatkan, ada beberapa skill penulisan yang tentunya sangat berguna, mulai dari pembahasan mengenai penulisan fiksi, proses kreatif, dan seterusnya, dengan narasumber yang oke-oke punya lagi.

Panitia meminta saya membawakan tema yang menurut saya memang harus menjadi salah satu dasar dalam menulis. Ibarat ibadah, tema ini adalah bab Niat dari sebuah prosesi ibadah. Sebagai seorang muslim, kita tentu menginginkan setiap aktivitas-aktivitas kita sebagai bagian dari proses yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah toh? Begitu juga dengan menulis, harus bisa menjadi amal yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak. Makanya tema awalnya ini agak-agak sedikit berat, tapi insya Allah akan memjadikan kita semakin termotivasi dan bersemangat dalam menulis.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia lengkap, idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa pikiran, angan-angan atau cita-cita adalah satu-satunya hal yang benar. Atau menurut kamus online Wikipedia, idealism is the doctrine that ideas, or thought, make up either the whole or an indispensable aspect of any full reality, so that a world of material objects containing no thought either could not exist as it is experienced, or would not be fully “real”.

Sedangkan pelakunya disebut idealis. Pengertian idealis sendiri beragam. Ada yang mengatakan bahwa idealis adalah seorang penulis atau artis yang menyokong atau mengamalkan idealisme dalam senit atau tulisannya, ada yang mengatakan idealis adalah seorang yang dipandu oleh idealisme, terutamanya seorang yang meletakkan idealisme sebelum pertimbangan praktikal, dan ada juga yang mengatakan idealis adalah seseorang yang membawa pemikiran sesuai yang dipahaminya jika bertemu seorang idealis dari ‘aliran’ lain.

Apa pun pengertiannya, sangat jelas bahwa idealisme sangat penting karena saat menghadapi kenyataan, maka akan ada kecenderungan untuk ikut arus yang ada. Di bidang apa pun, tanpa idealisme, seseorang akan terombang-ambing. Oleh karena itu, idealisme harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin berhasil. Begitu juga dengan seorang penulis.

Tidak ada satu penulis pun yang berhasil tanpa idealisme. Idealisme yang diusung oleh setiap penulis atau suatu komunitas berbeda-beda. Menulis juga merupakan sebuah sarana untuk mengungkapkan idealisme; memindahkan budaya lisan ke tulisan, dan sarana untuk merasionalisasikan budaya visual bahwa di balik sebuah tontonan ada tulisan yang berbentuk script atau naskah.

Konsekuensi untuk menjadi seorang idealis memang berat di tengah-tengah dunia yang pragmatis. Yang serba instant. Penulis yang terus menulis walaupun banyak tulisan-tulisannya ditolak media atau penerbit. Dan justru banyak penulis yang berhasil karena keuletan mengusung idealisme mereka. Bagaimana mentransfer dari budaya popular ke menulis, tidak menjadi konsumen, memberi jarak dengan apa yang kita tonton atau dengar sehingga ahrus ada output yang kemudian akan menjadi ide untuk sebuah tulisan. Dari sebuah produk mentah yaitu multimedia, menjadi sebuah produk jadi yaitu cerpen, puisi, novel, skenario dan sebagainya.

Demikian juga penulis. Sebagai seorang muslim, penulis berdakwah melalui pena. Melalui tulisan-tulisannya yang dapat mencerahkan dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain yang membacanya. Seperti yang kita teladani dari pribadi Rasulullah yang penuh kelembutan yang memang demikianlah hukum asal dalam berdakwah.  Walau adakalanya sikap tegas dan keras diperlukan untuk menasihati seseorang yang pada dasarnya memiliki keikhlasan dalam beragama namun berbuat sesuatu yang tidak pantas ia kerjakan.

Seorang penulis dalam berdakwah sebaiknya tidak akan melalaikan dari dzikrullah. Justru mereka selalu mengingatkan kita akan kebesaran Allah dalam tulisan-tulisan, artikel-artikel, puisi, dan sajak-sajak mereka, dengan tanpa menggurui tentunya.

Bawalah ideologi keislaman dan keimanan kalian ketika menggoreskan pena, atau ketika mengetik di keyboard. Jadilah bagian dari komunitas sastra yang mencerahkan dunia.

Tidak mudah memang membuat karya yang menginspirasi, memotivasi, menggerakkan orang dalam kebaikan dan sekaligus enak untuk dikonsumsi, tapi toh jalan menuju surga butuh perjuangan bukan?

Tetap semangat dalam memberikan persembahan terbaik bagi umat, melalui tulisan-tulisan kalian!"

* * *

“Tidak rugi rasanya menghadiri acara ini, semangat menulisku terpompa lagi nih,” Nisa memanggut-manggut kepalanya.

Ia teringat membawa novel yang pernah menjadi hadiah dari Fatih, karena bantuannya dalam menceritakan tentang kehidupan kampus di Australia yang menjadi latar novel menjadi best seller itu.

Sesi pertama selesai sewaktu jam istirahat makan siang, sayangnya Nisa tidak bisa melanjutkan sesi-sesi selanjutnya, dia sudah janji mau mengadakan acara masak-masak bareng bersama adik-adik binaan pengajiannya di komplek rumah.

“Minta tanda tangan dulu ah ke penulisnya langsung.”

Dia mendekati Fatih, sedikit canggung, karena ada banyak orang juga yang berada di dekatnya, menanti moment yang tepat.

“Mas, minta tanda tangannya dunk di novel ini,” katanya malu, Fatih sedang bersama seorang panitia yang menemaninya mengambil makan siang.

Ditandatangi novel “Rembulan Merah di Langit Aussy” yang disodorinya, sedikit memberikan coretan pesan juga di situ.

“Makasih ya,” sambil tersenyum ia berkata, “saya Annisa Ramadhani,” sambil menyatukan kedua tangan tangannya di depan dadanya.

“Saya rasa saya ngga perlu memperkenalkan diri, sudah kenal saya kan?” Fatih menyengir.

“Hehehe, oke deh, makasih buat undangan ke sini ya,” diterimanya kembali novel yang sudah ditandatangi sang penulisnya, “maaf ngga bisa ngikutin acara sampai selesai, mau pulang duluan. Assalamualaikum.” Nisa bergegas membalikkan badan, berjalan sedikit cepat.

Fatih Arya kembali berbincang dengan panitia sambil melanjutkan santap siangnya.

“Ow.., jangan-jangan dia itu si Nisa yang sering koresponden-an bareng saya lagi,” tersentak ia tersadar, mengejar keluar ruangan. Namun tidak ditemukannya lagi sosok wanita berjilbab biru itu.

“Ah.., payah, klo benar itu dia, mau berterima kasih banyak secara langsung nih, karena atas bantuannya dia, novel saya itu jadi terlihat sangat realistis,” batin Fatih berkata. “Ya, klo memang sudah ditakdirkan, pasti akan bertemu lagi kok,” ia kembali masuk ke ruang aula.



---000---

Balikpapan, 16 November 2009
Syamsul Arifin

Cerbung ke IV ini merupakan kelanjutan dari cerbung-cerbung Soul Match lainnya:
- Soul Match - Bagian III: Mimpi-Mimpi
- Soul Match - Bagian II: Rumah
- Soul Match - Bagian I: Kepulangan

Presentasi Fatih Arya tentang “Idealisme dalam Menulis” dikutip dari makalahnya mba Lia Octavia yang disampaikan pada saat inagurasi pramuda FLP DKI angkatan 12 pada Ahad, 11 Januari 2009 di Situgintung, Ciputat.

14 June 2009

[cerpen] Bunuh Diri

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa': 29)


* * *


“NGGA MUNGKIN… teganya kamu memutusin aku..,” mata Dini berkaca-kaca. Di hadapannya ada sesosok pria.

“Maaf Din, tapi kayaknya kita udah ngga cocok lagi,” pria di hadapannya bersuara.

Dini menangis terisak-isak, hubungan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun, sejak dari SMU kelas dua.

“Maafin saya ya, tapi sepertinya akan lebih baik seperti ini,” sela si pria, mencoba meraih tangan perempuan di depannya. Dini menapiknya. Masih larut dalam tangis dan keterkejutannya.

* * *

“Setelah semua yang aku korbanin buat dia.., ternyata ngga berarti apa-apa.”

Dini merenung dalam kamarnya yang khas perempuan, berwarna dominan merah muda, dengan dekorasi boneka-boneka di pojokan, foto-foto dia dan teman-teman perempuannya menempel di dinding kamar, tak ketinggalan sepotong foto berpigura milik Andre, pria yang saat ini kuliah di pulau yang berbeda dengan dirinya, tergeletak begitu saja di meja kecil samping tempat tidur, mantan pacarnya.

Dia memeluk bantal guling besar, tubuhnya masih berguncang-guncang, menangis.

Katanya perempuan itu sangat emosional, dominan dikuasain perasaan. Apalagi zaman sekarang, kebanyakan yang pendek pikirannya.

Dini menoleh pada sebotol racun serangga yang biasa dipergunakannya untuk menyemprot kamarnya agar terbebas dari nyamuk. Botol berwarna hijau yang terletak di kolong tempat tidur.

“Udah ngga ada yang berarti lagi, cintaku sudah berakhir, mungkin demikian juga seharusnya kehidupanku, biar dia tahu kalo aku sangat cinta sama dia,” hatinya berbisik.

Dia mengambil buku diary-nya, menuliskan surat wasiat, kata-kata perpisahan dengan dunia dan orang yang dia cinta. Dengan tangan bergetar, susunan kalimat mengalir lambat, mencapai akhir titik tulisan.

Terduduk di lantai, Dini menggenggam botol obat nyamuk. Matanya sembab, masih mengalirkan air mata. Bajunya basah, karena air mata.

Tok-tok-tok, tiba-tiba kamar diketuk.

“Dini, ini ada temanmu datang, mama suruh masuk kamarmu aja ya?” suara ibunya di balik pintu membuatnya terkejut.

“Bilang aja Dini lagi ngga ada,” suaranya mencoba dibuat-buat agar tidak ketahuan sedang menangis.

“Ehhhh, ini mba Sari, udah di depan pintu kamarmu nih, udah buka pintunya ya,” sahut sang ibu sambil beranjak dari pintu kamar anak bungsunya, “tunggu dulu ya mba Sari, biar nanti ngobrol aja langsung, ibu mau ngelanjutin masak lagi”

“Iya bu, makasih ya,” Sari tersenyum santun.

Mba Sari adalah mentornya di pengajian kampus yang baru saja dia ikuti. Mahasiswi berjilbab lebar yang sedang duduk di tingkat dua perkuliahan.

Dengan sangat terpaksa, ia menyeka air matanya, meletakkan kembali botol hijau itu ke kolong tempat tidur. Berjalan gontai.

Senyum cerah Sari menyambutnya ketika ia membuka pintu, dibalasinya dengan senyum yang setengah memaksa. Ekspresi wajah Sari berubah, dia mengetahui kalau anak didiknya sedang ada masalah. Masuk ke kamar.

Meski baru tingkat dua, Sari merupakan perempuan yang sangat dewasa, ia tahu ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada Dini, salah satu di antara kedelapan peserta pengajian Islam non-formal yang ia bina.

“Dini kenapa..?” tanyanya sambil duduk di pinggir tempat tidur, “mau cerita sama mba..?” Dijaganya agar ekspresinya tetap tenang.

BRUK, Sari langsung dipeluk, melanjutkan tangisan. Mengalirlah cerita yang membuat dirinya berduka.

Ditungguinya gadis yang baru selesai masa ABG itu bercerita, cukup lama memang, sampai dirinya puas dan lega.

Setelah suasana mencair, Dini bercerita juga kalau dia berencana bunuh diri karena hal itu, sebuah hal yang sepele dan bodoh, yang akhirnya ia sadari sendiri.

Sari tertawa kecil dan mengingatkannya, “bunuh diri itu dilarang dalam agama kita, ancamannya besar lho dek. Suatu ketika Rasulullah SAW pernah bercerita dengan para sahabatnya, katanya:
 
"Sebelum kamu, pernah ada seorang laki-laki luka, kemudian marah sambil mengambil sebilah pisau dan di potongnya tangannya, darahnya terus mengalir sehingga dia mati. Maka berkatalah Allah: hambaku ini mau mendahulukan dirinya dari (takdir) Ku. Oleh karena itu Kuharamkan sorga atasnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kalau orang tersebut terhalang masuk surga lantaran luka yang tidak seberapa sakitnya kemudian bunuh diri, maka bagaimana lagi orang yang bunuh diri lantaran mendapat kerugian sedikit atau banyak, atau lantaran tidak lulus ujian atau lantaran putus cinta? Bahkan Rasulullah SAW juga menceritakan ancaman menakutkan yang disediakan bagi orang-orang bunuh diri, kata beliau,

"Barangsiapa menjatuhkan diri dari atas gunung kemudian bunuh diri, maka dia berada di neraka, dia akan menjatuhkan diri ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa minum racun kemudian bunuh diri, maka racunnya itu berada di tangannya kemudian minum di neraka jahanam untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan alat tajam, maka alat tajamnya itu di tangannya akan menusuk dia di neraka jahanam untuk selama-lamanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)”

Tubuh Dini bergidik ngeri, “hiiii, Alhamdulillah ya mba, ngga sampe kejadian ke aku,” ujarnya menyesal.

“Iya, Alhamdulillah banget,” Sari tersenyum, “ingatlah dik, bahwa Allah itu amat sayang kepada hamba-hambaNya”



---000---

Samarinda, 14 Juni 2009
Syamsul Arifin

10 February 2009

[cerpen] Mencari Mantu

Deru mesin pabrik masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya, suara yang telah menjadi bagian keseharian pekerjaanku selama bertahun-tahun. Aku hampir-hampir hafal setiap detail dan sudut pabrik otomotif seluas 3 hektar ini, tempat aku mencari nafkah selama hampir lebih dari 8 tahun.

Aku memasuki sebuah ruangan besar, agak terpisah dari tempat produksi. Beberapa sekat-sekat pemisah meja, membagi divisi-divisi yang ada, produksi, personalia, perencanaan, marketing, maintenance, mekanik, support, dan lain-lain. Dari level supervisor ke atas, ada ruangan-ruangan khusus yang disediakan di sekeliling ruangan besar ini.

Seorang pemuda berusia 26 tahun, tinggi, putih, dan cukup tampan, menarik kursi meja kerjanya yang beroda, terlihat beberapa butir keringat meluncur dari dahinya.

"Ali, ke ruangan saya dulu yuk, ada yang mau saya bicarakan", aku menepuk pundaknya.

"Eh, iya pak", ia mengangguk dan mengikuti langkahku, menuju ruanganku, manajer produksi.

Ali, karyawan cerdas dengan tinggi 183 cm itu menutup pintu ruangan, mengambil posisi duduk di sofa kecil berwarna biru, di sebelahku. Aku suka desain sofa ini, aku yang memilihkannya sendiri, simpel dan nyaman. Simplicty is modernity, begitu slogan yang aku suka.

"Gimana kabar keluargamu di Bandung?", aku membuka perbincangan.

"Alhamdulillah baik-baik aja pa", ia menjawab.

"Ibu dan adik-adikmu?", aku meneruskan bertanya. Ali adalah pemuda yang bertanggungjawab, ibu dan adik-adiknya ada di kampung halaman, selama ini, ia yang mensupport mereka semua.

"Iya, baik-baik aja pa", sahutnya.

"Begini, kita ngobrolnya bukan dalam kerangka kerja nih, jadi santai saja", aku menyandarkan tubuh ke sofa, mencoba mencairkan suasana.

Ia mengangguk pelan.

"Kamu kenal anak bapak, si Nisa, kan..?", aku bertanya. Pemuda yang kuajak bicara, Ali, pasti mengenal anak gadisku, Annisa Ramadhani, sebulan yang lalu, aku mengajaknya ikut acara family gathering perusahaan di Pantai Carita.

"Iya, kenal pa, yang kemarin ikut ke Carita kan?", dia mengkonfirmasi.

Aku membenarkannya dengan anggukan.

"Begini, Nisa kan sudah lulus tahun kemarin, dan sekarang juga sudah bekerja", jeda sesaat, "dia sepertinya sudah cukup umur untuk menikah."

Aku mengenal Ali sudah cukup lama, kira-kira hampir setahun ini ia berada dibawah kepemimpinanku. Ia pemuda yang baik, kepribadiannya menarik, ibadahnya rajin, pekerjaannya pun lancar-lancar saja.

Aku ingat perkataan Hasan bin Ali RA ketika ditanya oleh seseorang mengenai suami bagi anak putrinya. Hasan bin Ali RA menjawab, "Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Karena jika ia senang, ia akan menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya". Pemuda seperti Ali inilah yang tepat untuk jadi suami Nisa, anakku satu-satunya.

"Kamu sudah punya calon istri, pacar..?", aku bertanya.

"Belum pak", ia menjawab pelan. Pertanyaan retorika.

"Ya sudah, begini, saya mau menikahkan kamu sama si Nisa, kamu mau tidak..?", akhirnya, kuungkapkan maksud dan tujuanku berbicara dengan dirinya.

Deugh... ia terlihat terperanjat mendengar perkataanku.

"Maksudnya pa..?", Ali mencoba menenangkan diri, menggaruk-garuk kepalanya, kikuk.

"Nisa, insya Allah adalah anak yang taat pada orangtua, dan bapak tahu persis bahwa dia tidak sedang pacaran atau dekat dengan seseorang. Bapak melihat kamu sebagai anak yang baik, shalat kamu rajin, ngga neko-neko. Makanya bapak mau kamu jadi suaminya Nisa."

Ali Imran, dia sudah siap untuk menikah kok, usianya sudah mencukupi, ia pun memiliki pekerjaan. Apalagi yang kurang? Kurang pendamping hidup, itu saja.

"Ok, kamu pikirkan dulu baik-baik. Saya harap bisa ada keputusan yang terbaik dari kamu dalam waktu seminggu ini", aku memberinya cukup waktu untuk berpikir, karena pernikahan memang bukan sebuah hal yang sepele, perlu pertimbangan yang matang.

"Iya pa, akan saya pikirkan dulu satu minggu ini", katanya.

* * *

Jodoh bagi anakku adalah tanggungjawabku, begitulah Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya' berpesan, agar berhati-hati menjaga hak anak perempuan, karena setelah menikah, ia akan sangat terikat, sedang suaminya bebas menceraikannya kapan saja ia suka.

Annisa Ramadhani, ah.., tidak kusangka, ia sudah dewasa dan harus memulai langkahnya sendiri bersama suaminya. Ah, si cantik yang sangat mirip almarhum ibunya yang lembut bagaikan awan, harus dan akan terpisah dari diriku. Air mataku mengalir, terbayang wajah istriku yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Tidak bisa terbayangkan, bahwa suatu saat nanti, aku pun akan berpisah dan berjauhan dengan jelmaannya, Annisa Ramadhani.

Huff...

Besok adalah hari ketujuh semenjak perbincangan itu. Hari terakhir dimana aku akan mendapatkan jawaban dari tawaranku kepada Ali.

Ah... aku menghela nafas panjang.

 


---000---

Samarinda, 10 Februari 2009
Syamsul Arifin
*Sudut pandang ke II dari cerpen "Ditawari jadi Mantu", still "only in my imagination" ^_^

08 February 2009

[cerpen] Ditawarin jadi Mantu

Suara mesin pabrik terdengar samar masuk ke dalam ruangan besar ketika pintu kantor terbuka. Beberapa sekat-sekat pemisah meja, membagi divisi-divisi yang ada, produksi, personalia, perencanaan, marketing, maintenance, mekanik, support, dan lain-lain. Dari level supervisor ke atas, ada ruangan-ruangan khusus yang disediakan di sekeliling ruangan besar ini.

Aku menempati salah satu meja diantara sekian banyak meja-meja tersekat yang ada. Menarik kursi yang beroda, dan duduk disitu. Satu-dua keringat turun di dahi, baru dari tempat produksi, monitoring kerjaan.

Sebentar lagi makan siang, jam komputer menunjukkan angka 11.25.

"Ali, ke ruangan saya dulu yuk, ada yang mau saya bicarakan", Pa Syarif menepuk pundakku.

"Eh, iya pak", aku mengangguk dan mengikuti langkahnya, menuju ruangannya. Manajer produksi.

Aku menutup pintu ruangan, mengambil posisi duduk di sofa kecil berwarna biru, di sebelah pa Syarif. Sofanya berdesain simple, sederhana, namun nyaman dan empuk.

Satu meja kayu kecil ada di tengah. Di depan, ada meja kerja lebar dan kursi untuk lawan bicara. Pigura di dinding bergambar harimau dengan sebuah kalimat tertulis di sana, "kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas."

"Gimana kabar keluargamu di Bandung?", pa Syarif memulai perbincangan.

"Alhamdulillah baik-baik aja pa"

"Ibu dan adik-adikmu?", beliau menyambung.

"Iya, baik-baik aja pa"

"Begini, kita ngobrolnya bukan dalam kerangka kerja nih, jadi santai aja", beliau melanjutkan, sambil bersandar ke sofa.

Aku mengangguk-angguk pelan.

"Kamu kenal anak bapak, si Nisa, kan..?", beliau bertanya.

Memoriku melayang ke acara family gathering perusahaan yang berlangsung selama dua hari di Pantai Carita sebulan yang lalu.

Annisa Ramadhani, anak tunggal pa Syarif, wanita dengan tinggi yang semampai, 165 cm, putih, cerdas, supel, dan berjilbab rapi.

"Iya, kenal pa, yang kemarin ikut ke Carita kan?", aku mengkonfirmasi.

Beliau mengangguk.

"Begini, Nisa kan sudah lulus tahun kemarin, dan sekarang juga sudah bekerja", jeda sesaat, "dia sepertinya sudah cukup umur untuk menikah."

Nafasku serasa tertahan, mencoba menerka akan kemana pembicaraan ini mengarah.

"Kamu sudah punya calon istri, pacar..?", beliau bertanya.

"Belum pak", aku menjawab pelan, jujur.

"Ya sudah, begini, saya mau menikahkan kamu sama si Nisa, kamu mau tidak..?"

Deugh... terperanjat mendengar ucapan pa Syarif.

"Maksudnya pa..?", aku coba menenangkan diri, menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Mungkin aku sedang bermimpi atau berkhayal.

"Nisa, insya Allah adalah anak yang taat pada orangtua, dan bapak tahu persis bahwa dia tidak sedang pacaran atau dekat dengan seseorang. Bapak melihat kamu sebagai anak yang baik, shalat kamu rajin, ngga neko-neko. Makanya bapak mau kamu jadi suaminya Nisa."

Pikiranku langsung bercabang. Menikah memang sudah saatnya, tapi bagaimana dengan ibuku di kampung halaman sana, juga adik-adikku yang masih sekolah, sedang bapak sudah tidak ada. Akulah yang selama ini mensupport mereka.

Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan. Nisa terlihat memang sangat baik, kelewat baik bahkan jika untukku. Pa Syarif, ayahnya, juga orang yang cukup baik, sebagaimana saya mengenal beliau dalam keseharian. Namun.., ah, pikiranku berkecamuk.

"Ok, kamu pikirkan dulu baik-baik. Saya harap bisa ada keputusan yang terbaik dari kamu dalam waktu seminggu ini", mungkin pa Syarif sedikit bisa menangkap kebimbangan dalam hatiku.

"Iya pa, akan saya pikirkan dulu satu minggu ini",

* * *

Haduh, inilah keberuntungan besar. Harta karun. Annisa Ramadhani, alumni UGM jurusan manajemen, tiga tahun dibawahku, cantik dan shalihah, ditawari langsung kepadaku, oleh bapaknya sendiri.

Tidak pernah terbayangkan!

Tapi.., kenapa aku malah jadi bimbang begini ya, hati kecilku bersuara.

Aku tahu bahwa keluarga pa Syarif bukanlah keluarga yang suka berfoya-foya, bahkan cukup bersahaja, meskipun beliau memiliki posisi yang cukup tinggi di perusahaan.

Secara perhitungan matematis, kalau mau diajak hidup sederhana, sepertinya cukup saja. Dan akupun sudah cukup siap untuk berkeluarga?

Tapi.., ah... aku menghela nafas panjang, berbaring bimbang di kamar kostanku yang kecil.

Besok adalah hari ketujuh semenjak perbincangan itu. Hari terakhir dimana aku harus memberikan jawaban.

Namun...

Ah...

???


---000---

Samarinda, 8 Februari 2009
Syamsul Arifin

*fiksi, only in my imagination ^_^

01 February 2009

[cerbung] Soul Match - Bagian III: Mimpi-Mimpi

Saya melihat diri saya sedang berada di Masjidil Haram, di samping sebelah kiri, terlihat bangunan besar, hitam persegi, dengan tertutup kain, Ka’bah. Disamping sebelah kanan, ada seorang wanita muda yang ikut tawaf bersama, ia mengenakan baju ihram. Anehnya.., saya mengenggam tangannya, erat.

 

“Astagfirullahal adzim..”, Fatih tersentak kaget, terbangun dari tempat tidurnya.

 

Kakinya diturunkan dari ranjang, tangannya mengusap mukanya yang tidak basah.

 

“Masya Allah, apa artinya mimpi ini..?”

 

Ia melangkah keluar kamar. Menuju kamar mandi. Setelah selesai berwudhu, ia kembali masuk ke kamar kostannya yang berukuran 2 x 2,5 meter, menggelar sajadah coklat. Jam digital di sebuah meja kayu kecil memperlihatkan angka 3.55. Masih bisa shalat qiyammulllail, batinnya berujar.

 

Dua rakaat ringkas ia kerjakan untuk menghilangkan rasa kantuk.

 

Hari ini Insya Allah akan menjadi hari yang penuh berkah.

 

* * *

 

Awan kehilangan warna putihnya, langit sudah pudar warna birunya, matahari sudah condong ke barat, rona merah mulai memenuhi langit Jakarta. Pengajian TPA anak-anak sudah selesai, tinggal menunggu waktu magrib saja.

 

Di selasar kanan masjid Al-Ma’ruf, anak-anak ramai berlari-larian, berkejar-kejaran, ada canda, ada tawa, semoga tidak ada tangisan yang menyela.

 

Dua orang pria sedang duduk-duduk di tangga kecil yang menuju ke dalam masjid.

 

“Sudah hampir tiga kali mas, mimpi yang seperti itu datang” Fatih Arya, salah satu pengajar di TPA itu memulai perbincangan.

 

Didi, lawan bicaranya, salah seorang pengajar di TPA itu juga, menoleh dan tersenyum ringan.

 

“Kira-kira apa ya artinya”, ia menambahkan.

 

“Artinya kamu harus cepat-cepat nikah!”, Didi, alumni UIN Jakarta, tertawa, “ha... ha… ha…”

 

“Yah mas, siapa sih yang ngga mau nikah, jodohnya aja yang masih gaib”, ia menjawab.

 

“Gaib.., emangnya makhluk gaib? Kalau gitu, jin dong jodohnya. Makanya, jangan kamu biarin nge-gantung aja tuh penggemar-penggemarmu”, Didi melanjutkan tawanya.

 

Semenjak novel Rembulan Merah di Langit Aussy-nya menjadi best seller, nama Fatih Arya memang mulai dikenal luas.

 

“Jangan salahin saya dunk kalau mereka suka. Belum klik mas. Kalau jodoh, pasti ketemu, dan dimudahkan jalannya kan”, sanggah Fatih.

 

Suara tawa Didi sudah mulai mereda.

 

“Fatih-fatih.., kamu ini kurang apa sih? Kerja sudah, penghasilan ada, tampang juga lumayan”, Didi menyandarkan tubuhnya kebelakang, bertopang pada kedua tangannya, pandangannya dilempar jauh kedepan, memperhatikan anak-anak didiknya.

 

“Ngga perlu uang banyak-banyak, ngga usah nunggu punya rumah dulu, ngga butuh mobil pribadi. Yang penting sudah cukup uang untuk akad-nikah, syukur-syukur kalau ada buat walimahannya”, Didi menambahkan.

 

“Kalau memulai pernikahan sudah mapan itu kurang enak, mending mulai dari nol, biar bisa sama-sama merasakan suka-duka awal-awal pernikahan, biar ada romantismenya, nanti setelah pernikahannya berjalan lama, kenangan-kenangan itu yang akan jadi memori indah, dan bisa jadi salah satu penguat pernikahan”, lanjut Didi, ayah dari dua orang anak yang telah menikah selama lima tahun.

 

“Ntahlah mas…”, sahut Fatih singkat, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Mimpi memang bisa dijadikan salah satu isyarat, sebagaimana Rasulullah SAW pernah berkata(1), tapi saya sarankan, jangan sampai terpaku dengan hal itu. Seperti cerita-cerita kamu sebelumnya, sudah ada beberapa perempuan yang bersedia menjadi istrimu. Bahkan kalau kamu mau, saya bisa bilang istri supaya mencarikan perempuan yang paling pas buat kamu, teman-teman pengajiannya banyak tuh”, Didi tersenyum.

 

Ada sebuah kaidah yang berbunyi seperti ini, ‘apa yang gaib atau tidak pasti atau masih belum jelas, tidak bisa membatalkan hal yang sudah qathi atau jelas dan pasti”, jabar alumni Fakultas Syariah.

 

Fatih diam seribu bahasa.

 

Mas Didi merupakan salah satu orang yang sering dijadikan tempat meminta pertimbangan. Orangnya bersemangat dalam da’wah, alim, cerdas, namun tetap asyik, gaul terhadap para remaja, dihormati para orang-orang tua karena keluasan ilmu agamanya, Fatih tahu betul cerita-cerita kehidupannya, perjuangan, pengalaman pahit, yang membuatnya menaruh hormat sekaligus menempatkan Didi di posisi yang berbeda dalam hatinya.

 

“Huff..”, hanya helaan nafas yang terdengar dari dirinya.

 

“Dikit lagi magrib, dah sana wudhu, terus adzan, dan doa deh, minta jodoh yang terbaik. Salah satu waktu yang mustajab buat berdoa adalan diantara adzan dan iqomat(2)”, Didi menepuk pundak Fatih, beranjak berdiri, dan mulai menggiring anak-anak TPA agar segera berwudhu.

 

Seorang bapak paruh baya, memasuki ruangan kecil di samping tempat imam, menyalakan kaset murattal. Suara Imam Musyari Rasyid terdengar merdu dari speaker masjid.

 

“Ah.., semoga malam ini dia tidak hadir lagi dalam mimpiku…”, suara Fatih terdengar lirih.

 

 

 

---000---

 

Samarinda, 1 Februari 2009

Syamsul Arifin

 

Thanks to Oryza for the inspiration ^_^

 

 

(1) Hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah bersabda: Mimpi seorang mukmin adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian. (HR Bukhari-Muslim)

 

Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. (HR Bukhari-Muslim)

 

(2) Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)

 

Saat-saat yang tepat dan suasana yang lebih afdhal untuk berdoa: hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga malam terakhir, waktu sahur, ketika sedang sujud, turun hujan, antara azan dan iqamat, ketika perang berkecamuk, ketika dalam ketakutan, atau sedang sedih. (Fiqh Sunnah, Said Sabiq Jilid 2 hal 244)

21 January 2009

[cerbung] Soul Match - Bagian II: Rumah

Home sweet home”, Annisa menggeliat, merenggangkan tangannya saling berjauhan. Dilipatnya mukenah biru muda yang baru selesai ia gunakan. Ia baru saja selesai ngaji seusai pulang shalat jamaah dari Mushola dekat rumah. Dibukanya jendela kamar, udara pagi Jakarta yang masih berbau kabut, berebut menyerbu masuk, segar.

 

“Sekarang nyapu halaman dulu ah”, nanti pas mama selesai masak, bisa langsung sarapan deh. Pagi yang cerah, untuk jiwa yang riang. Minggu pertama Annisa Ramadhani di kota metropolitan DKI Jakarta, setelah empat tahun ditinggalinya, jauh berbeda benua.

 

 

* * *

 

 

Mushola hanya diramaikan oleh orang-orang yang sudah senior, alias tua, para pemuda-pemudinya entah meramaikan apa. Itu analisa pertama yang Nisa dapatkan. Harus segera dapat cara untuk dapat menyemarakannya. Pengajian ibu-ibu, sasaran pertamanya.

 

Ketua pengajian ibu-ibu, ibu Latifah, sangat otoriter, kolot, pantas saja pengajian disini tidak maju-maju, pribadinya tidak sepertinya namanya, ngga latif alias halus. Sepertinya beliau juga tidak begitu suka dengan “anak ingusan” kemarin sore dengan ide-idenya. Nisa kesal, karena dia hanya ingusan jika sedang flu saja!

 

“Huff..”, begitu hela nafasnya panjang. Keluar dari rumah berpagar coklat, di hari Sabtu sore hari yang cerah, namun tidak secerah hatinya!

 

“Ah, itu ada remaja-remaja puteri sedang ngobrol-ngobrol”, pandangannya tertuju pada gerombolan beberapa orang remaja puteri yang sedang asyik ngobrol di sebuah rumah dengan tempat duduk marmer di depannya.

 

Matahari sore ditambah semilir angin, membuat suasana nyaman untuk bercengkrama.

 

“Assalamualaikum”

 

“Wa’alaikumsalam”, jawab mereka, mungkin mereka pendatang baru di komplek ini, sehingga Nisa tidak begitu mengenali mereka.

 

“Hai, saya Nisa, tinggal di rumah ujung itu”, ia mulai menyalami satu persatu orangnya.

 

Lima orang yang ada disitu memperkenalkan namanya, tentunya sambil diselingi canda.

 

“Oh ya, kakak baru aja balik lagi ke rumah di sini, jadi banyak yang ngga tahu nih. Kalian tahu ngga, tempat yang jualan es campur yang enak di deket-deket sini..?”

 

“Wah, tempatnya Kang Cecep aja, di ujung portal, es telernya enak kak”, ujar salah satu gadis yang pipinya agak tembam, chubby, imut.

 

“Hummm, sepertinya boleh dicoba tuh”, Nisa tersenyum, “ada yang mau kakak traktir ngga..?”, ia menyeringai.

 

“Wah mau banget kak”

 

“Kalau itu sih ngga usah ditanya kalih”, salah satunya menimpali, langsung bangkit dari duduknya.

 

Ya modal dulu lah sedikit, kalau kata Abas As-sisi ‘sentuh hatinya’, kalau kata Nisa, ‘sentuh perutnya’ dulu. Nisa tersenyum dalam hati. Setelah ini, baru deh, diajakin ke arah pembentukan pengajian remaja, awal perkenalan.

 

 

* * *

 

 

Pengajian remaja puteri mulai bergulir. Khas remaja, masih ramai dan seru alias rusuh. Namun itulah perubahan, sedikit demi sedikit, perlahan dan bertahap.

 

Hari Jumat malam, selepas shalat Isya, jadwal pengajiannya.

 

“Yuk, kita mulai ngajinya”, suara Nisa meredakan keriuhan di rumah salah satu dari delapan orang peserta pengajian remaja puteri.

 

“Kak kak kak, katanya kalau lagi M ngga boleh ngaji kan ya?”, Ita, siswi kelas 2 SMU bertanya, pandangannya melirik kepada Sari, yang ada disebelah kirinya.

 

“Hummm, kalau kata ustadz Ahmad Sarwat, ada dua pendapat ulama mengenai hal ini, yang pertama adalah yang mengharamkannya alias ngga boleh ngaji ketika haid dan nifas, pendapat ini dipegang oleh Imam Syafi’i, dan para sahabat seperti Umar bin Khattab dan Ali bin Abu Thalib, dan lain-lainnya. Sedang ada lagi, ulama yang memperbolehkannya, seperti yang dilakukan oleh mahzab Dzhahiri, yang didukung oleh Ibnu Abbas, Ibnu Musayyab, dan lain-lain.

 

Ok deh, kita pakai pendapat yang tidak memperbolehkan membaca Al-Quran ketika sedang haid dan nifas. Tapi sebagai wanita, hal ini bisa kita siasati, dengan melakukan amalan ibadah lain yang diperbolehkan, seperti bersedekah, berzikir, dan lain-lainnya. Di sini, siapa yang sedang datang bulan..?”, pandangan Nisa berkeliling lesehan remaja putri yang duduk melingkaran.

 

Sari sedikit mengangkat tangannya, malu.

 

“Ok, kalau gitu, kamu dengerin aja dulu ya. Tenang aja, salah satu adab ketika Al-Quran dibacakan adalah mendengarkannya dengan tenang, dan mendengarkan Al-Quran itu sendiri juga dapat kebaikan yang besar juga kok. Sebagaimana keterangan dari Al-Quran,

 

Dan apabila dibacakan Al Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.1)

 

“Audzubillahhiminasyaitannirrajim”, riuh rendah suara bacaan.

 

Mulailah rumah itu diterangi cahaya, cahaya kalamullah.

 

Selesai pengajian dengan berbagai agendanya. Sebagaimana kebiasaan jika lebih dari satu orang wanita berkumpul. Jadilah ajang cerita.

 

“Eh iya kak, bu Latifah kemarin sore jatuh dari motor”, Asrie, mengabarkan sebuah berita.

 

Innnalilahi, gimana kabarnya? Parah ngga sakitnya?”, komentar Nisa.

 

“Lho, ngga perlu inalilahi kok kak, orangnya masih belum meninggal kok”, sahut Dina tertawa.

 

“Inalilahi itu ucapan buat kalau tertimpa musibah, meskipun musibah yang paling kecil sekalipun, seperti putusnya sandal kita”, Nisa menjelaskan.(2)

 

“Owwww”, mereka membentuk huruf O besar pada mulutnya.

 

“Sepertinya sih ngga terlalu parah, karena sekarang ada di rumah kok”, Asrie menjawab.

 

“Ok kalau begitu, mumpung masih belum terlalu malam, kita langsung jenguk beliau yuk”, ajaknya.

 

“Males ah kak. Orangnya jutek banget. Kami aja tau kok waktu dulu dia pernah nyiram rok kakak dengan air bekas cucian”, sergah Dini, saudara kembar Dina, ketus.

 

“Katanya kelompok pengajian Jamilatun Nisa ini adalah kelompok pengajian yang keren. Masa namanya aja sih yang berarti “wanita cantik”, tapi hati para anggotanya ngga pada cantik..? Kan cantik itu berarti ngikutin Rasulullah, dan Rasulullah SAW mengajarkan ada enam hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, salah satunya adalah menjenguk ketika sakit”, Nisa tertawa sendiri, menahan geli, dengan sikap anak-anak didiknya yang super narsis. ‘Menantang’ mereka dengan mempergunakan konsep psikologi terbaik.

 

Sebagian dari mereka garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Saling menatap tidak jelas.

 

“Ya sudah deh, yuk, kita kesana. Bawa oleh-oleh ngga kak?”, Shafy, sang ketua kelompok memecah kekeluan.

 

“Ambil aja dari kas, dua puluh ribu, nanti sekalian lewat, kita beli aja buah pir di deket minimarket di ruko”, Nisa tersenyum penuh kemenangan.

 

Malam ini cerah tanpa awan, langit biru, terang dipenuhi bintang. Jalanan kompeks perumahan menuju rumah Hj Latifah dipenuhi beberapa orang gadis. Riang. Salah satu diantara mereka adalah Annisa Ramadhani, yang bergumam dalam batin, berharap, agar dari kami inilah, kebangkitan Islam akan bisa ditegakkan. Amin.

 

“Ah, jadi inget bahwa besok minggu, ada undangan dari Mas Fatih buat menghadiri acara workshop penulis muda komunitas myQuran”, teringat isi sebuah email dari teman korespondennya. Janji hadir di acara itu tersembul dari pikirannya.

 

 

 

(bersambung lagi?, Insya Allah)

 

---000---

 

Samarinda, 19 Januari 2009

Syamsul Arifin

 

 

(1) QS. Al-A'raaf: 204

(2) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

(3) Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; bila ia memanggilmu penuhilah; bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah; bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu); bila dia sakit jenguklah; dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)". (HR. Muslim)

[cerbung] Soul Match - Bagian I: Kepulangan

Matahari baru saja naik sepenggalan, sinarnya genit menelusup celah jendela. Udara hangat Negeri Kangguru  di musim semi menyegarkan sebuah kamar asrama. Seorang gadis yang hari ini memakai jilbab dengan warna favoritnya, biru, tampak sangat ceria, berjalan bagai menari, sesekali terlihat berbicara sendiri sambil tersenyum-senyum, menggumamkan lagu nasyid kesukaannya, Mother.

 

"La la la la, pulang juga akhirnya", begitu ia berkata.

 

Terlihat sebuah koper besar berwarna merah tua. Ia masih terus saja asyik mengemasi barang-barangnya. Tidak banyak yang ia akan bawa, karena beberapa sudah terlebih dahulu ia kirimkan lewat paket pos ke rumahnya di Indonesia. Buku-buku pelajaran koleksinya sangatlah banyak, tentunya sangat merepotkan kalau harus dibawa dalam perjalanan. Beberapa barang-barang lainnya ia jual murah kepada adik-adik juniornya yang sama-sama kuliah di Universitas Monash, Australia. Hitung-hitung beramal, begitu pikirnya, toh dulu ia juga begitu.

 

"Ah, biar hujan emas di negeri orang, tetap lebih enak dinegeri sendiri, meskipun hujan batu, eh, jangan hujan batu deh, hujan salju ajah, karena kan kalau hujan batu, sakit klo kena kepala, apalagi hujan emas", ia terkekeh-kekeh sendirian. Hihihihi

 

Annisa Ramadhani, meraih gelar sarjana di bidang Perdagangan dengan nilai cum laude, setelah lelah empat tahun ia geluti. Kini, saatnya ia kembali, membangun negeri tempat ia dilahirkan, tempat ia menaruh harapan besar, tempat ia akan membangun sebuah peradaban.

 

Dari segi postur tubuh, Nisa, begitu teman-temannya memanggilnya, tidaklah jauh berbeda dengan teman-teman kuliahnya, yang kebanyakan adalah para bule berambut pirang dan bermata biru. Tingginya semampai, bukan ‘semeter tak sampai’, 168 cm, warna kulitnya putih, halus, khas asia, dengan lesung pipit yang ada di pipi, semakin menambah manis dara yang memakai jilbab sejak kelas 3 SMA.

 

“Mungkin nanti bisa ketemu mas Fatih, ia kan tinggal di Jakarta juga”, terbayang dalam benaknya, salah satu sahabat pena yang ia kenal dari situs warnaislam.com, tempat dimana ia biasa menjadi kontributor penulis luar negeri.

 

Nisa senang dengan korespondensi, itulah juga yang membuat dia senang dengan bidang tulis-menulis, tidak aneh memang, hingga majalah kampus menjadi tempat beraktivitasnya selama kuliah.

 

Awal perkenalannya dengan Fatih Arya adalah ketika si Fatih, yang lebih tua dua tahun daripadanya, mengirimkan email bertanya-tanya tentang kehidupan mahasiswa di Australia, karena dia sedang menggarap sebuah novel mengenai hal itu. Dua tahun lalu, inisiasi persahabatan itu terjadi, bahkan mereka tetap saling berkomunikasi melalui email, meski novel Fatih yang berjudul “Rembulan Merah di Langit Aussy” telah terbit, mereka tetap saling berkorespondensi.

 

Sebuah novel yang bercerita mengenai Fitri, mahasiswi School of Commerce, Monash University asal Indonesia yang terkena imbas diskriminasi agama akibat peristiwa 9/11, dramatis dan menggugah hati, namun juga tetap ada unsur romantis di dalamnya; terasa sangat real ketika membacanya, padahal sang penulis belum pernah tinggal ataupun berada disana, hal ini menunjukkan keunggulan sang penulis dalam melakukan riset terhadap novelnya, sangat layak dibaca, bagi yang ingin mengetahui kehidupan kampus Universitas Monas, kehidupan budaya, dan pergaulan sosialnya; begitu endorsement yang Nisa tulis ketika diminta mas Fatih memberikan review kepada novel yang menjadi salah satu novel best seller tahun 2007.

 

“Fiuh, selesai juga”, keringat kecil-kecil mengalir di dahi Nisa, menetes malu-malu. Selesai berkemas.

 

Dibukanya amplop yang berisi tiket pesawatnya, diamatinya baik-baik jam penerbangannya, “lima jam lagi, ya.., aku hanya punya waktu lima jam lagi di negeri ini”, ia tersenyum kecil.

 

“Hayuh, yang mau pulang, senyum-senyum sendirian”, Rina, adik satu tingkat di bawahnya, memasuki kamar, “pasti mau dinikahin ya pas pulang, soalnya kelihatan sumringah gituh”, ia tertawa geli.

 

“Yeee, bukannya kasih salam dulu sebelum masuk, langsung ngagetin begitu ajah”, sahutnya sembari memasukkan tiket. Satu koper besar, tas hitam back-pack, dan tas genggam kecil, telah siap disamping tempat tidurnya.

 

“Hehehehe, maaf deh mba”, balas Rina langsung duduk disampingnya, “nanti saya ikut nganter ke bandara ya?”

 

Nisa menganggukkan kepala.

 

“Mba, kasih tausyiah dan pesan-pesan terakhir dunk sebelum pulang, yang bisa Rina jadiin pegangan gituh”

 

“Ah, kamu ini, kamu kan punya buku Kitab Riyadhus Shalihinnya Imam Nawawi, udah cukup banyak tuh disitu pesan-pesannya”, ujarnya sambil melihat sekeliling kamar yang terkesan luas karena melompong tanpa barang-barang, melihat-lihat, apakah ada yang tertinggal.

 

“Yah mba, bukan gituh, tapi Rina mau pesan khusus wa bil istimewa dari mba”, dipegangnya tangan Nisa manja, mantan ketua keputrian perhimpunan mahasiswa muslim Indonesia di Australia ini terduduk kembali di ranjangnya.

 

“Ok deh adikku sayang, dengerin baik-baik ya. Ehm..”, dia bergumam sambil mengepal tangannya dan menutupkannya ke mulutnya, terlihat seperti mau pidato saja, setengah bercanda.

 

Rina memalingkan badannya sempurna. Nisa mulai mengeluarkan suara,

 

“Hidup ini ibadah, dan ibadah itu baru bisa diterima jika ia merupakan amalan yang ‘baik’ dan ‘benar’. ‘Baik’ karena diniatkan hanya karena Allah semata alias ikhlas, dan ‘benar’ karena ber-i’tiba atau ngikutin Rasulullah SAW. Kita jauh-jauh belajar di negeri orang juga merupakan sebentuk ibadah, Rasulullah SAW pernah bersabda,

 

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.(1).

 

Karena kita sedang bertaqarub kepada Allah melalui belajar, maka saya pesankan kamu agar bisa selalu menjaga hari-hari yang dilalui di sini dengan ‘baik’ dan ‘benar’.

 

Ilmu itu hanya bisa diperoleh melalui belajar(2), karenanya janganlah kamu merasa lelah dalam belajar, jangan mudah menyerah jika ada hal yang tidak kamu pahami, namun jangan pula kamu membebani diri berlebihan. Atur waktu dalam hari-harimu, karena tiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam saja, namun ada banyak orang yang bisa melesat dengan 24 jam yang mereka miliki, dan ada juga orang yang menyia-nyiakan waktu-waktunya. Makanlah makanan yang halal dan baik, atur waktu istirahatmu, dan jangan lupa, berdoa memohon tambahan ilmu pengetahuan dengan doa yang diajarkan Al-Quran(3), kepada sang pemilik ilmu yang maha luas, Allah SWT.

 

Fear Allah no matter where you are. Do a good deed after an evil one and your good deed will wipe out the evil one; behave well with people.”(4)

 

Hening sesaat. Nisa tidak lagi dapat melanjutkan kata-kata. Menghirup nafas panjang.

 

“Segitu dulu ya na... Semoga nanti kita bisa ketemu lagi di Indonesia, dan semoga segala sesuatunya dimudahkan dan dilancarkan untuk kamu disini”, Nisa tersenyum, matanya tampak berkaca-kaca. Sepertinya kesedihan mulai menggerus hatinya, berpisah dengan teman karibnya.

 

“Amin, makasih mba”, mereka lalu berpelukan erat, erat sekali. Air mata masing-masing membasahi jilbab sahabatnya.

 

Matahari Australia masih bersinar hangat, sehangat ukhuwah antara dua muslimah yang sedang larut dalam keharuan cinta.

 

 

* * *

 

Deru desing pesawat boeing masih terdengar sampai ke dalam terminal kedatangan Internasional BandaraSoekarno-Hatta, Cengkareng.

 

“Alhamdulillah, sampai juga di Indonesia”, Nisa melemparkan pandangan ke sekeliling, beragam manusia ada, namun hanya sedikit yang terlihat mengenakan jilbab rapi seperti dirinya, oh, bahkan tidak ada, miris, padahal ini negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

 

Sembari menunggu bagasi, Nisa menyalakan telpon genggamnya. Untuk memudahkan komunikasi dengan keluarga, ia memakai kartu GSM asal Indonesia ketika kepulangannya tiga tahun lalu.

 

Tut tut tut… nada menandakan ada pesan yang masuk. Ada beberapa pesan singkat yang masuk telponnya.

 

“Kasih kabar ya kalau sudah mendarat”, pesan dari ibunya.

 

Ia tersenyum. Ibu dan pamannya telah menantinya. Ah, andai bapaknya masih hidup, tentu ia akan bangga juga, karena bisa menyaksikan anaknya telah menjadi sarjana dari luar negeri.

 

“Astagfirullah hal adzim, ngga boleh berandai-andai, karena bisa jadi celah pintu syaitan”(5), ia tersadar dari lamunannya.

 

Ada pesan lain,

 

“Selamat datang kembali di hutan beton Jakarta” sebuah pesan singkat yang diakhiri ikon senyum, dari mas Fatih…

 

 

(bersambung, Insya Allah)

 

 

 

---000---

 

11 Januari 2009

Syamsul Arifin

 

 

(1) Hadits riwayat Ar-rabi

(2) Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (HR. Bukhari)

(3) dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaahaa: 114)

(4) Hadits Arba’ain No. 18 Imam Nawawi

(5) Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, "Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu", tetapi katakanlah, "Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: "andaikata" dan "jikalau" membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan." (HR. Muslim)

 

 

Match 

—n.

1 contest or game in which players or teams compete.

2 a person as an equal contender (meet one's match).

   b person or thing exactly like or corresponding to another.

3 marriage.

4 person viewed as a marriage prospect.

 

—v.

1 correspond (to); be like or alike; harmonize (with) (his socks do not match; curtains match the wallpaper).

2 equal.

3 (foll. by against, with) place in conflict or competition with.

4 find material etc. that matches (another) (can you match this silk?).

5 find a person or thing suitable for another.  match up (often foll. by with) fit to form a whole; tally. match up to be as good as or equal to. [Old English]

 

[Pocket Oxford Dictionary]