Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

08 June 2020

Membangun Normal (ke Dalam) di Zaman Now

Covid-19 telah menjungkirbalikkan banyak hal, kesehatan, bisnis, ekonomi, tak terkecuali praktik beribadah dan tradisi budaya banyak negara -dimana kita tidak imun juga atas dampaknya.

Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup, apalagi dalam skala pandemi.

Kita perlu fokus pada hal-hal yang BISA kita kendalikan untuk menghindari kecemasan berlebihan.

Salah satunya adalah bagaimana kita akan menjalani praktik ibadah, tradisi berlebaran, dan menghabiskan waktu dalam isolasi mandiri di rumah saja di zaman now, seperti sekarang ini.

Bicara via telpon atau video call kepada keluarga dekat yang berada jauh karena tidak bisa mudik.

Tidak perlu memaksakan diri. Tidak pergi mudik di momen seperti sekarang ini adalah normal. Wajar. Tidak salah alias benar bahkan patut didukung.

Shalat ied di rumah juga boleh. Ada fatwa MUI mendukungnya, banyak ulama juga telah menguatkannya.

Tidak bersalaman fisik dengan tetangga juga normal, justru perlu dikampanyekan di zaman now.

Berlawanan dengan pemikiran kebanyakan orang -bukan hanya sekedar anti mainstream- tapi saya justru menyarankan kita mengelola (membatasi) kuantitas waktu online/screen time ketika berlebaran.

Jangan sampai, dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan yang jauh, kita malah justru jadi semakin jauh dengan yang dekat (keluarga yang ada di rumah).

Kita perlu jujur mengevaluasi diri, seberapa besar intensitas kita menatap layar hp, apakah lebih banyak melihat gadget dibandingkan menatap wajah pasangan atau anak?

Tentu menyedihkan kalau iya.

Luangkan waktu, fokus perhatian, dan kedekatan fisik dengan mereka. Jangan hanya mendengar, tapi simaklah perkataan mereka.

Ada perbedaan antara mendengar (hearing) dengan menyimak (listening), perhatian penuh kuncinya. Mendengar sambil main hp beda dengan menyimak sembari menatap mata anak.

Pesan WA di berbagai grup yang diikuti tidak perlu dibaca/balas semua.

Menjaga kesehatan pribadi dan keluarga itu penting. Sehat fisik dan psikis. Luangkan waktu bermain bersama anak, jangan asyik/sibuk sendiri dengan gawai dan sosmed.

Kehidupan mereka (anak-anak) juga berubah. Mungkin jadi tidak bisa main di luar rumah, bertemu teman sekolah, dll. Mereka juga punya jiwa, bahkan mungkin lebih rentan.

Perhatikan tanda-tanda kelelahan mental. Jangan dicekoki terus dengan tayangan tv yang sering tak berguna atau screen time yang tanpa batas.

Bermainlah bersama mereka.

Jadikan momen ini menjadi penguat cinta kasih dalam keluarga.

Minta maaflah dengan tulus atas pengasuhan yang tak sempurna, kurangnya cinta kasih, dan buruknya kepemimpinan dalam keluarga.

Masa-masa sekarang ini tepat untuk menormalkan kembali hubungan dengan terkasih yang ada di dekat kita.

Hubungan yang normal dengan pasangan dan anak, perlu dicari, dibangun, dan dipertahankan.

Jika kita kesulitan mencari bentuk kehidupan yang ‘normal’ di luar sana, setidaknya kita masih bisa merasakan kehangatan normal di dalam (keluarga), di rumah sendiri.

Kalau kita kebetulan masih bisa bekerja dari rumah (dimana banyak orang tidak punya ekslusivitas ini), manfaatkanlah sebaiknya. Sebab waktunya bisa jadi berakhir esok hari, atau entah lusa nanti.



#PertaminaEmployeeJournalism #PertaminaSiagaCovid19 #Energitakberhenti #Berkahdirumah
@pertamina


---000---

Depok, 26 Mei 2020
Syamsul Arifin

20 August 2017

Waspada Predator Seks Anak [Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital]

Kejahatan terhadap anak semakin marak dan parah. Yang terbaru di media, kekerasan seksual berbasis dunia maya yang melibatkan penjahat berkedok pedofilia dan pemerkosaan.

Data yang ada memang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Contohnya di Penajam Paser Utara, Antara Kaltim menyebutkan bahwa selama periode Januari-Agustus 2016, terdapat 39 kasus kekerasan seksual terhadap anak, atau meningkat sebesar 77% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Di Balikpapan, datanya lebih mengerikan. Tahun 2016, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Balikpapan mencatat telah terjadi 149 kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan, atau meningkat 359% dibanding tahun sebelumnya.

Beberapa hal bisa kita lakukan dalam lingkup kecil keluarga untuk mencegah anggota keluarga masuk ke dalam daftar korban maupun pelaku kejahatan keji ini.

Pertama, batasi kegiatan online anak. Bukan hal umum, bahwa sosial media bagaikan pedang bermata ganda, di satu sisi bisa menghubungkan kita dengan orang yang jauh, tapi di sisi lain, sudah banyak contoh kejahatan yang dimudahkan dengan adanya platform pertemanan sosial semisal Facebook.

Ingatlah, orang bisa terlihat baik, sopan, peduli dan penuh perhatian di tampilan sosial medianya, padahal di dalam hatinya menyimpan niat jahat.

Bijaklah jika hendak memberikan anak smartphone yang memiliki akses internet atau paket data. Karena dengan klik-klik singkat, si anak bisa saja nyasar di rimba konten pornografi online yang pada akhirnya akan membuatnya kecanduan, penasaran, dan mungkin saja membangkitkan keinginan/dorongan kuat untuk mempraktekkan.

Temani jika anak hendak berselancar di dunia maya. Taruh komputer di ruang keluarga, jangan biarkan anak berselancar web melalui laptop pribadi di kamarnya, karena ketiadaan pengawasan dari orang tua, bisa menjadi celah bagi anak berbuat khilaf dan memberikan peluang bagi teman chatting predator anak anda.

Kedua, filter tontonan anak (film, sinetron, bahkan kartun sekalipun) yang mengandung konten percintaan. Semakin sering terpapar roman picisan percintaan, tidak jarang penonton ABG menjadi terobsesi dan bersaing dalam memiliki pacar ketimbang mengejar prestasi akademik; serta tidak risih dalam melakukan praktek mesum yang diawali dengan pelukan, ciuman, dan seterusnya.

Ketiga, perhatikan teman main anak dan jangan lengah terhadap orang dekat. Banyak kejahatan terhadap anak dilakukan oleh pelaku yang kenal baik dengan korban, seperti yang dinyatakan Komisi Nasional Perlindungan Anak, 72% kejahatan seksual itu dilakukan orang dewasa atau lingkungan terdekat korban.

Kenali siapa saja teman main anak. Kalau perlu, undang dan biarkan mereka main di rumah. Lebih baik rumah berantakan dan agak repot sedikit karena mempersiapkan jamuan, dari pada anak main di tempat orang yang kita tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Jangan merasa aman kalau anak dititipkan pengawasannya pada orang dekat semisal orang tua tiri, paman, sepupu, tetangga, supir atau teman dekat, karena ada contoh kejadian kekerasan seksual nyata yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut.

Jangan juga merasa aman kalau usia teman main anak masih kecil. Di Lampung, ada kejadian anak kelas 1 SD memperkosa anak TK. Mengerikan!

Keempat, sadarilah, di dunia ini, entah karena paparan konten pornografi, godaan syaitan, ataupun karena lemahnya iman, siapapun bisa berbuat dosa. Termasuk figur yang seharusnya dihormati semisal tokoh agama, tenaga pengajar, tokoh masyarak atataupun profil pekerjaan yang kita anggap mulia.

Ajari anak sentuhan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Latihlah dengan bermain peran, sehingga anak tahu apa yang mesti dilakukan jika berada dalam kondisi tersebut. Tidak jarang, anak akan bingung karena mereka biasanya diajari untuk taat/patuh terhadap orang yang lebih tua, atau terhadap profesi tertentu.

Ajari cara untuk melawan, bagaimana harus berteriak, dan bersikap tegas ketika menerima perlakuan yang tidak menyenangkan, serta harus melapor atau bercerita ke siapa. Meskipun wanita, tidak ada salahnya dilatih untuk membela dirinya sendiri.

Kelima, jalin komunikasi yang terbuka dengan anak. Luangkan waktu bermain dan bercerita. Buat dia nyaman dengan anda sebagai orang tua, terutama dengan ayah.

Dr. David Popenoe, sosiolog dan Co-Director di National Marriage Project Rutgers, Universitas New Jersey, mengatakan bahwa anak yang banyak berinteraksi dengan ayahnya memiliki IQ lebih tinggi dibanding anak yang tak cukup berinteraksi dengan sang ayah.

Studi Father Involvement Research Alliace juga menunjukkan bahwa anak yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil. Saat dewasa dia akan lebih percaya diri dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.

Dengan begitu, diharapkan anak tidak akan mencari pelampiasan emosi/kebutuhan kasih sayang dengan berpacaran yang berpotensi negatif dan merugikan karena sudah tercukupi perhatian, dan kebutuhan emosi/kasih sayang dari rumah.

Keenam, terakhir, berdoalah kepada Allah agar Ia menjaga buah hati anda. Karena Ia Maha Kuasa dan Maha Perkasa, meskipun berkumpul seluruh jin dan manusia berusaha mencelakakan anak anda, jika Tuhan tidak berkehendak, maka tidak akan mungkin terjadi keburukan padanya. Maka dari itu, segarkan kembali keimananmu, dan perbaiki ibadahmu, semoga dengannya Allah berkenan menjawab doa dan memberikan kita kebahagiaan berupa anak yang sehat, selamat, dan membanggakan kita di dunia dan akhirat.

 
Sarah dan Yusuf sedang main laptop


---000---

Diposting untuk mengikuti Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital #TantanganPengasuhanEraDigital #LombaBlogYKBH

Penulis:
Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan


Referensi:

21 October 2016

Menyikapi Permintaan Anak - Tips

Ada beberapa tips untuk menjaga supaya anak kita tidak menjadi generasi instan.

Yang saya maksud generasi instan adalah anak-anak manja, yang mudah putus asa kalau keinginannya tidak tercapai, tidak memiliki semangat juang/militansi dalam berusaha mencapai yang diinginkan.

Salah satunya adalah hal yang perlu dilakukan ketika ada permintaan dari anak -tips yang saya dengar waktu ada kajian parenting.

1. Pastikan tidak melanggar aturan/syariat.

Ini penting. Permintaan anak tidak boleh melanggar syariat, termasuk juga aturan (regulasi pemerintah) yang ada. Misalnya, anak belum cukup umur, belum saatnya punya SIM, sudah minta motor. Ini tidak boleh.

Kalau kita membiarkan anak melanggar peraturan (dan kita ketahui itu), maka anak akan dengan mudah melanggar peraturan juga jika kita tidak mengetahuinya.

2. Jika bisa dipersulit, jangan dipermudah.

Jangan langsung memberikan apa yang anak inginkan. Beri tenggat waktu. Entah seminggu, sebulan, setahun, tergantung kondisi. Misalnya, anak minta beli sepatu, bilang kita akan beli sepatu ketika tahun ajaran baru. Untuk sementara, sepatu yang rusak diperbaiki dulu.

Ini untuk mengajarkan anak bahwa dalam hidup ada proses yang harus dijalani, jadi tidak langsung/serta merta terjadi.

3. Kebutuhan vs keinginan

Ajari anak membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Perhatikan betul apakah permintaannya merupakan kebutuhan atau hanya sekedar keinginan?

Misal, jika dia ingin lapar, dia butuh makan, tapi tentu tidak butuh lebih dari porsi yang diperlukannya dan tidak perlu membeli makanan yang lain-lainnya, yang pada akhirnya malah tidak akan kemakan, karena sudah kenyang.

Jika seluruh keinginannya dipenuhi -baik yang berupa keinginan maupun kebutuhan-, khawatirnya, kedepannya, dia tidak akan bisa merasa bahagia/cukup jika yang dipenuhi hanya kebutuhan.

4. Minta komitmen dari anak, peraturan yang disepakati untuk permintaannya.

Setelah permintaannya terpenuhi, minta komitmen anak mengenai permintaannya, dan ajari untuk konsisten terhadap komitmennya.

Misalnya, ada permintaan motor. Jika memang sudah cukup umur (syarat 1), kemudian sudah ditunda sampai semester depan atau setelah naik kelas baru di kasih (syarat 2), dan memang motor yang diminta merupakan kebutuhannya, untuk mendukung aktifitasnya disekolah dll (syarat 3). Tuntut komitmen, jika dibelikan motor, semester depan, maka ada komitmen mengantar adik sekolah, selalu pakai helm, tidak boleh melebihi kecepatan sekian, dicuci setiap minggu, dll. Jika ada komitmen yang dilanggar, maka motor yang diberi bisa diambil/disita kembali. Komitmen ini bisa dibuat formil, ditulis di kertas dan ditandatangani kedua belah pihak (ayah dan anak).

Semoga dengan tips diatas, anak tidak akan menjadi generasi instan, yang keinginan dan semangat juangnya lemah, dan menjadi generasi tangguh yang sesuai dengan tantangan zaman. *amin


---000---

Balikpapan, 21 Oktober 2016
Syamsul Arifin *diresumekan dari ceramahnya Ust Drs.Miftahul Jinan, M.Pdi

31 January 2014

Win-win Solution & Alternatif

Salah satu trik saya dalam menangani anak adalah transaksi win-win solution dan pemberian alternatif.

Kadang orang tua hanya bisa melarang, tapi tidak memberikan solusi atau alternatif. Jadinya anak tidak bisa berkembang karena ngga banyak yang ia bisa coba atau alami, atau kalau parah, malah bisa jadi anak pemberontak (ketika sudah besar).

Contohnya gimana sih..?

Misal, anak pengen ngemil dan jajan. Alih-alih hanya dilarang ngga boleh jajan junk food, orangtua harus ngasih alternatif jajanan yang sehat, dan juga dikasih penjelasan. Atau kalau memang ngelarang jajan karena mau makan (soalnya kalau udah ngemil sebelum makan, si anak bisa jadi malas makan utamanya nanti, ya kalau begitu dikasih solusi kapan dia boleh ngemil, misal setelah makan besar (siang, atau malam) baru boleh ngemil, atau dikasih secuil aja, atau dikasih tau jam-jam ngemilnya.

Contoh lain, anak dilarang hujan-hujanan. Masuk akal sih kalau memang supaya anak ngga sakit. Tapi apa solusinya, supaya ortu dan anak sama-sama 'menang' (win-win solution). Bisa aja anak diperbolehkan hujan-hujanan dengan batas waktu, misal hanya boleh 20 menit, habis itu langsung mandi air hangat. Atau boleh hujan-hujanan tapi pakai payung (supaya badan dan kepalanya ngga basah).

Intinya, kita sebagai ortu terkadang perlu menahan diri, jangan jadi ortu yang otoriter, penindas, perampas 'kesenangan' anak. Kita kudu bisa negosiasi, supaya nantinya anak juga bisa jadi anak yang fleksibel, ngga saklek, atau ngga jadi anak pemberontak. Di lain sisi, (semoga) akhirnya anak jadi tetap lengket dengan ortu (karena selalu ada solusi dan ngga mentok kalau berurusan dengannya) dan jadi makin cepat dewasa dan kratif karena ada penjelasan pelarangan dan ide alternatif urusannya.


Note: tapi terkadang anak juga harus diberikan ketegasan tanpa toleransi, supaya dia paham bahwa terkadang ada keinginan yang dia tidak bisa dapatkan.
Misal ketika anak ikut belanja, jangan sampe apa aja yang anak mau diturutin, kalo diturutin terus, dia akan jadi raja kecil yang kemauannya ngga boleh ditolak.



11 December 2013

Selingkuh Karena Nafsu yang Tidak Terkendali

Menurut saya, banyak orang yang selingkuh, meski sudah memiliki pasangan yang halal, karena jiwanya dikuasai oleh hawa nafsu (yang tidak baik). Setan telah membutakan mata hatinya untuk dapat mencerna/mengevaluasi langkahnya yang melampaui batas.

Tidak jarang, selingkuhan yang mereka punya tidaklah lebih menarik/cantik dibandingkan pasangan sahnya. Lalu kenapa hal itu bisa terjadi? Jawabnya ya karena nafsunya itu.

Nafsu itu harus dikendalikan dan dikekang, jika kebablasan, maka ia akan menjadi raja yang menguasai diri kita, tanpa sadar, seluruh tingkah laku kita disetir oleh hawa nafsu semata.

Nafsu yang terkendali, akan jadi seperti budak dihadapan raja. Maka jiwa-jiwa yang hawa nafsunya terkontrol menjadi jiwa-jiwa yang tenang, tidak meledak-ledak, dan memiliki pancaran pesona yang menarik manusia yang berada di dekatnya.

Setan mengobarkan nafsu dalam diri manusia, sehingga keinginannya-hasratnya-gairahnya mengebu-gebu begitu menarik dan menggoda, hanya untuk sesuatu yang dia pernah merasakan juga.

Lalu bagaimana caranya mengendalikan nafsu yang tidak baik ini mengarah ke hal yang haram?

Jawabnya ya pertama, jagalah nafsumu pada hal yang halal, yaitu pasangan yang kamu nikahi.

Tidak jarang, setelah sekian lama menjalani kehidupan rumah tangga, seakan-akan sudah tidak ada lagi gairah nafsu yang menggelora seperti di awal-awal pernikahan. Tidak ada lagi sentuhan ringan yang sedikit saja menggetarkan seluruh kulit dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kenapa? Karena setan tidak suka manusia adem ayem dalam kebaikan (halal dan berpahala), maka ditiupkanlah hawa dingin untuk memadamkan hawa nafsu kita kepada pasangan hidup kita.

Maka sadarlah! Mulailah kita untuk terus menjaga gelora nafsu kepada pasangan kita. Entah bagaimana caranya.

Selanjutnya, setan terus menghembuskan dorongan nafsu di dalam dada kepada yang haram, karena memang itu tabiatnya setan, mau mengajak kita masuk ke neraka. 

Tampaklah mereka yang sebetulnya biasa saja, jadi terlihat menarik dan menggoda. Padahal ya kurang-lebih sama juga, itu-itu saja, bahkan mungkin lebih buruk rasanya.

Karena itu, kewajiban seseorang pria adalah tetap menjaga diri meski sudah menikah, tetap menahan pandangan meski bukan lagi bujangan, dan mengalihkan godaan dari yang haram ke yang halal, sebagaimana petuah kanjeng Nabi kita.

Bagaimana menurut anda..?
Apa saja kira-kira sharing praktis dari pengalaman anda, untuk terus menjaga nafsu kepada sang kekasih (suami/istri) tercinta..?



---000---

ipin4u, Balikpapan, 11 Desember 2013

07 May 2013

Sebelum (Wanita) Memutuskan untuk Bekerja

Secara umum, tidak salah seorang wanita bekerja, memiliki karir. Tapi (pendapat pribadi saya) mungkin ada baiknya menanyakan beberapa hal berikut ini sebelum memutuskan serius bekerja diluar rumah.

Apa yang sebetulnya anda cari?

Ketika seorang wanita menikah, membentuk rumah tangga. Apa yang sebetulnya anda cari ketika bekerja?

Apakah pekerjaanmu bisa membuatmu lebih bahagia?
Apa pekerjaanmu memberikan lebih banyak manfaat bagi orang lain, dan keahlianmu itu sangat terbatas di khalayak umum?
Apa ada kebutuhan uang tambahan untuk menutupi keperluan keluarga?
Apa sekedar pelarian dari "kerepotan" mengurus rumah?
Apakah pekerjaan ini hanya untuk mengisi waktu senggang anda saja?

Kalau alasannya kuat, silakan lanjut bekerja.

Kalau alasannya sekedar pelarian dari "kesibukan" mengurus rumah, mungkin perlu dikoreksi, karena kesibukan itu bisa diatasi, dengan mencari pembantu misalnya. Yang dikhawatirkan, ketika seorang wanita memutuskan bekerja, "kerepotan" itu malah dialihkan ke orangtuanya, kasihan, sudah tua aktifitas susah, ditambahin lagi pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, bukannya harus beristirahat di masa senja.

Jikalah hanya ingin mengisi waktu senggang, bolehlah kalau hanya masih berdua, belum ada tanggungan anak untuk diasuh/dididik.

Apa tujuan anda berkeluarga, hidup di dunia?

Menemukan kembali orientasi hidup dan sasaran-sasaran yang hendak dicapai, bisa membantu kita menentukan pilihan apakah akan lanjut bekerja atau fokus di rumah saja.

Seperti cerita seorang pakar marketing, ketika dia diminta menaikkan penjualan produksi odol perusahaan. Yang dia lakukan terdengar cukup sederhana. Dia tidak membuat program marketing yang wah, promosi besar-besaran atau yang lainnya. Yang dia lakukan adalah dengan membuat lubang pasta gigi yang diproduksi lebih besar ukurannya, sehingga pemakaian orang-orang lebih banyak -karena akan cepat beli lagi. Akhirnya angka penjualan perusahaan meningkat melebihi target.

Coba tuliskan kira-kira apa tujuan (sebenarnya) anda berkeluarga?
Membina keluarga yang sakinah ma wadah wa rahmah?

Coba tuliskan dengan gambaran yang lebih SMART (Spesifik, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound), supaya jelas dan bisa terukur.

Misalnya, ternyata tujuan anda berkeluarga adalah membina keluarga yang harmonis, anak-anak yang baik budi pekertinya, cerdas, dan sehat.
Dan buatlah gambaran kira-kira apa saja yang akan anda lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Apakah hal tersebut akan tercapai kalau anda bekerja? Jika iya, lanjutkan pekerjaanmu.

Apakah anak-anak akan jadi cerdas (belajar banyak hal), berbudi pekerti baik (baik tutur katanya, tidak hanya nonton tv saja ketika di rumah) jika diasuh nenek atau baby sister?
Apakah makanan mereka jadi lebih teratur, sehat (menyukai sayuran-mengurangi jajanan cemilan, bukan fast food/makanan instan, cukup porsi dan tidak berlebihan, bervariasi)..?
Bisa jadi iya. Maka silakan lanjutkan berkarir diluar rumah.

Namun jika tidak, atau kemungkinan besar tidak akan tercapai, maka mungkin perlu dipertimbangkan pengawasan penuh dari ibunya tentang hal ini.


Note terakhir, pengasuhan keluarga tidak serta merta berada di tanggungan istri, justru suamilah yang bertanggungjawab, tinggal bagaimana kerjasama keduanya untuk mewujudkan target hidup berkeluarga mereka. Dan TIDAK mesti juga seorang wanita yang tidak bekerja di luar rumah, kondisi keluarganya akan lebih sukses/berhasil dibandingkan yang bekerja di luar. Kalau manajemen dan pola asuhnya juga tidak memadai, karena kurang gaul si ibu (yang tidak bekerja itu) dalam mencari tahu ilmu baru, pendekatan yang lebih baik, bisa jadi malah lebih buruk hasil yang didapat. *entahlah.

Kalau mau tahu pandangan syariah tentang hal ini, bisa cek postingan ini

26 December 2012

Qurrata A'yun (Penyejuk Mata)

Ada penjelasan yang bagus sekali tentang ayat berikut 

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al furqaan: 74)

Di youtube, ustadz Nouman Ali Khan (dalam bahasa Inggris) menjelaskannya dengan indah sekali, bisa dilihat di:


Saya buatkan rekapannya berikut, silakan dilihat videonya langsung kalau yang mau.

Qurrata A'yun (Penyejuk Mata)

Ada kata ekpresi yang sangat kuat di dalam Al-Quran yang dipergunakan, yaitu qurrata a'yun. Kata ini juga dipergunakan di dalam hadits.

Untuk memudahkan kita mengerti apa artinya dengan mendalam, mari kita perhatikan terlebih dahulu penggunaan kata ini di dalam Arab kuno.

Ada 2 kalimat yaitu: 'mata menjadi dingin' dan 'mata menjadi hangat'

Ketika seseorang meneteskan air mata kesedihan, mengalami kemalangan dan berada dalam depresi, maka ketika orang arab melihatnya, mereka berkata "matanya menjadi hangat"

Salah satu bentuk ucapan kutukan yang paling parah dalam Arab kuno yaitu 'semoga menjadikanlah matanya hangat' yang berarti semoga dia mengalami malangan yang paling buruk dalam hidupnya. Kebalikan dari ini yaitu 'semoga matanya menjadi sejuk' yang berarti untuk semua kemalangan, kesedihan, penderitaan menjadi hilang dan semoga kamu merasakan kedamaian yang menenangkan.

Contoh penjelasan lain 'mata menjadi hangat' dan 'mata menjadi dingin' adalah sebagai berikut:

Misalkan di bandara ada dua pasang ibu dan anaknya, yang satu sedang melepaskan karena akan terbang, sedang yang satunya sedang menyambut anaknya, kedua ibu tersebut menangis.

Ibu satunya mengeluarkan air mata yang 'dingin' dan yang satunya mengeluarkan air mata yang 'hangat'.

Ibu yang menyambut kedatangan ibunya, mengeluarkan air mata bahagia, dia menangis karena sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu anaknya, maka 'matanya menjadi dingin'. Sedang ibu yang satunya melepas keberangkatan anaknya, maka 'matanya menjadi hangat' karena itu adalah tangisan kesedihan.

Contoh penjelasan lain, ketika penyair arab, yang juga seorang pembunuh akan membunuh seseorang (membalaskan dendam kaumnya) sedang dia menunggunya di balik bukit pasir, dia bersyair "mata kaumku akan senantiasa hangat, kecuali setelah belatiku menjadi hangat oleh darahnya" yang berarti jika si penyair itu sudah membunuh  orang tersebut, maka mata kaumnya akan menjadi sejuk, dan kemarahan, rasa penghinaan, dan rasa frustasi kaumnya akan hilang setelah terbunuhnya orang tersebut. Itulah yang ingin dia lakukan, membuat 'mata kaumnya menjadi dingin'. Jadi melepaskan rasa kemarahan, kesakitan.

Dalam konteks lain, yang merupakan contoh yang indah, yaitu ketika orang Arab dalam perjalanan, dan dia terjebak oleh badai gurun. Allah menciptakan unta dengan luar biasa sekali, sehingga mata untanya memiliki saringan yang akan menangkap pasir sehingga mata terlindung dari terpaan pasir. Sedang si pengelana tidak bisa menutup matanya, sebab kalau dia menutup matanya, dia akan tersesat. Sampai akhirnya dia menemukan gua sebagai tempat berlindung, lalu dia berkata 'mataku telah menjadi dingin'. Karena itu, 'mataku menjadi dingin' bisa diartikan dengan 'menemukan perlindungan dari badai'.

Doa yang saya (Nouman Ali Khan) sukai dalam Al-Quran ada di surat 25 (Al-Furqan) ayat 74.



وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." [
waalladziina yaquuluuna rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a'yunin waij'alnaa lilmuttaqiina imaamaan] (QS. Al-Furqān 25:74)

Allah SWT menyuruh kita berkata "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) [qurrata a'yun], dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

aatinaa = berikan kami hadiah yang indah, spesial, lana = khusus bagi kami.
hadiah khusus itu berupa = istri dan anak yang 'menyejukkan mata'
dzurriyyaatinaa = generasi penerus di masa mendatang

Doa itu berarti meminta agar diberikanlah 'mata yang sejuk' melalui istri dan anak-anak kami.

Doa ini menjadi kesukaan saya karena beberapa alasan:

Pertama, saya sudah menikah.

Kedua, kita semua harus menghargai doa ini, karena krisis yang ada di dunia kita saat ini. Institusi paling dasar yaitu keluarga kita sedang "diserang". Bahkan kita kaum muslim pun tidak kebal terhadap serangan ini. 'Badai' dalam konteks 'mencari kesejukan mata dari badai' diatas, bukan berada di luar rumah, tapi ada di dalam rumah kita. Dan kita harus keluar dari rumah supaya selama dari badai tersebut, badai berupa stres, teriakan, jeritan, penghinaan, pertengkaran antar suami-istri, adik-kakak tidak saling berbicara, orang tua tidak berbicara pada anaknya, krisis dalam rumah tangga.

Keluarga telah menjadi tempat kemarahan, kesedihan, penderitaan, yang orang-orang berusaha untuk keluar daripadanya.

Maka doa ini menjadi indah sekali, agar membuat rumah kita menjadi tempat perlindungan/naungan. Kita menderita karena badai yang ada di luar, dan tempat perlindungan kita ada di balik pintu rumah, ada di pasangan hidup dan anak-anak kita. Ketika kita melihat mereka, rasa cemas kita lenyap.

Penjelasan mengenai konteks ini secara lebih jauh lagi pada penggunaan konteks ini dalam Al-Quran adalah sebagai berikut.

Ikatan terbesar yang ada adalah pada ibu dan anak. Ketika sudah memiliki anak, naluri ibu akan selalu mengutamakan anaknya. Ibu-ibu bahkan akan sulit jika harus jauh dari anaknya, bahkan bisa jadi sangat khawatir ketika terlambat menjemput ke sekolah, terlambat menjemput di bandara.

Pada kisah Nabi Musa AS, kita perhatikan bagaimana kekhawatiran ibunya ketika harus melepas Musa di sungai yang nampak seakan melepasnya pada kematian, karena di belakangnya juga lebih menakutkan (pasukan Firaun yang membunuhi bayi-bayi laki-laki).

Ibu Musa berada pada situasi yang sangat sulit, tidak tahu bakalan kondisi anaknya seperti apa, dan kondisi anaknya sekarang dalam bahaya.

Di sisi lain, ada wanita lain yang juga berada dalam badai, yaitu istri Firaun, yang berada dalam kekerasan psikologis dengan suaminya Firaun, yang tidak bisa melepaskan diri darinya, karena dialah pemerintah dan polisi.

Maka perhatikanlah ketika istri Firaun menemukan Musa, dia berkata

"(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu". [qurratu 'aynin lii] (QS. Al-Qashash:9)

Berarti, dia akan menjadi tempat berlindungku dari badai, dia akan satu-satunya kegembiraanku, karena aku berada dalam kesedihan. Di ayat ini, istri Firaun mempergunakan kata walaka (dan bagimu), tidak mempergunakan kata 'bagi kita' karena dia tidak mengikat dirinya dengan Firaun.

Satu contoh lagi mengenai 'mata yang dingin' agar semakin memperjelas keutamaan doa ini.

Bayangkan perasaan bahagia/emosi seorang ibu yang dipertemukan dengan anaknya lagi yang sudah hilang, bagaimana perasaan bahagianya. Maka seperti itu pulalah perasan ibu kandung Musa ketika dipertemukan kembali dengan Musa,

"Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita." [faradadnaahu ilaa ummihi kay taqarra 'aynuhaa walaa tahzana] (QS. Al-Qashash:9)

Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, agar 'matanya menjadi sejuk'

Allah mempergunakan kata 'matanya menjadi sejuk'' untuk mengekspresikan kebahagiaan yang luar biasa ini.

Maka dari itu, kita meminta Allah agar Ia memberikan kita 'mata yang sejuk' lewat pasangan dan anak-anak kita.

Jika hendak menikah, mintalah lebih jauh lagi, bukan hanya hendak menikah, tapi menikah dengan seseorang yang bisa menjadi 'penyejuk mata', saya menjadi 'penyejuk mata' bagi mereka dan mereka akan menjadi 'penyejuk mata' bagi saya.

Bahkan Allah SWT menggiring doa ini lebih jauh lagi, waij'alnaa lilmuttaqiina imaamaan, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang (anak-cucu kami) yang  shaleh, takut, bertakwa, kepada Allah. 

Kalau ini diucapkan, kita telah menetapkan diri kita menjadi contoh bagi generasi kita (anak-cucu) di masa mendatang. Jika tidak bisa berlaku sebagai suami yang baik, istri yang baik atau anak yang baik, maka kita yang akan bertanggungjawab pada generasi di masa mendatang karena telah membuat tren/contoh yang tidak baik ini.

Maka doa di ayat ini adalah doa yang cerdas, agar kita bisa menjadi 'penyejuk mata' bukan hanya bagi keluarga kita saat ini, tapi bagi penerus di masa mendatang agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa pula.

Karena di akhirat nanti, kita tentu ingin agar dibantu doa oleh anak-cucu yang shaleh, yang bisa mengangkat diri kita ke surga.

Berdoalah dengan tulus, semoga Allah menganugerahkan kita, istri dan anak yang 'menyejuk mata' dan menjadikan kita sebagai pemimpin bagi orang-orang (anak-cucu) yang bertakwa. *amin O0




---000---

Balikpapan, 26 Desember 2012
Syamsul Arifin

02 October 2012

Jika Momongan tak Kunjung Datang

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy-Syura: 49-50)



Boleh jadi masih banyak diantara kita (termasuk saya) yang salah kaprah dalam memandang pemberiaan Allah berupa titipan anak melalui rahim istri kita. -saya sendiri sudah punya anak 1, Sarah el Hurriyah (20 bulan).

Sadar ngga sadar berpikir bahwa itu seorang bayi 'jadi' karena usaha berdua semata.

Memang pasti sebagai manusia kita terikat kepada sunatullah (hukum alam yang telah Allah gariskan) -termasuk juga bagaimana proses alamiah kejadian/reproduksi manusia. Tapi harusnya kita sadar, kalau semua sebab terjadi karena memang Allah sudah mengkehendakinya, dan semua hal itu sudah ditetapkan takdirnya, pepatah yang terkenal berkata 'pena telah diangkat dan lembaran-lembaran kertas telah kering' -maksudnya sudah ditetapkan kok keputusannya.

Dari Abu Said al-Khudry r.a. bahwa ada seseorang berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang budak perempuan, aku melakukan 'azl padanya karena aku tidak suka ia hamil, namun aku menginginkan sebagaimana yang diinginkan orang kebanyakan. Tapi orang Yahudi mengatakan bahwa perbuatan 'azl adalah pembunuhan kecil. Beliau bersabda, "Orang Yahudi bohong. Seandainya Allah ingin menciptakan anak (dari persetubuhan itu), niscaya engkau tidak akan mampu mengeluarkan air mani dari luar rahim." (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan Thahawi)

Apa dengan begini kita jadi berlepas tangan dan berdiam diri saja. Ya ngga juga lah, karena kan berusaha/berproses itu wajib, sedangkan mengenai hasilnya, itu mah terserah Allah aja.

Jadi ya ngga usah terlalu 'stress' juga kalau memang belum waktunya atau ngga dikasih titipan anak.
Dan jangan sombong atau berbangga diri juga kalau udah punya anak, toh bukan kita yang benar-benar ngebuat mereka, tapi Allah yang membuatnya -menjalankan sel telur, menjalankan sel sperma, memberikan bentuk pada janin, dll- kita ngga banyak berbuat/andil disitu.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Al-Hadiid: 23)

Kalau belum dikasih anak, berdoa dan berusaha.
Para Nabi juga berdoa memohon -bahkan ada yang bertahun-tahun baru diberi momongan, teladan yang patut ditiru.

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (QS. Maryam: 2-6)

Jangan pernah kehilangan harapan/kepercayaan/keyakinan kepada Allah, karena kepada-Nya lah kita serahkan segala urusan, laa quwwata illaa billah (tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).

Dinikmati saja apa yang ada saat ini, karena seorang muslim itu mengagumkan dalam berbagai kondisi (sabar dan syukur). Insya Allah itu lebih baik.



---000---

Balikpapan, 2 Oktober 2012
Syamsul Arifin

06 May 2012

Masih tentang Kesetiaan (Lanjutan)

Melanjutkan postingan “Kesetiaan (Opiniku tentangnya)”, pertanyaan yang kemudian muncul, mungkinkah terjadi konflik prioritas antara kesetiaan kita kepada Allah dengan kesetiaan kita kepada sesama makhluk?

Misalkan –semoga tidak terjadi- suami/istri kita adalah koruptor, apakah kita akan dianggap setia kepadanya kalau kita menyembunyikan aibnya dan ikut kabur bersamanya ke luar negeri dalam pelariannya dari kejaran aparat penegak hukum –kayak di tivi gituh-, apakah itu kesetiaan?

Contoh lain, ‘kesetiaan’ kepada perusahaan mengharuskan kita untuk melakukan pemalsuan dokumen-dokumen tender atau melakukan aksi penyuapan untuk memenangkan proyek, atau tetap diam terhadap tindakan seperti ini merupakan contoh kesetiaan kepada perusahaan?

Tentu tidak.*) (cek tambahan utk revisi)

Setia kawan, sering menjadi tekanan kelompok (peer pressure) bagi seorang remaja untuk ikut terjerumus dalam keburukan yang dilakukan oleh teman-teman sepermainannya, walau bisa jadi mereka tahu hal tersebut salah.

Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya “Kalau kita sudah setia kepada-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, sudah pasti kita akan setia pula pada yang lainnya (dalam hal kebaikan)”, kesetiaan kita kepada selain Allah hanya untuk urusan yang ma’ruf, jika melampaui batas syar’i atau membuat kita melanggar komitmen kesetiaan kepada Allah SWT, maka kesetiaan kita kepada Allah lebih layak diutamakan.

"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah." (HR Ahmad)

Di postingan terdahulu, saya sudah menuliskan bahwa kesetiaan menurut KBBI berarti:  keteguhan  hati;  ketaatan  (dl persahabatan, perhambaan, dsb); kepatuhan;

Bahkan kepada penguasa/raja/presiden sekalipun, kalau membuat kita menodai kesetiaan kepada Allah, kita harus berani mengutamakan Allah -tempat kembali kita- di atas segalanya. Para tukang sihir yang melawan Nabi Musa AS adalah contohnya:

Maka tatkala ahli-ahli sihir datang, mereka bertanya kepada Fir'aun: "Apakah kami sungguh-sungguh mendapat upah yang besar jika kami adalah orang-orang yang menang?" Firaun menjawab: "Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)".

Berkatalah Musa kepada mereka: "Lemparkanlah apa yang hendak kamu Lemparkan". Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: "Demi kekuasaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang". Kemudian Musa melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu.

Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah). Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun". Firaun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya".  Mereka berkata: "Tidak ada kemudaratan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS. Asy-Syuaraa': 41-51)

Sampai di sini, saya ingin menekankan sekali lagi, bahwa kalau ada aksi ‘kesetiaan’ kita kepada sesama makhluk-kelompok-organisasi atau kepada siapapun yang bertentangan dengan kesetiaan kita kepada Allah SWT, maka kita harus memiliki sikap yang kukuh untuk mengutamakan kesetiaan kita kepada Allah di atas segalanya.

Karena tidak ada yang namanya kesetiaan di neraka nanti. Tidak ada yang namanya kesetiaan pada partner in crime, sebab masing-masing orang akan mempertanggungjawabkan kesalahannya sendiri-sendiri. Bahkan sobat/pasangan/pengikut setia akan saling menyalahkan jika sudah dimasukkan ke neraka nanti.

Di atas kita sudah membaca bagaimana para penyihir Firaun akhirnya menyadari kesalahan mereka dan memulai komitmen kesetiaan yang lebih utama. Selanjutkan kita akan melihat bagaimana kesetiaan para pengikut kepada pemimpin yang durhaka dikisahkan Al-Quran:

(Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)". (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka". Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahanam itu sebagai tempat menetap". Mereka berkata (lagi): "Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka." (QS. Shaad: 59-61) 

Tidak akan beruntung orang yang setia kepada makhluk jika menghianati Allah SWT, dan tidak akan merugi orang yang setia kepada Allah SWT meski apapun yang terjadi di dunia.

 

 

---000---

Balikpapan, 6 April 2012
Syamsul Arifin

Gambar: Cangik dan Limbuk, dua tokoh klasik dalam jagat pewayangan, yang menggambarkan orang yang setia kepada junjungannya, diambil dari sini.


*)tambahan (8 April 2012): Setelah mengendap, saya revisi sedikit coretan diatas.

Tindakan seorang yang patuh kepada seseorang, meski mencederai kesetiaan kepada Tuhan-nya, semisal setia kepada suami dalam bersekongkol kabur ke luar negeri ketika dikejar-kejar KPK, atau membantu suami/istri dalam melakukan kejahatan (semisal penipuan-atau bahkan pemerkosaan-seperti yang pernah saya baca beritanya-naudzubillahhimindzalik), atau kesetiaan seseorang pada perusahaan dalam memalsukan dokumen/berbuat curang agar menang tender atau tetap setia bareng teman-teman melakukan maksiat yang nyata –atau semisalnya, itu semua adalah contoh kesetiaan, namun kesetiaan yang MUNGKAR dan dan wajib dilanggar. 

Karena itulah, jika ada kesetiaan yang mungkar seperti itu, harus diluruskan –jika mampu- dan tidak boleh setia dalam perkara yang seperti itu –sebagaimana coretan di atas akhirnya melanjutkan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA dia berkata: Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Kalau kita memang memiliki kesetiaan yang sejati, jika orang yang kita cinta berbuat mungkar, maka sudah tentu kita akan berupaya sekuat tenaga untuk mencegahnya, karena kita ingin orang tersebut (semoga) bersama-sama kita menikmati surga (dalam keabadian), bukan terpisah dan menderita di neraka, toh?

05 May 2012

Kesetiaan (Opiniku tentangnya)

Kesetiaan merupakan derivasi dari setia (adjektiva/kata sifat), yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna:  1  berpegang  teguh  (pd  janji,  pendirian, dsb); patuh; taat: ia tetap – melaksanakannya;  ia  tetap  --  memenuhi  janjinya;  2  tetap  dan  teguh  hati  (dl  persahabatan  dsb):  telah  sekian  lama  suaminya merantau,   ia   tetap   --   menunggu;   3 berpegang teguh (dl pendirian, janji, dsb);

Sedang kesetiaan menurut KBBI berarti:  keteguhan  hati;  ketaatan  (dl persahabatan, perhambaan, dsb); kepatuhan;

Dalam sebuah hubungan, mendefinisikan kesetian bisa menjadi agak rancu bagi saya.

Misal, apakah seseorang muslim yang berpoligami, bisa membuatnya masuk ke kategori “tidak setia” pada istri pertamanya?

Hey, ini bukan berarti saya punya pikiran berpoligami loh ya, ngga kok, cuma lagi iseng mencoba mendefinisikan makna kesetiaan dalam hubungan pernikahan ajah. Hmmm...

Karena (bagi saya) susah sekali mendefinisikan makna kesetiaan dalam level antar manusia, namun sepertinya kita akan lebih mudah mendefinisikan makna kesetiaan dalam level hubungan kita dengan sang pencipta, Allah SWT.

Seperti yang disebutkan oleh KBBI, salah satu definisi kesetiaan yaitu ketaatan, kepatuhan. Dalam lingkup kesetiaan dengan sang pencipta, mungkin bahasa mudahnya adalah: menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya dan mengerjakan segala yang diperintah oleh-Nya. Terdengar familiar ya?

Di Al-Quran, ada beberapa kisah tentang janji setia (yang saya perhatikan), diantaranya:

1. Kisah para hawariyyin (sahabat setia) nabi Isa A.S. ketika mereka dikonfirmasi tentang kesetiaan mereka dalam menolong agama Allah. (QS. Ali Imran:52) dan [QS. Ash-Shaf:14)

2. Kisah bai’atur-Ridhwan (janji setia) 1,400 sahabat di bawah sebuah pohon yang terletak di Hudaibiyah. (QS. Al-Fath:10)

3. Janji setia para perempuan kepada Rasulullah SAW untuk tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anaknya, dst. (QS. Al-Mumtahanah:12)

Ketika berbicara kesetiaan dalam konteks kesetiaan kita kepada sang khalik, Allah SWT, patuh kepada-Nya, maka jadi jelaslah hakikat kesetiaan yang sebenarnya.

Kesetiaan seorang karyawan bisa berupa tidak membocorkan rahasia perusahaan ke kompetitor, tidak menerima suap dari vendor (melanggar peraturan perusahaan), dll. Bukan berarti setia kepada perusahaan lalu tidak boleh pindah ke perusahaan lain yang bisa memberikan karir yang lebih baik. Tapi kesetiaannya bisa berupa menghargai kontrak kerja, patuh pada jam kerja yang berlaku, atau mungkin contoh lainnya. Hal-hal yang bisa ditarik korelasinya dengan etos kerja seorang muslim: profesional dalam bekerja.

Kesetiaan seorang pembantu bukan berarti dia tidak boleh pindah ke majikan lain yang bisa memberinya gaji lebih besar, tapi bisa berupa menjaga rahasia keluarga majikannya (tidak menggosipkannya dengan orang lain), menjalankan amanat untuk menjaga harta keluarga (tidak mencuri), dll –sepertinya semua hal tersebut bisa dihubungkan dengan akhlak-akhlak terpuji seorang muslim juga.

Kesetiaan seorang suami kepada istri, dalam konteks kesetiannya dengan ketaatan kepada Allah, bisa berupa menjaga diri dari melihat foto-video yang memamerkan aurat yang bukan haknya, menjaga diri dari berzina (selingkuh tingkat tinggi), dll, semua yang pada dasarnya merupakan kesetiaan/ketaatan juga kepada Allah SWT.

Kesimpulannya, kesetiaan kepada sesama makhluk bukanlah merupakan hal yang besar, karena kalau seseorang sudah setia kepada Tuhan-nya –yaitu menjauhi semua larangan yang diperintahkan Tuhan-nya dan berusaha melaksanakan semua kewajiban yang diperintahkan Tuhan-nya- sudah pasti kesetiaan dalam konteks yang lainnya akan mengikuti.

Adanya kejelasan batas syariat membuat kita mudah mendefinisikan kesetiaan. Namun seperti kata orang “easier to said than done” (gampang ngomongnya, tapi susah praktekinnya). Kesetiaan kita kepada Allah diuji setiap hari, apakah kita bisa melakukannya? Kalau kita sudah setia kepada-Nya dalam berbagai aspek kehidupan, sudah pasti kita akan setia pula pada yang lainnya (dalam hal kebaikan).

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjadi orang-orang yang setia kepada-Nya, setia terus sampai kita beranjak tua dan akhirnya bertemu dengan-Nya, dalam keadaan Dia ridho kepada kita, karena telah menjaga kesetiaan selama hidup di dunia *amin.

 


---000---

Balikpapan, 5 April 2012
Syamsul Arifin

05 March 2012

(Sengaja) "Memasukkan" Anak ke Neraka

Seorang anak butuh guru/mentor/pelatih yang melatihnya supaya bisa berenang. Mengharapkan mereka ujug-ujug bisa berenang dengan menceburkan ke kolam yang dalem, tentu aneh, dan sadis (membunuh mereka).


Dan seperti kata pepatah "gagal mempersiapkan, berarti mempersiapkan untuk gagal", makanya tak jarang, banyak sekali orang tua yang memasukkan anak-anak mereka ke les-les, mengikutkan ke persiapan ujian masuk universitas, dan lain-lain. Semua yang membutuhkan pengorbanan waktu-usaha-dan tentunya uang.

Yang uniknya, kita SERIUS sekali tentang urusan persiapan masa depan duniawi anak-anak kita, tapi terkadang 'menyepelekan' masa depan yang lebih di depan, hari-hari di akhirat.

Apakah ada waktu yang sengaja di-plot untuk mengajari mereka shalat-baca quran?
Adakah sejumlah nominal uang yang sama (kalau tidak lebih besar) yang dihabiskan untuk memanggil guru ngaji private seperti yang dihabiskan untuk ikutan les?

Keseriusan usaha akan sebanding dengan besar-kecilnya hasil yang didapat.

Kalau ngga serius membangun pondasi buat agama anak-anak kita, maka jangan mengharapkan anak-anak kita akan jadi melek agama?

Jangan harap mereka tahu cara bertayamum atau mandi junub, tahu cara shalat sebagai makmum masbuk atau shalat dalam perjalanan, tahu cara baca quran yang sesuai tajwid, dst, kalau kita sebagai orangtua (orang yang bertanggungjawab atas mereka), tidak mengajarkan/meluangkan sumber daya yang cukup agar mereka tahu hal-hal tersebut.

Anak itu seperti pohon, jangan berharap kamu bisa menegakkan batangnya kalau sudah terlanjur besar. Seperti bonsai yang dibentuk dari kecil agar memberikan bentuk lekukan batang yang indah, anak juga dibentuk dari kecil agar tertanam nilai-nilai yang kita inginkan. Jangan berharap tiba-tiba saja kalau dia besar dia akan rajin shalat-ngaji-dan kuat puasa, kalau dari kecil tidak pernah dibiasakan untuk shalat-ngaji-dan puasa secara bertahap.

Memahami ilmu agama adalah fardu 'aid bagi setiap muslim/ah, karena dengannya kita akan selamat dunia-akhirat. Prioritas yang proporsional harus diberikan, agar kita tidak menzalimi anak-anak kita dengan 'sengaja' memasukkannya ke neraka, karena kita tidak mengajari/memberikan mereka sumber daya yang cukup untuk mengetahui ilmu agamanya.

Kita tahu, tapi tidak mau tahu.

Buktikan cinta dengan tindakan nyata.


---000---

Balikpapan, 5 Maret 2012
Syamsul Arifin
*pesan untuk diri sendiri

15 February 2011

Warisan Terbaik

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al-Baqarah: 132)

Tiap manusia punya jatah rezekinya masing-masing. Yakinlah ini.

Bekal mendasar yang perlu dipersiapkan bagi anak-anak kita kelak setelah kita (sebagai orangtua) wafat bukanlah bersifat materi, bukan tentang seberapa banyak uang yang telah dicadangkan bagi mereka, sudah seluas apa rumah yang bisa mereka tempati nanti, dan lain sebagainya.

Tidak salah sih mempersiapkan hal tersebut. Tapi setidaknya ada beberapa hal mendasar yang jauh lebih penting dari pada itu semua.

Bekal Keimanan

Membangun pondasi keimanan yang kokoh (aqidah yang lurus) di dalam dada anak-anak kita merupakan hal yang krusial. Penting. Esensial!

Bukan hanya bagi keselamatan dunia-akhirat sang anak saja, tapi juga bagi keselamatan dunia-akhirat kita sebagai orangtua. Bukankah salah satu diantara 3 amalan yang terus berjalan jika seseorang meninggal adalah doa. Bukan sembarang doa, tapi lebih spesifik lagi, yaitu: doa dari anak yang shaleh/ah.

Seorang mayit dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak dan kawan yang terpercaya. Apabila doa itu sampai kepadanya baginya lebih disukai dari dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah 'Azza wajalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah mohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka. (HR. Ad-Dailami)

Bekal Karakter

Bekali anak dengan karakter pemberani, tidak takut mengambil resiko –yang telah diperhitungkan. Keberanian ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dengan latihan dan pelajaran. 

Libatkan anak dalam diskusi tentang pengambilan keputusan yang akan ia jalani; ajari ia supaya berani mencoba, jangan jadikan kemenangan/piala/medali sebagai tujuan, tapi yang terpenting adalah si anak mau dan mampu berkompetisi/mengikuti persaingan dengan gembira dan tidak takut mencoba hal-hal baru yang bermanfaat.

Tanamkan sikap bertanggungjawab dan jujur. Beri contoh mengenai hal ini dalam keseharian. Contoh-contohnya: ketika mengambil makan sendiri harus dihabiskan; membereskan apa yang telah dimulai; ketika mendengar orangtuanya berbincang –semuanya dalam konteks kejujuran –tidak berbohong meskipun untuk bercanda; dan lain sebagainya.

Optimis. Tatap masa depan dengan wajah yang mendongak –maksudnya bukan sombong, tapi yakin bahwa akan selalu ada harapan bagi setiap langkah gerak usaha. Rasa optimis juga terkait keimanan kepada Allah, Tuhan penggenggam alam semesta. Yakinkankan bahwa dia memiliki Tuhan yang maha mendengar, maha mengetahui, maha penyayang, dst.

Bekal Ilmu

Ilmu agama, agar ia dapat mewujudkan tujuan penciptaannya,agar ia mengetahui cara-cara yang benar dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu ini bersifat fardu ‘ain. Wajib hukumnya bagi kita sebagai orangtua memberikan pengetahuan yang cukup agar ibadahnya bisa diterima. Karena syarat suatu ibadah diterima itu ada 2: niatnya ikhlas dan caranya benar (mengikuti Rasulullah SAW).

Dan juga ilmu dunia, agar ia dapat bersaing dengan anak-anak yang lainnya.


Insya Allah dengan bekalan-bekalan ini akan membuat anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang kuat, tangguh dan mampu mencetak kesuksesan di dunia serta akhirat *amin.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisaa': 9)



---000---

Balikpapan, 15 Februari 2011
Syamsul Arifin