19 August 2018

Kecewa - Sabar - Usaha Lagi

Kekecewaan muncul ketika kenyataan tak sesuai harapan.

Tapi, benarkah harapan kita merupakan hal yang terbaik untuk kita?

Ilmu manusia terbatas.

Kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu. Masa depan adalah salah satu hal gaib yang tidak kita ketahui.

Seperti orang tua yang anaknya dibunuh oleh Nabi Khidir ketika bersama Nabi Musa.

فَانْطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا

Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” (QS. Al-Kahf: 74)

Hikmah perbuatannya baru diungkap Nabi Khidir beberapa waktu kemudian,

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا. فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya). (QS. Al-Kahf: 80-81)

Jika kita berada di posisi orang tua anak muda tersebut, bagaimana respon kita? Marah, kecewa, sedih? Sebagai orang beriman, kenapa musibah besar itu (anak dibunuh) menimpa kita? Apakah kita akan mampu bersabar? Berat pastinya.

Sabar itu berat. Karenanya balasannya besar pula.

Kesabaran itu tidak pasif, tapi aktif. Tidak diam, tapi penuh amal. Tidak putus asa, terus berusaha.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ. جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ. سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya). (QS. Al-Kahf: 80-81)

---000---

Balikpapan, 19 Agustus 2018
Syamsul Arifin

11 August 2018

Bahagia

Kita bisa bahagia (dan tidak bahagia) terlepas dari kondisi apapun yang kita miliki.

Bahagia itu berawal ketenangan hati.

Apa yang membuat hati kita tenang?

Uang banyak, tapi takut diambil orang, jengkel dipotong pajak?

Rumah lapang tapi tidak berpenghuni (ayah ibu pulang malam, anak selalu bermain di luar)?

Kendaraan mewah tapi stres di jalanan macet?

Kedekatan kita dengan Tuhan, adalah pondasi menuju bahagia.

Kita bisa membuat diri kita bahagia, dalam kondisi/situasi apapun juga.

Punya anak ataupun tidak punya anak.
Punya rumah sendiri ataupun masih ngontrak.
Punya kendaraan pribadi ataupun naik angkutan umum.

Rumah lapang yang hangat penuh cinta. Bahagia.
Rumah ngontrak yang disinari kasih sayang di antara penghuninya. Juga bahagia.

Uang banyak, disalurkan pula jatah zakatnya. Bahagia.
Uang sedikit, meski hanya tercukupi makan minum saja, tapi masih mampu bersyukur. Juga bisa bahagia.

Kendaraan mewah, dengan hati yang sabar. Bahagia.
Naik bus umum, sembari berzikir, bahkan sampai tertidur lelap di kursinya. Juga bahagia.

Tidak semua orang berhak atas kepemilikan materi tertentu.
Tapi semua orang berhak bahagia.

Tuhan Maha Adil.
Tidak semua orang punya penghasilan yang sama.
Tapi semua orang punya hak kebahagiaan yang sama.

Pilihlah untuk bahagia.
Bagaimana kau bersikap ketika menghadapi berbagai kondisi hidup, bisa membuatmu bahagia.

Pilihlah untuk bahagia.
Dekat dengan Yang Maha Esa, banyak bersyukur atas karunia-Nya, pondasi menuju bahagia.

---000---

Balikpapan, 10 Agustus 2018
Syamsul Arifin

05 August 2018

Interview Aramco

Di ata kertas, aku terlihat hebat, namun di atas tanah, nyata terlihat kelemahanku.
Kadang, kita mudah dibutakan oleh ilusi yang kita ciptakan sendiri.
Interview 31 Juli lalu menunjukkan banyak kekurangan yang harus segera saya perbaiki.