Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

05 January 2025

Memori Rasa

Definisi "memori rasa": kenangan emosi (bahagia, senang, takut, sedih, marah, dll) yang muncul ketika menikmati makanan atau minuman tertentu. (Ngarang sendiri)

Ingatan seringnya dikaitkan dengan gambaran visual, suara verbal, gerakan kinetik, dan semisalnya.

Namun tidak banyak yang menghubungkan antara memori dengan indera perasa/pengecap. Makan atau minum sesuatu yang mengembalikan lagi perasaan yang dulu dialami. 

Ada yang ketika makan sayur asem (dengan rasa tertentu), misalnya, jadi tetiba teringat dengan kenangan bareng ibunya yang sudah lama meninggal.

Kalau saya, ketika makan gudeg, jadi teringat perjalanan hidup ketika 2008-2009 dulu merantau di Samarinda, nge-kost sendiri di kota yang tanpa keluarga/saudara, makan siang di mall Lembuswasna.

Asosiasi/hubungan rasa dan ingatan itu tentu perlu dibentuk. Harus ada repetisi/pengulangan. Sering makan hal itu bareng siapa, atau ketika apa. Sehingga ketika suatu saat lagi makan hal tersebut (yang rasanya mirip-mirip), muncul nostalgia bawah sadarnya.

Dan rasa tersebut juga harus khas, agar ada specialty, kekhususan, diferensiasi antara rasa tertentu dengan kenangan tertentu.

Mungkin bagus juga kalau kita mau bentuk memori rasa ini dengan anak-anak, biasakan ia makan makanan rumahan, sehingga ketika ia makan makanan tertentu, ingatannya bisa melayang ke kita sebagai orang tua. 

Ada kenangan rasa bersama kita. Memori yang ia bisa munculkan juga ketika merindu kita (yang sudah mendahuluinya).



---000---

Depok, 5 Januari 2025
Syamsul Arifin
Foto warung gudeg Yu Djum di Yogyakarta (end of year travel with family)

02 January 2021

Maksimalkan Ikhtiar dan Lengkapi dengan Doa

Kita memiliki kebebasan kehendak dan pilihan, namun kita tidak pernah bisa lari dari takdir yang sudah digariskan.

Itulah sebabnya kita diajarkan untuk optimal dalam berusaha. Bermusyawarah dengan orang yang ahli/bijak/berilmu/berpengalaman untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, mengerahkan seluruh sumber daya terbaik dalam bekerja. Memonitor dan menyesuaikan diri dengan kondisi atau informasi terkini untuk bisa mencapai target yang dituju.

Pada akhirnya, kita tidak pernah dituntut untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Yang dituntut adalah usaha yang maksimal.

Banyak orang percaya bahwa hasil itu berbanding lurus dengan usaha yang diberikan. Dan memang secara umumnya benar demikian. Itulah hukum alamnya, sunatullah.

Tapi bisa jadi ada pengecualian tertentu, sekali waktu.

Pencilan atau outlier, dalam terminologi statistik.

Meyakini bahwa semua sudah digariskan tidak untuk membuat kita malas berusaha. Tapi untuk membuat kita semakin banyak zikir kepada-Nya. Bersyukur atas segala anugerah dan berlindung atas kesombongan diri.

Keyakinan akan takdir adalah satu sisi mata koin, sisi yang satunya lagi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan/usaha hamba-Nya.

Alhamdulillah dan astagfirullah untuk semua di 2020 (segala kebaikan dan kekurangan diri).

Semoga Allah memberikan lebih banyak lagi kenikmatan, kesehatan, dan keimanan di 2021 #amin ya rabbal alamin.





---000---

Jakarta, 2 Januari 2021
Syamsul Arifin. 

03 March 2020

Relieved to be Pulled out of Balikpapan

For once, i can feel relieved to be pull out of Balikpapan.

25 March 2019, i remembered the first day i became a task force worker at Holding company, stationed at Jakarta.

It was a mix feeling stepping out of our comfort zone.

Balikpapan was a wonderful place to stay. I grew my small family, starting from just 2 youngsters living together, ended up having 4 beautiful children.

It was part of heaven. Small town near the beach, no traffic jam with plenty of quality time for the family.

Coming here can always able bringing back those memory. The smell of the sun in Saturday morning near the Kemala beach where white sand and shell clamp being collected by kiddos.

1 year a head. I feel that this city seems to loose it attaction. 3 March 2020, during a visit, i can't help to notice the place where we use to eat at Plaza Balikpapan are dissappeared. Shoping shops are also closing their doors.

There seem to be a constant draw back.

So, now my heart can stop mourning, for leaving this city.

Embarking a new journey, still together with the full pack. 1 wife, 4 children.

It probably time for me to release my self from the captive of the past, to a full set of opportunities.

Those who are stuck with their past, will surely have a hard time conquering their future.

I need to remember one thing. God plan will always be the best for us.

Even though it will be impossible to understand what God plan is, until it was revealed to us.

What i just need to do is to understand that the causality (God law) are being met. Do the best, grow capabilities, always learning, have open minded, never feel satisfied (in a good way), be humble (networking with anyone, learning from anyone), have integrity, dont be afraid to fail, challenge status quo, ask question(s), fulfill obligations to God, be kind to parent (and to siblings), love your family (wife and children) -schedule time with them, educate, and be their role model, etc.

By doing so, insya Allah, good things will come.


---000---

Balikpapan, 3 March 2020

08 January 2020

Daftar S3 Ilmu Manajemen Unbraw

Setelah browsing sana sini. Akhirnya memutuskan lanjut belajar ke UB. Mumpung lagi kerja di Jakarta. 

Pertengahan Juli 2019, tanya-tanya info ke sekretariatnya. Dan diinfokan ada pembukaan untuk semester genap -karena semester ganjilnya sudah tutup pendaftarannya. 

25 Agustus, tes TPA di Bappenas.
31 Agustus, tes TOEFL.

Sembari meminta rekomendasi ke pembimbing tesis, ketua PEI, dan dekan D-IV K3 Uniba. 

Awal Desember tanya-tanya lagi, ternyata, 12 Desember adalah hari terakhir daftar program S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, kelas Jakarta.

Segera mengumpulkan/menyerahkan persyaratan administratifnya, 7 Desember.

15 Desember, wawancara seleksi.

3 Januari 2020, Alhamdulillah diumumkan diterima jadi mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, kelas Jakarta semester genap TA. 2019/2020, di kelas A.

Mulai kuliah matrikulasi 10 Jan - 2 Feb 2020.

Insya Allah, 2023, sudah resmi jadi Dr. Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Grad IOSH. Amiiin ya Rabbal alamin.

06 September 2019

Balikpapan Now

I used to call this city, home
Now, it just another city
Filling in a memory
Which grew me extensively

I still remember time when it start
Grand Senyiur, Rajawali street
A person following its destiny
Without knowing someone

It leave me as a person
Having something, knowing someone
Carrying stuff and growing love
In this place I used to call, home.

---

Balikpapan, 5 September 2019
Syamsul Arifin
D+5 as PHI employee, former CICo and PHKT

05 August 2018

Interview Aramco

Di ata kertas, aku terlihat hebat, namun di atas tanah, nyata terlihat kelemahanku.
Kadang, kita mudah dibutakan oleh ilusi yang kita ciptakan sendiri.
Interview 31 Juli lalu menunjukkan banyak kekurangan yang harus segera saya perbaiki.

08 November 2017

Nyaris Sesar

Jam 12 malam, kami ke Rumah Sakit Pertamina. Sekitar 15 menit berkendara dari rumah.

Masuk IGD, kemudian menunggu untuk masuk ruang bersalin di lantai yang terpisah. Setelah selesai mengurus administrasi dan ruang rawat inap. Istri diobservasi di kamar bersalin. Sudah pembukaan 4.

Bidan berkomunikasi dengan dokter kandungan, dr Ida.

Jam 7 pagi, dokter datang, sudah pembukaan 7-8. Ketuban dipecah.

Sampai jam 9, tidak ada perkembangan pembukaan. Dokter menyatakan ini perlu di sesar, karena sudah tidak ada perkembangan pembukaan, seharusnya 2 jam cukup untuk pembukaan penuh.

Tidak ada pilihan lain.

Peralatan melahirkan normal yang sudah disiapkan, kemudian dirapihkan kembali. Ruang operasi sudah dipesankan. Bahkan dokter anestesi juga sudah dikoordinir untuk hadir segera ke RS. Baju melahirkan istripun diganti baju operasi.

Kami hanya bisa pasrah.

Tapi Alhamdulillah, ternyata ada mules susulan. Saya panggil bidan untuk memeriksa, ternyata bukaannya sudah penuh.

Dokter Ida kembali dipanggil, tadinya beliau sudah bersiap untuk operasinya. Peralatan melahirkan dikembalikan. Bahkan dokter anestesi dan ruang operasi dibatalkan dengan cara ditelpon yang disangkutkan pada jilbab bidannya, karena dia juga sibuk mempersiapkan peralatan untuk melahirkan.

Alhamdulillah, anak kembar kami bisa lahir dengan normal. Pukul 9.34 dan 09.39.

03 November 2017

Anak Kembar (Arti Nama)


Alhamdulillah telah lahir anak kami #3 (perempuan, 2,9 kg, 50 cm) dan #4 (perempuan, 2,8 kg, 51 cm), lahir normal jam 09.34 wita dan 09.39 wita, 29 Oktober 2017.

Kami memberinya nama:

[ ] Hanah El Ghaziyah
[ ] Maryam El Fathiyyah

Hanah adalah nama istri Imran, ibu kandung Maryam, wanita suci.

Sedang Ghaziyah adalah bentuk muannats (isim/kata benda feminim) dari kata ghazi yang berarti menawan hati dan akal karena kecantikannya. Secara bahasa, ghaziyah berarti yang menginginkan, yang bertujuan, yang pergi ke medan perang - jenis mata uang kuno yang digantungkan wanita di lengan atau kakinya sebagai hiasan.

Maryam, sudah umum diketahui, adalah nama ibu kandung Isa al-Masih a.s.

Fathiyyah adalah bentuk muannats dari fathi yang merupakan nisbah kepada kata fath, artinya pertolongan, kemenangan, dan kebaikan.

Semoga Hanah el Ghaziyah dan Maryam el Fathiyyah menjadi anak-anak yang shalihah, cerdas, sehat, cantik, dan membanggakan kedua orang tuanya di dunia dan akhirat. *amin

Kami yang berbahagia,
Syamsul Arifin dan Ridha Innatika.

14 October 2017

Rasialisme, Musuh Kemanusiaan

Mengapa penembakan di Las Vegas yang membunuh 58 orang dan melukai lebih dari 500 orang tidak dilabeli sebagai "serangan teroris"? Apakah mungkin karena penyerangnya berkulit putih dan bukan muslim?

Meski memiliki 47 senjata dan bertindak gila (menembak para korban yang sedang menonton konser dari lantai 32 hotel), tetap saja, dia tidak dianggap teroris.

Rasialis adalah suatu hal yang nyata, termasuk negara yang katanya hebat, Amerika.

Beberapa waktu lalu, penulis menonton Daily Show yang dipandu Trevor Noah, ada episode dimana ideologi pendukung presiden Trump diuji. Terlihat betul bagaimana pendukung presiden ini memiliki pola pikir yang bisa dibilang absurd.

Misalnya, mereka berkata menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, menjaga toleransi, menghormati agama, tapi ketika disebut Islam, tidak akan toleran terhadapnya; menghormati wanita, tapi mencaci Hillary, dll. Bisa dilihat videonya di Youtube (Putting Donald Trump Supporters Through an Ideology Test: The Daily Show).

Bahkan, The Blaze, salah satu media corong konservatif, pendukung presiden US, juga berusaha menjelaskan bahwa label teroris tidak diberikan karena motif pelaku belum diketahui.

Sesederhana itu?

Tidak sederhana sepertinya, karena ada isu pengendalian senjata, undang-undang pembatasan senjata yang sejak zaman Obama berusaha digulirkan, terganjal pebisnis di industri itu. Lobi pebisnis pendukung presiden/partainya, dan mungkin, pada dasarnya, sifat rasialisme yang manusiawi ada dalam diri setiap manusia.

Rasialisme didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai (1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap suku bangsa yang berbeda-beda; (2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul. 

Merefleksikan hal tersebut ke dalam diri sendiri. Saya jadi tersadar -bahwa sepertinya- salah satu revolusi besar dalam awal sejarah Islam -menurut saya- bukan tentang penguasaan wilayah-wilayah, tapi bagaimana menghancurkan rasialisme yang telah mengakar kuat di dalam budaya umat manusia. Merasa lebih baik dari orang lain.

Maka tidak heran, ketika dulu Islam muncul, perlawanan terbesar dari para bangsawan yang takut dominasinya akan binasa, karena nantinya mereka akan sejajar dengan orang-orang.

Jauh sebelum revolusi Perancis, sebelum Maximilien Robespierre menggaungkan slogan liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan) -yang sekarang menjadi motto negara, Islam telah mengajarkan prinsip-prinsip kesetaraan. Tidak membeda-bedakan manusia atas warna kulit, asal suku/asal negara, yang dilihat hanyalah keimanannya.

Sedemikian pentingnya hal ini, sampai Nabi Muhammad SAW ketika haji wada, mengingatkan agar menjauhi rasialisme, sepotong khutbah Nabi dari peristiwa akbar itu adalah:

“Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam (non-Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan.”  (HR. Ahmad).

Karena pada akhirnya, lahir dengan warna kulit apa, di kota apa, dari orang tua/keluarga siapa, adalah takdir yang tidak dapat kita pilih. Lain dengan keimanan dan amal shaleh, yang merupakan pilihan bebas kita sebagai manusia merdeka.

Kalau mau beriman, mau belajar agar berilmu, dan mau beramal shaleh, maka kamu akan menjadi orang mulia. Sesederhana itu saja.

Rasialis mungkin sama juga seperti dosa pertama yang mengeluarkan iblis dari surga, karena merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan Allah dari tanah -sedang iblis dari api, sehingga menolak perintah Allah untuk sujud (menghormati) Nabi Adam A.S.

Rasialis juga yang menjadikan 'monster' seperti Hitler yang menganggap bangsa Arya lebih baik dari bangsa lain, sehingga merasa berhak menjajah.

Maka, ini pelajaran mahal bagi kita, agar tidak berbuat/bersikap rasialis.

Jangan merasa lebih baik dari orang hanya karena memiliki warna kulit berbeda, suku berbeda, keturunan bangsawan, merasa lebih baik dari orang karena status pekerjaan berbeda, pakaian berbeda.

Ingatlah, hanya iman, ilmu, dan amal, yang akan membuat dirimu tinggi, atau rendah, dalam pandangan Tuhan sang pencipta, tempat kembali kita.



---000---

Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi K3 Balikpapan

Referensi:
·         British Broadcasting Corporation (BBC). Las Vegas shootings: Is the gunman a terrorist? Diakses di: http://www.bbc.com/news/world-us-canada-41483943
·         The Blaze. A quick look at why the Las Vegas shooting is not being called ‘domestic terrorism’. http://www.theblaze.com/news/2017/10/04/a-quick-look-at-why-the-las-vegas-shooting-is-not-being-called-domestic-terrorism/
·         The Daily Show with Trevor Noah. Putting Donald Trump Supporters Through an Ideology Test: The Daily Show. Diakses di: https://www.youtube.com/watch?v=Y4Zdx97A63s
·         Muslim.or.id. Ahli Bait, Bukan Sekedar Pengakuan. Diakses di: https://muslim.or.id/8782-ahli-bait-bukan-sekedar-pengakuan.html



======================

Postingan ini dimuat juga di kolom opini, halaman 10, Tribun Kaltim, edisi 13 Oktober 2017.


16 September 2017

Talk Show Radio IDC FM, Keselamatan ketika Banjir

6 September 2017 lalu, saya mengisi program safety talk, radio talk show di IDC FM, Balikpapan. Mewakili Uniba, kami membahas topik keselamatan ketika banjir.

Note: ada kesalahan penyebutan efek air balloning, seharusnya efek hydroplaning, ketika roda ban tidak 'menggigit'/mencengkram jalan karena ada lapisan air.

Silakan didengarkan di rekaman yang suah diupload di youtube berikut:


Dari Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial

Kurban adalah salah satu ibadah berorientasi vertikal dengan dampak horizontal. Tujuan qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah bagi pengurban, tapi manfaatnya terasa sampai ke masyarakat luas.

Di kota Balikpapan saja, Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DPPP) Balikpapan mengestimasi keperluan hewan kurban sebesar 3.000 ekor sapi dan 1.500 kambing. Sementara untuk ukuran provinsi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur memperkirakan kebutuhan hewan kurban sebanyak 11.543 sapi dan 6.932 ekor kambing untuk kebutuhan Idul Adha tahun ini.

Dengan angka tersebut, bisa dibayangkan berapa banyak warga yang tersentuh distribusi pembagian daging kurban. Sekitar 2 juta warga Kaltim yang akan menerima bingkisan daging kurban!

Yang awalnya adalah usaha seorang muslim untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhannya, menjadi usaha nasional atau bahkan global untuk meningkatkan taraf gizi banyak orang.

Secara nasional, konsumsi daging sapi di Indonesia masih sangat rendah, hanya 2,2 kg per kapita/tahun. Kalah jauh dengan negara-negara Eropa, seberat 45 kg per kapita/tahun, atau 20 kali lipat lebih banyak. Bahkan dibandingkan negara tetangga saja, Singapura dan Malaysia, konsumsi dagingnya masih lebih banyak, sebesar 15 kg per kapita/tahun.

Alhamdulillah, dengan adanya momentum Idul Adha, masyarakat memperoleh kesempatan untuk memperbaiki asupan gizi hewani yang mengandung protein, zat besi, dan vitamin.

Ibadah kurban juga memiliki efek pengganda ekonomi yang besar karena menggerakkan beragam aktifitas ekonomi yang ada di masyarakat. Bukan hanya ada aktifitas jual beli hewan, tapi juga melibatkan jasa angkutan, pemotongan hewan, pemeriksaan hewan, pembiakkan hewan, dan lain sebagainya.

Jika diasumsikan 1 sapi seharga 18 juta Rupiah dan 1 kambing seharga 3 juta Rupiah, maka setidaknya ada pergerakan uang sebesar 228,5 milyar di Kaltim. Sektor riil ekonomi semakin berputar dengan adanya momen Idul Adha.

Dari prosesi kurban, kita pun belajar banyak ke dalam jiwa. Belajar untuk berbagi, belajar untuk tidak terlalu mencintai harta kepemilikian, dan belajar mengerti, bahwa harta kita sebenarnya bukanlah apa-apa yang kita pakai, kita kenakan, atau kita miliki, tapi harta kita sebenarnya adalah apa-apa yang kita belanjakan di jalan Allah, yang pada akhirnya akan menjadi tabungan kebaikan kita di hari akhir nanti.

Selamat menjadi pribadi yang saleh kaum muslimin yang telah berkurban, semoga keikhlasannya diganjar keridhaan Allah SWT. Terima kasih juga karena telah membentuk kesalehan sosial dengan berbagi kebaikan kepada sesama, turut menggerakkan ekonomi masyarakat, dan turut memperbaiki taraf gizi orang banyak.


---000---

Balikpapan, 2 September 2017

Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi K3 Balikpapan


Referensi:
·         Kaltim Siapkan 11.837 Sapi Hadapi Idul Adha. http://kaltim.antaranews.com/berita/39753/kaltim-siapkan-11837-sapi-hadapi-idul-adha
·         Balikpapan Perlu 4.500 Hewan Kurban. http://kaltim.tribunnews.com/2017/08/01/balikpapan-perlu-4500-hewan-kurban
·         Konsumsi daging sapi orang Indonesia masih rendah. http://www.antaranews.com/berita/527724/konsumsi-daging-sapi-orang-indonesia-masih-rendah
·         5 Pelajaran dari Ibadah Qurban dan Haji. https://rumaysho.com/8990-pelajaran-ibadah-qurban-haji.html


======================================

Tulisan ini dimuat di kolom opini koran Tribun Kaltim edisi Senin, 4 September 2017, hal 10.

Mudik Selamat, Selamat Mudik

Lebaran sebentar lagi. Sebagian keluarga mulai mempersiapkan pernak-pernik lebaran berupa ketupat, baju baru, atau mengecat rumah, sedang sebagian keluarga lainnya sudah bersiap mengepak baju untuk menempuh ratusan kilometer menuju kampung halamannya.

Beberapa hal perlu diperhatikan pemudik agar tradisi tahunan menjelang hari raya ini berjalan lancar dan aman.

Tips meninggalkan rumah

Pertama, jangan mudah sharing informasi bahwa anda akan mudik sekeluarga, baik bercerita langsung ke orang-orang maupun posting di sosial media. Apalagi memberikan detail lengkap akan pergi ke mana, alamat rumah, dan periode keluar rumahnya. Info ini bisa dimanfaatkan orang yang tidak bertanggungjawab untuk mencuri.

Ceritakan hanya  kepada orang yang anda percaya semisal tetangga dekat, ketua RT, atau satpam lingkungan. Mintalah mereka sesekali mengecek kondisi rumah ketika ada bepergian.

Kedua, untuk menghindari bahaya kebakaran, pastikan peralatan listrik (AC, TV, kulkas, dispenser, charger handphone, dll) dalam keadaan mati. Cabut kabel perangkat dari stop kontak guna memastikan. Cabut regulator gas dari tabung gas.

Ketiga, pasang sensor otomatis untuk lampu di teras. Ada beberapa tipe sensor lampu, ada yang diaktifkan dengan pengaturan waktu, ada juga yang aktif jika pencahayaan kurang/sudah malam. Hal ini bermanfaat sehingga orang tidak tahu tidak ada orang di rumah, kerena ketika siang hari lampu teras akan mati dan ketika malam hari lampu akan otomatis menyala.

Keempat, pastikan pintu, jendela, garasi terkunci rapat. Jika diperlukan, pasang kunci pengaman tambahan.

Tips selama perjalanan

Pertama, perhatikan kondisi tubuh, terutama jika bepergian bersama kelompok rentan seperti bayi, wanita hamil, dan lansia. Perjalanan panjang membutuhkan kondisi fit. Pastikan cukup istirahat sebelum bepergian.

Bawa obat-obatan pribadi, bekal makanan, dan pastikan keluarga cukup minum untuk menghindari dehidrasi. Jika membawa kendaraan sendiri, atur irama perjalanan, berhentilah ketika letih/mengantuk, jangan memaksakan diri. Disarankan anda beristirahat setiap 4 jam.

Kedua, jaga keselamatan keluarga dan barang bawaan. Tidak menutup kemungkinan ada copet yang memanfaatkan kesibukan anda mengelola barang bawaan dan keluarga. Pastikan dompet dan barang berharga selalu dalam pengawasan. Pastikan anak-anak terutama yang kecil, selalu dalam pengawasan untuk menghindari tercecer dan hilang di tengah keramaian.

Ketiga, jika berencana membawa kendaraan pribadi, periksa kondisi kendaraan sebelum berangkat. Ada baiknya membawa kendaraan ke bengkel untuk pemeriksaan menyeluruh sebelum bepergian.

Pastikan spare-part kendaraan (misalnya ban cadangan) tersedia, dokumen kendaraan lengkap, dan bahan bakar terisi penuh untuk menghindari mogok di tengah kemacetan.

Patuhi rambu lalu-lintas, hindari melawan arus dan melebihi batas kecepatan berkendara. Perhatikan kondisi jalan; berkendaralah lebih hati-hati ketika infrastruktur jalan rusak, lampu penerangan jalan kurang, atau kondisi hujan.

Keempat, jaga motivasi/semangat keluarga ketika mudik. Tidak jarang kemacetan yang  panjang, antrian yang mengular, menurunkan emosi. Jaga dengan selalu melihat sisi positif bisa bepergian menghabiskan waktu bersama keluarga-mengunjungi anggota keluarga lainnya, dan siapkan hiburan (bacaan, mainan, camilan, dan tetap bergembira) selama perjalanan.

Terakhir, berdoalah. Semoga Allah menjaga harta yang anda tinggalkan, dan menjadikan perjalanan anda lancar dan menyenangkan.

Selamat mudik, semoga mudiknya selamat.



---000---


Penulis: Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan

Referensi:


==========================================

Tulisan ini dimuat juga di kolom opini Tribun Kaltim, 23 Juni 2017, hal 10.
Atau versi webnya di: http://kaltim.tribunnews.com/2017/06/23/mudik-selamat-selamat-mudik

Ramadhan, Titik Awal Berhenti Merokok

31 Mei lalu diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia atau World No Tobacco Day. World Health Organization (WHO) mengambil tema “tembakau – ancaman perkembangan (bangsa)” untuk perayaan tahun ini.

Direktur umum WHO, Dr Margaret Chan mengatakan bahwa tembakau memperbesar kemiskinan, menurunkan produktifitas ekonomi, berkontribusi pada pilihan makan di keluarga miskin (lebih memilih rokok ketimbang makanan sehat-bergizi), dan mencemari udara dalam ruangan.

Parahnya, untuk konsumsi rokok, Indonesia menempati ranking tertinggi (pertama) se-negara di ASEAN dengan rata-rata konsumsi sebanyak 1,322 batang per orang per tahun.

Yang menyedihkan, konsumsi rokok di keluarga miskin jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran penting lainnya semisal untuk pendidikan, kesehatan, telur, susu, dan daging.

Survei keluarga nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) 2011 menunjukkan bahwa pengeluaran untuk rokok 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, 6,5 kali lebih besar dari biaya pendidikan, 6,5 kali lebih besar dari biaya kesehatan, dan 9 kali lebih besar dari pengeluaran untuk konsumsi daging!

Sepertinya orang miskin lebih memilih ‘makan’ rokok ketimbang makan daging?



Ada yang berkata bahwa dengan merokok, kita membantu meningkatkan ekonomi petani tembakau dan meningkatkan pendapatan negara? Faktanya, data Kementerian Kesehatan menunjukkan, meski negara menerima cukai rokok sebesar Rp. 55 triliun (tahun 2010), pengeluaran makro akibat rokok jauh lebih besar, mencapai Rp. 245,41 triliun (pembelian rokok 138 triliun, hilangnya produktifitas akibat cacat di usia muda 105,3 triliun, dan pengeluaran perawatan medis 2,11 triliun). Data ini menunjukkan bahwa kerugian akibat rokok lebih besar dari manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Sudibyo Markus, Direktur Indonesia Institute for Social Development mengatakan bahwa orang terkaya nomor 1 dan 2 di Indonesia adalah pemilik industri rokok, sementara hidup petani tembakau terseok-seok; komoditas tembakau yang dihasilkan oleh petani justru dinikmati oleh industri rokok besar.

Penelitian mengenai kondisi petani tembakau di Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas (LD-FEUI) bekerjasama dengan Tobacco Control Support Center (TCSC) atau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) juga menunjukkan bahwa kondisi petani tembakau menunjukkan informasi yang memprihatinkan.

Upah buruh tani tembakau yang diterima lebih rendah dari rata-rata upah nasional. Rata-rata upah harian buruh tani tembakau sebesar Rp 15.899 per hari atau sekitar Rp 413.374 perbulan dengan asumsi 26 hari kerja.

Bahkan hasil penelitian juga menunjukkan sebanyak 65% responden buruh tani tembakau menyatakan ingin mencari pekerjaan lain. 64% nya menyatakan ingin beralih ke usaha lain seandainya ada usaha lain dengan keuntungan lebih besar atau minimal sama.

Saya tidak akan menjelaskan mengenai bahaya merokok, kandungan racun yang ada dalam sebatang rokok, efek buruknya bagi kesehatan, dan kerugian ekonomi yang didapat dari pilihan merokok, yang akan saya ungkapkan selanjutnya adalah himbauan untuk memanfaatkan momentum puasa di bulan Ramadhan untuk memulai langkah awal menghentikan kebiasaan buruk, merokok.

Secara bahasa, puasa berarti “menahan”, sedang secara istilah, puasa berarti “menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, dengan disertai niat”. Salah satu yang dapat membatalkan puasa adalah merokok.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc., MA. menjelaskan, seluruh ulama sepakat bahwa menghisap rokok bila dilakukan pada siang hari Ramadhan, maka hal itu membatalkan puasa.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menasihati, bulan Ramadhan adalah waktu tepat bagi orang yang memiliki tekad kuat untuk meninggalkan rokok yang jelek dan bisa mendatangkan bahaya.

Waktu ini adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan rokok karena sepanjang siang, seseorang harus menahan diri dari hal tersebut. Sedangkan di malam hari, dia bisa menghibur diri dengan hal-hal yang mubah seperti makan, minum, jalan-jalan ke masjid, atau berkunjung ke majelis orang sholih.

Untuk meninggalkan kebiasaan merokok, seseorang juga hendaknya menjauhkan diri dari para pecandu rokok yang bisa mempengaruhi dia untuk merokok lagi.

Apabila seorang pecandu rokok setelah sebulan penuh meninggalkan rokoknya (karena momen puasa yang dia lalui), ini bisa menjadi penolong terbesar baginya untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya, dia bisa meninggalkan rokok tersebut di sisa umurnya.

Bulan Ramadhan inilah kesempatan yang baik. Waktu ini janganlah sampai dilewatkan oleh pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokoknya selamanya.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya setelah dia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan yang penuh berkah, Amin Ya Rabbal Alamin.



---000---

Penulis: Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan

Referensi:
Abduh Tuasikal, Muhammad. Saatnya Meninggalkan Rokok di Bulan Ramadhan. Di akses di: https:// rumaysho.com/456-saatnya-meninggalkan-rokok-di-bulan-ramadhan.html, 1 Juni 2017
Sarwat, Ahmad. Merokok Membatalkan Puasa, Kalau Terhisap Asap Rokok? Di akses di: http:// www.rumahfiqih.com/x.php?id=1404119033, 1 Juni 2017
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia. Orang Terkaya RI Pemilik Industri Rokok, Tapi Petani Tembakau Terseok. Di akses di: http://www.kspi.or.id/orang-terkaya-ri-pemilik-industri-rokok-tapi-petani-tembakau-terseok.html, 1 Juni 2017
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Menelisik Kesejahteraan Petani Tembakau. Di akses di: http:// ylki.or.id/2011/10/menelisik-kesejahteraan-petani-tembakau/, 1 Juni 2017
World Health Organization. World No Tobacco Day 2017: Beating tobacco for health, prosperity, the environment and national development.  Di akses di: http://www.who.int/mediacentre/news/ releases/2017/no-tobacco-day/en/, 1 Juni 2017
Pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI. Perilaku Merokok Masyarakat Indonesia, berdasarkan Riskesda 2007 dan 2013. Di akses di: http://www.depkes.go.id/resources/ download/pusdatin/infodatin/infodatin-hari-tanpa-tembakau-sedunia.pdf, 1 Juni 2017
Katadata. Konsumsi Rokok Per Kapita Indonesia Tertinggi di ASEAN. Di akses di: http://databoks. katadata. co.id/datapublish/2016/08/31/konsumsi-rokok-per-kapita-indonesia-tertinggi-di-asean, 1 Juni 2017
Kadir, Ruslan. Konsumsi Rokok Penduduk Indonesia yang Mengkhawatirkan. Di akses di: https:// indonesiana.tempo.co/read/51291/2015/10/13/kadirsst/konsumsi-rokok-penduduk-indonesia-yang-mengkhawatirkan, 1 Juni 2017
Sabiq, Sayyid. 2008. Fiqih Sunnah, bab Puasa, hal 621. Jakarta


=========================================
Tulisan ini dimuat juga di kolom opini Tribun Kaltim, edisi Sabtu 3 Juni 2017, hal 10.

25 April 2017

Surat Fiksi Kartini di Masa Kini

Dimuat di kolom opini Tribun Kaltim, edisi Sabtu 22 April 2017, halaman 6, tentang Kartini :)
Bisa dicek e-paper Tribun Kaltim edisi 22 April 2017 di link: http://kaltim.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=6# (hanya hari ini)
Sebetulnya, karena waktu ngirim draftnya buru-buru sebelum berangkat kerja, jadi endingnya kurang begitu greget. Saya email kirimi ulang revisi 1 sehari setelahnya, tapi sepertinya sudah terlanjur dicetak tim redaksi TribunKaltim.co jadilah yang draft pertama yang diterbitkan.
Versi revisi 1 yang ditulis, saya copas disini:


--------------------

Surat Fiksi Kartini di Masa Kini
Penulis: Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan

21 April dijadikan sebagai Hari Kartini berdasarkan surat Keputusan Presiden nomor 108 yang diterbitkan pada 1964. Hari itu, adalah hari dimana Kartini lahir, tepatnya 21 April 1879.
Raden Adjeng Kartini terkenal dengan buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Isi buku tersebut adalah kompilasi lebih dari 100 surat-surat beliau kepada sahabat penanya, diantaranya Estella H Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton dan Nyonya, Hilda G de Booij, dan Nyonya van Kol.
Sebetulnya, buku Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku versi terjemahan Armijn Pane (terbit 1938) dari buku kompilasi surat-surat Kartini Kartini yang dikumpulkan oleh J.H. Abendanon (Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda, terbit 1911) dalam bahasa Belanda berjudul “Door Duistemis Tot Licht”.
Dari surat-suratnya, kita lihat sosok Kartini sebagai sosok yang memiliki pemikiran yang dalam dan peka terhadap apa yang terjadi di lingkungannya.
Untuk memperingati hari Kartini. Izinkan penulis membuat surat fiksi, jika saja Raden Adjeng Kartini masih hidup di masa sekarang, melihat kondisi yang ada dewasa ini, dan membuat korespondensi kepada sahabatnya.

---
Dear Stella,
Sekarang sudah tahun 2017, senang rasanya bisa melewati 71 tahun kemerdekaan di negeri kami. Banyak hal yang sudah berubah di negeri ini. Banyak kemajuan telah kami capai, namun tidak sedikit juga catatan hal-hal buruk perlu kami perbaiki.
Aku tidak perlu lagi bercerita kepadamu tentang persamaan gender antara wanita dan pria di Indonesia, karena saat ini sudah sangat jauh lebih baik dari waktu-waktu dulu aku surati kamu. Pendidikan sudah menjadi hak seluruh warga negara, tanpa memandang jenis kelaminnya. Pria maupun wanita, asalkan mereka mampu berprestasi dan unjuk kemampuan, bisa mencapai posisi puncak, baik di tempat kerja profesional, sosial-kemasyarakatan, maupun bidang politik.
Tapi, akan selalu ada sisi pojok gelap walau di ruangan yang terang sekalipun.
Maaf jika aku terkesan seperti mencurahkan isi hatiku kepadamu, tapi aku sedih. Melihat bentuk penjajahan yang kita, kaum wanita, alami di era yang kata modern ini.
Stella sahabatku,
Seperti kata sebuah lagu, “wanita dijajah pria sejak dulu..,” bukan berarti semua pria buruk, tapi boleh jadi, memang kita, kaum wanita, yang mau memposisikan diri sebagai insan yang kalah, terjajah.
Melihat iklan-iklan di koran, majalah, televisi, maupun media internet, miris rasanya melihat seorang perempuan yang seolah-olah tidak nyambung dengan produk yang ditawarkan, malah terkesan iklan tersebut sedang menawarkan sang model wanitanya! Menyebalkan!
Kita, kaum wanita, hanya menjadi obyek, diperlakukan seolah-olah barang dagangan, pemanis saja, boro-boro peran intelek yang dimainkan, tidak lebih dari sekedar peran sensual murahan.
Entah para wanita itu melakukannya karena desakan ekonomi –hanya itu pekerjaan satu-satunya yang bisa mereka lakukan, atau memang mereka menyukai menjadi obyek pusat perhatian –dipandangi penuh gairah, atau aku berpikir bahwa pikiran mereka telah kalah terjajah. Bahwa di dalam benak mereka, citra wanita yang dianggap menarik adalah yang pakainnya ketat, sehingga mereka perlu menurunkan beberapa angka ukuran baju-bajunya –sehingga lebih memperlihatkan lekuk tubuh, menaikkan rok menjadi lebih tinggi, dan tidak jarang memperlihatkan bagian-bagian yang tidak seharusnya terlihat menurut adat ketimuran.
Saat ini kita telah kembali terjajah, kita para wanita belum merdeka sepenuhnya. Pikiran kita terjajah oleh opini-opini menyesatkan mengenai bagaimana kita seharusnya berpakaian, bertingkah laku, dan berperan di masyarakat.
Seharusnya kita sadar, bahwa semua orang –termasuk kaum kita, bisa sukses dan terkenal bukan karena kemolekan tubuh, tapi karena potensi yang kita miliki, karena peran serta yang telah kita sumbangkan, karena kerja keras dan semangat yang kita bagi.
Semoga para wanita itu sadar, bahwa sebenarnya mereka sedang dijajah, tubuh mereka telah “diperjual-belikan”, dihargai dengan nilai yang tak seberapa.
Tapi toh hal itu tidak berlaku umum, masih banyak juga perempuan-perempuan Indonesia yang berprestasi. Prestasi tertinggi di sekolahan-sekolahan umumnya dipegang oleh perempuan, wanita pintar. Tidak sedikit juga bisniswoman yang sukses menjalani usahanya, sebutlah Dewi Motik dan Martha Tilaar dengan perusahaan beromset besarnya. Jabatan prestisius juga dipegang oleh wanita, semisal Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Walikota Surabaya Tri Risma Harini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Bahkan Megawati, pernah menduduki Istana Negara sebagai Presiden Republik Indonesia.
Stella kawanku,
Semoga semua wanita menyadari peran utamanya, sebagai pendidik utama di rumah bagi anak-anak, dan peluang beraktualisasi diri yang sejati di ruang publik, bukan sebagai pemanis dekoratif, tapi sebagai pemain utama penggerak pembangunan bangsa.

Balikpapan, April 2017,
Sahabatmu, Kartini (fiksi).

---000---

20 March 2017

Hati-Hati Terjangkit Penyakit Baru - Kecemasan Digital

Jika kita melihat dan mau memperhatikan di sekeliling kita, ketika berkumpul bersama teman di cafe, makan bersama di restoran atau mall, berjalan-jalan di pantai atau taman, bahkan ketika rapat kerja, ada saja orang-orang yang tidak bisa lepas dari ponselnya.

Sebuah survei yang dilakukan pada 2,000 penduduk Inggris menunjukkan fakta bahwa rata-rata seorang dewasa menghabiskan waktu setara dengan 20 minggu per tahun di depan layar digital. 30% partisipan survei mengatakan bahwa mereka memeriksa ponselnya paling tidak setiap 30 menit sekali. Seperempat partisipan mengatakan bahwa mereka akan merasa bosan dalam waktu 1 jam tanpa ponsel, sementara hampir 23% mengatakan bahwa mereka akan merasa gelisah/cemas jika terpisah dengan ponsel.

Stefan Hofmann, professor psikologi di Universitas Boston, peneliti ahli di bidang emosi, mengatakan bahwa terpisah dari sosial media bisa menyebabkan kecemasan dan dorongan besar untuk login kembali.

Ada beberapa pertanda atau gejala yang perlu kita periksa ke diri kita sendiri, apakah kita juga menderita penyakit baru ini, kecemasan digital.

Meski penulis bukan ahli psikologi, hubungan sosial, maupun antropologi, saya coba mendaftarkan beberapa indikasi yang bisa jadi merupakan pertanda kita menderita kecemasan digital:
  1. Ponsel sudah seperti menjadi anggota tambahan tubuhmu. Tidak bisa lepas darinya. ‘Menempel’ di paha/dikantungi terus selama 24/7 (24 jam sehari selama 7 hari seminggu), bahkan tidur pun membawa ponsel
  2.  Asyik browsing atau interaksi sosial media di ponsel ketika sedang makan bersama teman atau keluarga tanpa ada yang saling berbicara satu sama lain
  3. Sibuk mengecek ponsel ketika sedang berbicara tatap muka dengan orang lain
  4. Tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat/mengecek ponsel ketika ada bunyi notifikasi aplikasi sosial media, bahkan ketika berada di situasi yang bisa membahayakan dirinya sendiri semisal ketika sedang berkendara
  5. Merasa terganggu atau cemas ketika chatting online dengan teman namun tidak menerima balasan padahal mengetahui pesan anda sudah terbaca
  6. Merasa cemas jika tidak login atau tidak meng-akses media sosial sehari saja
  7. Merasa iri dengan postingan teman (contohnya jalan-jalan ke luar negeri, makan mewah, beli tas baru, dan lain-lain), muncul keinginan mengikuti atau melebihi postingan teman tersebut
  8. Merasa terganggu atau cemas ketika posting foto cantik/ganteng, tanpa ada yang nge-like, dan terus memantau update postingan tersebut setiap beberapa menit
  9. Merasa terganggu atau cemas ketika men-tag teman tapi tidak ada balasan selama 6 jam
  10. Merasa terganggu atau cemas ketika mengirim email dan tidak segera mendapatkan balasan
  11. Memperhatikan jumlah followers di Twitter, Instagram atau teman di Facebook, dan merasa terganggu atau cemas jika angkanya berkurang.

Hadirnya platfom sosial media yang memungkinan sharing teks, foto, dan video online bisa menjadi pedang bermata ganda, bisa mendatangkan kebaikan, namun jika tidak dikendalikan dengan benar bisa melumpuhkan pemiliknya.

Psikoterapis Diane Lang mengatakan bahwa jika kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain (postingan teman online) yang terlihat lebih baik dari diri kita, bisa menimbulkan rasa iri, kebencian, dan frustasi dengan hidup kita sendiri.

Ketika kita berpikir bahwa kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita sendiri, bisa jadi muncul perasaan kesepian atau sedih, dan perasaan bahwa kita tidak memiliki kehidupan sosial.

Seperti kata pepatah, “rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput rumah sendiri”. Padahal, seperti ungkapan bijak Jawa, “hidup itu sawang sinawang  (kurang lebih)”, setiap manusia atau keluarga pasti punya kelebihan dan kekurangan.

Kenyataannya, di media sosial, kebanyakan orang hanya akan memposting hal-hal yang baik atau yang terlihat keren saja. Sehingga sebetulnya bukan mereka tidak punya hal-hal buruk yang menimpa mereka di kehidupan hari-hari, tapi mereka tidak mau menunjukkannya/men-share-nya saja di media online. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan Diane Lang tersebut.

Untuk mencegah penyakit kecemasan digital tersebut, ada beberapa langkah yang patut kita coba.

Pertama, cobalah untuk disiplin log off atau tidak melihat aplikasi sosial media pada waktu-waktu tertentu. Waktu tersebut misalnya ketika sedang rapat, makan bersama, atau ketika sedang berbicara tatap muka dengan orang. Hal ini menunjukkan bahwa anda menghargai pentingnya rapat, mengapresiasi orang yang sedang berbicara, dan benar-benar terhubung dengan orang nyata yang ada di hadapan anda, bukan sedang membangun hubungan dengan orang di dunia maya tapi malah menghancurkan hubungan kongkrit dengan orang-orang di dunia nyata anda.

Waktu terpenting yang patut diprioritaskan kedisiplinan untuk menahan diri dari melihat ponsel adalah ketika kita sedang bercengkrama bersama dengan anggota keluarga. Mereka butuh kasih sayang dan perhatian. Tatapan mata, usapan di kepala, kecupan ringan, dan segala perhatian yang kita berikan merupakan pelajaran berharga bagi mereka untuk menghargai orang lain.

Kalau kita berbicara dengan anak sembari asyik berselancar di dunia maya, bahkan terkadang hanya mendengarkan tanpa benar-benar menyimak apa yang mereka katakan atau apa yang mereka lakukan, maka janganlah marah jika suatu saat nanti, mereka pun tidak akan memperhatikan anda ataupun peduli pada anda ketika anda tua nanti.

Waktu yang sebaiknya dihindari lainnya adalah berselancar online adalah ketika berkendara. Harga tebusan keingintahuan melihat notifikasi update terbaru dengan harga keselamatan yang bisa membuat diri kita atau orang lain celaka, tidaklah sepadan. Sehingga, jangan mengecek ponsel ketika berkendara. Berhenti dan menepi ke sisi jalan, jika memang ada hal penting yang perlu dilakukan dengan ponsel anda.

Juga, tinggalkan ponsel ketika hendak tidur. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa layar digital yang memancarkan sinar biru dan putih mencegah otak untuk melepaskan hormon melatonin, sehingga kita akan tetap terjaga dan menjadi susah untuk tidur. Penelitian lain pada 850 orang Belanda-Belgia menunjukkan fakta bahwa mempergunakan ponsel setelah mematikan lampu kamar memiliki kaitan dengan kualitas tidur yang buruk, lebih banyak insomnia, dan lebih banyak gejala kelelahan (meskipun penelitian itu belum jelas menunjukkan bahwa penggunaan ponsel menjadi penyebab gangguan tidur).

Kedua, pahamilah, bahwa berita dunia kiamat tidak akan muncul di timeline facebook. Sehingga sebetulnya, ketinggalan berita apapun di sana, tidak akan membuat dunia anda berakhir. Bahkan sebetulnya, terlalu banyak informasi sampah yang membanjiri kanal sosial media kita, menyebabkan kita kewalahan, mudah terayun emosi, dan salah dalam bertindak.

Berita hoax yang dipercaya bisa membuat keliru dalam berpikir, berucap, dan bertindak, yang mungkin nantinya akan kita sesali. Perbedaan pemikiran politik, bisa membuat orang marah atau memanaskan hati dan pikiran ketika berselancar. Berita gosip hanya akan menghabiskan waktu dan menambah dosa saja. Belum lagi godaan kemudahan berbelanja online yang bisa membuat kita menjadi konsumtif sehingga memperbesar hutang kartu kredit atau membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan (seperti kata pepatah, besar pasak dari pada tiang).

Terakhir, luangkan untuk aktifitas fisik ketimbang aktifitas online. Berjalan ke Pantai Kemala atau Pantai Mangar, berjalan sehat di Lapangan Merdeka, tentu lebih menyegarkan pikiran dan menyehatkan badan ketimbang berselancar sepanjang hari di dunia maya.



---000---


Penulis:
Syamsul Arifin, SKM. MKKK.
Praktisi dan pengajar K3 Balikpapan

Referensi:
·         BBC. Can’t unplug? Heres how to navigate your digital anxiety. http://www.bbc.com/capital/story/20170220-cant-unplug-heres-how-to-navigate-your-digital-anxiety pada 25 Feb 2017
·         Business Insider. Why you shouldn’t check your smartphone before you go to bed. http://www.businessinsider.co.id/dont-check-your-smartphone-before-bed-2016-3/#dCH7Qudu7qoE0i5m.99 pada 25 Feb 2017
·         CBS New York. Can Social Media Be A Source Of Digital Anxiety? http://newyork.cbslocal.com/2015/05/13/seen-at-11-digital-anxiety-fomo-social-media/ pada 25 Feb 2017
·         Skynews Australia. Digital anxiety impacts one in five Britons. Di akses di http://www.skynews.com.au/tech/technews/2016/05/10/digital-anxiety-impacts-one-in-five-britons.html pada 25 Feb 2017

·         Spira, Julie. Do You Suffer From Social Media Anxiety Disorder? http://www.huffingtonpost.com/julie-spira/social-media-anxiety_b_2451439.html pada 25 Feb 2017


---000---

Tulisan ini dimuat juga di kolom opini koran Tribun Kaltim, edisi 27 Februari 2017, halaman 10. Versi web-nya, bisa dilihat di: http://kaltim.tribunnews.com/…/hati-hati-terjangkit-penyaki…

31 December 2016

Dimuat di Tribun Kaltim

Kolom opini kedua di Tribun Kaltim.
Tulisan tentang 5 Tingkat Sukses Pribadi dimuat di edisi Kamis, 29 Desember 2016.

Versi websitenya bisa dilihat di: http://kaltim.tribunnews.com/2016/12/29/lima-tingkat-sukses-pribadi-manakah-pilihan-anda


19 December 2016

Artikel di Koran Tribun Kaltim dan Reportase Balikpapan Pos

Alhamdulillah, artikel "posisi tidur bayi yang selamat" dimuat di Tribun Kaltim, edisi Senin, 21 Nov 2016  :)

*waktu itu masih bisa dicek di epaper tribun kaltim: http://kaltim.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=10# jadi sempat saya ambil screenshoot artikelnya.

Atau cek juga content artikelnya di web Tribun Kaltim di: http://kaltim.tribunnews.com/2016/11/21/simak-yuk-ini-posisi-tidur-bayi-yang-selamat



Beberapa waktu lalu (9 Des 2016), ketika habis mengisi media sharing session yang diselenggarakan tim GAOS (Goverment Affair Operation Support) kantor kepada wartawan koran, radio, koran, asosiasi PWI (Perhimpunan Wartawan Indonesia) Balikpapan, dan SKK Migas,

Juga ada liputannya di koran Balikpapan Pos (walaupun ngga ada foto saya), bisa di cek di: Hal 10 Balikpapan pos edisi 10 Des 2016, http://epaper.balikpapanpos.co.id/arsip/byTanggal/2016-12-10


Dan foto reportase di Kaltim Post, edisi 10 Des 2016, hal 40, bisa dilihat di epaper http://epaper.kaltimpost.co.id/arsip/byTanggal/2016-12-10