25 August 2012
[Lomba MP Parodi] Sel Penjara
22 July 2012
[flash fiction] Korupsi
Secangkir kopi yang panasnya masih mengebul menemani Udin sarapan pagi, nasi uduk komplit. Sembari menyeruput kopi pekat tanpa gula, matanya tak lepas dari siaran berita pagi.
“KPK akan memeriksa Ayin, alias Artalyta Suryani di Singapura.”
“Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora, Dedi Kusnidar, menjadi tersangka kasus proyek Hambalang yang merugikan negara miliaran rupiah.”
“Nazaruddin buka mulut tentang keterlibatan anggota Komisi X, Angelina Sondakh, dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games di Palembang.”
Berita korupsi pengadaan Al-Quran kemenag sebesar 35 milyar, korupsi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan buku ajaran baru di sekolah dan beberapa kasus korupsi pajak, juga mengisi tajuk berita pagi.
“Ah, bikin muak aja nih berita!” sepotong pisang goreng masuk ke mulutnya.
Diliriknya jam di dinding, 7.58, “ah.., telat dikit ngga apa-apa lah.”
Tak sadar korupsi waktu yang telah dilakukannya, Udin santai ngeloyor ke kamar mandi.
---000---
Balikpapan, 22 Juli 2012
Syamsul Arifin
Gambar diambil dari sini
21 September 2011
[Batam FF Rindu - Lebih Jauh Lagi]

“Aku merindukan aroma wangi tempe yang ia masak untuk kami sekeluarga.”
Jarak 8000 kilometer memisahkan kami. Terbayang wajah emak di kampung sana. Senyuman di wajahnya yang keriput, warna lusuh kain yang dipakainya, rendah intonasi suara ketika kami berbincang –semua melayang indah di kepala.
“Ah.., andai bukan karena dorongan ekonomi yang mengharuskanku merantau jauh melintasi benua.”
“Ruyati! Apakah kamu sudah siap untuk ‘acara’ besok?” Tak kuacuhkan ejekan sipir penjara.
“Apakah di akhirat nanti aku akan tetap merindukan emakku?” Batinku bergemuruh keras menanti eksekusi hukuman pancung esok pagi yang pastinya akan lebih menjauhkanku dari emak ketimbang hari ini.
---000---
Balikpapan, 21 September 2011
Syamsul Arifin
Jumlah Kata= 96 huruf (tidak termasuk judul)
*diikutkan untuk lomba FF MPers Batam
**gambar diambil dari sini
05 December 2010
[flash fiction] Jeritan di Kamar Mandi
Tono dan Amanda menikah setahun lalu, mereka baru mengontrak rumah, terpisah dari orangtua maupun mertua.
Menyesuaikan budget yang dimiliki, mereka terpaksa mengontrak agak jauh dari jalan raya, di ujung kampung, dekat pemakaman.
Malam belum larut, tapi perkampungan sudah sepi.
Pintu dikunci, pagar digembok. Lengkap!
Ketika sedang lelap tertidur, terdengar suara gedubrak yang sangat keras. Amanda langsung terjaga.
“Mas, coba liat tuh ada apa?”
“Ah, bukan apa-apa,” Tono sungkan mempertaruhkan diri mengecek keadaan.
“Coba liat dulu!”
Selang beberapa lama, suara erangan terdengar. Detak jantung berpacu kencang. Mulai gemetaran.
Istrinya mendorong-dorong pundaknya. Tono menelan ludah.
Di kamar mandi, seorang pencuri terpeleset jatuh dari bak air ketika membobol atap. Dia memegangi kakinya, mengerang kesakitan.
---000---
Balikpapan, 5 December 2010
Syamsul Arifin
Diikutkan Lomba Flash Fiction Blogfam
08 October 2010
[flash fiction] Cemburu Buta
Beberapa menyebutku posesif, padahal aku cuma cinta mati. Itu saja! Tidakkah mereka mengerti?
Sore itu, aku pulang kantor lebih awal. 50 meter sebelum rumah, kulihat sebuah motor V-ixion merah keluar dari halaman. Hatiku panas. Marah. Mungkin cemburu, toh tandanya cinta, cinta mati.
Aku bergegas masuk, pagar dibuka kasar, pintu rumah kututup kencang. BRAK!
“Jadi gini yah kerjamu kalau aku sedang di kantor!” nadaku tinggi, “wanita kurang ajar!” sebuah tamparan mendarat di pipinya. Dia menangis, berlari ke kamar. Aku semakin emosi, kukejar, mendorongnya di tempat tidur.
“Dia itu adikku... Sewaktu nikahan kita dulu belum sempat datang,” sahutnya lirih, “kamu belum pernah bertemu dengannya karena dia sebelumnya dinas di Papua sana…”
Suasana menyepi. Aku berbuat salah. Tapi sepertinya aku tidak bisa disalahkan. Toh aku cuma cemburu. Cemburu tandanya cinta kan?
---000---
Balikpapan, 8 Oktober 2010
Syamsul Arifin
*dibuat untuk diikutkan ke Flash Fiction Contest
20 August 2010
[flash fiction] Lomba Tujuh-belasan
Rudi pulang ke kampungnya di daerah cilacap untuk menikmati liburan perkuliahan yang bersamaan dengan libur hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus.
Dia pulang seminggu sebelum peringatan Agustus-an yang biasanya diwarnai dengan berbagai macam perlombaan. Karena insting kemahasiswaannya, ia pun tidak canggung turut terlibat di kepanitiaan lomba yang digalang pemuda-pemudi karang taruna.
Di hari H, selepas upacara singkat yang dipimpin oleh Pak Lurah. Ada stand perlombaan istimewa yang digawangi oleh Rudi dan beberapa orang remaja. Tertulis di papannya, “Lomba Robot dan Roket Air!” Para warga berkerumun, antara takjub, bingung tapi juga antusias ingin tahu.
Perlu diketahui, Rudi ini merupakan bagian dari salah satu tim yang mendulang medali emas di ajang Robogames 2010 yang digelar di San Mateo County Event Center, Amerika, sebuah pentas bergengsi yang diikuti oleh 17 negara, 181 tim, 59 event, 508 robot, dan 667 insinyur ahli robot.
“Sudah saatnya kita bangkit dan bangga terhadap potensi intelektual anak bangsa,” ujarnya ketika akan memulai menjelaskan cara lomba. Perlombaan balap karung dan makan kerupuk sepertinya tidak begitu diminati dibandingkan perlombaan robot dan roket air di acara lomba tujuh-belasan tahun ini.
---000---
Balikpapan, 20 Agustus 2010
Syamsul Arifin
Dibuat untuk mengikuti lomba FF di sini
Tema: Peringatan 17 Agustus (Agustusan), FF lainnya yang juga diikutkan lomba adalah “Penjara Ramadhan” dan “Pembalasan Ayah”
Foto: Robot DU-114 Unikom
18 August 2010
[flash fiction] Penjara Ramadhan
“Wah, siapa tuh yang ditangkap?” tanya Budi melihat keriuhan yang terjadi di rumah tetangganya.
“Ngga tau, kayaknya orang baru deh,” jawab pria di sebelahnya tanpa menoleh.
Beberapa polisi dengan tutup kepala menggiring seorang pria keluar dari rumah. kehebohan warga terkonsetrasi di salah satu rumah bangsalan yang berjejer rapi.
Seorang wartawan bertanya kepada polisi yang nampak senior, “Pak, mau dibawa kemana tersangka ini?”
“Kami akan menahannya, karena sebentar lagi bulan Ramadhan,” jawabnya singkat, “tapi hati-hati, karena dia akan bebas sebulan lagi! Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap waspada kepadanya jika ia sudah lepas nanti,” lanjutnya dengan mimik wajah serius.
“Wah.., kudu tetap hati-hati nih kita nanti..,” para warga saling bercakap antar mereka, berbisik gaduh.
---000---
Balikpapan, 18 Agustus 2010
Syamsul Arifin
*peringatan/pengingatan agar kita harus tetap istiqomah selepas Ramadhan nanti ;)
Hadis riwayat Abu Hurairah RA.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Apabila tiba bulan Ramadan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu neraka dan setan-setan dibelenggu. (Shahih Muslim)
Jumlah kata: 116
Tema: Ramadhan
Dibuat untuk mengikuti lomba FF di sini
FF lain (Pembalasan Ayah) yang juga diikutkan lomba bertema “Ayah dan Anak”, bisa dibaca di sini
16 August 2010
[flash fiction] Pembalasan Ayah
“Oh, begini toh rasanya dimaki anak sendiri!” hati sang ayah menangis, suara lantang anak lelaki satu-satunya itu masih berdengung di telinga.
Pria dengan guratan keriput di dahi dan beberapa helai uban di rambut merasa seolah tetangga jauh anaknya sendiri. Tak dihiraukan. Padahal bentuk mata di wajah anaknya di dapat dari bentukan gen dirinya, mirip sekali, tidakkah ia merasa setiap kali bercermin, bahwa ia adalah versi muda sang ayah dulu?
“Seakan-akan bukan aku yang membesarkannya, memberinya makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan menyokong segala usahanya sampai sukses sebesar ini. Beginikah balasannya kepadaku?” batin pria tua itu menjadi kelabu. Kesedihan yang jika alam mendengarnya, kan turut berduka semua yang melata di dunia.
“Kini aku tahu, bagaimana perasaan ayahku dulu, ketika aku berkata kasar padanya..,” sang pria tua bergumam, menjadi lebih sedih dari sebelumnya. Terbayang wajah ayahnya yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu, di panti jompo, sendirian tanpa sanak kerabat –tanpa kehadiran dirinya.
---000---
Balikpapan, 16 Agustus 2010
Syamsul Arifin
Dibuat untuk mengikuti lomba Flash Fiction di: http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF
Inspirasi dari salah satu hadits di postingan ini. Gambar diambil dari sini
06 May 2010
[flash fiction] Melarikan Diri
Berlari kencang sampai nafas berhenti tersengal-sengal, bersembunyi di sudut kota, berharap tidak lagi berjumpa kamu di jalanan yang tak pernah aku datangi ini sebelumnya.
Namun kamu ada juga di sini, entah bagaimana!
Kehadiranmu tak dapat ku singkirkan dari hari-hariku. Seolah aku dan kamu diciptakan menyatu. Sepaket. Sepasang. Walau aku TIDAK pernah menginginkanmu!
Kita memang tidak pernah saling berbincang, tidak juga bertatapan, tapi aku tahu, kamu selalu menguntitiku. Membayangi tubuhku, bukan hanya di siang hari, tapi juga di gelap malam. Tak kenal henti, mengacuhkan kondisi, baik di tengah keramaian maupun di saat sepi sendiri.
Tidak bisakah kau biarkan aku sendirian, melakukan hal-hal yang kusenangi -dan kubenci- sampai aku senang?
Kamu memang tidak pernah melarang, tapi kamu selalu saja merekam setiap tingkah laku-ku, yang baik dan juga yang buruk. Untuk apa? Hah!
Oh malaikat pencatat amal perbuatan, di tempat manakah aku akan luput dari pengawasanmu..?
---000---
Balikpapan, 6 Mei 2010
Syamsul Arifin
24 March 2010
[flash fiction] Sepatu Balet
Amy menginginkan sepatu balet baru. Punyanya yang lama sudah mulai usang, tidak enak dirasa ketika ia harus melakukan manuver atau gaya menari baru yang sedang ia pelajari di sanggar tari baletnya saat ini.
Menari membuat Amy melepaskan semua beban yang ia sendiri tidak mengerti. Kegaduhan di rumah. Teriakan mama, makian papa, lalu mereka berdua berpisah, papa pergi lagi setelah hanya mampir sebentar, atau tangisan mama yang terus bertahan sampai pagi menjelang.
Sebentar lagi hari ulang tahun Amy, seisi rumah tahu bahwa Amy menginginkan sepatu balet baru untuk hadiah ulang tahunnya. Ketika sarapan ia bercerita kepada semua yang hadir di meja makan. Ketika dijemput mama di sekolah, ia pun menceritakan hal itu juga. Mba Wati, pembantu di rumah, juga tahu kalau Amy menginginkan sepatu balet warna ungu sebagai hadiah ulang tahunnya tiga hari lagi.
Papa semakin jarang pulang. Mama seakan tidak peduli. Ia tahu ada yang tidak beres diantara mereka berdua, tapi ia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya.
Cerai! Kata itu yang ia dengar dari bisikan pembantunya di rumah. Kosakata yang belum pernah ia dapatkan di sekolah. Tapi sepertinya bukan pertanda yang bagus.
Sebuah bingkisan kotak tergeletak di rumah, Amy menemukannya selepas pulang sekolah. Dari Papa! Asyik, ternyata ia tidak lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dibukanya bingkisan kotak itu, sebuah sepatu balet berwarna ungu, persis seperti yang ia mau. Dipeluknya erat sepatu itu, baunya masih harum, lembut.
Ada secarik kertas di kotak itu, dibacanya pelan dalam hati,
“Amy sayang, selamat ulang tahun ke-enam ya bidadari kecil papa. Sepatu balet ini adalah kado buat kamu. Semoga kamu senang.”
Papa tidak pernah pulang ke rumah lagi sudah sejak lama. Semenjak kata cerai yang dulu Amy dengar dari pembantunya. Amy suka sepatu balet barunya, tapi ada sesuatu yang hilang dalam kehidupannya, yang ia sendiri bahkan belum tahu apa.
---000---
Selat Makasar, 24 Maret 2010
Syamsul Arifin
Shall we dance in the middle of the rain..?
18 January 2010
[flash fiction] Love Me Tender, Please
Seorang pelayan mendekati musisi yang berada di depan pianonya. Menyerahkan secarik kertas. Sang musisi membaca kertas kecil itu dengan seksama, sambil merapikan topi rajutan yang mirip topi cowboy-nya.
“Sebuah lagu klasik, yang dulunya dibawakan sang raja Rock and Roll, Elvis Presley. Untuk seorang wanita cantik yang duduk di ujung meja sana. Selamat menikmatinya.” Ia menganggukkan kepalanya kepadaku, aku tersenyum ringan kepadanya.
Dentingan nada mulai menyebar seantero kafe yang berwarna dominan coklat muda.
“Love me tender, love me sweet
Never let me go
You have made my life complete
And I love you so”
Suaranya begitu ringan terdengar. Merdu.
Tak terasa.., mataku menjadi penuh berisi air mata.
Dulu, dia begitu lembut sekali kepadaku. Aku bisa merasa sangat nyaman berada di sampingnya. Tapi hal itu tidak terjadi lagi.
Kenapa pria bisa dengan sedemikian dramatisnya berubah setelah menikah? Apa yang menjadi salah?
“Love me tender, love me dear
Tell me you are mine
I'll be yours through all the years
'Till the end of time”
---000---
Balikpapan, 18 Januari 2010
Syamsul Arifin
[flash fiction] Luka Lama
Menjejakkan langkah di kota ini, serasa ada perih yang kembali terbuka, meski sudah tersimpan lama. Seperti tertusuk jarum, menggoreskan luka kecil yang dalam. Pedih.
Jalan kecil yang padat. Mobil, becak dan andong, kombinasi yang sempurna. Tabrakan budaya, antara masa lalu dan kemajuan masa.
Kutengok jam di tangan, larut malam, bulan sudah tinggi mengudara di langit Jogja.
Di sini, di kota ini, memori itu kembali memenuhi isi kepala. Mengembalikan sepotong luka lama.
“Aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu. Kita sudah berjalan terlalu jauh. Tidak bisakan kita mencobanya sekali lagi?”
“Kamu tidak perlu melupakan aku. Aku yang akan melupakanmu! Aku sudah cukup denganmu. Ada jalan hidup yang harus kutempuh.”
Ramai wisatawan domestik, satu-dua turis mancanegara, hilir mudik di sisi jalan. Kota istimewa.
---000---
Balikpapan, 18 Januari 2010
Syamsul Arifin
06 January 2010
[flash fiction] Terpaksa Mencintaimu
Dipaksa oleh keadaan, kondisi, atau entah apapun itu, yang berada di luar kendali diriku.
Keterpaksaan memang selalu menyakitkan, awalnya. Dan katanya, keterpaksaan akan melegakan di akhirnya, ketika kita sudah mulai terbiasa, (mestinya).
Tapi kenapa, hal itu tidak berlaku buat aku?
Keterpaksaan ini semakin lama semakin menyiksaku, menyakitiku, menggerogotiku dari dalam, perlahan-lahan. Entah sampai kapan aku akan bisa terus bertahan dengan kondisi seperti ini. Kurasa aku sudah tidak sanggup lagi!
Aku dipaksa untuk mencintaimu. Dipaksa oleh kebodohanku sendiri. Dipaksa oleh kebutaanku terhadap kenyataan, bahwa kamu bukan orang yang baik. Kamu memang tidak pernah menjadi orang yang baik. Dan sepertinya, kamu tidak akan pernah bisa menjadi baik.
Kenapa aku baru bisa "melihat" hal ini sekarang? Di saat semuanya sudah terlanjur terjadi...
---000---
Balikpapan, 6 Januari 2010
Syamsul Arifin
*cuma fiksi doang kok, serius deh!
Inspirasi: ngobrol ringan sama istri, tentang (beberapa) perempuan2 yang suka sama pria “nakal”, padahal udah jelas cowo itu ngga bener, ngga setia, agamanya kurang lurus, tapi masih aja, si perempuan keukueh cinta mati dan percaya bahwa cinta si cowo itu hanya buat dia. Beugh! Mantab bener dah tuh cowo :D
Gambar diambil dari: sini
Artikel terkait: The 7 Reasons Why Women Love Bad Boys
15 December 2009
[flash fiction] Kesalahanku
This is the last smile
That I'll fake for the sake of being with you
This is the last time
I'll take the blame for the sake of being with you*
* * *
Kukira aku akan bisa mencintai orang itu, pada akhirnya. Kukira dia akan bisa menerimaku apa adanya, suatu saat nanti. Ternyata perkiraanku meleset jauh, tidak mendekati, walau hanya sedikit saja.
Atas nama cinta, kuacuhkan perkataan orang-orang yang dengan tulus telah memberikan saran. Atas nama cinta, kuterjang semua perbedaan yang membentang antara kami. Atas nama cinta, kujalani semua ini. Atas nama cinta terkutuk, cinta sialan yang telah membuatku terluka sampai seperti ini!!!
Kukira ia akan berubah, begitu kami telah bersama. Kukira aku akan bahagia, saat menjalani hari-hari bersamanya. Ternyata tidak. Dugaanku keliru, salah besar.
* * *
Why I never walked away
Why I played myself this way
Now I see, your testing me, pushes me away*
---000---
Balikpapan, 15 Desember 2009
Syamsul Arifin
*Pushing me away (piano version), Linkin Park
04 December 2009
[flash fiction] Ibuku Memang Luar Biasa!
“Bangun bidadari kecilku,” begitu beliau berkata, “hayuh bersiap-siap untuk shalat subuh,” ujarnya lembut.
Sarapan sudah tersaji, segelas coklat hangat yang masih mengepul, ibu buatkan spesial untuk diriku.
“Pagi ini dingin, kamu minum yang hangat-hangat dulu ya sayang.”
Aku mengangguk. Kulihat ke luar jendela, bekas hujan sedari tadi malam masih meninggalkan jejak yang jelas, embun yang membiaskan jendela.
Ibu mengantarkanku ke sekolah. Dia selalu berkata bahwa aku anak yang cerdas, dan aku yakin akan hal itu.
Dia selalu membuatku merasa bahwa aku bisa melakukan segala hal. Ibuku memang luar biasa!
Ketika aku bersamanya, aku merasa nyaman, senang dan bahagia. Tiada tempat di dunia ini yang lebih ku sukai, selain tempat dimana ada ibuku, bersama beliau selalu.
Selepas sekolah, beliau sudah menungguku di gerbang. Aku sangat senang sekali, sampai tidak sabaran untuk bisa cepat sampai ke rumah dan menceritakan mengenai hariku di sekolah. Makan siang yang enak pasti sudah menantiku, ibuku memang pandai memasak, dan hanya masakan ibu saja yang menurutku paling enak!
Matahari menjelang sore. Aku menggoda ibuku, berpura-pura tidak mau mandi. Lalu kami pun berkejar-kejaran di dalam rumah, sembari tertawa-tawa. Alasan apapun yang ku ucapkan, ibu selalu dapat menjawabnya. Ibuku memang luar biasa!
Malam menyelimuti hari. Beliau menggendongku, mengantarkanku ke tempat tidur. Aku lingkarkan tangan ke lehernya. Dongeng malam ini berkisah tentang seorang gadis di negeri antah berantah yang di kemudian hari akan menjadi seorang permaisuri.
Aku begitu bahagia, dan tak ingin beliau meninggalkanku. Sehingga beliaupun tiduran di ranjang yang sama. Ku pejamkan mata dan berkata, betapa beruntungnya diriku, punya ibu yang sangat luar biasa!
Di pagi hari, ketika aku terbangun, ibuku tidak ada di sini, membangunkanku!
Aku tersadar, bahwa beliau memang tidak pernah ada di dalam kehidupanku. Aku masih sendirian di sini, di yayasan yatim piatu, dengan begitu banyak anak-anak lain yang senasib dengan diriku.
Mimpiku perlahan-lahan mulai memudar. Aku berusaha keras agar terus bisa menatap masa depan dengan semangat. Namun selalu tersisa kepedihan dalam hatiku, betapa aku menginginkan mempunyai seorang ibu yang luar biasa, sepertinya akan sangat menyenangkan!
---000---
Balikpapan, 4 Desember 2009
Syamsul Arifin
*cerita ini diadaptasi dari lagu My Mom is Amazing, oleh Zain Bhikha
02 December 2009
[flash fiction] Lampu Merah
"Eh-eh-eh.., kamu tahu ngga, kok lampu ini bisa gonta-ganti warna sendiri ya..?" ujar salah satu anak yang agak gemuk, chubby, lucu dan imut.
"Di dalam lampu merah itu ada makhluk kecil, yang tugasnya matiin dan nyalain lampu, gonta-gantiin gituh deh," ujar salah satu anak penuh keyakinan.
"Ah, kamu ini ngarang ajah deh," sahut yang lainnya.
"Yeee, kamu ngga percaya ya, makanya lihat film Man in Black dong, di sana ada alien yang ukurannya kecil banget, yang bisa ada di dalam alat bahkan di dalam otak manusia. Makanya ada orang yang kelakuannya seperti alien, aneh," jawabnya penuh keyakinan diri sembari membetulkan letak kacamatanya. Dia tampak pintar sekali.
"Ohhh, begitu ya," angguk yang lainnya hampir serempak.
Lampu berganti merah, mereka menatap lampu lalu lintas itu, dengan sedikit rasa ketakutan.
---000---
Balikpapan, 1 Desember 2009
Syamsul Arifin
Tuh, hayuh.., diperhatiin dan dibimbing tontonan anak2nya di rumah
*sokjadiortubangetgw*
01 December 2009
[flash fiction] Hujan
* * *
Wangi tanah sehabis tersiram hujan memang selalu menyegarkan. Harum, menenangkan. Ada kedamaian yang tidak bisa aku deskripsikan.
Dua hari lalu, mas Dino sudah menyampaikan keinginannya menceraikanku. Di saat usia pernikahan kami yang masih bisa dihitung dengan sebelah jari.
Mungkin kami memang masih sama-sama muda, masih sama-sama keras kepala. Masih menjunjung tinggi ego masing-masing. Tapi tidak kuduga bakalan bisa sampai seperti ini! Serasa baru tersadar dari mimpi buruk. Ternyata sampai disini saja cerita cintaku kan berakhir.
Semua kenangan itu, menguap entah kemana. Semua janji dan kata-kata manis itu, terlupakan dan seakan tak pernah terucapkan. Adakah ketulusan niat dan kesungguhan usaha, yang dulu terpancar sewaktu melamarku, masih tersisa? Sepertinya tidak, tidak ada sisa sedikitpun juga.
* * *
Aku suka hujan, dan selalu menantikan rintik-rintiknya membasahi kota.
Aku suka hujan, karena pada saat itu, aku tahu bahwa aku tidak sedih sendirian. Sang hujan menemaniku, dan mau berbagi air mata...
---000---
Balikpapan, 1 Desember 2009
Syamsul Arifin
24 September 2009
[flash fiction] Terminal Kedatangan
Bandara Sepinggan Balikpapan agak ramai, seperti hari-hari biasanya. Di salah satu sisi bandara, orang-orang ramai berdiri di depan pintu kaca yang otomatis membuka-tutup, menanti kedatangan. Sebuah pagar besi menjadi penghalang mereka.
Terdengar suara deru pesawat Boeing yang baru saja mendarat, bising membelah langit.
"Perhatian-perhatian, pesawat Wings Air jurusan Jakarta-Balikpapan dengan nomor penerbangan WS 755 baru saja mendarat," kalimat itu diulang dua kali melalui pengeras suara, "your attention, Wings Air from Jakarta-Balikpapan with flight number WS 755 has just landed."
Tak berapa lama, orang-orang mulai keluar dari dalam bangunan, sebagian mereka menarik tas bagasi beroda, raut-raut wajah tampak agak sedikit kusut bercampur kelegaan. Perjalanan sepanjang 2 jam dari Jakarta-Balikpapan, tentu lumayan melelahkan.
Seorang lelaki muda memegang kertas bertuliskan pengenal orang yang akan ia jemput. Berjejer di antara para penjemput.
Seorang wanita dengan koper warna biru muda, mendekatinya.
"Anda menjemput saya..?" tanya wanita bergaun putih itu lembut.
"Oh.., apakah nama anda yang tertulis di sini?" sahut si lelaki, sambil menunjukkan tulisan di kertas yang ia pegang dengan kedua tangan.
"Cintaku" begitu tulisan kertas itu.
Sang wanita sedikit mengernyitkan dahi, raut wajahnya tampak berpikir.
"Ah, sepertinya sih iya, tapi nama saya adalah 'sayangmu' dan juga 'cintamu'?"
Sang pria tersenyum. Mereka berdua tersenyum. Saling berpelukan.
"Selamat datang di Balikpapan sayang," bisik sang lelaki.
"Lho, katanya nama saya 'cinta'!" sang wanita menepuk pundak si lelaki, sambil setengah tertawa.
Benar apa kata orang, bahwa bagi orang-orang yang jatuh cinta, dunia serasa memiliki mereka berdua, tidak memperdulikan orang lain, seakan-akan hanya mereka berdua saja yang ada disana.
Perjumpaan dengan sang kekasih, tentu merupakan momen-momen yang membahagiakan bagi para pecinta.
Langit kota tampak cerah. Tas sang wanita berpindah tangan, dan tangan mereka pun saling bergandengan meninggalkan terminal kedatangan.
---000---
Balikpapan, 24 September 2009
Syamsul Arifin
Gambar diambil dari: sini
07 September 2009
[flash fiction] Metromini
Minibus merah metromini nomor 610 jurusan Pondok Labu - Blok M baru saja akan melaju, sang supir mulai menekan-nekan pedal gas, suara deru bus berbarengan dengan keluarnya asap setengah hitam dari knalpot belakang.
Dua pengamen bergegas menaikin bis yang sudah mulai bergerak. Topi lusuh, rambut gondrong sebahu, keduanya membawa gitar di tangan mereka. Mereka memulai dengan kata-kata khas pembukaan pengamen jalanan. Pidato yang kuhapal karena seringnya aku menjumpai pengamen di kendaraan umum. Suara gitar mengalun, seorang menjadi lead guitar, rithem, seorang lagi memainkan melodi. Suaranya bagus juga,
Hai pujaan hati, apa kabarmu
Kuharap kau baik-baik saja
Pujaan hati, andai kau tahu
Ku sangat mencintai dirimu
Hai pujaan hati, setiap malam
Aku berdoa kepada sang Tuhan
Berharap cintaku jadi kenyataan
Agar ku tenang meniti kehidupan
Lagu Pujaan Hati-nya Kangen Band, melow, sendu, dan easy listening. Serasa sang penyanyinya sendiri, Andika, sedang bernyanyi disini!
Teringat perbincanganku dengan Sigit beberapa waktu lalu.
“Kalo emang cinta sama dia, ya bilang aja, daripada mendem rasa ginih, ngga jelas!” omelnya saat memasuki kamar kostan-ku, “yang penting dia tahu perasaanmu! Masalah dia mau terima atau ngga, itu mah urusan belakangan! Yang penting kamu serius, ajakin dia nikah,” selorohnya.
Gampang aja dia ngomong gitu, apa dia ngga tahu kendala-kendala yang harus kulalui.
“Nikah itu 99% kenekadan kok,” tambah pria yang baru saja menikah dua tahun lalu, “klo emang jodoh, akan dipermudah deh, dan akan ada aja jalan-jalannya, selama niat kamu bener.”
“Ahh..,” pikiranku melamun jauh, menatap lepas ke luar jendela metromini, masih bersama iringan lagu itu.
Ku ingin engkau menjadi miliku
Lengkapi jalan cerita hidupku…
(Pujaan Hati, Kangen Band)
---000---
Balikpapan, 7 September 2009
Syamsul Arifin
29 August 2009
[Flash Fiction] Merah Putihku
“Hari ginih masih upacara…! Huuuuu, nggga zaman lagih…” suara tawa meledek bergema dari segerombolan remaja!
Adelaid, Australia, 17 Agustus 2009, matahari masih malu menampakkan sinarnya, walau langit sudah mulai beranjak terang, mengusir kegelapan malam.
Zanikha mulai melangkahkan kaki keluar apartemen, teman-teman se-apartemen-nya, sesama pelajar di negeri Kangguru, baru pada keluar kamar, masih sibuk mengusir rasa kantuk, mengusap-usap mata mereka.
“Jadi kalian yakin nih ngga mau ikutan upacara tujuh belasan di KBRI..?” tanyanya sembari berjongkok, mengencangkan tali sepatu.
“Ah males ah, udah 60 tahun kita merdeka, tapi masih gitu-gitu ajah kok! Percuma!” sahut salah satu anak.
Ah, apakah mereka tidak tahu kalau Indonesia merdeka tahun 1945..? berarti sudah 64 tahun!
“Ya sudah, terserah kalian deh,” ujar Zanikha santai, “dasar pada ngga punya nasionalisme nih,” tambahnya sambil bercanda.
Pintu berwarna coklat muda tertutup. Brak! Zanikha menuruni tangga, mantap melangkah.
“Wah, hebat juga ya si Nikha, niat dia tuh, jauh-jauh ke KBRI cuma buat upacara doang,” riuh-rendah teman-temannya berkomentar selepas dia pergi.
“Hehehe, pada ngga tahu mereka, klo moment-moment seperti ini, biasanya disediain makanan khas Indonesia. Wong saya ke KBRI bukan buat ngejar upacaranya kok, tapi ngejar makan gado-gado lamongan! Kangen masakan indonesia euy,” batin Nikha tertawa…
---000---
Balikpapan, 29 Agustus 2009
Syamsul Arifin
*Dibuat untuk mengikuti Lomba Cerita Foto Blogfam 2009 (http://forum.blogfam.com/index.php?topic=12574.0)
