Showing posts with label lesson. Show all posts
Showing posts with label lesson. Show all posts

13 November 2025

Apakah Uang Bisa Membuatmu Bahagia?

Pertanyaan lama, yang belum saya puas dengan jawabannya.

Beberapa waktu lalu nonton podcast The Diary of a CEO yang mengundang Morgan Housel, penulis The Psychology of Money.

Podcast 2 jam itu menarik, jawabannya tentang apakah uang dapat membuatmu bahagia, terdengar bagus, logis, dan memuaskan.

Morgan menjawab, bisa iya bisa tidak.

Ia menambahkan, pada dasarnya uang me-leverage (meningkatkan, menggaungkan, memperbesar) apa yang ada pada seseorang.

Kalau orang tersebut muram, penggerutu, kesepian. Punya uang tidak akan banyak mengubah itu.

Ia mungkin punya rumah besar, tapi ia akan tetap muram dan kesepian dalam kemewahannya.

Makanya menarik, kita tidak perlu menunggu untuk menjadi kaya untuk bisa bahagia.

Mensyukuri setiap apa yang dipunya. Bersikap positif. Bahagia dalam segala kondisi ternyata bisa.

Jadi ingat kata Dave Chappelle, komedian Amerika yang terkenal. Kekayaan itu sikap mental.

Orang yang merasa miskin, akan terus merasa miskin meskipun uangnya banyak. Maka tak heran, ia akan terus mencari, bahkan tak jarang lewat jalan yang haram, untuk bisa terus mengumpulkan uang. Karena ia tidak bisa merasa kaya (mentalnya miskin). 

Dan akan terus meminta-minta, bahkan bisa jadi memintanya dengan kekuasaan (kekerasan, paksaan, pemerasan), karena ia miskin meski secara harta berlimpah dan secara jabatan tinggi.

Orang tersebut tidak akan pernah merasa bahagia. Meski jalan-jalan ke luar negeri, naik mobil mewah, pesawat pribadi, pakai barang bermerk. 

Ia tidak bisa merasa bahagia, karena rasa yang di-leverage oleh uangnya adalah rasa yang dimilikinya juga kalau tidak punya uang. Seseorang yang jahat, tidak punya belas kasih, rasa sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia. 

Intinya, orang miskin yang sombong, kayanya pun sombong juga. Itu memang warna aslinya (true color).

Maka kalau melihat orang miskin yang sombong, tidak peduli orang lain, jika ia mempunyai uang banyak, akan semakin sombong. Naik level rasa sombongnya, ditingkatkan oleh hartanya.

Maka saya menyarankan, khususnya pada diri sendiri, agar selalu bisa merasa positif, bahagia, bersyukur, menikmati apa yang ada. Menjadi versi terbaik dirimu dalam kondisi apapun, karena uang tidak bisa mengubahmu. 

Ia hanya akan me-leverage dirimu yang sebenarnya. 

Jika kamu baik, maka dengan uang banyak, kamu akan jadi semakin baik.

Jadi pertanyaannya, apakah uang bisa membuatmu bahagia? Jawabannya: jika sebelum punya uang kamu sudah bahagia, maka setelah punya uang, kamu akan semakin bahagia.



---000---

Padalarang, 11 November 2025
Syamsul Arifin

14 May 2025

Jangan Biarkan Orang Lain Mendefinisikan Siapa Dirimu

Lagi trending konsep mirroring treatment, dimana kita memperlakukan orang lain seperti halnya dia memperlakukan diri kita.

Misalnya, kalau ada orang yang ramah sama diri kita, kita akan ramah juga kepadanya. Begitu juga sebaliknya.

Di satu sisi, ini bagus sih. Adil. Orang baik diberikan kebaikan, orang buruk/jahat dibalas hal yang sama.

Tidak salah sih. Namun, bagaimana jika, ternyata dalam hidupmu, ada begitu banyak orang buruk. Otomatis kamu akan semakin sering atau konstan berperilaku buruk. 

Kamu menjadi apa yang kamu lakukan. Perilaku yang dibiasakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter. 

Watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.

Tanpa disadari, kita berubah menjadi orang yang kita benci. You become the person you hate.

Lantas, apa yang menurutmu baiknya dilakukan.

Menurut saya, jadilah diri sendiri. Versi terbaik dirimu di mana saja, kapan saja.

Berbuat baiklah, lalu lupakan.

Kadang kebaikan akan mengubah seseorang, namun seringnya, hal itu tidak akan berdampak apapun padanya.

Kamu bisa/boleh saja berbuat baik terhadap semua orang, tapi ingatlah, ular tetap akan menggigit orang yang memberinya makan.

Maksud kata "tapi ingatlah" untuk mematahkan ekspektasimu, harapan kalau orang yang sudah dibaiki akan berbuat baik juga padamu. Sama seperti ular, bertahun-tahun diasuh, dirawat, dibesarkan, dan dikasih makan, tetap saja akan menggigit sang empu/pemiliknya -jika ada kesempatan.

Kamu tidak dituntut untuk mengubah orang lain. Kamu boleh berbuat setimpal (mirroring) dan tidak mendapatkan apapun. Atau kamu bisa berbuat baik kepada semua orang, dan berharap hanya balasan dari-Nya.

Be kind to other, and be kind to yourself.


---000---

Depok, 14 Mei 2025
Syamsul Arifin.

24 September 2024

It's Just A Feature

Keanekaragaman manusia di dunia, bisa dianalogikan dengan fitur yang ada di mobil. 

Ada yang warnanya hitam, putih, silver, dst. Ada yang punya fitur kursi listrik, sehingga penyesuaiannya cukup hanya ditekan-tekan, ada yang pakai jok kulit, dengan pemanas, dapat dilipat sejajar lantai, dst.

Bahkan ada mobil dengan fitur canggih semisal cruise control (berkendara di kecepatan tertentu tanpa perlu mengijak pedal gas), dynamic cruise control, line assist, dst.

Namun yang terpenting adalah fungsinya, mengantarkan penumpang dari satu titik ke titik lain.

Fitur yang ada bisa membuat perjalanan lebih nyaman, menyenangkan, meningkatkan user experience, namun intinya tetap satu, apakah kendaraan tersebut bisa membantu kita berpindah tempat?

Manusia pun demikian, ada yang warna kulit dan rambut alaminya bermacam-macam, postur tubuh, tinggi, bentuk mata, mulut, telinga, yang bervariasi.

Namun jauh di dasar filosofi penciptaannya sama semua, dihadirkan ke dunia untuk beribadah, menyembah, membuktikan penghambaan kepada Tuhan yang maha esa.

Jika kita menyalahgunakan fitur kendaraan, sehingga malah terlambat sampai ke tujuan, maka buat apa punya mobil mahal tapi tidak bisa membantumu mencapai tujuanmu.

Jika punya tubuh bagus, sehat, bugar, mempesona, tapi malah memjerumuskanmu ke dalam kemaksiatan, penghianatan, durhaka terhadap Tuhan, maka buat apa punya itu semua?

Menariknya, semua hal akan dimintai pertanggungjawaban. Jika pernah menyewa/rental mobil, anda akan mengembalikan pada pemiliknya.

Begitu juga dengan diri/tubuh anda, akan dimintai pertanggunjawaban oleh sang pencipta. Digunakan untuk apa saja? Untuk kebaikan kah atau untuk keburukan yang telah Ia larang?

Semoga kita semua diberikan keistiqomahan dalam hidup, mengoptimalkan fitur yang diberi untuk beramal, membuktikan iman yang diucapkan. #amin



---000---

Syamsul Arifin
Jakarta, 24 September 2024
Bandara Soekarno-Hatta, otw to Pekan Baru - Duri (training SIKA PDSI)

17 August 2023

Berkata Tidak

Berkata 'tidak' adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki untuk bisa hidup tenang/bahagia.

Meski terdengar mudah, ada beberapa kesulitan untuk bisa mengatakan 'tidak'. Berikut catatan/pelajaran saya terkait hal ini.

1. Anda tidak perlu memberikan alasan untuk berkata 'tidak'. Ini adalah hidup anda, anda yang menjalani, orang lain tidak mesti/perlu tahu mengapa anda mengambil/tidak mengambil suatu keputusan/tindakan, dan anda tidak wajib memberikan alasan personal/pribadi. Cukup katakan tidak dilanjut tanda titik tanpa koma sudah memadai

2. Sebetulnya, anda tidak perlu minta maaf untuk berkata tidak. Bisa jadi anda khawatir/takut menyinggung orang yang mengajak/menawarkan/meminta/dst, jauh di dalam hati mereka tahu, respon wajar/normal yang akan diterima hanya dua, 'iya' dan 'tidak', sehingga tidak perlu minta maaf untuk berkata 'tidak' karenapun anda  yang nantinya akan jadi tidak bahagia/senang/mengalami kesulitan sendiri kalau justru berkata 'iya'

3. Berkata 'tidak' dengan jelas di awal lebih baik ketimbang memberikan jawaban ambigu. Antara 'iya' dengan 'tidak'. Anda (dan dia) bisa move one, melanjutkan diri dengan hal/masalah lain dalam hidup jika langsung memberikan jawaban 'tidak'

4. Kalau 'iya' akan memberimu masalah baru dalam hidupmu (yang sudah penuh masalah) atau menempatkanmu di posisi sulit. Maka jawaban terbaik adalah dengan berkata 'tidak'

5. Di masa kini, bisa jadi, jawaban terbaik atas banyak hal adalah berkata 'tidak'. Ditawari kartu kredit/produk keuangan, diajakin liburan/makan ke tempat yang dompetmu belum mampu, atau diajak melakukan aktifitas yang menurutmu merugikan semisal merokok, minum alkohol/narkoba, pacaran, tindakan pornoaksi, seks bebas, dst

6. Dijauhi/dikucilkan dari orang yang tidak bisa menerima jawaban 'tidak' adalah anugerah. Mereka bukan temanmu yang bisa saling mendukung kala susah-senang, mereka hanya memanfaatkanmu saja sebagai salah satu cara/jalan untuk mencapai tujuannya. Hidupmu akan lebih baik tanpa mereka.

7. Jika berkata 'tidak' akan membuatmu dicap buruk (bodoh, pelit, tidak asyik, dll) atau digosipin/dirumpiin/difitnah, itu adalah hak mereka. Pernyataan mereka tidak mencerminkan dirimu sesungguhnya. Anda tidak bisa mengatur bagaimana orang lain bersikap. Woles, biarkan saja karena toh hal itu tidak akan membuat anda sakit juga. Justru orang tersebut yang sakit (hatinya) 

8. Berkata 'tidak' mengajarkan orang (termasuk anak, istri/suami) bahwa ada beberapa/banyak hal yang akan berjalan tidak sesuai keinginanmu. Berdamailah dengan hal itu. Jangan terlalu memikirkannya. Tidak perlu stres, tertekan, sakit hati ketika menerima jawaban 'tidak'.


Kalau kamu, apa cerita, pelajaran, dan tipsmu dalam berkata 'tidak'?



---000g---

Syamsul Arifin, 
Depok, 16 Agustus 2023

14 December 2022

Persepsi, "Power imbalance", dan Kesombongan

Salah satu hal unik yang saya pelajari selama kuliah S3, khususnya ketika menyaksikan proses komisi/ujian/sidang rekan mahasiswa yang lainnya adalah perceived/persepsi diri sendiri atas keunggulan/kekuatan pribadi dapat membuat diri merasa lebih baik dari pihak lain = sombong. 

(Perceived) kekuatan/power ternyata tidak hanya muncul dari ketinggian posisi/jabatan, kemelimpahruahan harta, warisan ras/jalur nasab/keluarga/darah/kasta/marga tertentu saja, namun bisa juga muncul dari merasa diri lebih tahu/pintar dari orang lain.

Menarik.

Ketika kita merasa diri lebih baik dari orang lain (logisnya kita merasa orang lain lebih rendah juga), akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk belajar atau mengambil ilmu/hikmah yang dibawa orang tersebut. 

Bagaimana mungkin orang yang lebih kuat-tinggi-hebat-pintar akan mau menerima masukan dari orang yang lebih lemah-rendah-lemah-bodoh?

Beri tahu, bantu, arahkan, tunjukkan kalau memang tidak tahu, kurang baik, atau keliru. Tidak perlu diserang-dijelekkan-dicari kelemahan. Tidak perlu juga menunjukkan kalau anda lebih hebat, karena punya kekuasaan untuk membatalkan/menentukan lanjut atau tidak lanjutnya perjalanan akademik seseorang.

Power imbalance itu sebetulnya cuma masalah persepsi saja, merasa lebih tahu, padahal belum tentu seperti itu faktanya.

Tak usah sombong, karena kesombongan itu selendang Tuhan, hanya Ia yang berhak menggunakannya. Iblis terusir karenanya. Maukah dirimu mengikuti jejak langkahnya? 

20 June 2021

Pujian itu seperti hadiah

Pujian itu seperti hadiah. Jika ada yang memberimu hadiah, terimalah, ucapkan terima kasih. Jika mau, balaslah hadiahnya.

Jika ada yang memujimu, terimalah, ucapkan terima kasih (atas pujiannya).

Kita bisa jadi tidak terbiasa memuji, apalagi menerima pujian. Akibatnya kita bingung merespon apa.

Jangan jadi orang tak tahu budi, dikasih hadiah, malah hadiahnya dilempar. Dipuji malah bilang "ah ngga begitu deh kayaknya saya" (atau yang serupa itu).

Bilang saja "terima kasih".

Dalam Islam bahkan kita diajarkan untuk berharap/berdoa agar bisa lebih baik lagi (dari apa yang telah dipuji), bukan karena ingin dipuji (lagi), tapi karena semangat 'selalu menjadi lebih baik dari hari sebelumnya' itu diajarkan.

"Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan." (HR. Bukhari)

"Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya." *

*Perkataan dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad ketika mimpi bertemu dan mendapat wasiat dari Rasulullah SAW. Riwayat serupa berasal dari Ali bin Abi Thalib dianggap dhaif menurut para imam hadits.

17 June 2021

Ok to say no

It is perfectly OK to say "no" as an answer.

Sometime, the best answer is "no".

"No" can be seen as rejection, negatif respond or decision. It does mean that way. 

However, "no" can sometime play as an important tool, path, way, to learn, to be creative (thinking other alternatives), to achieve a better result, to pivot and pass the previous target/goal.

No can be a gift.

Learn to use it. Please.

26 February 2021

Jesus adalah Nabi yang Menyembah Tuhan yang Esa

Jesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

  • Tuhan tidak menyembah tuhan yang lain.
  • Yohanes 17:3 Bapa adalah satu Tuhan yang benar
  • Jesus sujud dan berdoa kepada Tuhan di taman getsemani agar tidak disalib, menandakan ada zat/Tuhan yang maha berkuasa, dan Jesus bukan Tuhan yang berkuasa
  • Tidak ada satupun ayat yang nyatakan ucapan Jesus bahwa ia adalah Tuhan di dalam injil.
  • Juga tidak ada tentang ayat yang menyebutkan konsep trinitas secara nyata dan benar konteksnya di dalam injil. Ada beberapa ayat yang dijadikan landasan trinitas, padahal kalau ditelaah di ayat sebelumnya dan dilihat konteks ucapannya, hal itu tidak sesuai. Yang ada hanyalah kredo trinitas yang ditambahkan 4 abad setelah Yesus diangkat

Jesus mengakui hanya satu Tuhan.

Yesus adalah Nabi, sama seperti Musa dan Ibrahim, yang disusul oleh Nabi terakhir Muhammad saw.

08 September 2020

Keep Learning –if You want to Change to Become Better

If you’re stupid when you were young, there’s a chance you grow up to become stupid old man –if you don’t change along the way-.

If you’re mean, ignorance, stubborn, harsh, selfish, cruel, bully, or enjoy treating people bad when you were young, the same character will stick with you as your age added up –if you don’t do nothing about it-.

Becoming older doesn’t necessary make you wiser, better, knowledgeable person.

It required an effort to become a better man/women. Physical devotion, time allocation, financial spending, and most of the time: self-consciousness.

Learning, contemplating, taking input, acknowledging mistake we make; none of those sort kind of things are taken for granted. 

Learning is never ending process.

The only thing that can stop us from learning, becoming better person is only one thing, our grave/death.


---000---

Depok, 8 September 2020
Syamsul Arifin.

08 June 2020

Belajar dari Kelahiran Pancasila

1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Sangat menarik kalau kita membaca proses sejarah penetapan dasar ideologi negara ini.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar kisahnya, tapi hari ini lebih dari sekedar hari libur.

Beberapa kata kunci dan tokoh yang ada pada proses di belakang lahirnya Pancasila diantaranya #Penjajahan, #Jepang, #BPUPKI, #DasarNegara, #Radjiman Wediodiningrat, M. #Yamin, #Soepomo, #Soekarno, M. #Hatta, AA #Maramis, Abikoesno #Tjokrosoejoso, Abdul Kahar #Muzakir, Agus #Salim, Achmad #Soebardjo, Wahid #Hasjim, #Panitia9, #PPKI, #Pancasila, #UUD1945, #PiagamJakarta, #Nasionalisme, #Kemerdekaan, #Indonesia

Silakan digoogling cerita lengkapnya.

Setelah mengetahui kisah di balik Pancasila, kita sebagai milenial zaman now bisa menarik beberapa pelajaran berharga untuk pengembangan diri.

Pertama, jadilah kreatif/inovatif.

Sidang pertama BPUPKI mulai 29 Mei sampai 1 Juni 1945.

M Yamin (29 Mei) mengusulkan 5 dasar negara: peri kebangsaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Soekarno (1 Juni) juga menyampaikan pidato usulan dasar negara: internasionalisme atau peri-kemanusiaan; mufakat atau demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; kesejahteraan sosial; dan ketuhanan.

Masih jauh berbeda dari isi Pancasila yang kita kenal sekarang.

Ide kita bisa jadi tidak akan langsung sempurna, tapi ia bisa menjadi bibit yang akan tumbuh seiring waktu.

Inovasi juga tidak mesti muncul dari diri kita sendiri, mintalah pendapat/saran pihak lain, bisa jadi berguna.

Seperti yang dilakukan Soekarno, bisa jadi kita akan mengenal 5 asas negara dengan nama Panca Dharma jika ia tidak mengakomodir saran ahli bahasa.

Kedua, kolaboratif.

Menjadi pintar dalam pencapaian pribadi berbeda konteks dengan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain.

Banyak kita temukan individu yang cerdas tapi kesulitan atau tidak mampu bersinar dalam interaksi dinamika tim.

Perumusan Pancasila mengajarkan kita bahwa para bapak (dan ibu) pendiri bangsa adalah pribadi-pribadi yang cerdas dan mampu berkolaborasi secara baik guna mencapai tujuan besar bersama.

Mereka mungkin memiliki pengalaman hidup dan pendidikan yang berbeda, tapi semangat kerja sama tim yang ditunjukkan sungguh patut ditiru.

Ketiga, toleran, persatuan, dan positif thinking.

Dengan rasa saling memahami, pelibatan semua pihak, menghindari egoisme, kita bisa jadi bangsa besar yang merdeka.

Seperti yang terjadi pada sidang PPKI yang heterogen, terdiri dari orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan peranakan Tionghoa.

Dikatakan bahwa diversifikasi/keberagaman dalam pemikiran, latar belakang, budaya, dll dapat menjadi kekuatan suatu tim/organisasi, karena bisa mengambil banyak sudut pandang, pengalaman, praktik terbaik yang tersebar pada beragam personil, tapi hal ini butuh toleransi, semangat kebersamaan, dan lingkungan yang saling mendukung.

Itulah sedikit pelajaran yang bisa kita ambil dari lahirnya Pancasila.

Semoga bisa kita ambil hikmah dan melanjutkan semangat yang menjadi pendorong kebangkitan bangsa di masa lalu, agar bisa juga menjadi kebangkitan bangsa di masa kini.

Merdeka!

#BangkitkanEnergiPancasila



---000---

Depok, 1 Juni 2020
Syamsul Arifin.

08 October 2019

Berubah atau Mati

Ketika aturan ganjil genap diperluas, saya jadi teringat, kalau aturan sebelumnya - tentang 3 in 1- sudah dihapuskan.

Mungkin tidak banyak yang sadar bahwa ketika aturan 3 in 1 dihapuskan, ada banyak joki 3 in 1 yang kehilangan pekerjaannya.

Dulu inget sekali, ada banyak anak-anak, ibu-ibu, atau bapak-bapak yang berdiri di pinggir jalan, mengacungkan jari 1 - menawarkan jasa joki 3 in 1 pada pengendara mobil yang hendak memasuki area terbatas.

Kini, pemandangan itu sudah tidak ada lagi.

Dulu, saya juga pernah jadi joki 3 in 1, semasa SMP. Sekedar mengisi waktu liburan sekolah, lumayan buat uang jajan, jadi pengalaman naik mobil.

Dalam hidup, banyak hal yang berkembang. Muncul menggantikan sesuatu. Bisa jadi ada dampak yang mungkin merubah kehidupan seseorang -misalnya penghasilan para joki itu-.

Contoh lainnya misalnya pengemudi taksi konvensional yang terdesak taksi online. Penghasilan pastinya menurun, drastis. Penjualan offline yang terdorong keberadaan online marketplace. Dst.

Dalam hidup, kita harus terus berkembang. Lebih baik setiap saat.

Jangan pernah merasa puas diri. Nyaman dengan kemapanan. Lalu berhenti berkembang. Berhenti bergerak.

Karena sekali kau berhenti, siap-siap dilindas perkembangan zaman. Lalu mati. Tanpa seorangpun peduli.


---000---

Cisarua, 8 Oktober 2019
Syamsul Arifin

18 September 2019

Apa yang Kamu Cari, Syamsul?

Apakah kekayaan, jabatan, atau ketenaran?

Apakah kau sudah putuskan apa yang akan kau cari di dunia ini? Sebab itulah yang akan jadi fokus perhatian, tempat mencurahkan tenaga, waktu, dan biaya.

Jika keridhoan-Nya yang jadi tujuan. Jika kejayaan Islam/kebangkitan Islam yang kamu tuju. Maka banyak hal tidak penting yang bisa kamu lewati.

Segala hal jadi remeh. Dunia jadi tak berarti.

Mungkin ini yang menjadikan sikap para sahabat begitu 'aneh'.

Tidak takut, tidak peduli pada banyak hal. Dan hanya takut, hanya peduli pada 1 hal: bagaimana pandangan Tuhan-ku terhadap apa yang kulakukan.

Mereka merasa dekat. Merasa selalu dalam pengawasan. Mencintai hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menjauhkan diri kepada-Nya.

Mereka begitu enak. Dekat dengan contoh teladan. Lihat banyak mukjizat dan keajaiban. Sedang kami jauh terpisahkan ruang dan waktu.

Cobaan mereka berbeda. Dan cobaan kamipun tidak kalah sederhana.

Teringat ketika pasca penaklukan Mekkah, ketika para mualaf mendapatkan ghanimah yang begitu banyak. Para sahabat ini berkeberatan hati dengan Nabi. Sampai-sampai Nabi perlu mengumpulkan merela dan menjelaskan kedudukan mereka di hati Nabi.

"Mereka pulang membawa harta, sedang kalian pulang membawa Nabi", itu sabda beliau, yang membuat hati mereka jauh lebih ridha dari sekedar harta remeh dunia.

Lalu, kamu pulang membawa apa Syamsul? Apakah ada yang menjaminmu, sedang mereka dijamin Nabi?

Padahal belum tentu kamu selamat dari cobaan dunia, belum pasti kedudukanmu di akhirat sana.

Maka, apa yang kamu cari, Syamsul..?

Ya Allah, ajari kami, bimbing kami, lindungi kami, dan berikanlah kami kedudukan yang tinggi di sisi-Mu dan di hati utusan-Mu?

23 August 2019

Kalibrasi Preferensi

Seorang pemuda bekas budak, miskin dan tidak tampan ditanya Rasulullah, apakah ia sudah menikah, ia menjawab bahwa ia miskin dan buruk, mana ada yang mau menikahkan anak putrinya dengan dirinya.

Ketika ditanya ketiga kalinya dalam waktu yang berbeda, ia menyahut, mau, dan mengharap beliau menikahkannya.

Maka Rasulullah mengutus ia untuk menemui seorang Anshor. Disana ia mengatakan sebagai utusan Rasulullah untuk meminang putrinya sebagai istrinya.

Sang ayah perempuan, awalnya menolak namun si anak yang mendengar, karena tahu ia diutus Rasulullah, mengatakan kepada ayahnya agar menerima, dan mau dinikahkan dengan penuh keridhaan.

Ketika baru akan menikah, ada panggilan jihad, ia bergegas menyambutnya. Pada perang tersebut, ia gugur syahid.

Ringkasan kisah itu mengajarkan kita sesuatu: preferensi rasa.

Apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, lakukan, jalani, karena pasti ia mengandung kebaikan.

Luar biasa pelajaran yang ditunjukkan pemuda dan pemudi itu.

Mereka jadikan selera mereka jauh dibawah perkataan Rasulullah. Preferensi rasa personal tidak dipertimbangkan, dan Rasulullah didahulukan.

Itulah mungkin yang menyebabkan mereka mendapat kemenangan dan kebahagiaan di dunia serta akhirat.

Hari ini, banyak sekali urusan personal, pribadi, masalah cita rasa khas tiap individu yang didahulukan melebihi apa yang telah diajarkan agamanya (Quran dan Hadits).

Bagaimana mungkin kan bermimpi mendapatkan keridhaan Allah (dan Rasul-Nya)? Alangkah jauhnya.

Mungkin sudah saat, kita mengkalibrasi preferensi rasa kita, agar selaras dengan iman, satu frekuensi dengan Islam, dan jadikan apa-apa yang diluar itu, pertimbangan yang relatif tidak berarti kalau Allah dan Rasul-Nya sudah punya ketetapan.

---000---

Jakarta, 23 Agustus 2019
Syamsul Arifin.

22 August 2019

Merdeka adalah Rasa Jiwa

Pada tingkatan terendah, merdeka adalah bebas secara fisik, tidak terbelengguh pagar, jeruji, tembok atau batas sekat lainnya.

Di tingkat selanjutnya, kebebasan adalah masalah rasa jiwa.

Orang yang fisiknya tersandera, belum tentu merasa terkungkung. Maka tidak heran, ketika dulu para ulama dipenjara, mereka malah berkomentar, "mereka bisa memasukkanku ke mana saja, tapi mereka tidak bisa membuatku berada di tempat dimana tidak ada Allah di sana".

Badiuzzaman Nursaid bahkan mengatakan, "siapa yang mengenal dan menaati Allah ﷻ, maka ia akan bahagia walaupun berada di dalam penjara yang gelap gulita. Dan siapa yang lalai dan melupakan Allah, ia akan sengsara walaupun berada di istana yang megah mempesona.”

Orang yang secara fisik terlihat merdeka pun, terkadang tidak bisa bebas menyuarakan hati nuraninya, tidak bisa lepas berbeda pendapat, pandangan, tindakan.

Bahkan tidak jarang, orang yang menyerukan kebebasan justru orang yang terpasung opini kebanyakan orang, mengikuti maunya sponsor/uang/kekuasaan.

Inilah cantik, hebat, tinggi derajat, kaya, mulia menurut mereka. Bukan karena pilihannya sendiri.

Bahkan bisa jadi, seseorang tidak merasa, dirinya telah diperbudak syahwatnya sendiri.

Yang cukup kontradiktif adalah orang beriman. Apakah mereka dianggap merdeka dalam kepatuhannya terhadap Tuhannnya?

Jangan dianggap orang yang beriman itu tidak merdeka. Ia merdeka dengan kemerdekaannya yang hakiki.

Memilih jalan kesenangan itu mudah, semua orang pasti bisa.

Memilih yang enak-anak saja, sepertinya bukan pilihan, itu insting di semua makhluk hidup.

Memilih untuk mengeluarkan energi, melakukan usaha, menghabiskan waktu dan harta untuk sebuah reward yang tidak kasat mata, itu baru pilihan.

Tidak peduli omongan orang. Tidak takut celaan orang yang suka mencela. Cuek mengamalkan kebenaran berdasarkan referensi yang ia pahami/yakini/imani.

Dulu perbudakan fisik terlihat nyata, saat ini, berbudakan pemikiran meski tak nampak, namun kental terasa.

Orang yang beriman merdeka dalam bingkai ketundukannya terhadap Allah saja.

---000---

22 Agustus 2019
Syamsul Arifin

23 April 2019

Aisyah RA, contoh Kartini-ku

Lagi musim hari Kartini. Banyak organisasi yang mencoba menunjukkan contoh Kartini hebat masa kini yang ada. Di tempat kerja, di lingkungan sosial.

Role model memiliki peran yg besar dalam mendorong sikap, perilaku, dan pencapaian yang kita usahakan.

Saya tidak hendak bermaksud menyepelekan peran yang Kartini asli lalukan berpuluh tahun lalu di negeri ini.

Saya hanya mau mengangkat 1 contoh luar biasa "Kartini" yang seharusnya jadi panutan sejati.

Ibunda kaum muslimin, istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah radiyallahu anha (semoga Allah meridhainya).

Dikisahkan suatu ketika Abdullah bin Zubair memberi ibunda Aisyah RA hadiah sebesar 100.000 dirham atau senilai 6,2 milyar rupiah.

Beliau membagi-bagikan uang tersebut sebagai sedekah ke orang lain hingga tidak tersisa.

Padahal hari itu ia sedang berpuasa, sampai pembantunya bertanya, kenapa tidak menyisakan sekedar 1 dirham (62 ribu rupiah) untuk membeli daging sebagai hidangan berbuka puasa?

Beliau senang bersedekah dan mengutamakan orang lain, sampai beliau hanya berbuka puasa seadanya saja.

Berkaca pada diri sendiri di masa kini.

Jangankan bersedekah bermilyar-milyar rupiah, sering-sering berpuasa sunnah saja bisa jadi amalan yang susah untuk kita ikuti.

Ibunda Aisyah RA adalah teladan, bukan saja untuk para wanita muslimah, tapi juga untuk para pria muslim, yang katanya mencintai Rasulullah dan keluarganya...

---000---

Jakarta, 22 April 2019
Syamsul Arifin

22 January 2019

Siap Tidak Siap, Mau Tidak Mau

Kematian itu seperti ujian/kuis dadakan ketika masih mahasiswa dulu. Siap tidak siap, mau tidak mau, harus dihadapi.

Yang tidak siap, akan terkejut, dan protes ke dosen. Biasanya dosen tidak akan menanggapi, terutama kalau ketika awal perkuliahan sudah diinfokan sebelumnya mengenai mekanisme ujian/kuis dadakan.

Beberapa mahasiswa lainnya, bersikap biasa saja. Sudah siap. Memahami aturan main perkuliahan, mempelajari materi-materi sebelumnya. Sehingga kalaupun ada pertanyaan seputar perkuliahan sebelumnya, biasanya masih nyantol di kepala. Sikap mereka tenang, karena punya bekal.

Yang tidak siap akan berusaha segala cara untuk mencari jawaban. Mencontek, bertanya teman di sebelah, dll. Panik. Tergambar di wajah dan gerak-gerik.

Kembali ke analogi kematian seperti ujian dadakan. Siap tidak siap, mau tidak mau, kematian pasti menghampiri. Ketika ajalnya tiba, malaikat maut tidak akan sedikitpun telat menjemput.

Bersiaplah. Bisakah mempersiapkan kematian? Bisalah.

Caranya? Setiap hari, di manapun, kapanpun, hindari kemaksiatan, jalani kewajiban/ibadah (minimal yang wajibnya saja, syukur-syukur kalau dilakukan ibadah tambahannya).

Dalam kematian, tidak bisa curang, karena malaikat tidak mungkin lengah, dan tiap kita akan menghadapi kematian serta mempertanggungjawabkan amalan sendiri-sendiri, tanpa bantuan.

Jadi, dari pada nanti kaget ketika ajal menjelang, dan merugi karena ternyata banyak dosa ketimbang pahala, bersiaplah, jauhi maksiat, jalani ibadah. Insya Allah kita akan beruntung. Semoga saja.

---000---

Balikpapan, 22 Januari 2019
Syamsul Arifin.

12 November 2018

Meraih Derajat yang Tinggi

Harta, jabatan, atau keturunan tidak serta-merta membuatmu mulia, tapi iman dan ilmulah yang meninggikan derajat kemuliaan seseorang.

Betapa banyak orang yang hartanya banyak, jabatannya tinggi, dan berada pada garis keturunan yang mulia, justru adalah orang yang terhina?

Fir'aun, Haman, dan Qabil adalah sebagian contoh kecilnya.

Betapa banyak orang yang tidak memiliki harta tapi justru Allah muliakan dengan kekuasaan, sebagaimana Yusuf A.S dan Thalut.

Meski berayah Nabi (Yakub), kemuliaan Yusuf justru karena keistiqomahannya menjaga kesuciannya dan ilmu yang ia miliki.

Demikian juga dengan Thalut, walaupun tidak memiliki harta, tapi Allah mengangkatnya sebagai raja karena ilmu dan kekuatannya.

Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.
Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf: 55-56)

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 247)

Perbaikilah imanmu, dan carilah ilmu. Semoga dengannya Allah meninggikan dan memperbaiki derajatmu. *Amin.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadila: 11)

---000---

Balikpapan, 11 November 2018
Syamsul Arifin

30 October 2018

Yaumul Hisab

Di yaumul hisab/hari perhitungan amal (pahala-dosa) nanti, membawa dosa kepada Allah itu lebih ringan dari pada membawa dosa kepada sesama manusia.

Sebab Allah maha pengampun, sedang manusia, di hari itu akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri masing-masing.

Ketika ada piutang dosa orang terhadap dirinya, pasti akan diambil.

Pahala amal kebaikan kita akan diberikan kepada orang yang kita zalimi atau kalau kita tidak punya cadangan pahala lagi, maka dosa orang tersebut akan ditransfer ke kita sebagai balasan atas kezaliman kita.

Karenanya, selama di dunia ini, berhati-hatilah dalam bertindak (di dunia offline maupun online). Termasuk urusan perkataan (dan juga tulisan/postingan).

Jangan menyebarkan keburukan orang lain (ghibah), terlebih lagi berita bohong tentang mereka (fitnah).

Jangan merasa ringan, jika sembarangan sharing, forward atau posting sesuatu. Sebab semua hal dicatat, dan tidak ada yang luput dari catatan (hal besar maupun kecil).

Seorang hamba akan ditunjukkan catatan amalnya, hingga ia takut karena tidak ada hal yang terlewat olehnya,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

"Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzhalimi seorang jua pun."
(QS. Al-Kahf: 49).

---000---

Balikpapan, 21 Oktober 2018
Syamsul Arifin

Bersikap baik terhadap orang bodoh itu susah

Ada suatu hadits yang menarik tentang seorang Arab badui yang kencing di ujung masjid Rasulullah. Orang-orang marah, tapi Rasulullah menahan orang-orang, dan setelah si badui tadi menuntaskan kencingnya, beliau menyuruh orang agar menyiram bekas kencing itu dengan air.

Suatu hadits yang mungkin kita semua pernah mendengarnya.

Di balik pelajaran fiqh mengenai cara mensucikan bekas najis, ada pelajaran sulit mengenai bagaimana bersikap terhadap orang yang bodoh, yaitu bersabar dan berlemah lembut terhadap mereka.

Si Arab badui itu tidak tahu. Jadi apa yang ia lakukan ia anggap bukanlah suatu kesalahan/masalah.

Dalam kehidupan. Kita bisa sangat mudah sekali emosi akibat ketidaktahuan (atau ketidakmautahuan?) orang lain.

Hal yang sepatutnya kita lakukan adalah tetap tenangkan pikiran (atau hati), jangan terpancing emosi, dan cari solusi dengan tetap berlaku lemah lembut.

Mudah? Jelas tidak.

*inspirasidaripembacaanhaditsketikaasardimasjidkantor

---000---

Syamsul Arifin
Balikpapan, 15 Oktober 2018

Nasihat Imam Syafi'i

"Hindarilah telinga kalian dari pendengaran tak senonoh sebagaimana kalian menjaga lidah dari ucapan tak senonoh, sebab orang yang mendengarkan adalah mitra orang yang mengucapkan."

(Nasihat Imam Syafi'i kepada murid-muridnya di buku Biografi Empat Imam, Abdurrahman al-Syarqawi, hal 147)

Konteks nasihat yang menurut saya masih sangat relevan di zaman ini.

Tinggal di-update sedikit:

"Hindari mata & jari kita dari bacaan/foto/video/postingan/chat online yang tidak senonoh/tidak baik sebagaimana kita menjaga mulut kita dari berbicara hal yang tidak senonoh, sebab orang yang mendengarkan/membaca/melihat postingan adalah mitra/kawan yang memposting."

?