09 November 2007

Wanita Bagaikan Tulang Iga

Wanita itu seperti tulang iga, jika engkau keraskan maka ia akan patah, namun jika engkau biarkan maka ia akan tetap bengkok.

Wanita itu adalah mahluk yang unik. Bahkan beberapa orang mengatakan kalau “women is the greatest mystery in this world”. Tak kan pernah habis penelitian dan pembahasan mengenai wanita. Tak kan pernah cukup dan tak kan pernah usai pembicaraan mengenai wanita.

Suami sebagai nahkoda rumah tangga diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan para awak kapalnya dalam menuju keridhoanNya. Dan wanita atau istri berada dalam tanggung jawab tersebut.

Salah satu keunikan seorang wanita adalah dia tidak boleh dikeraskan. Maka itu dalam banyak sejarah para Nabi yang mulia, tidak pernah kita baca mengenai kekerasan dari diri mereka terhadap istri-istrinya, meskipun terkadang ke-kurang ajarannya sangatlah tidak masuk di akal, sebagaimana dicontohkan oleh istri Nabi Nuh AS dan istri Nabi Luth AS.

Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". (QS. AT Tahrim:10)

Namun apakah kita pernah mendengar bahwa mereka pernah dikeraskan oleh sang Nabi?

Satu-satunya kekerasan dalam rumah tangga keluarga para Nabi yang pernah saya baca adalah mengenai pukulan seratus cambukan dari Nabi Ayub As kepada istrinya.

Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shaad:44)

Itupun memukulnya menggunakan rumput. Seberapa sih sakitnya dipukul menggunakan seikat rumput setangan? Kalaupun yang digunakan adalah rumput gajah, tetap saya yakin tidak akan terlalu sakit.

Jangankan kepada istri mereka, kepada pembantu yang mereka milikipun, para Nabi tidak pernah memarahi, apalagi memukul. Demikian yang diungkapkan oleh Anas RA, mengenai Rasulullah Muhammad SAW.

Namun jangan sampai terlena, sebab wanita itu seperti tulang iga, jika tetap dibiarkan, maka ia akan tetap bengkok. Namun jangan pula dikeraskan, jika dikeraskan ia akan patah.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahriim:6)

Takkan Lari Jodoh Dikejar

Kemarin baru nonton sebuah film, di situ ada suatu dialog yang cukup menarik perhatian saya. Begini kira-kira bunyi frasenya, “Jika engkau benar-benar menginginkan sesuatu, sedemikian inginnya sampai kau benar-benar merasakannya, maka ia akan nyaris menjadi kenyataan, tinggal kau saja yang perlu sedikit usaha untuk mewujudkannya”.

Membaca sejarah dan kisah-kisah yang memiliki pelajaran, sungguh sangat mengasyikkan. Saya baru tersadar ternyata memang jodoh itu di tangan Allah, meskipun ada sedikit guyonan dari beberapa orang yang berkata bahwa, “Iya memang jodoh di tangan Allah, tapi klo nggak kita ambil, ya dia akan tetap berada di tanganNya”. Benar juga ya, tapi nggak seratus persen benar kok.

Dalam kisah Nabi Allah Musa AS, diceritakan bagaimana beliau mendapatkan istrinya, yaitu ketika beliau menolong wanita penggembala kambing untuk menggiringkan kambing-kambingnya mendapatkan air minum. Ataupun kisah populer mengenai seorang jujur yang memakan buah yang terhanyut di sungai, lalu karena ia merasa berdosa telah memakan buah yang bukan miliknya, ia melaporkan kepada pemiliki kebun yang pada akhirnya malahan menikahkannya dengan anaknya yang shalihah dan cantik. Bagaimanakah mungkin hal-hal yang sepertinya tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pasangan hidup malah bisa mengarahkan diri menuju penemuan pasangan hidup yang terbaik? Itulah yang disebut dengan jodoh.

Tulisan ini tidak untuk melemahkan kita dalam usaha pencarian pasangan hidup dengan menumbuh-suburkan anggapan bahwa nanti juga jodoh kita akan datang sendiri, bukan itu maksudnya. Tapi tulisan ini dibuat untuk menyemangati diri ditengah ikhtiar kita yang optimal untuk mendapatkan pasangan hidup yang terbaik.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar Ra’d:11)

Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?" (QS. An Nahl:72)

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al Furqaan: 74-76)

---000---

Untuk saudara/i ku (dan diriku sendiri) yang sedang mencari pasangan hidup terbaiknya, selamat ya, sesungguhnya usahamu itu telah menunjukkan ketakwaanmu terhadap takdirNya. “dan ikatlah tali kudamu, lalu bertawakallah”

Ibadah sebagai Ekspresi Syukur

Pada suatu malam, ibunda kaum muslimin, Aisyah RA, terbangun dari tidurnya, dan melihat suaminya, Rasulullah SAW, sedang shalat malam sambil menetes air matanya membasahi janggutnya dan sampai bengkak-bengkak kedua kakinya, ketika ditanya oleh beliau-karena kepedulian dan rasa sayangnya, “bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu, dan menjaminkan untukmu syurga?”, Rasulullah menjawab, “apakah tidak boleh aku bersyukur sebagai seorang hamba?”

Itulah sekelumit episode kehidupan Rasul mulia, penutup para nabi, Muhammad SAW. Sungguh sangat indah pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut.

Tidak terhingga kenikmatan dan karunia yang telah Allah curahkah bagi kita, dan kenikmatan-kenikmatan tersebut datang begitu seringnya dalam setiap waktu kehidupan kita sehingga terkadang membuat kita tidak dapat merasakah bahwa apa yang kita terima itu merupakan limpahan kenikmatan yang tak terhingga.

Udara yang kita hirup, sinar matahari yang begitu hangat, tempat bernaung kita, kendaraan yang kita miliki, keluarga yang kita bina, tubuh kita yang berfungsi dengan baik, bahkan kenikmatan Iman dan Islam dalam dada, terkadang sering tidak dapat kita syukuri dengan baik.

Salah satu cara untuk mensyukuri kenikmatan adalah dengan beribadah. Shalat kita, puasa kita, sedekah kita, dan segala sesuatu yang kita niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan ekspresi dari kesyukuran kita.

Kebalikan dari syukur adalah kufur (mengingkari) kenikmatan-kenikmatan dari Allah. Dan sebagaimana ibadah merupakan bentuk ekspresi syukur kita, maka perbuatan maksiat yang kita lakukan merupakan bentuk pengingkaran terhadap kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan.

Bersyukurlah wahai diri, kurangi perbuatan maksiat, dan kerjakanlah amal ibadah, semampu kekuatan kita.

dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim:7)

Bahkan dalam beberapa ayat, Allah menggandengkan beberapa perbuatan aktif seperti shalat dan bekerja dengan perkataan syukur.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Maidah:6)
 
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’:13)

Pilihlah Pasangan karena Kemuliaan Akhlaknya

Seorang wanita itu dinikahi karena empat hal: kecantikannya, kekayaaannya, keturunan/keluarganya, atau karena agamanya, dan sungguh beruntunglah orang yang menikahi wanita karena kebaikan agamanya.

Umar bin Khattab, saat menjabat sebagai khalifah, menikahkan anaknya dengan anak seorang penjual susu yang jujur.

Seorang pemilik kebun, menikahkan puterinya (yang bisu, buta, tuli, dan lumpuh -sebuah kiasan yang ia gunakan untuk menggambarkan keadaan anaknya yang tidak pernah berbicara, melihat, mendengar, dan melangkah menuju tempat perbuatan maksiat) dengan seseorang jujur yang mengaku telah memakan buahnya yang terhanyut sungai.

Dari kedua pasangan tersebut lahirlah tokoh terbaik sepanjang sejarah umat Islam. Dari yang pertama terlahir sang khalifah ke lima kaum muslimin, Umar bin Abdul Aziz; sedang dari cerita kedua terlahir Imam Abu Hanifah (ada riwayat yang mengatakan demikian-namun saya masih belum mengetahui validitas informasi ini), seorang ulama cerdas yang menerangi umat dengan ilmunya.

Dan banyak lagi kisah nyata yang menggambarkan keberkahan dari pengutamaan pemilihan jodoh yang hanya berdasarkan keutamaan agama/akhlak.

Padahal saat itu Umar bin Khattab sedang menjabat sebagai khalifah, dimana semua bapak yang jauh lebih terpandang pasti akan menerima beliau sebagai besanan. Lagi pula Umar hanya mendengar pembicaraan antara ibu dan anak tersebut saja, tidak melihat bagaimana rupa dan penampilannya secara langsung, beliau tidak mengetahui apakah perempuan tersebut memiliki cacat atau hal lain yang bisa jadi kurang berkenan. Beliau hanya pulang ke rumah dan menyuruh anaknya untuk melamar wanita tersebut keesokan harinya. Subhanallah.

Begitulah orang-orang terbaik umat ini dahulu menyelaraskan ilmu (Quran dan nasihat Nabi) dengan amal mereka, dan mengutamakan kehidupan akhirat atas kehidupan dunia, sehingga terbit fajar kemenangan dan terlimpah kebaikan bagi kaum muslimin.

Hari ini kita menyaksikan bahwa kita telah bergeser jauh dari jejak langkah yang telah ditempuh orang-orang tersebut.

Banyak sekali kriteria dan persyaratan yang harus dilewati dalam melakukan penseleksian calon istri atau suami. Yang lebih parah ialah jika kriteria yang termasuk wajib sangatlah bersifat keduniaan sekali, seperti bentuk rambut, mata, tinggi, atau mungkin berat badan.

Melakukan pemilihan adalah suatu hal yang wajar, bukankah suami/istri yang akan kita pilih menjadi pasangan seumur hidup kita (jika memungkinkan). Namun jangan sampai hal tersebut malah akhirnya mengendalikan atau menguasai diri kita.

Sadarilah bahwa dunia akan binasa, kecantikan akan memudar, kulit yang lembut akan berkerut, dan tubuh yang kuat atau indah akan melemah. Inner beautylah yang akan lebih berkekalan.

Jika kita telah tua, bukan tubuh indahnya yang akan menemani kita, namun lebih banyak tutur kata yang kan menemani kita duduk di kursi malas sambil memandangi senja di sore hari. Jika lisan yang dimilikinya sekasar dan setajam belati, akankah kita kan bertahan?

Pilihlah pasangan karena keutamaan akhlaknya, niscaya engkau akan mendapatkan berkahnya (bertambah kebaikan), insya Allah.

---

Teruntuk saudara/i ku yang sedang memburu pasangan hidupnya, semoga Allah memudahkan urusanmu dan memberikan yang terbaik untukmu.

Pekerjaan Saya adalah Bermain

Menurut majalah forbes edisi hari Jumat tanggal 30 Maret (sumber: Kompas 1 April 2007), mengenai pekerjaan dengan penghasilan terbesar, ada suatu hal yang menurut saya cukup unik yaitu salah satu profesi dengan penghasilan terbesar adalah pemain sepak bola. Yup, pemain sepak bola, orang-orang yang menjadikan bermain sebagai mata pencahariannya, bermain bola.

Menurut forbes, pada tahun 2006, Ronaldinho, pemain asal Brasil yang bermain di Barcelona menempati urutan teratas dengan penghasilan sebesar 23,5 juta euro atau sekitar 282 milyar rupiah. Posisi ini diikuti oleh David Beckham, pemain asal Inggris yang bermain di Real Madrid, dengan pendapatan sebesar 23,2 juta euro, yang bisa jadi mengalahkan Ronaldinho karena pada tahun 2007, ia dikontrak Los Angeles Galaxy dengan nilai 250 juta dollar selama 5 tahun.

Saya tidak ingin terjebak dalam diskusi apakah sepak bola boleh/halal/haram menurut Islam, namun saya ingin melihat sisi yang lainnya, yaitu bahwa pekerjaan yang mereka geluti adalah bermain, sebuah aktifitas yang pasti disukai oleh kita semua.

Entah apakah benar atau tidak, tapi ada suatu persepsi bahwa bermain merupakan aktifitas anak-anak saja, dan orang-orang yang masih suka bermain-main menunjukkan ketidakdewasaannya.

Namun satu hal yang pasti, orang-orang yang menikmati pekerjaannya, bagaikan tidak bekerja. Ada ungkapan yang berbunyi, “Kerjakan apa yang kau cintai, dan cintai apa yang kau kerjakan, niscaya engkau tidak akan pernah merasakan sedang bekerja”. Dan pada umumnya, orang-orang yang menggeluti pekerjaan yang mereka merasa senang dengannnya, cenderung mengalami kesuksesan, minimal kebahagiaan dalam bekerja.

Tulisan ini tidak dibuat dengan tujuan agar kita semua berpindah profesi menjadi pemain bola ataupun supaya orang-orang menjadi tidak serius saat bekerja-sebagaimana definisi beberapa orang mengenai istilah bermain, namun tulisan ini hadir dengan tujuan agar kita lebih dapat mencintai pekerjaan/bidang yang kita geluti atau agar kita menggeluti pekerjaan/bidang yang kita sukai/cintai.

Akan ada perbedaan yang signifikan jika kita mengerjakan sesuatu dengan terpaksa dan dengan suka cinta, meskipun bisa jadi hasil/output yang dihasilkan sama besarnya, namun yang pasti ada nilai lebih (added value) yang akan kita dapatkan dari mengerjakaan hal-hal yang kita sukai, seperti rasa puas, bahagia, dll.

So, “Do what you love, and love what you do”.

---000---

Untuk saudara/i ku (dan diriku) yang sedang mencari pekerjaan yang sesuai untuk dirinya, semoga berhasil ya.. Wallazina jahadu fina lanah diyannahum subulana (QS.29:69)

Menjadi Manusia Unggul*

Suka atau tidak, percaya atau tidak, kita (manusia-red) memang diciptakan untuk menjadi manusia yang unggul. Sejak awal mula, desain yang diberikan Allah SWT untuk kita, mengharuskan kita menjadi manusia yang unggul. Bahkan sebelum kita menjadi seperti sekarang ini, kita telah berkompetisi dengan hampir lebih dari 200 juta kompetitor (jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini) dalam memperebutkan sebuah posisi, yaitu sebuah sel telur.

Saat manusia berejakulasi, hampir 200 juta sperma-sperma kecil yang berebut tempat untuk mendapatkan posisi di sebuah sel telur melalui perjalanan yang penuh dengan rintangan (kondisi pH rendah yang mematikan, jalan yang panjang, saingan yang banyak, dan sel telur yang dilapisi oleh lapisan yang keras dan mematikan. (lihat film “Keajaiban penciptaan manusia” karya Harun Yahya). Tapi toh, dari 200 juta calon-calon manusia tersebut, hanya ada 1 yang berhasil, siapa lagi selain diri kita (ha3x).

Tetapi mengapa setelah kita hadir di muka bumi seperti ini, kita sepertinya kehilangan fitrah untuk menjadi manusia yang unggul? Karena itulah, ada beberapa trik yang bisa dipakai untuk mengembalikan entitas kita sebagai seorang manusia yang unggul.

1. Percepatan

Percepatan berbeda dengan kecepatan, kecepatan adalah perbedaan jarak dibagi dengan waktu, sedangkan percepatan adalah perbedaan kecepatan dibagi perubahan waktu, jadi kecepatan satuannya m/detik sedangkan percepatan m/detik2. Hadis nabi, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia merugi, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia celaka, barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dia beruntung. Jadi hanya ada 1 pilihan kita, yaitu selalu menjadi lebih baik, selalu melakukan peningkatan, selalu belajar, dan selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kunci dari percepatan adalah manajemen waktu. Ada orang yang dalam waktu 24 jam bisa mengurus negara, ada yang yang dalam bisa mengurus keluarga, ada yang bisa mengurus perusahaan, tetapi ada juga yang dalam 24 jam tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Semua orang diberikan waktu yang sama, yang membedakan adalah kualitas dari penggunaan waktu tersebut. Orang yang sukses adalah orang yang bisa melakukan lebih banyak dari orang lain dalam waktu yang sama.

2. Lingkungan yang kondusif

Sebuah analogi sederhana, ada 2 kupu-kupu yang sedang balapan terbang, kupu-kupu yang satu terbang secepat-cepatnya, sedang kupu-kupu yang kedua masuk ke dalam mobil yang akan jalan. Mana diantara kedua kupu-kupu itu yang akan menang? Jika arah mobil tersebut sama dengan arah perlombaan, dan mobil tersebut tidak kekurangan bensin, maka dapat dipastikan bahwa kupu-kupu yang naik mobil yang akan menang. Sedikit-banyak, setiap kita pasti dipengaruhi oleh orang-orang yang ada disekitar kita. Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi, meskipun tidak membeli pasti akan tercipratan bau wanginya. Orang yang bergaul dengan tukang sate, membeli ataupun tidak, pasti akan terasa bau asap sate di tubuhnya. Karena itulah cari sebisa mungkin kondisi yang kondusif yang bisa mengarahkan kita menjadi lebih baik.

3. Melihat musuh/saingan/kompetitor sebagai karunia

Lawan atau saingan adalah penggali potensi yang ada dalam diri kita. Kita tidak pernah bisa berlari cepat kecuali jika ada anjing yang mengejar kita. Dan kita pun tidak akan bisa dihargai jika kecuali jika telah melakukan kompetisi. Menang atau kalah adalah masalah yang kecil, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyempurnakan ikhtiar dengan mengoptimalkan potensi yang kita miliki.

4. Sinergi atau berjama’ah

1 + 1 = 11 dan bukan 2. Contoh, suami dan istri jika bergabung tidak menjadi 2 tetapi bisa menghasilkan yang tidak bisa dibuat sendiri-sendiri. Contoh yang lain adalah bom atom, bom atom yang berukuran sekepalan tangan bisa menghancurkan sebuah kota, itu karena adanya tumbukan-tumbukan antara atom-atom yang terjadi menciptakan energi yang besar. Siapapun harus bisa kit ajadikan sumber ilmu.
 
5. Qalbun salim (hati yang baik)

Ukuran kesuksesan kita adalah perjumpaan dengan Allah SWT, sebab hanya ada 2 tempat di akhirat nanti, jika tidak berjumpa dengan Allah SWT maka pasti kita sedang direbus di neraka. Kita menjadi sukses ketika ilmu dan aktifitas kita bisa mengakrabkan kita dengan Allah SWT. Kebersihan hati kan mengantar pada tutur kata yang sopan, tingkah laku yang baik, ide yang cemerlang, dan ibadah yang nikmat.
Selamat berjuang saudara-saudaraku, semoga kita bisa menjadi manusia-manusia unggul yang kan memperbaiki negeri yang sedang porak poranda ini.


Diilhami oleh : kaset ceramah Aa Gym “Menjadi Manusia Unggul”

Syukur Sebagai Kunci Kebahagiaan

Apakah arti kebahagiaan? Pertanyaan ini sudah sering saya lontarkan berulangkali. Namun sampai saat ini saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai arti kebahagiaan.

Apakah uang banyak, kendaraan bagus, rumah mewah, harta berlimpah dapat memberikan kebahagiaan? Apakah pekerjaan yang bagus, jabatan yang tinggi, hobi yang dijalani, hura-hura, perjalanan wisata, atau bersenang-senang sesuai dengan yang kita suka dapat membahagiakan kita? ataukah ketiadaan konflik dalam hidup, hidup yang adem-ayem, keluarga yang tenang, anak-anak yang tidak nakal, pasangan hidup yang baik dapat memberikan kebahagiaan?

Bisa jadi semua hal diatas dapat memberikan kebahagiaan, namun belum tentu jika kita memiliki hal-hal tersebut diatas, kita akan otomatis merasa bahagia.

Baru-baru ini saja saya merenungi bahwa kita baru akan merasa bahagia jika kita dapat merasa puas dengan apa yang kita miliki. Jika kita puas dengan apa yang kita miliki, maka itu bisa memberikan kebahagiaan dalam diri.

Banyak orang yang telah diberikan kelebihan dalam hal harta benda tidak pernah merasa puas, dari mereka kita akan kesulitan melihat aura kebahagiaan, mengeluh, selalu merasa kurang, dll.. Namun tidak jarang kita temui orang-orang yang dalam hal harta benda mengalami sedikit keterbatasan, namun dapat kita lihat raut kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, tenang, puas, tentram, bahagia.

Saya menulis artikel ini tidak untuk membuat kita menjadi malas dalam mencari kelebihan di luar kondisi kita sekarang. Namun merasa puas tidaklah berkaitan dengan semangat untuk berusaha. Merasa puas berarti mampu mensyukuri apa yang telah kita raih, apa yang kita miliki, mensyukuri apa yang kita punyai. Ini merupakan dimensi lain dari berusaha. Berusaha adalah proses, sedang mensyukuri adalah hasil. Kita berusaha dengan segenap potensi yang telah diberikan, dan diiringi dengan kesyukuran terhadap setiap hasil yang kita dapat.

Salah satu bentuk perwujudan rasa puas hati adalah syukur. Dengan bersyukur kita dapat merasakan kenikmatan dari setiap hasil yang kita peroleh, bak sesuai maupun tidak dengan keinginan kita, baik besar maupun kecil, baik sesuai atau tidak dengan target yang telah kita tetapkan.

Proses merasakan kenikmatan hasil inilah yang kita selalu merasa kurang. Kita lebih mudah merasa kurang dengan segala hal. Gaji yang kita terima, bonus yang kita dapatkan, dll. Bahkan kita dapat lebih mudah melihat kekurangan dari segala hal dalam hidup kita, kekurangan pasangan kita, kekurangan yang ada di rumah kita, kekurangan yang ada pada tetangga kita, dll. Padahal jika saja kita mampu mensyukuri apa yang telah ada di dalam genggaman, tentu kita akan lebih merasa bahagia.

Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An Naml:40)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman:12)

Rasa bahagia tidak terletak pada kemewahan, tapi rasa bahagia muncul dari kepuasan hati yang tidak tertekan dan bebas, tidak putus asa, dan percaya pada kekuatan yang ada pada diri sendiri (M Natsir).
Bersyukurlah wahai diri, niscaya engkau kan merasakan arti kebahagiaan.

Mencari Sosok Nabi Yusuf A.S. di Era Wi-Fi

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” (QS. 12:24)

Ibnu Qayyim Al Jauzi dalam bukunya, taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu, mengatakan bahwa godaan yang menimpa Nabi Yusuf A.S. begitu besar. Bahkan ada banyak alasan yang sebenarnya bisa memudahkan Nabi Yusuf untuk melakukan perbuatan tersebut, minimal untuk menjadi justifikasi atau pembelaan di hadapan Allah jika beliau melakukan perbuaan zina tersebut.

Pertama, Nabi Yusuf dalam kapasitasnya saat itu adalah seorang budak (tidak merdeka) yang berada di bawah kekuasaan seseorang yang telah berjasa dalam membesarkan beliau. Apa salahnya jika beliau menyenangkan hati “ibu” yang telah merawatnya.(salah juga sih…).

Kedua, beliau berada di lingkungan yang jauh dari sanak keluarga dan orang-orang yang mengenalnya, biasanya orang akan malu untuk berbuat hal-hal yang tercela jika ada orang yang mengenalnya.

Ketiga, beliau berada dalam kondisi yang muda dan belum menikah, pada usia seperti itu, terkadang sulit untuk membendung gejolak nafsu yang mudah bergelora.

Keempat, beliau berada di dalam ruangan yang aman, jauh dari orang-orang yang melihat. Dikamar yang terkunci, jauh dari pandangan banyak orang.

Kelima, yang menggoda terlebih dahulu adalah wanita yang cantik dan memiliki kedudukan yang terpandang dengan rayuan-rayuannya.

Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang semakin memarginalkan kuasa Nabi Yusuf untuk bisa menolak tawaran yang menggiurkan tersebut. Tetapi kemudian beliau bisa BERTAHAN.

Di era modernitas seperti sekarang ini, sosok wanita-wanita penggoda itu dapat dengan mudah kita temui, bahkan mereka jauh lebih “hebat” dalam melancarkan rayuan-rayuannya. Jika wanita yang menggoda Nabi Yusuf melancarkan rayuannya di kamar yang tertutup dengan perhiasan, busana, dan perkataan yang menggoda, maka sekarang, di tempat-tempat umum, dijalan-jalan, diberbagai media massa (televisi, radio, koran, dan internet) mereka menggoda dengan genitnya. Memamerkan aurat dan liukan tubuh kepada setiap orang; merangsang dengan bau parfum yang bahkan bisa tercium dari jarak beberapa meter; memaksimalkan kosmetik, hiasan, dan model rambut yang ada, seakan-akan menawarkan diri dengan “bentuk dan sajian” terbaiknya.

Jika wanita-wanita genit penggoda itu telah sedemikian menjamur dalam setiap aspek kehidupan kita, lalu dimanakan bisa kita temui sosok tegar Yusuf? Yang dengan yakinnya lebih menyukai penjara dari pada mengikuti ajakan para penghuni neraka itu.

Godaan yang menimpa Nabi Yusuf A.S. memang sungguh berat, tetapi bisa jadi godaan yang dialami pemuda-pemudi muslim alami saat ini, bisa jadi jauh lebih besar. Dibutuhkan pemuda yang terus menerus sadar bahwa dirinya berada dalam pengawasan Zat yang tidak pernah lalai terhadap tindakan ciptaanNya. Pemuda yang meyakini bahwa kenikmatan yang sesaat itu pasti akan berakhir dengan penyesalan yang berkekalan.

Siapakah yang ingin menapaki jejak mulia Nabi Yusuf itu? Saya berharap, semoga kitalah orang tersebut.

Tetap semangat saudara-saudaraku, semoga Allah senantiasa menguatkan kita dengan hidayahNya, dan memberikan kita penjagaan dengan kenikmatan istiqomah dariNya. Sebab tiada pelindung dan penolong, serta tiada tujuan tuk kembali selain kepadaNya.

Allahu ghayatuna….


Nb: tulisan ini ditujukan untuk “sang diri”, yang senantisa jatuh dalam kubangan yang sama (istighfar akhi….)

01 November 2007

Untuk teman-teman yang telah dengan kejam "memakan dagingku"

Kenapa kalian tidak bisa berkata sebagaimana para sababat telah diingatkan 1600 tahun yang lalu di kitab yang mulia,

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (QS. An-Nuur: 15-16)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujuraat: 12)

Kayak kita baru kenal setahun dua tahun aja.
Alhamdulillah, saya telah berhenti berharap dari manusia, hingga tidak lagi "berefek" pada hal-hal yang seperti ini...

Saya harap kalian bisa menikmati segarnya darahku dan renyahnya dagingku...

*Maafkan aku...

[cerpen] Perahu Cinta di Tengah Badai

“Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 42-43)

---

Tak pernah ku percaya hal ini akan menimpa diriku. Sekarang aku baru bisa mengerti kenapa kala itu Fitri mengadu sambil berlinang air mata ketika bertutur mengenai kisah cintanya dengan Arief yang kandas di tengah jalan. Dan sekarang aku baru paham, kenapa ia bisa dengan mudah meneteskan air mata ketika mendengarkan lagu-lagu mellow setelah itu.

Ah, adik kelasku yang satu itu memang sangat manja kepadaku, sudah sering dan bosan ku ingatkan agar kalau sedang butuh bantuan atau mau curhat, agar menghubungi teman-teman akhwatku, namun kali itu saya tidak bisa berbuat banyak ketika ia nyerocos berkisah lewat telpon dengan tersedu-sedu.

Namun, sepertinya Fitri sekarang sudah berubah banyak, ia telah memakai jilbab rapi, dan mengikuti kajian keislaman rutin terpadu. Semoga engkau istiqomah ya Fitri, begitu pesanku ketika melihatnya memamerkan jilbabnya yang pertama kali sembari memberikan sebuah gantungan kunci berupa boneka mini salah satu tokoh powerpuff girl yang mengenakan jilbab.

Hidupku bagai di alam semu, sama sekali tidak pernah ku duga akan mengalami hal yang sama seperti dulu Fitri mengalaminya. Ah, mungkin aku terlalu melankolis, namun sudah beberapa kali ku menitikkan air mata karena perasaan yang katanya bernama cinta.

Radinal Husein, salah seorang sahabat seperjuangaku dulu ketika di rohis fakultas, kini sedang dalam perjalanan mempersunting gadis yang selama ini menimbulkan getaran aneh dalam jiwa.

Sudah ku coba tuk meredam rasa itu, namun ternyata bersikap ridha itu agak sulit. Bagaimanapun juga, kusadari bahwa sekarang adalah saat yang tepat tuk mempraktekkan ilmu mengenai ridha, dan ku akan berjuang sekuat tenaga mengamalkannya. Melanjutkan hidupku dan mengkerdilkan nafsuku.

---

Beberapa hari lalu aku berkunjung ke rumah Radinal dan kami berbincang banyak sampai-sampai rasa kantuk tidak akan pernah datang menyerang malam ini. Sebetulnya aku berada di rumahnya untuk berbincang mengenai bisnis yang sedang ia kerjakan, ia akan memulai bisnis rental komputer di dekat kantornya yang berada dekat dengan kampus Gunadarma, katanya peluang disana bagus, aku diajak bergabung sebagai salah seorang investor.

Sudah lama aku tidak menginap di rumahnya. Dulu ketika masih mahasiswa, sering sekali aku menginap disini, bahkan terkadang hanya tuk sekedar bisa menikmati kolam renang kecil yang ada di taman belakang rumahnya

Berkali-kali ia menginginkan aku meneguhkan pendiriannya dalam menjalani proses menikahi Hani binti Azkam. Terkadang terlontar ucapan tidak percaya dalam dirinya, kenekatan yang tidak dapat dipercaya, ia bilang.

Aku hanya bisa tertawa-tawa kecil, “emang, terkadang untuk pilihan yang satu ini diperlukan sedikit persiapan dan banyak kenekatan ray. Klo ngga mah ngga akan nikah-nikah. Trus juga emang, klo lagi proses gini, suka ragu-ragu gitu, wajar aja itu”, kataku sok tahu sembari tertawa ringan, dia pun tertawa, ha ha ha..

Rembulan perlahan beranjak ke peraduannya, malam ini kami tertidur dengan kelelahan mengenang romantisme masa muda dan goresan bayangan masa depan.

---

Handphone ku berucap salam, memberitahukanku akan hadirnya sebuah SMS baru. Innalilahi wa innalilahi rojiun, batinku, Hani kecelakaan tertabrak angkot ketika sedang menyebrang jalan, dia dirawat di rumah sakit Pasar Rebo. Pengirimnya Radinal Husein. Ya Allah, semoga ia baik-baik saja, doaku dalam hati. Kenapa itu bisa terjadi padanya, padahal acara akad nikahnya akan dilangsungkan seminggu lagi. Ya Allah, terbayang wajah cemas dan bingung pengirim pesan tersebut.

Hari sabtu yang cerah, tiga hari semenjak ku terima pesan duka itu, ku kunjungi rumah sakit tempat Hani di rawat, aku janjian dengan beberapa orang teman.

Ternyata keadaannya cukup parah. Sangat parah bahkan. Kakinya patah parah, dia bilang ketika tertabrak angkot ia terlempar beberapa meter jauhnya, kakinya remuk terlindas mobil yang berlawanan arah. Ya Allah, aku bergidik membayangkan keajadiannya. Entahlah gimana keadaanya jika ia telah sembuh, apakah akan dapat berjalan dengan normal kembali.., sepertinya sih.., pastinya sih.., ah, ku hapuskan bayangan itu dari pikirku.

Tak bisa ku hilangkan raut sedih, kaget, dan tak percaya, dan takut di wajahku.

---

“Hah.., besok akan tetap akad nikah”, setengah menjerit aku tak percaya mendengar dengar yang ia sampaikan, “udah dipikirkan masak-masak tuh”, tambahku, “hehehe, bukan cuma masak akh, tapi bahkan sampe gosong nih”, katanya setengah bercanda, “eh serius nih”, ulangku lagi, “iya, udah, besok datang aja, jam sembilan di ruangan Melati A302, tempatnya sama kok ditempat dia dirawat, “ok, datang loh ya, awas lho klo ngga datang, sekalian jadi qari buat tilawahnya ya?”, dia tambahkan, “ok, insya Allah”, aku menyahut, ia tahu bahwa ketika aku berkata insya Allah, maka aku akan benar-benar mengusahakan hal tersebut.

Dengan menyebut insya Allah, maka aku bukan hanya mengadakan perjanjian dengan orang tersebut, tapi juga membawa saksi berupa Zat yang Maha Berkuasa dalam perjanjianku, hingga aku akan merasa sangat malu sekali jika tidak menyanggupi apa yang telah ku “insya Allah”i.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (QS. Al-Kahfi: 23-24)

“siip, deh, assalamualaikum”, akh Radinal menutup pembicaraan, “wa’alaikumsalam”, sahutku.

Tak dapat ku percaya.., bagaimana jika diriku berada dalam posisinya, apakah aku masih akan melanjutkan proses dengan keadaannya yang seperti itu, meskipun harus ditunda beberapa tahun juga.

---

Dinding rumah sakit Pasar Rebo terlihat berwarna lebih putih dibandingkan terakhir kali aku datang. Apakah karena memang di cat, ataukan karena akan ada suasana yang besar yang kan terjadi hari ini.

Aku melangkah menuju sebuah kamar berukuran tiga kali empat meter persegi tempat Hani dirawat, kamar itu berada di di lantai tiga. Setelah keluar dari lift berwarna perak metalik, kususuri lorong berwarna coklat. Sesampainya di depan sebuah kamar dengan label bernomor A304, kuraih gagang pintu berwarna keemasan, dan mendorong pintu yang berwarna coklat dengan akses ukiran sederhana di sekelilingnya.

Weiiiks, ternyata salah kamar, orang yang sedang berbaring disana sudah tua dan laki-laki pula, huih, setelah minta maaf, ku ingat buka handphone terbaik tahun 2006 versi tabloid telpon seluler, mengarahkan kursornya ke fitur kalendar dan melihat janji yang telah ku tulis, oh, ternyata Walimahan Radinal & Hani berada di kamar A302 Rs Pasar Rebo. Kuayunkan langkahku sedikit grogi akibat kesalahan tadi.

Kali ini ku amati betul label yang tertempel di pintu kamar, A203, begitu tertulisnya. Bismillah, kali ini tidak akan salah, ku ketuk pintu tiga kali dan ku tekan gagang pintunya. Assalamualaikum, ku sampaikan salam penghormatan dan doa dalam Islam. Wajah-wajah cerah menengok kearahku, balasan doa yang lebih baik terlantun untukku. Ku salami satu persatu pria yang ada di ruangan. Mereka semua tampak bahagia.

Semerbak harum ruangan yang berbeda dari aroma rumah sakit membuai penciumanku. Warna cerah ruangan tampak berbeda, ada suasana gembira dan syahdu yang memenuhi ruangan. Cerah mentari pagi menelusup tirai jendela yang terbuka. Di sudut ruangan, jarum jam mengarah pada angka delapan dan dua belas, satu jam lebih awal, batinku.

Hani tetap tampak cantik dengan gamis putihnya, terlihat sangat putih, bersih, dan menawan. Kaki kanannya masih memakai gips yang besar, namun ia tetap berusaha menampilkan pesona wajah yang sumringah, terlihat sisa-sisa kelelahan dan kesakitan pada bekas polesan tipis make-upnya.

Jarum jam terus bergerak mengarahkan dirinya pada angka sembilan kurang lima belas, Pintu kamar diketuk beberpa kali. Radinal dan beberapa orang keluarga terdekatnya masuk, semua orang saling bersalam-salaman, wah, serasa lebaran nih, pakai baju baru dan suasananya begitu meriah. Radinal tampak kaku diapit kedua orangtuanya.

Acara akad nikah dilangsungkan di sebuah meja kecil yang ada di ruangan itu. Acara dipandu oleh MC dari pihak keluarga wanita, setelah pembukaan, dan menyampaikan maksud tujuan keluarga Radinal, pihak wanita yang diwakili oleh kakak tertua dan satu-satunya Hani yang baru saja pulang dari menyelesaikan program masternya di Belanda memberikan jawaban. Klasik gumanku dalam hati.

Acara dilanjutkan dengan tilawah, ku baca surat Ar Ruum dan mulai membacanya,

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Ruum: 20-21)

Terkadang aku suka kaget dengan diriku sendiri, kali ini bacaanku begitu nikmat terdengar, ah.., ya Allah, ayat ini bagaikan berbicara langsung kepada diriku, sejuk dan indah.

Acara selanjutnya adalah akad nikah, pak penghulu yang memakai peci warna hitam itu memeriksa kelengkapan dokumen, menanyakan orangtua Hani beberapa pertanyaan, dan melanjutkan dengan pembacaan akad. Radinal menyalami tangan pak Azkam dengan tenang, dia bacakan ada nikahnya dengan lantang.

“Saya terima nikahnya Hani binti Azkam dengan mas kawin berupa cincin berlian 25 gram dibayar tunai”, ucapnya.

Radinal beranjak menuju tempat tidur Hani, ia mencium keningnya, dan Hani mencium tangannya. Suasana semakin bertambah syahdu, beberapa ibu-ibu yang hadir di acara sudah mulai menitikkan air mata.

Radinal bersalaman dengan orang tuanya dan mertua barunya, ia dipeluk dan dicium, Hani pun demikian ia di hampiri oleh kedua orang tuanya dan mertua barunya, ia dicium dan dipeluk, kali ini air mata para peserta akad nikah tidak dapat tertahan lagi. Semua yang hadir diacara itu meneteskan air mata. Mataku berkaca-kaca, sebentar lagi ia pun akan tumpah.

Subhanallah, memang Radinal pantas mendapatkan Hani, semoga berkah Allah selalu mengiringi langkah cinta mereka. Ku peluk Radinal dengan pelukkan yang paling hangat dan erat. Berbisik pelan ku ditelinganya, “Barakallah akh, semoga Allah melimpahkan berkah, semoga Allah menyatukan kebaikan, dan semoga engkau berdua dikumpulkan dalam kebahagiaan, dan semoga engkau berdua, dikumpulkan dalam kebahagiaan”, doa yang paling tulus dan paling ku harapkan keterkabulannya.


---

Jakarta, 1 November 2007
Syamsul Arifin
“Mengapa kau lakukan hal itu kepadaku ukhti..?”
*Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen "Ujian Cinta" dan bersambung ke cerpen "Labuhan Hati"

Rahasia Di Balik Cerpen “Putus Cinta” Dengan Mengatasnamakan “Kemenangan Cinta”

Beberapa waktu yang lalu, saya posting cerpen dengan judul “Ketika Cinta Harus Menang”, isi ceritanya mungkin tidak seperti yang dibayangkan di judulnya, yaitu si tokoh pria utama tidak mendapatkan wanita yang ia inginkan.

Namun kenapa saya memakai judul “Ketika Cinta Harus Menang”..?

Ada komentar2 yang menanyakan kenapa judulnya kok “menang”, padahal dia tidak mendapatkan cinta yang ia inginkan… Salah satu komentar yang berupa masukan bagus berasal dari mba Novi (salah seorang penulis yang tulisannya sering di muat di rubrik oase eramuslim.com, saya suka lho mba tulisan2nya, karena dia itu menulis dengan hati, check her out more at akunovi.multiply.com), mba Novi bilang, klo ngga mendapatlan cinta yang dia mau, mungkin akan lebih indah klo di akhir cerita, si tokoh mendapatkan cintanya Allah. Hmmm…

Mungkin memang pesan yang saya selipkan kurang begitu tegas kali ya, makanya jadi agak gimana gitu ketika para pembaca membaca cerpen itu.

Saya menjawab, “coba diperhatikan lagi potongan artikel di awal cerpen dan potongan ayat di akhir cerpen”. (silakan cek cerpen tersebut dan baca potongan artikel di awal cerpen dan potongan ayat di akhir cerpen)

Kenapa saya menjawab seperti itu, karena pada dasarnya, pada saat dia mendapatkan gadis yang ia inginkan ataupun tidak, maka sesungguhnya ia tetap mendapatkan cinta dari Allah swt.

Bahkan bisa jadi, ketika dia tidak mendapatkan cinta seorang manusia di dunia, hal itu menunjukkan cinta Allah yang lebih besar kepadanya.

Perhatikan ayat berikut,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghaabun: 14)

Bisa jadi, kalau kita mendapatkan gadis yang kita inginkan, kita malah menjadi “kurang begitu baik” sebagaimana kita sekarang (jika tidak dapat dikatakan lebih buruk/merugi/celaka, sebagaimana konsep di surat Al Asr), sedangkan Allah telah menyiapkan seseorang yang jauh lebih baik, untuk dunia maupun akhirat kita.

Kalau mau dianalogikan secara mudah, kita ambil contoh seorang ibu yang amat cinta kepada anaknya, si anak bisa jadi menginginkan banyak hal, dan ibu yang bijak tidak akan serta merta memberikannya, ia akan memilihkan yang terbaik untuk anaknya. Si anak maunya makan permen terus, namun terkadang si ibu memberikan pilihan makanan sayur bayam (jadi ingat kisah si Popaye the Sailorman :) )

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 216)

Dan bukankah Allah amat cintanya kepada kita,

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa': 29)

Dan terkadang kita suka sering bersifat sok “lebih tahu” dibandingkan Allah. Padahal Allah-lah Zat yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Semoga kita bisa bercermin kepada Nabi Yusuf as, ketika ia telah mengalami banyak cobaan besar dan ujian yang berat, bukan hanya sehari maupun dua hari, namun tahunan, dengan pilihan-pilihan yang terbatas. Coba kita renungi kembali perjalanan Nabi Yusuf as yang mengandung banyak hikmah/pelajaran, dan dengarkan apa yang beliau katakan,

Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)

Makanya, saya baru “ngeh” dengan kisah Bilal bin Rabbah ra, yang kalau melamar seseorang, dia berkata (potongan akhir kalimatnya yang berbunyi kurang lebih), “jika engkau menerima, kami ucapkan Alhamdulillah, dan jika engkau menolak, kami ucapkan Allahu Akbar

Ingat satu hal, “Pejuang Cinta Takkan Pernah Kalah”, karena orientasi cinta yang ada di dirinya adalah orientasi cinta yang menembus awan dunia dan bermuara pada cinta kepada Rabbnya. Semoga kita bisa menjadi “Pejuang Cinta Sejati”… amin

*is kariman aw mutsyahidan, keduanya adalah pilihan cinta yang sama-sama indah…

*untuk yang pernah bersedih karena “cintanya telah menang”, bergembiralah merayakan cinta, dan sambutlah (cari, -red) cinta yang telah Ia siapkan untukmu ^-^