Beberapa ratus meter lagi aku akan sampai ke kilometer 25. Sang mentari tengah berada di puncak kekuasaannya. Terik. Motor Ninja warna hijauku menderu pelan. Menepi sejenak dari jalan nan panjang.
"Bu, minta minuman dingin satu ya", sahutku setelah melepaskan helm dan sarung tangan.
Membuka lemari pendingin berpintu kaca di depan sebuah warung yang dijaga seorang ibu tua. Aku tersenyum kecil kepadanya.
Ku rebahkan diri di anyaman bangku kayu, menggenggam sekaleng minuman ringan yang dingin. Menggenggamnya erat, coba menikmati dingin yang menjalari telapak tangan. Menegaknya cepat, berharap kan bisa mendinginkan kegerahan yang menyelimuti.
"Oalah, ternyata cah ayu toh yang naik motor besar ini. Kirain siapa", sang ibu terkekeh. Aku menyeringai pelan. Tetap asyik dengan minumanku.
Angin datang menggoda, menggoyang-goyang ujung jilbab krem-ku.
Tak terasa, sudah 25 kilometer aku melaju. Melintasi jalan berbatu, berkerikil, namun terkadang menikmati jalan aspal yang meningkatkan adrenalin tuk memacu kendaraanku cepat, jalanan halus tanpa hambatan.
Aku ingat di dalam perjalanan tadi, melewati beberapa tempat-tempat yang indah mempesona, aku membuka helm tuk dapat menikmati segarnya angin yang ada disana. Bersyukur atas kenikmatan yang bisa kureguk. Sepertinya bisa menjadi memori indah, penguat hari-hariku.
Akupun teringat bahwa dalam perjalanan tadi, melewati beberapa tempat yang buruk dan jalanan yang sulit, aku perlu banyak konsentrasi dalam mengendalikan Ninja hijauku melewati jalan itu. Hujan menerpa, dingin menyiksa. Ah, namun aku bisa tersenyum sekarang jika mengingat itu semua, karena hal itu telah dapat kulalui dengan kesabaran yang indah. Hikmah yang bisa kujadikan pelajaran dalam catatan perjalanan. Semoga bisa menjadikan diriku menjadi pengendara yang lebih baik.
Berhenti sejenak di tempat rindang ini membuat hatiku nyaman. Aku membuka tas ransel, mengambil peta yang ada disana, melihat arah kompas, dan mengurutkan garis jalan dengan jari tangan, jauh ke titik tujuan perjalanan.
Berhenti sejenak membawa banyak manfaat, aku bisa mengukur telah sejauh mana aku melaju, dan bisa mengorientasikan kembali arah perjalananku, apakah aku perlu menyusun rute baru?
Ah, bagaimanapun juga, tujuan akhir perjalanan ini yang ku tuju. Sebuah negeri yang hanya berisi kebahagiaan tanpa kedukaan. Negeri keindahan. Semoga kan sampai ke sana... Insya Allah (amin)
----
16082008
-ipin4u-
Sebuah hadiah untuk Meura Hannan yang milad tanggal 17 agustus nanti
"Semoga sisa umurnya barokah ya"
Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)
Cek artikel penjelasannya di: Menjadi Orang Asing di Dunia <-- klik aja langsung
16 August 2008
[cerpen] Di KM 25 Aku Berhenti Sejenak
15 August 2008
[cerpen] Ketika Aku Mulai Menyukai Teh Hangat
Bel pintu apartemenku berdenting khas. Aih, siapa lagi ini. Malas aku beranjak dari peraduanku.
"Pergilah, aku tidak ingin diganggu malam ini", ku benamkan tangis sepuas-puasnya.
***
"Hai, aku tetangga barumu", lelaki bertubuh tinggi, berbahu bidang itu menyapaku, ia membawa kantong coklat belanjaan. Matanya hitam, rambutnya tebal, senyumnya renyah.
"Semoga engkau betah disini", aku mencoba keras tuk dapat membalas senyumnya.
"Oh ya, sudah kau baca undangan minum teh-ku. Kemarin malam aku melihatmu masuk, aku sudah coba nge-bell pintumu berkali-kali, tapi sepertinya ngga ada jawaban"
"Mungkin aku sudah tertidur", kataku setengah berbohong, aku sebetulnya tidak suka berbohong, karena kebohongan merupakan salah satu ciri dari orang munafik, begitu teman wanitaku pernah berkata, ya, namun aku tidak terlalu berbohong kok, memang waktu itu aku sedang berbaring di tempat tidur, cuma belum memejamkan mata aja, dan asyik larut dalam duka, menangis, mungkin bengkak mataku masih bisa terlihat sekarang.
"Baiklah kalau begitu, jangan lupa ya, aku harap nanti sore kamu bisa datang ke apartemenku, aku sudah mengundang pula beberapa orang, sekalian biar bisa kenalan dengan penghuni yang ada"
Aku membungkuk mengambil koran yang biasa di letakkan di depan pintuku.
"Akan ku usahakan", aku menutup pintu, ternyata ada selembar kertas berwarna biru di lantai sebelah dalam pintu. Undangan minum teh.
***
"Selamat datang, silakan masuk", ujarnya ramah. Aku memasuki ruangan berwarna dominan krem, sofa berwarna biru menarik perhatianku, ada tempat meletakkan kaki berbentuk bola yang ada di depannnya, terlihat sangat menggoda, empuk pastinya. Beberapa foto wisuda dirinya terpampang di salah satu sudut ruangan, diapit keluarganya, ia tampak bahagia. Sepertinya bukan universitas di dalam negeri.
"Tetangga yang lain tidak bisa datang, tapi nanti ibuku akan hadir kok sebentar lagi, tunggu dulu sebentar ya", dia masuk ke dapur.
Aku mengangguk. Entah kenapa aku mau menghadiri undangannya. Mungkin karena rasa sungkan karena telah berbohong pagi tadi. Padahal aku tidak suka teh, aku suka kopi.
Di tangannya ada senampan kue, bolu kukus, kesukaanku, entah sudah berapa lama aku tidak memakannya, teringat terakhir kali aku menikmati bolu kukus ketika liburan ke rumah mama di Jogya, setahun lalu.
"Ehum, enak, beli dimana?", sembari mengunyah separuh potongan bolu kukus berwarna putih susu.
"Aku tidak membelinya, aku masak sendiri", hampir-hampir aku tersedak.
"Iya, aku biasa kok masak. Maklum dulu waktu kuliah jadi terbiasa masak sendiri. Mahal euy klo beli jadi"
Aku tersenyum, sepertinya jatuh cinta, ah tidak, aku tidak gampang jatuh cinta, mungkin hanya simpati saja. Terdengar pintu kayunya diketuk beberapa kali.
"Mungkin itu ibuku", ia bergegas bangun dari kursi.
"Oh ya, berapa nomor handphone-mu?", tanya pria bermata hitam dan berambut lebat, tetangga baruku.
"Cuma satu, kan aku cuma punya satu handphone saja", jawabku asal.
"Huuuu, klo kamu ngga pake jilbab, udah aku jitak nih"
Aku menyebutkan rangkaian nomor telponku, "kosong delapan lima enam, sembilan delapan delapan sembilan..."
"Berapa nomormu?", aku balas bertanya, mengeluarkan hanphone dari kantong celanaku.
"Nomor yang CDMA atau yang GSM?"
"Yang CDMA aja deh, biar lebih irit klo mau telponnya", aku menyeringai.
"Kalo yang CDMA belum ada, aku cuma punya satu nomor GSM aja", katanya tertawa.
Sebal, ternyata dia ngerjain aku juga. Aku turut tertawa.
Aku belum pernah mengalami sore yang begitu berkesan seperti hari ini. Kami melalui sore minum teh dengan perasaan yang berbeda. Ibunya merupakan wanita yang luar biasa, aku betah ngobrol lama-lama dengannya.
"Oh ya, kalau kamu tidak terlalu suka dengan teh, kamu bisa mencoba dengan memberikan susu kental manis di dalamnya. Rasa teh hangat itu bisa membuat ringan hatimu lho", ucapnya sambil mengantarku ke pintu ketika akan berpamitan.
"Ok, mungkin besok pagi aku akan mencobanya. Terima kasih atas teh-nya"
"Terima kasih atas keceriaanya", ia tersenyum. Manis..., dan hangat.
Sepertinya.., aku akan berpindah jadi penyuka teh nih. Lidahku berbisik pelan, tak bersuara.
---000---
Syamsul Arifin
16082008
*melanjutkan ceritanya Desi "Ketika Aku Mulai Membenci Kopi" ^_^
11 August 2008
[flash fiction] Saat Ku Berpaling
Sayang, ingat tidak, ketika dulu kamu menerobos masuk ke dalam taman hatiku, menggores cat yang ada di dalam dinding jiwaku, menaiki batas pagarku, membuka pintu rumahku, memasuki ruang ternyaman yang ada disana? Aku ingat, engkau bahkan tidak canggung dan ragu, untuk membuat teh hangat dari dapurku. Sambil menikmati saluran tivi yang kau suka, kamu meluruskan kaki tenang, duduk di empuknya sofa merah marunku.
Kali ini, kau tinggalkan diriku, ketika aku sedang sibuk mengumpulkan kepingan hati yang kau pecahkan. ketika aku sedang mencoba, menegakkan kembali, runtuhnya harapan dalam kebekuan.
Katakanlah sayang, bahwa aku ini adalah bunga tidurmu. Katakanlah sayang, bahwa aku ini adalah cinta sejatimu. Ingatkah sayang, tatapan mataku dulu, yang penuh bersinar, dimanjakan kata-kata manis yang terangkai indah, dari dirimu, hanya untukku, dahulu?
I had enough. Passing all those dark tiring moment with you. I had enough. Passing all this dark tiring moment with you.
---000---
11082008
-ipin4u-
*Salah satu prosa ngga bermakna lagih nih maaf ya
Inspirasi: "Racun Hidupku"nya The Fly
Sadarkah kau sayangku
Dirimulah racun hidupku
Ingatkan tataplah mataku
Kau silaukan dengan kata manismu
Cukup sudah ku bertahan
Lalui detik-detik yang kelam
Bila kau kembali padaku
Saat itupun ku kan berpaling
10 August 2008
[flash fiction] Cerita Tentang Engkau dan Dia
"Berhentilah berlagak seolah-olah engkau kehilangan diriku"
"Karena kita ngga pernah bersatu. Aku tidak pernah menjadi milikmu, tidak dulu, dan tidak pula saat ini", suara lembut itu bergema dalam ingatan di kepala.
***
Aku senang menanti update-an mading fakultas kita. Tiap awal bulannya. Engkau suka menulis disana. Mengisi kolom cerpen dan sastra. Keahlian yang membuatku terpesona.
Engkau sering menulis tentang diri kita. Tentang hal-hal sederhana yang kita lalui bersama. Tentang hujan yang menerpa perjalanan sore kita. Tentang langit malam tanpa bintang yang kita tatap berdua. Tentang kekonyolan-kekonyolan yang kita lalui bersama. Tentang tawa dan air mata yang kita bagi bersama. Meski kita tidak pernah berbicara tentang cinta. Tidak sekalipun jua.
Hari ini aku membaca cerpen yang berbeda. Cerpen yang berkisah mengenai pria pecinta jazz, musik yang engkau suka. Pria yang suka minum kopi, juga minuman yang engkau suka. Pria yang pandai memainkan biola, alat musik yang bisa membuatmu terdiam dalam kagum. Aku yakin sekali, bahwa engkau tidak sedang berbicara tentang diriku. Entah kenapa, aku merasa kecewa.
Engkau telah berarti sangat istimewa bagi diriku. Telah menempati bagian terdalam dari palung hatiku. Ingatkah dulu, ketika aku bertutur mengenai mimpi kelam yang sering menghantui tidurku. Sekarang mimpi itu sudah tidak pernah lagi hadir di malam-malamku. Engkau telah menerangi mimpiku dengan kehadiranmu.
Aku mengenal dirimu. Engkau bilang cerpenmu adalah diari kehidupanmu. Dan kali ini, aku harus bisa tegar menerima kenyataan pahit. Bahwa dibandingkan diriku, engkau lebih memilih dirinya.
---000---
10082008
Syamsul Arifin
Prosa yang terinspirasi dari tulisan-tulisannya F Mutia, Afifa Afifa, Desi Puspitasari, dan lirik lagu "Tentang Aku Kau dan Dia"nya Kangen Band ^_^
Penyanyi laki-laki:
Kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia
Membuat hatiku smakin terluka
Sudah usai sudah, cerita engkau dan aku
Ku anggap sebagai bingkisan kalbu
Penyanyi perempuan:
Tulis cerita tentang aku dan dia
Sehingga membuatmu terluka
Sudah usai sudah, jangan menangis lagi
Kurasa sampailah disini kasih
Maaf ya klo prosa kali ini ngga ada maknanya ^_^
09 August 2008
Dealing With Bitter Criticism *
Da`iyah and Scholar - Saudi Arabia
Almighty Allah says:
(On that Day [of Judgment], you shall be exposed to view — no secret of yours shall remain hidden.) (Al-Haqqah 69:18)
On the Day of Judgment, all worldly worries and concerns will be incomparable to those of that day. What are our main concerns in this worldly life? They are social status, prestige, fame, income, wealth, mansions, and children. They all become nothing when one stands before Almighty Allah on the Day of Judgment. Bearing this in mind will make you indifferent to how people should treat you.
Those who are ignorant have uttered curses at Almighty Allah, the Creator of all that exists. So, what treatment can you, as a human being, expect from people? You will always have to face criticism, which, in its onslaught, is like an interminable war that shows no sign of an end. As long as you shine, give, produce, and have a positive effect upon others, disapproval and condemnation will be your lot in this worldly life. This is made clear in the following verse:
(Or do they envy the people for what Allah has given them of His grace?) (An-Nisaa' 4:54)
Unless you manage to escape from people by finding a tunnel under the ground or a ladder leading up to the sky, people will not desist from censuring you and exposing even a minor fault in your character. As long as you are from the denizens of earth, expect to be hurt, insulted, and criticized.
Here is something that you should contemplate: A person who is sitting on the ground does not fall, and people do not kick a dead dog.
Therefore, people's anger toward you can be attributed to you surpassing them in righteousness, knowledge, manners, or wealth. In their eyes, you are a transgressor whose wrongs cannot be atoned for, unless you abandon your talents and strip yourself of all praiseworthy qualities, so that you become stupid, worthless, and to them, innocuous. This result is exactly what they want for you.
So, remain firm and patient when facing their insults and criticism. If you are wounded by their words and influenced by their attitude, you will have helped them realize their very hopes. Instead, forgive and show them the most beautiful of manners; turn away from them, and let not their schemes distress you. Their disapproval of you only increases your worth and merit. Certainly, you will not be able to silence them, but you are able to bury their criticisms by turning away from them and dismissing what they have to say. Almighty Allah says:
(Say, "Perish in your rage; surely Allah is Aware of what is hidden in the breasts.") (Aal `Imran 3:119)
In fact, you will add to their rage by increasing your merits and developing your talents. However, if you desire to be accepted by all and loved by all, then you desire the unattainable.
-----------------------------------
* This article has been taken with modifications from the author's book Do Not Be Sad.
Sheikh `A'id Abdullah Al-Qarni is a prominent Saudi scholar and da`iyah. He has his doctorate in Hadith. He has made many audio lectures and a number of TV programs about different Islamic and Da`wah-related topics.
Source: IslamOnline.net
06 August 2008
Ukur Sendiri Arah Kiblat Anda Pakai Google Earth
Caranya begini: anda gunakan google earth. Kalau belum ada, silahkan download saja dulu di erath.google.com. Tenang saja, google earth itu gratis.
Pertama yang harus anda lakukan adalah mencari masjid anda dari atas 'langit', tentu cari dulu kota di mana anda tinggal. Dalam hal ini anda dituntut harus 'melek' peta kota anda.
Setelah ketemu, yang perlu anda lakukan adalah menancapkan penanda di masjid itu. Nama tombolnya Add PlaceMark. Jangan lupa beri nama masjid itu, misalnya 'masjidku'. Maka nanti akan tercatat di sebelah kiri halaman.
Langkah selanjutnya, anda cari kota Makkah. Kali ini lebih mudah, karena di menu sebelah kiri bagian atas sudah ada form untuk melakukan pencarian. Tuliskan kata 'Makkah' dan klik. Maka software itu akan memutar bola bumi langsung ke arah kota Makkah di Saudi Arabia. Carilah masjid Al-Haram dari 'langit'. Mudah saja kok, karena gedungnya cukup besar dan menarik perhatian.
Sekali lagi tandai masjid itu dengan Add ReplaceMark dan namai masjid Al-Haram. Nama itu seharusnya muncul di menu sebelah kiri di bawah menu 'masjidku' yang sudah anda buat tadi.
Sekarang carilah menu 'ruler' di bagian atas halaman, anda bisa pilih skala besarannya dengan kilometer. Klik menu itu lalu geser mouse tepat di atas masjid Al-Haram, klik dua kali di situ sehingga meninggalkan sebuah titik berwarna hijau. Geser mouse ke menu sebelah kiri dan klik dua kali ke menu masjidku. Maka software itu akan kembali membalik bumi ke arah masjid anda dengan membawa juga garis lurus berwarna kuning.
Terakhir, klik dua kali tepat di atas masjidku dan saat itu juga anda bisa lihat apakah masjid itu menghadap lurus ke Ka'bah atau tidak. Bahkan anda juga bisa tahu berapa jarak tepatnya antara masjid itu dengan masjid Al-Haram. Bahkan dalam ukuran meter dan centimeter.
Ini adalah contoh hasil pengukuran arah dan jarak dari masjid di depan rumah kami ke masjid Al-Haram di Makkah. Garis kuning itu menunjukkan arah masjid sudah benar dan ternyata jaraknya 7.912, 49 km sampai tepat di atas kubahnya.
Tertarik? Mengapa tidak dicoba sekarang?
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/8212233531-kiblat-musholla-menyimpang-15-derajat.htm
Aslinya, artikel ini untuk menentukan arah kiblat masjid lokal di daerah anda, namun bisa juga digunakan untuk menentukan arah kiblat di titik mana saja yang anda inginkan ^_^
*tinggal ganti ajah kata masjidku dengan titik/tempat yang anda inginkan.
Selamat Mencoba ^_^
04 August 2008
[cerpen] Denting Piano
"Tring.., ting.. ting...", denting suara piano kembali terdengar. Menerobos kamar di lantai dua rumah kost-an ku. Suara yang selalu ku nanti. Suara yang selalu bisa membawaku terbang tingi, menikmati empuknya awan, terbang jauh, diayun gelombang laut yang menenangkan. Denting suara yang bisa menghapus kedukaan, membawa kegembiraan, dan melupakan sejenak segala sesak yang menghimpit tenggorokan.
Aku berhenti sejenak di sebuah rumah dengan pagar kayu yang tingginya hanya sebatas paha. Rumah yang mengantarkan denting piano ke kamar kostku di seberang jalan. Di halaman rumah yang penuh berisi pot-pot tanaman rapi berjajar itu, ada seorang gadis yang duduk di kursi anyaman rotan, menikmati mentari senja yang lemah bersinar. Kutanya kepadanya,
"Hai.., apakah engkau tahu siapa yang memainkan piano yang selama ini sering ku dengar?". Gadis itu tersenyum.
"Apakah itu permainan pianomu?", tanyaku lebih lanjut. Sang gadis mengangguk. Ia meletakkan majalah yang ia genggam.
"Engkau suka dengan permainan pianoku?", tanyanya.
"Aku sangat suka sekali", jawabku antusias.
Ia hendak masuk ke dalam rumah, melewati sebuah pintu besar berukiran, sebelum akhirnya berkata,
"Kalau engkau mau, engkau bisa ikut masuk dan mendengarkanku memainkan piano". Aku mengangguk cepat, lalu kemudian mengiringinya.
Kini, sang gadis pemain piano itu telah menjadi istriku. Aku merasa sangat bahagia sekali, karena bisa menikmati alunan simfoni yang ia mainkan di setiap hariku. Kebahagiaan yang tidak bertahan lama. Lambat laun, setiap lagu dan nada yang dulu membuai diriku, mulai terasa tidak lagi terdengar merdu di telinga. Pujian yang dulu ku berikan, hampir tidak pernah lagi terlontar dari lisanku, tidak seperti waktu dulu, ketika aku sangat menginginkan dia tuk menjadi pasangan seumur hidupku. Aku rasa, aku mulai kehilangan alasan tuk tetap bersama dirinya.
Di perjalanan sepulang kerja, menuju rumah yang telah dibangun sang gadis pemain piano yang kini telah menjadi istriku, aku mendengar sebuah alunan piano yang berbeda. Terdengar menggoda. Sampai ia memaksa diriku tak pulang ke rumah lagi malam itu. Aku berdiri di depan rumah yang mengeluarkan dentingan indah piano yang baru kudengar sore tadi. Melupakan sang gadis pemain piano yang telah menantiku di rumah, yang dulu telah mengizinkanku tuk masuk ke dalam rumahnya, yang aku telah menghabiskan waktu yang lama bersama dirinya. Melupakan semua janji yang dulu pernah kulontarkan kepadanya, bahwa aku akan setia menemaninya, setiap malam mendengarkan permainan pianonya, sampai kami tua bersama.
Aku mendengarkan permainan indah piano tersebut, sampai pagi datang menjelang. Pagi datang menjelang, sedang hari itu hari kantor, aku harus berangkat kerja lagi, batinku bergumam. Aku membalikkan langkah, memutar arah dari menuju rumah, kembali ke kantor. Begitu terus terjadi selama tiga hari berturut-turut.
Sampai pada hari yang ketiga, seperti biasa, aku berhenti di depan rumah permainan piano baru yang mempesonakanku. Dari dalam rumah tersebut, terdengar sebuah percakapan.
"Aku masih tetap sangat suka sekali dengan permainan pianomu", suara lemah seorang lelaki terdengar, sepertinya ia sudah tua, batinku bergumam.
"Dan aku juga tidak pernah bosan memainkan piano ini untukmu", terdengar jawaban lemah dari dalam, sepertinya yang memainkan piano, yang membuatku tidak pulang ke rumah malam ini, adalah seorang nenek tua yang sedang memainkan piano untuk suaminya, yang juga sudah tua renta.
"Sudah hampir empat puluh tahun kamu memainkan lagu yang sama, lagu yang selalu dapat membuatku terpesona", kata sang pria tua.
"Dan sudah hampir selama itu pula engkau mendengarkanku, dan selalu setia mendampingiku memainkan lagu ini", jawab sang wanita tua.
"Sudah berlalu berpuluh-puluh musim hujan yang deras dan musim panas yang gersang, dan kita tetap masih saja bisa menikmati lagu yang sama", hahahaha, tawa mereka terdengar sampai ke tempat aku berdiri.
Aku tersentak. Lantas segera beranjak pulang. Ku temui rumah sang gadis pemain piano yang kini menjadi istriku, dalam keadaan gelap gulita. Aku mengetuk pintunya, kuat-kuat, namun tidak ada jawaban dari dalam. Ku dobrak paksa, namun ternyata, sudah tidak ada lagi piano kutemui disana. Dan juga, sudah tidak aku temui lagi sang gadis pemain piano yang dulu mempesonakanku, sang gadis pemain piano yang telah setia memainkan nada yang mempesona dalam setiap hari-hariku, sudah menghilang dari rumahnya.
Tanpa sadar aku telah menghancurkan hidupku, dan hidup sang gadis pemain piano itu. Ia telah berkorban banyak untukku, menyerahkan kepercayaannya kepadaku, bahwa hanya aku yang boleh mendengarkan dia memainkan permainan piano indahnya. Menghianati janjiku. Janji kepada bapaknya, dan janji kepada Tuhanku.
Aku bimbang. Apakah aku harus mengejar sang gadis pemain pianoku, yang telah menjadi istriku, ataukah..? Tanya berkelabat dalam dada, yang telah dipenuhi tipu daya.
04082008
-ipin4u-
Untuk sebait doa dalam dada, "Ya Rabbi, terangilah hati kami dengan ma'rifat kepadaMu, hidup suburkan dada kami dalam keimanan kepadaMu, lapangkanlah dada kami dengan ketawakalan kepadaMu"
03 August 2008
[puisi] Aku juga Butuh Cinta
Kenapa engkau hanya mengatakan cinta kepadanya..?
Kenapa tidak engkau katakan cinta kepada diriku pula..?
Kenapa ketika engkau berbicara cinta, bayangan yang selalu muncul di benakmu adalah bayang sang kekasih yang seusia dan cantik rupa..?
Kenapa tidak muncul gambaran diriku yang menggigil kedinginan diterpa hujan sore tadi..?
Kenapa ketika engkau mengungkapkan cinta, yang engkau lakukan adalah membeli coklat dan setangkai bunga yang harum baunya..?
Padahal terkadang, yang kubutuhkan adalah cukup dengan engkau menyeka air mata yang mengalir terus dari mata..?
Kenapa engkau berbicara cinta layaknya seorang bocah kecil yang terkena propaganda cinta picisan telenovela..?
Kemana cinta yang universal buat kami semua..?
Buat bocah-bocah yang berdiri di jalan raya
Buat anak-anak yang telah ditinggal wafat orang tuanya
Buat ibu-ibu tua yang kesulitan menyalakan kompor dapur karena tidak memiliki suami di samping mereka yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
Kemana cinta buat diriku..?
Wahai pria yang mengaku pujangga cinta...
03082008
-ipin4u-
*ketika bayangan anak-anak jalan berkelebat di kepala, dan artikel seruan kepada pemuda Islam-nya DR Yusuf Qardhawi terangkat kembali ke permukaan kepala*
Hiks, tertampar pemikiran sendiri... T_T Astagfirullah hal adzim...
Bersikap Lemah-lembut terhadap Kaum Muslim
Membaca artikel berjudul “Menghadirkan Keagungan-Nya” di kolom Oase Iman Eramuslim.com, diri ini langsung teringat pada salah satu kisah dalam episode perjalanan hidup Rasulullah SAW.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "
Sebuah kejadian yang saya rasa jauh lebih besar dari sekedar suara ringtone handphone yang mengganggu kekhusu’an. Coba bayangkan, sebuah perbuatan yang bahkan seharusnya dilakukan di tempat tersembunyi, dengan meninggalkan jejak najis besar di dalam sebuah bangunan suci tempat kaum muslimin melakukan sujud menghadap Tuhannya. Luar biasa.
Hal ini menunjukkan pengajaran yang luar biasa dari sosok yang sangat luar biasa, Rasulullah Muhammad SAW, mengenai kaidah-kaidah berda’wah, petunjuk mengenai etika bergaul/berinteraksi dengan
Entah apa yang akan terjadi jika
Ibunda kaum muslimin, Aisyah RA, juga telah menyampaikan pesan moral pelajaran mengenai kelemah-lembutan ini kepada kita.
Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah-lembut dan mencintai sikap lemah-lembut. Allah memberikan sesuatu dengan jalan lemah-lembut, yang tidak dapat diberikan jika dicari dengan cara kekerasan, juga sesuatu yang tidak dapat diberikan selain dengan jalan lemah-lembut itu." (Riwayat Muslim)
Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya sikap lemah-lembut itu tidak menetap dalam sesuatu perkara, melainkan ia makin memperindah hiasan baginya dan tidak dicabut dari sesuatu perkara, melainkan membuat cela padanya." (Riwayat Muslim)
Dan sebagai seorang muslim, tentu akan sangat jauh lebih baik andaikata kita mampu bersikap lemah lembut terhadap sesama, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali-'Imraan: 159)
Cintai mereka, dekati mereka, dan jangan buat mereka menjauh dengan sikap negatif yang melekat pada diri kita, maafkan mereka, doakan mereka, mohonkan ampunan bagi mereka, dan bersikap lemah-lembutlah kepada mereka.
Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Berikanlah kemudahan dan jangan mempersukarkan. Berilah kegembiraan dan jangan menyebabkan orang lari." (Muttafaq 'alaih)
---000---
3 Agustus 2008
Syamsul Arifin*
Yang sedang belajar... *mohon kritik, komentar dan saran perbaikannya*
02 August 2008
[puisi] Panggilan Cinta
adakah yang lebih indah dari pada panggilan cinta..?
adakah yang lebih indah dari pada perjumpaan rindu..?
hamba datang memenuhi panggilanMu ya Rabbi
indah panggilanMu mengusik hati
menyesal hatiku jika menghiraukannya
hamba belum sanggup mendatangi baitullah di Bakkah (Mekah)
namun saksikanlah bahwa hamba tetap beserta orang-orang yang berserah
hanya kepadaMu
dan hanya untukMu...
02082008
-ipin4u-
Pelangi Senja
Aku melihat pelangi bertengger di langit sore
Merah, kuning, biru dan bahkan warna jingga yang ada disana, indah memukau hati
Aku berkata pada diriku sendiri
Alangkah bagusnya jika ku ambil satu pelangi itu untukku
Mungkin hatiku bisa dipenuhi rasa bahagia jika dapat memiliki sang pelangi
Diriku menjawab
Ipin, pelangi yang indah memukau di ujung langit sana, belum tentu seindah itu pula jika engkau memandangnya dari dekat
Ia hanya berupa bias cahaya yang menerobos rintik hujan
Engkau sudah pernah melihat pelangi
Dan engkaupun tahu, berapa lama sang pelangi mampu mempertahankan keindahannya
Bersabarlah sejenak
Birunya langit, cerahnya mentari, dan sejuknya hembusan angin, kan menjadi kawan seperjalanan yang bisa sangat membahagiakan
Setia menemanimu meniti langkah dalam berbagai kondisi perjalanan
Langit biru, cerah mentari, dan angin yang berhembus sejuk, kan menguatkanmu melalui waktu-waktu yang sulit mencekik, memberi warna cerah hari-hari bahagiamu, menggenggam erat tanganmu melalui jalan mendaki dan menurun, berkelok dan berliku
Bersama dirinya menuju senja, saling mengisi dan menguatkan, menggapai kebahagiaan
Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba sedikit bersabar, aku berkata
Aku akan lebih memilih langit biru, cerah mentari dan sejuk hembusan angin, ketimbang pelangi sore yang menggiurkan
Bantulah aku tuk menguatkan hatiku
Diriku menjawab
Dengarlah perkataan manusia mulia yang engkau harapkan perjumpaannya berikut:
Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokan seorang wanita, Allah akan mengganjarnya dengan limpahan iman yang terasa manis di dalam hatinya*
Sesungguhnya (sulitnya) beriman dengan penuh kesabaran adalah seperti (penderitaan) dipanggang di atas bara api. Engkau suka ataupun tidak, sama saja**
Beruntunglah mereka yang mempercayai janji-janjiNya, dan sungguh Ia maha menepati janji
Dan aku, sungguh sangat berharap kebaikan yang banyak untuk dunia dan akhiratku (amin)
02082008
-ipin4u-
*Rasulullah Muhammad SAW
**Ibnu Qayyim al-Jauziy di buku Shaidul Kathir