Sarah El Hurriyah
Perempuan
Lahir: Balikpapan, 2 Januari 2011
Ayah: Syamsul Arifin
Ibu: Ridha Innatika
Umur saat ini, 1 tahun
Kemampuan: sudah bisa jalan dan "ngobrol" ^_^v
Oleh-oleh dari lapangan kemarin, ada beberapan pelajaran yang patut (saya) resapi.
Miliki Visi
Tinggal sekamar sama seorang pekerja yang baru berpindah posisi kerja, sebelumnya sebagai operator operation ke marine specialist. Dan bukan hanya pindah posisi kerja saja, tapi juga pindah rumah. Dari Balikpapan ke kota Malang. Dia bilang ada 3 alasan kenapa pindah rumah: pertama, untuk pendidikan dia dan istri –beliau sedang menyelesaikan kuliah S1-nya, kedua, untuk pendidikan anak-anaknya (ya suka-atau ngga suka, sekolah2 di Jawa lebih baik ketimbang di luar pulau Jawa, iklim kompetisi, sumberdaya pengajaran, dll), dan ketiga, untuk pengembangan usahanya, dia bercita-cita tidak ingin tergantung pada pekerjaannya saat ini (yang meskipun sangat mencukup) –ingin sudah siap ketika memasuki masa pensiun nanti (meskipun masih lama) –tapi harus dirintis dari sekarang, daripada nanti dapat uang pensiun tapi malah ketipu orang lain (seperti kejadian pada pensiunan2 yang sudah banyak contohnya).
Ngobrol-ngobrol juga sama operator yang sedang giat-giatnya membangun usaha. Mulai dari punya lapak di food court salah satu mall di Balikpapan sampai usaha mobil rentalnya.
Juga ngobrol-ngobrol tentang karir sama assisten superintendent, yang sudah jelas sekali arahan karirnya kedepannya mau kemana dan karena alasan apa saja.
Saya suka dengan orang-orang seperti itu, karena orang-orang seperti itu hidup dengan jelas, punya visi –gambaran masa depan dirinya. Pertanyaan “mau kemana”, “mau apa”, “bagaimana caranya”, seperti sudah terbayang dikepala.
Bukan hanya sekedar hidup menjalani apa yang ada saat ini, tapi merekalah orang-orang yang bukan hanya memimpikan wujud masa depannya, tapi juga mengusahakan masa depannya.
*jadi inget dah lama ngga update planning rencana hidup –yang udah beradaptasi dengan kondisi perubahan-
Pemimpin Harus Punya Arahan dan Berani Memutuskan
Menurut saya ini yang akan membedakan seorang pemimpin dengan para penakut yang kebetulan aja menjabat posisi atas. Kemampuan untuk mengarahkan anak buahnya dan keberanian untuk memutuskan (bertanggungjawab atas keputusan)-tidak plin-plan (bimbang) diarahin kiri-kanan.
Anak buah juga senang, karena jelas arahannya.
Pemimpin ngga mesti harus menguasai segala hal, yang penting dia berani memutuskan ketika Informasi-informasi yang diperlukan sudah ada. Cukup mengarahkan agar anggota teamnya mencari Informasi yang diperlukan.
Well, semoga kita semua kalau jadi atasan nanti bisa memiliki itu semua, visi, arahan dan keberanian.
---000---
Balikpapan, 9 Januari 2012
Syamsul Arifin
*oleh-oleh dari West Seno field, deep water, selat makasar trip 22 Des ’11 – 6 Jan ‘12
**foto lama di lokasi yg sama
Kayaknya udah hampir 5 tahun lalu saya merasain kerja dengan shift malam (dari jam 6 sore sampe jam 6 pagi). Ngalamin kerja shift-shift malam seperti itu sewaktu dapat penugasan di perusahaan pertama tempat bekerja.
Maklum, namanya juga junior, jadi ditempatinnya di malam hari, karena kalo siang hari, biasanya kerjaan rame (banyak orang). Tapi umumnya senior pada seneng kerja malem, lebih ngga panas dan ngga rame :D
Foto waktu masih di Pandu Selamat Utama, ngasih training rescue bareng senior (genkeis-baju orange paling kiri)
Saat ini, hari ke 4 ngalamin kerja malam, lagi bantuin project pembersihan tanki di lapangan. Tapi kebalik, karena dianggap udah ngerti lapangannya, makanya ditempatin malem hari, padahal mah biasa ajah ngga ngerti2 banget :sttt:
Enaknya kerja malem ya gituh, emang tidak terlalu banyak orang dan ngga terlalu banyak kerjaan, tapi kudu ngelawan rasa kantuk yang sangat dan hawa dingin malam, apalagi kalo angin lagi kenceng ditambahin hujan -kayak malam ini, trus juga siang harinya tidur terpotong-potong (kepotong shalat dzuhur, makan siang), pokoknya mantab deh :D
Lanjut dulu keliling ah...
****
Syamsul Arifin
Selat makasar, 26 Desember 2011, 04.30 am
Meski musim haji sudah lewat, tapi baru sempet bikin coret-coretan ini, sekedar catatan pinggiran baca bab Haji buku Fiqh Sunnah Sayyid Sabiq jilid 1.
Saya mencatat setidaknya ada 3 syarat yang harus dipenuhi agar seseorang yang berhaji dipastikan menyandang gelar haji mabrur. Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi sebelum berangkat, ketika berhaji dan setelah pulang haji.

Pra-Haji
Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika seseorang keluar untuk menunaikan haji dengan biaya yang baik (halal) dan meletakkan kakinya di tempat injakan lalu mengucapkan ‘Labbaik Allahumma labbaik (Aku memenuhi panggilan-M, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu),’ maka suara di langit menjawabnya, ‘Allah telah menerima hajimu dan kebahagiaan bagimu. Perbekalanmu halal dan tungganganmu juga halal, maka hajimu diterima (mabrur) tanpa dinodai dosa.’ Tapi jika dia keluar dengan biaya buruk (haram) dan meletakkan kakinya di tempat injakan lalu mengucapkan, ‘Labbaik (Aku memenuhi panggilan-Mu)’, maka suara di langit menjawabnya, ‘Allah tidak menerima hajimu dan tiada kebahagiaan bagimu. Perbekalanmu haram dan biayamu juga haram, maka hajimu berlumur dosa dan tidak mendapat pahala.”
Al-Mundziri berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam kita Al-Ausath. Al-Ashbahani juga meriwayatkannya dari Aslam, maula Umar bin Khaththab, secar mursal dan singkat. (hal 714)
Diawali dengan permulaan yang baik. Biaya atau Ongkos Naik Haji (ONH) yang dikeluarkan sepatutnya berasal dari sumber yang halal, dan memang sebagai seorang muslim, segala sesuatu yang kita pakai-gunakan-makan haruslah halal dan baik (thoyyib).
Uang hasil korupsi, riba (bunga bank-renternir, dll) akan membuat keletihan beribadah haji menjadi sia-sia –sebagaimana hadits diatas. Kumpulkan ONH dari sumber yang baik, insya Allah, hajinya akan mabrur.
“Sesungguhnya, Allah itu baik dan tidak menerika kecuali sesuatu yang baik.”
Ketika Berhaji
Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ikutilah manasik sesuai yang aku lakukan.” (hal 824)
Entah kita mempergunakan ihram Qiran, Tamattu’atau Ifrad, semua pola beribadah haji tersebut harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Dan yang terpenting juga kita harus menghindari praktek-praktek syirik & bid’ah yang beredar diantara para hajj yang miskin ilmu, sebagaimana saya pernah dengar atau baca (karena saya sendiri belum berangkat ibadah haji).
Pasca Haji
Menurut Hasan Al-Bashri, seseorang dikatakan hajinya mabrur apabila dia kembali dengan menyandang sikap zuhud terhadap dunia dan senang pada akhirat. Dalam sebuah riwayat yang marfu’, sanadnya hasan, dinyatakan bahwa bentuk kemabruran haji adalah memberi makan dan bertutur kata santun. (hal 696)
Balik ke kampung halaman tidak serta merta membuat layak menyanding gelar haji mabrur. Harus ada bekas dari perjalanan jauh yang telah ditempuh dan manasik yang dilakukan, bukan hanya sekedar bekas letih-lelah-batuk, tapi berbekas ke dalam jiwa, mentransformasi akhlak, menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga kita semua bisa mendapatkan kesempatan menjalankan ibadah haji dan juga bisa memperoleh gelar haji mabrur yang dicatat oleh malaikat *amin.
---000---
Balikpapan, 15 Desember 2011
Syamsul Arifin
foto wukuf di Arafah diambil dari sini
Dari Ibnu Abbas RA., dia berkata: Rasulullah SAW. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah kuburan dan yang satunya lagi pada kuburan yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan siksanya, selama belum kering. (HR Muslim)
Sayyid Sabiq di buku Fiqh Sunnah membagi najis menjadi beberapa hal, yaitu:
Kita menyadari bahwa syariat Islam adalah syariat yang sempurna, karena inilah satu-satunya agama samawi (langit) yang terjaga keotentikan sumber dan keilmuannya.
Ketika kini kita mengetahui bahwa ada banyak sekali manfaat dari bersuci/thahara, sudah lebih dari 1500 tahun lalu kaum muslimin mempraktekkan pola hidup higienis dengan mensucikan diri dari najis/kotoran dan mensucikan apa-apa yang dikenainya.
Namun bukan semata-mata karena ingin hidup sehat kita menjauhi najis, tapi sebagaimana ancaman yang tertera pada hadits di awal, kita menjauhi najis guna menjauhkan diri dari derita siksaan kubur –menjalankan tuntunan Rasulullah SAW.
Peringatan ini adalah suatu hal yang serius, buktinya, jika kita mau membuka kitab-kitab fiqh, para ulama akan memulai pembahasan dengan bab mengenai bersuci –gerbang pembuka ibadah kita selanjutnya (shalat).
Semoga kita semua dimudahkan untuk menjaga diri tetap suci, suci dari hadats kecil dan hadats besar; serta suci dari najis maknawi, yaitu dari dosa-dosa, baik dosa batin maupun dosa lahir.
Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari RA., Dia berkata: Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanalloh walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, sholat adalah cahaya, dan sedekah itu merupakan bukti, kesabaran itu merupakan sinar, dan Al Quran itu merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap jiwa manusia melakukan amal untuk menjual dirinya, maka sebagian mereka ada yang membebaskannya (dari siksa Alloh) dan sebagian lain ada yang menjerumuskannya (dalam siksa-Nya).” (HR Muslim)

---000---
Balikpapan, 9 November 2011
Syamsul Arifin
Gambar diambil dari sini