11 October 2007

Khutbah Iedul Fithri 1428 H: Sekali Shaum Tetap Shaum

Khutbah Idul Fithri 1428 H

 

SEKALI SHAUM  TETAP SHAUM

Oleh: KH. DR. Surahman Hidayat, MA

 

 

الله أكبر 9 مرات,  لا اله الاالله والله أكبر الله أكير ولله الحمد.

الحمد لله غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب ذي الطول لا اله الا هو واليه المصير. أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له, له الملك وله الحمد يحي ويميت وهو علي كل شيء قدير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الأسوة الحسنة لمن كان يرجواالله واليوم الآخر. فصلوات الله وتسليماته عليه وعلي آله وآصحا به والذين اتبعوهم بإحسان الي يوم تشخص فيه الأبصار.  أما بعد فياأيها المؤمنون اتقواالله حق تقاته في أنفسكم وأهليكم ليل نهار وفي العلانية والإسرار.

 

 

Allahu Akbar 3 X walillahil hamd

Ma’asyiral Muslimin, jama’ah shalat ‘ied rahimakumullah

Dengan mengagungkan asma Allah, marilah kita bertahmid, memuji serta bersyukur kehadiratNya. Karena atas taufiqNyalah kita telah dapat menuntaskan shiyamu ramadhan sebulan penuh, menyelesaikan qiyamu ramadhan tanpa bolong, merampungkan khatmul quran sekali atau lebih, menunaikan zakatul fithri dan zakatul mal dengan baik, serta mendukungnya dengan shadaqah dan shilaturahim kepada orang tua, guru, saudara, tetangga dan handai taulan.

 

Berkat kebesaran Asma Allah serta keluasan rahmatNya, para shaimin wal shaimat, yang sekaligus para mujahidin wal mujahidat, telah mampu menundukkan hawa nafsu untuk sepenuhnya tunduk diri pada perintah Allah SWT, menetapkan pilihan yang tepat yaitu  ridha Allah meskipun abstrak daripada memperturutkan kesenangan nafsu hedonistik belaka, meski nampak dalam kasat mata berupa tumpukan harta atau kenaikan takhta, sebab tanpa ridha Allah semua itu selain tetap besifat fana juga akan berakhir menjadi bala bencana. Pada hari nan fithri ini Allah kembali mengkaruniakan kepada kita hari yang teramat istimewa, yaumul ‘id hari raya dan bersuka cita, yamul fithri hari kembali secara total pada kesucian fithrah, yaumul jaizah hari pembagian pahala dan piala kepada para alumnus pendidikan ramadhan. Semoga pada hari kemenangan ini kita mendapatkan yang terbaik (al afdhal) dari semua yang Allah sediakan bagi para shaimin wal shaimat, sehingga kita menikmati suasana ‘iedul fithri dengan penuh rasa syukur.

 

WALITUKMILUL ‘IDDATA WALITUKABBIRULLAHA ‘ALA MA HADAKUM WA LA’ALLAKUM TASYKURUN

 

“Dan hendaklah kamu sekalian menyempurnakan bilangan shiyam sebulan penuh, dan mengagungkan asma Allah sesuai dengan petunjukNya, mudah-mudahan kamu sekalian bersyukur” (QS2 al Baqarah:   184)

 

Allahu Akbar 3X walillahil hamd

Dengan rasa gembira bercampur sedih, atau dengan lelehan air mata bahagia kita melepas bulan puasa yang penuh berkah, magfirah serta rahmat Allah. Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat  dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan ‘ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih “shiyamuddahri” , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

 

Dalam rangka meraih nilai shiyauddahri itu maka Rasulullah saw menganjurkan ummatnya untuk melanjutkan shiyamu ramadhan dengan puasa sepekan di bulan syawal. Sebagaimana sabda beliau:

( مَنْ صَامَ رَمَضَان ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر )

“Barang siapa menunaikan shiyamu ramadhan dan diikuti puasa enam hari pada bulan syawal, maka nilainya seperti puasa sepanjang masa” (HR Muslim)

 

Kecuali melanjutkan ramadhan dengan puasa syawal, adalah penting meneruskan jiwa serta moralitas shiyamu ramadhan itu sendiri. Spirit shiyam dan qiyamu ramadhan adalah “imanan wahtisaban”, yaitu al tashdiq wal inqiyad, membenarkan segala yang datang dari Allah baik perintah maupun larangan dan mematuhinya; dengan semata-mata mengharap ridha Allah. Ketika Allah ridha, maka rahmatNya yang tak terhingga akan dicurahkan, kendatipun kita tersalah maka ampunanNya yang tak terbatas akan menutupinya” ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih” diampuni semua dosanya yang telah lalu.   

 

Ramadhan telah mengupgrade pribadi muslim menjadi pribadi mu’min, dari keislaman yang bersifat status atau pengakuan menjadi keislaman komitmen dan kepatuhan. Dengan menghadirkan serta meneguhkan basis iman, setiap muslim mampu menjaga diri dari pelbagai kema’siatan. Seseorang tidak akan melakukan kedustaan/kebohongan dalam bentuk apapun selagi iman bersamanya, tidak ada kriminalitas pencurian atau korupsi dan manipulasi sebesar apapun selagi orang yang tergoda untuk melakukannya masih dikontrol dengan iman, dan tidak bisa terjadi penyimpangan susila oleh siapapun juga yang imannya masih bertahan  di dalam dada.

 

Allahu Akbar 3X walillahilhamd

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Adapun akhlaqiyah atau moralitas ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan paling tidak ada lima:

 

1.      Al shidqu yakni kejujuran.

Kejujuran merupakan bukti paling niscaya bahwa seseorang dalam suasana taqwa. Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة :119)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan pastikanlah kamu sekalian bersama orang-orang yang jujur”

Kejujuran adalah gerbang menuju segala kebaikan, sedangkan ketidak jujuran akan membawa kepada pelbagai penyimpangan dan kejahatan. Orang harus berlatih untuk jujur, sekali dua kali tiga kali dan seterusnya, sehingga ia dicatat oleh Allah sebagai pribadi yang jujur (AL SHIDDIEQ). Kemudian telah ada jaminan dari Allah, bahwa orang jujur akan mujur, sedang yang tidak jujur cepat atau lambat akan hancur. Bukti empirik telah begitu banyak membenarkan korelasi ini.

 

2. Al tathahhur yakni membersihkan diri

Ramadhan memang bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do’anya dikabulkan. Kemudian bersama ‘idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.

Penghasilan yang sudah halal dan thayyib jangan sampai kita campuri lagi dengan yang remang-remang (syubhat) apalagi yang jelas-jelas haram. Puasa ramadhan melatih kita bersabar dan kuat menahan lapar, dan menegaskan bahwa kita tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka.   

 

3. Al ijabiyah, bersikap positif

Sikap positif  menuntut kita untuk selektif dalam memilih lingkungan, dalam mengambil langkah,  kegiatan dan mata pencaharian. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa  sebagai alumnus pendidikan ramadhan, kita tidak melakukan kecuali pekerjaan yang baik, maslahat bagi kehidupan dan tanpa melanggar syari’ah. Sebab puasa yang benar menuntun dan menuntut kita untuk menjauhi “allaghwi wal rafatsi” yakni perkara yang sia-sia dan perkataan yang tidak pantas. Shiyamu ramadhan mendidik pribadi muslim untuk berorientasi kepada nilai, memilih aktivitas yang wajib, atau yang dianjurkan, atau setidaknya yang dibolehkan (jaiz) menurut tuntunan Islam. Dengan begitu insan yang shaim semakin mampu mengambil jarak dengan hal-hal yang makruh, semakin menjauhi yang syubhat apalagi yang haram.     

 

4. Al mujahadah, membanting tulang

Dalam keadaan lapar dan dahaga shiyamu  ramadhan memacu insan beriman untuk lebih giat lagi melakukan aktifitas taqarrub ilallah seperti shalat,  tilawatil quran dan kegiatan yang bemanfaat bagi kehidupan sosial, seperti shilaturahim, infaq shadaqah, mengajarkan ilmu, memberi makanan berbuka bagi yang puasa, bahkan berjihad di jalan Allah menumpas pelbagai bentuk agresi terhadap Islam dan ummat Islam. Wajarlah sejarah mencatat di antara hasil mujahadah ramadhan berupa kemenangan gemilang di perang badar pada tahun ke-2 Hijriyah, pembebasan Makkah (fathu Makkah) pada tahun ke-6 Hijriyah, dan kemenangan perang Amoria yang meluluh lantahkan pasukan Romawi di Byzantium pada tahun 214 H pada masa Al Mu’tashim Billah. Memang semangat ramadhan adalah semangat juang untuk meraih pelbagai kemenangan.

 

5. Mempertahankan surplus spiritual (Al faidhu wal insyirah)

Shiyamu ramadhan mendidik surplus spiritual dan moral, menjaga diri agar tidak terjebak pada kekerdilan jiwa dan kenihilan moral. Mendidik para shaimin untuk mengokohkan jiwanya serta melapangkan dadanya. Dengan menegaskan pada dirinya “inni shaimun” aku ini sedang puasa, ia mampu menggagalkan setiap provokasi negatif yang akan merusak hubungan sosial menjadi konflik yang menghancurkan semua pihak. Bahkan semakin surplus jiwanya insan puasa yang telah memantapkan statusnya sebagai “’ibadurrahman/hamba Allah yang Rahman” sanggup membalas hal-hal yang buruk dengan kebaikan, tarikan negatif dengan ajakan yang positif. Ketika orang-orang jahil yang sedang jadi hamba syetan atau hawa nafsunya menyerang dengan ucapan yang tidak baik, maka hamba Arrahman membalasnya dengan do’a keselamatan. 

 

Allahu Akbar 3X walillahil hamd

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Demikianlah dengan mempertahankan jiwa shiyamu ramadhan  serta moralitasnya, maka kehidupan kita pasca ramdhan selama sebelas bulan akan tetap disinari dengan cahaya ramadhan, sehingga kerahmatan Allah dan maghfirahnya akan  senantiasa diberikan kepada siapa saja yang mampu mempertahankannya. Curahan berkah dari langit selama bulan ramadhan akan berlanjut manakala kita memenuhi faktor-faktor yang menghadirkannya.

Suatu tingkatan ketaqwaan yang telah kita raih  harus kita pertahankan, jangan sampai mengalami degradasi apalagi peluruhan dan peluluhan. Karena hanya dengan ketaqwaanlah kita dapat menggapai kebahagiaan (al falah) yang sesungguhnya, sebagaimana firman Allah dalam banyak ayat:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah supaya kamu sekalian mendapat kemenangan/kebahagiaan” (QS 2/189, 3/130, 200)

 

Adapun fasilitas duniawi berupa harta atau tahta dan fasilitas lainnya, yang diraih tidak melalui jalan taqwa merupakan jebakan (istidraj) yang bila tidak dikoreksi akan terus meluncur dan berujung dengan azab Allah di dunia sebelum di akhirat kelak. Allah telah memperingatkan dengan firmanNya dalam Surah Taubah ayat 55 dan 85:

وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan janganlah kamu silau dengan harta dan anak buah (pengikut) mereka, sejatinya Allah hendak mengazab mereka dengan itu semua di dunia, dan mereka mati dalam keadaan ingkar kepada Allah”

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Dengan memelihara spirit dan moralitas shiyamu ramadhan, insya Allah kita tidak akan mengalami degradasi ketaqwaan apalagi peluruhan hingga tidak berbekas sama sekali. Dan dengan dipertahankannya kondisi ketaqwaan maka keberkahan dapat diharapkan, keberkahan individual dengan ketaqwaan individual, sedang keberkahan kolektif dengan ketaqwaan sosial.  Allah SWT berfirman dalam surah al A’raf ayat 96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa niscaya Kami bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan maka Kami siksa mereka karena apa yang telah mereka usahakan”.

 

Dengan adanya kewajiban da’wah serta amar ma’ruf-nahi munkar, setiap muslim/muslimah harus berupaya menghadiran ketaqwaan sosial di lingkungan masing-masing. Terutama apabila kita mempunyai posisi kepemimpinan di lingkungan tertentu, maka segenap potensi dan fasilitasi yang tersedia harus dikerahkan untuk membangun ketaqwaan/kesalehan sosial. Ini merupakan visi da’wah para anbiya, yang dinyatakan dalam do’a Nabiyullah Ibrahim a.s “RABBI HABLI HUKMAN WA ALHIQNI BISSHALIHIN” – Ya Rabbi, karuniakanlah kepadaku kebijaksanaan dan gabungkanlah aku dengan lingkungan orag-orang soleh. Kemudian do’a Nabi Yusuf a.s “TAWAFFANI MUSLIMA WA ALHIQNI BISSHALIHIN” Wafatkanlah aku dalam keadaan islam dan gabungkanlah aku dengan para solihin. Ketika kesalehan sosial dapat dihadirkan maka kehidupan yang serba baik (hayatan thayyibah) dapat diwujudkan, kemudian “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” menjadi kenyataan.

 

Do’a

Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, telah menciptakan kami selaku hambaMu, Kami telah berjanji kepadaMu dan berupaya menepatinya. Kami berlindung kepadaMu dari keburukan yang telah kami perbuat, kami akan kembali menghadapMu untuk mempertanggug jawabkan segala ni’mat yang telah Engkau berikan, dan kami akan kembali dengan banyak membawa dosa. Maka berilah kami ampunan , karena hanya Engkaulah Dzat yag Maha Pengampun.

 

Rabbana, berikanlah kepada kami kepandaian mensyukuri ni’mat yang Engkau berikan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, agar dengan ni’mat itu kami mampu ber’amal shaleh demi ridhaMu, kami dapat mendidik dengan baik anak keturunan kami, dan masukkanlah Kami dengan kasih-sayangMu kedalam lingkungan hamba-hambaMu yang shaleh di dunia ini dan akhirat nanti.

 

Ya Allah, kami memohon kepadaMu petunjuk yang selalu membimbing hidup kami, ketaqwaan yang senantiasa memperkaya jiwa kami, kebersihan dalam tutur kata,pada harta serta kehormatan kami, serta ketidak tergantungan dalam hidup kami kecuali  kepadaMu.

 

Rabbana, ampunilah segala dosa dan salah kami, segala dosa dan kesalahan kedua orang tua kami, serta curahkan kasih sayangMu kepada kedua sebagaimana mereka telah membesarkan/mendewasakan kami dengan curahan kasih sayangnya 

 

Sumber: www.pk-sejahtera.org

Jump Forward

Ramadhan 28, 1428 H or November 10, 2007 I officially propose my resignation letter at my first professional career company (PT. Pandu Selamat Utama). PT. Pandu Selamat Utama is a service company for oil and gas industry, it main businesses are: H2S Safety Services, Gas Detection/Monitoring, Confine Space, Breathing Apparatus, and stuff like that. I started here on December 15, 2005 as SHE (Safety Health Environment) Officer. I’ve learn a lot and gain big experience here, some are positive and some are negative, but it all needed to make me a better safety professional.

 

I move on to a small company, a production company for oil and gas industry, which is PT. Multi Production Solution (MPS), which have office at Dharmawangsa Square 2nd floor and workshop at Bekasi. To tell you the truth, I take a lot of risk by moving to this company. This company is just established one year ago, it only had one project, and its project is just going to be started at January 2008. I also change my employment status from permanent to one year contract with not different work title, I become HSE Officer at MPS, almost the same from what I become at Pandu.

 

But just like I often said, if you want to be success, you had to dare taking risk and opportunity. Some are fail during its process, but some had big shining victory. The important thing is that we can not feel satisfy with our current condition (this doesn’t meant that we did not gratifying for what we got lho ya), keep gaining more, and sharing more.

 

I will start work at MPS on November 12, 2007. Pray for my success ya… (insya Allah)

09 October 2007

Memaknai Hari Raya Iedul Fitri (Bagian 2)

Oleh Rikza Maulan, M.Ag | 3 October 2007 @ 13:02 | 22/Ramadhan/1428 H | Kategori: Sunnah Nabawiyah

Shalat Iedul Fitri

Shalat Ied (Iedul Fitri dan Adha) hukumnya sunnah mu’akkadah, kecuali madzhab Abu Hanifah yang mengatakannya fardhu kifayah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ* فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ*

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (Al-Kautsar 1 – 2)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى* وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى*

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman). Dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (Al-A’la 14 – 15)

Selain itu, Rasulullah SAW juga senantiasa melaksanakannya dan memerintahkannya termasuk kaum wanita dan anak-anak. Sebab kedua shalat ini merupakan bagian dari sejumlah syiar Islam, juga sebagai wujud dan iman dan takwa.

Berbeda dengan shalat biasa, shalat Ied ini dianjurkan untuk dilaksanakan di mushalla. Namun pengertian mushalla di sini berbeda dengan pengertian mushalla yang menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Mushalla adalah sebuah tempat (lapangan) yang besar yang dapat menampung lebih banyak kaum muslimin. Dalam riwayat Rasulullah SAW melaksanakan shalat Ied selalu di mushalla, kecuali pada suatu ketika saat turun hujan, maka beliau dan sahabatnya melaksanakannya di dalam masjid. Oleh karenanya jumhur ulama mengatakan lebih afdhal pelaksanaan shalat Ied di mushalla (lapangan), kecuali di Masjidil Haram. Sedangkan Imam Syafi’I mengatakan lebih afdhal di masjid, karena masjid merupakan tempat yang paling mulia di muka bumi. Kesimpulannya shalat Ied boleh dilaksanakan di mushalla ataupun di masjid yang besar yang dapat menampung banyak jamaah.

Adapun waktu pelasanaannya adalah pada saat matahari setinggi dua panah (menurut riwayat hadits). Di sunnahkan pada shalat Iedul Fitri dilaksanakan diakhirkan waktunya, sedangkan untuk Iedul Adha di awalkan. Hal ini agar kaum muslimin yang belum menunaikan zakat fitrahnya pada hari raya Idul Fitri memiliki kesempatan untuk menunaikannya. Sedangkan pada Idul Adha di awalkan, agar lebih cepat memotong hewan qurban agar dibagikan kepada kaum muslimin.

Sedangkan tatacara pelaksanaan shalatnya, dijelaskan oleh Al-Jaza’iri dalam Minhajul Muslim sebagai berikut:

“Hendaknya kaum muslimin keluar menuju tempat khusus untuk shalat Ied sambil takbir, sampai matahari meninggi kira-kira beberapa meter. Ketika itu, hendaklah imam berdiri untuk mengimami shalat Ied (tidak diawali azan maupun iqamat) sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama ia takbir tujuh kali, di luar takbiratul ihram dan makmum mengikutinya. Kemudian ia membaca surat Al-Fatihah dan surat Al’A’la dengan suara keras. Pada rakaat kedua, hendaklah ia takbir lima kali diluar takbir saat berdiri dari rakaat pertama. Kemudian membaca Al-Fatihah dan surat Al-Ghasyiyah atau Adhuha. Setelah ia salam, hendaknya ia bangkit berdiri untuk menyampaikan khutbah kepada jamaah…”

Bagaimana hukumnya dengan orang yang masbuq (terlambat) dalam melaksanakan shalat Ied? Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa ‘Siapa yang tidak mengikuti shalat Ied berjamaah, hendaklah ia shalat empat rakaat. Adapun bagi orang yang masih dapat mengikuti sebagian daripadanya bersama imam, sekalipun hanya tasyahud, hendaknya sesudah ia salah ia berdiri dan shalat dua rakaat sebagaimana lazimnya shalatnya orang yang masbuq dalam shalat-shalat lain.

Setelah selesai pelasanaan shalat, imam bangkit berdiri dan menyampaikan khutbahnya. Hukum mendengarkan khutbah pada shalat Ied adalah sunnah dan tidak wajib. Namun alangkah meruginya bagi yang enggan untuk mendengarkan khutbah pada hari raya kaum muslimin ini. Setelah selesai melaksanakan khutbah, dianjurkan untuk meninggalkan tempat, tanpa shalat sunnah lagi. Karena tidak disyariatkan untuk melaksanakan shalat sunnah baik sebelum maupun sesudah shalat Ied. Dan setelah itu dianjurkan bagi kaum muslimin untuk bersitaturahim dan bermaaf-maafan.

Hal-Hal Yang Dilarang Dan Dimakruhkan Dalam Idul Fitri

Seringkali manusia ‘terlena’ ketika telah mendapatkan suatu kenikmatan atau kesenangan tertentu. Tak terkecuali pada hari raya Idul Fitri, hari yang seharusnya menjadi ‘bukti’ kefitrahan jiwa dan hati kita dari perbuatan dosa. Namun terkadang tanpa kita sadari, beberapa hal yang dilarang atau dimakruhkan justru begitu marak di hari yang fitri ini. Berikut adalah hal-hal yang seyogianya kita hindarkan:

1. Berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan (tabdzir)

Seringkali pada saat hari raya Iedul Fitri, karena begitu banyaknya makanan yang relatif istimewa, kita lupa dengan ‘kapasitas’ perut kita, sehingga terlalu banyak mengkonsumsi makanan. Baik makan besar maupun makan kecil. Sementara Allah SWT telah mengingatkan kita:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf 31)

2. Berlebih-lebihan dalam berpakaian dan berdandan.

Seringkali pakaian yang bagus dan indah yang memang disunnahkan untuk dikenakan pada hari raya Iedul Fitri, menjadikan kita terjebak pada sifat berlebihan dalam berpakaian ataupun berdandan, sehingga terkadang ‘aurat’ tidak terjaga, atau berpakaian terlalu ketat, atau juga terlalu menyolok (baca; tabarruj). Sehingga dosa-dosa yang telah terampuni kembali masuk dalam diri kita. Oleh karenanya, sebaiknya dalam berpakaian tidak melanggar batasan-batasan syar’I, baik bagi pria maupun wanita. Allah SWT berfirman:

وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى

“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab 33)

3. Berjabat tangan antara pria dan wanita yang bukan mahromnya.

Hal ini juga terkadang sering terlalaikan dalam merayakan Iedul Fitri terhadap sanak saudara, tetangga atau teman dan kerabat. Padahal berjabat tangan bagi yang bukan mahromnya adalah termasuk perbuatan yang dilarang. Dalam sebuah hadits digambarkan:

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ عَنْ بَيْعَةِ النِّسَاءِ قَالَتْ مَا مَسَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ امْرَأَةً قَطُّ (رواه مسلم)

“Dari Urwah ra, bahwasanya Aisyah memberitahukannya tentang bai’at wanita. Aisyah berkata, Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh dengan tangannya seorang wanita sama sekali.” (HR. Muslim)

4. Berlebih-lebihan dalam tertawa dan bercanda.

Tertawa, bercanda, mendengarkan hiburan termasuk perkara yang dimubahkan terutama pada Iedul Fitri. Namun yang tidak diperbolehkan adalah ketika perbuatan tersebut berlebihan, sehingga melupakan kewajiban atau menjerumuskan pada sesuatu yang dilarang. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلاً وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (Attaubah 82)

5. Mengulur-ulur waktu shalat.

Dengan alasan silaturahmi atau halal bi halal keluarga besar atau kerabat maupun teman sejawat, seringkali ‘mengulur-ulur’ waktu pelaksanaan shalat. Hal ini juga bukan merupakan perbuatan yang baik. Karena seharusnya kita malaksanakan shalat pada waktunya, tanpa mengulur-ulurnya.

6. Boros dalam pengeluaran uang.

Iedul Fitri juga sering menjadi ajang untuk menghambur-hamburkan uang pada sesuatu yang ‘manfaatnya’ kurang. Kecuali jika dalam rangka untuk memberikan santunan kepada kerabat keluarga yang membutuhkan, namun itupun juga tidak boleh berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Al-Furqan 67)

Inilah diantara hal-hal yang perlu kita hindarkan bersama, agar kita tidak kembali terjerumus dalam perbuatan maksiat dan dosa. Dan alangkah baiknya jika sesama muslim kita saling ingat mengingatkan, agar tercipta kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT.

Penutup

Inilah sekelumit hal yang berkaitan dengan Iedul Fitri. Marilah kita mencoba mengamalkannya sesuai dengan tuntunan sunnah, dan menjauhi dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Agar makna fitri tersebut benar-benar lekat dengan diri kita. Dan jangan sampai justru ketika Iedul Fitri, menjadi “ajang” kemaksiatan bagi kita, setelah sekian lama dibersihkan dengan amal ibadah di bulan Ramadhan. Sehingga peningkatan demi peningkatan akan terealisasikan dalam diri kita, dan kita benar-benar menjadi insan yang bertakwa. Semoga Allah SWT menerima seluruh amalan kita, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H:

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.


Sumber: dakwatuna.com

Memaknai Hari Raya Iedul Fitri (Bagian 1)

Oleh Rikza Maulan, M.Ag | 3 October 2007 @ 13:00 | 22/Ramadhan/1428 H | Kategori: Sunnah Nabawiyah

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwasanya Rasulullah SAW datang ke Madinah sedangkan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari untuk bermain dan bergembira ria. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada apakah dengan dua hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain dan bergembira ria pada masa jahiliyah di dua hari tersebut.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikan dua hari kalian dengan dua hari yang lebih baik darinya, yaitu Iedul Adha dan Iedul Fitri.’ (HR. Nasa’i)

Muqadimah

Seiring dengan cepatnya waktu berlalu, ternyata tanpa terasa ramadhan begitu cepatnya berjalan meninggalkan kita. Padahal kita belum maksimal membaca Al-Qur’an, belum maksimal shalat malam, belum maksimal melaksanakan shiyam dan juga belum optimal untuk melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Setetes air mata mengalir dari ujung mata, perasaan sedih bergemuruh dalam kalbu, Ya Allah, akankah Ramadhan tahun depan, kami masih dapat bertemu lagi dengan bulan Ramadhan?

Dahulu para salafuna shaleh, air mata mereka meleleh membasahi pipi dan lihyah lantaran Ramadhan pergi meninggalkan mereka. Terkadang dari lisan mereka terucap sebuah doa, sebagai ungkapan kerinduan akan datangnya ramadhan dan ramadhan :

اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَرَمَضَانَ وَرَمَضَانَ…

Ya Allah SWT, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, anugerahkanlah lagi kepada kami bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan, dan bulan Ramadhan…

Suasana seperti ini bahkan berlarut hingga muncul ‘keheningan’ yang demikian heningnya pada malam hari raya Iedul Fitri. Bahkan suasana seperti ini masih begitu terasa, minimal ketika penulis mengalaminya di Mesir, selama studi di sana. Betapa malam Iedul Fitri sangat sepi dan hening, seolah mereka meratapi kepergian ‘tamu istimewa’ mereka, yaitu bulan Ramadhan. Tidak heran jika beberapa mahasiswa Indonesia yang pada malam tersebut sembab matanya, lantaran rindu dan teringat dengan suasana malam Iedul Fitri di tanah air, yang suasananya 180 derajat berbeda dengan suasana di Mesir.

Namun akankah kesedihan itu terus berlarut-larut, sementara ajal kita ditentukan oleh Allah SWT. Dan haruskan kita bersedih, sedangkan Iedul Fitri merupakan hari raya seluruh kaum muslimin, yang kita dianjurkan untuk bergembira pada hari tersebut? Lantas, amalan apakah yang seharusnya kita laksanakan menjelang maupun pada saat Iedul Fitri. Berikut penulis kutipkan beberapa hadits mengenai Iedul Fitri, semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

Makna Iedul Fitri

Terdapat beberapa pendapat dalam memaknai Iedul Fitri, yang merupakan hari raya umat Islam di seluruh alam. Jika dilihat dari segi bahasanya, Iedul Fitri terdiri dari dua kata yaitu ( عيد ) dan ( فطر ). Dan masing-masing dari kata ini memiliki maknanya tersendiri :

· ( عيد ) Ada yang mengatakan bahwa Ied berasal dari kata ( عاد - يعود ) yang berarti kembali. Namun ada juga yang menterjemahkan Ied ini sebagai hari raya, atau hari berbuka. Pendapat yang kedua ini menyandarkan pada hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ (رواه ابن ماجه)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Idul Fitri adalah hari dimana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari dimana kalian berkurban.” (HR. Ibnu Majah)

· ( الفطر ) Ada yang menerjemahkan fitri dengan “berbuka” karena ia berasal dari kata ( أفطر ) yang memang secara bahasa artinya berbuka setelah berpuasa. Namun disamping itu, ada juga yang menerjemahkan fitri dengan “fitrah”, yang berarti suci dan bersih. Pendapat kedua ini menyandarkan pendapatnya pada hadits Rasulullah SAW :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري)

Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/ suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)

Dari maknanya secara harfiah ini, dapat disimpulkan adanya dua makna dalam menerjemahkan Iedul Fitri, yaitu :

1. Iedul Fitri diterjemahkan dengan kembali kepada fitrah atau kesucian, karena telah ditempa dengan ibadah sebulan penuh di bulan ramadhan. Dan karenanya ia mendapatkan ampunan dan maghfirah dari Allah SWT.

2. Iedul Fitri diterjemahkan dengan hari raya berbuka, dimana setelah sebulan penuh ia berpuasa, menjalan ibadah puasa karena Allah SWT, pada hari Idul Fitri ia berbuka dan tidak berpuasa sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Penulis melihat bahwa kedua makna Iedul Fitri di atas adalah benar dan tepat. Dan kedua makna tersebut saling melengkapi dan tidak bertentangan sama sekali. Sehingga Iedul Fitri adalah hari raya umat Islam yang dianugerahkan oleh Allah SWT di mana insan dikembalikan pada fitrahnya dengan mendapatkan ampunan dari Allah SWT, sekaligus sebagai hari bergembiranya kaum muslimin dimana diperintahkan untuk makan dan minum (baca; berbuka) sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itulah, terdapat doa yang sering dibacakan sesama kaum muslimin ketika berjabat tangan dan saling memaafkan, yaitu :

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang kembali (kepada fitrah) dan sebagai hamba-hamba-Nya yang menang (melawan hawa nafsu). Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita semua.[1]

Hanya terkadang, masyarakat kita lebih suka “menyunat” doa di atas, sehingga yang diucapkan hanya kalimat, ‘Minal Aidin Wal Fa’izin” saja. Bahkan lebih parah lagi ketika Minal Aidin Wal Faidzin ini diterjemahkan dengan mohon maaf lahir dan batin. Tetapi bisa kita maklumi karena keterbatasan masyarakat kita pada umumnya, asalkan masih dilandasi dengan niatan yang ikhlas hanya mengharap ridha Allah SWT, semoga tetap Allah catat sebagai amal ibadah di sisi-Nya.

Menghidupkan Iedul Fitri

Bagi kita semua saat ini, bagaimana kita dapat menghidupkan Iedul Fitri, atau dengan kata lain memaknai Iedul Fitri sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dari beberapa riwayat, terdapat beberapa hal yang disunnahkan untuk dilakukan pada malam Ied atau pada hari raya Iedul Fitri. Diantaranya adalah :

1. Disunnahkan untuk Qiyamul Lail, pada malam hari raya Idul Fitri. Dalam sebuah riwayat digambarkan :

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ (رواه ابن ماجه)

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa yang melaksanakan qiyamullail pada dua malam Ied (Idul Fitri dan Adha), dengan ikhlas karena Allah SWT, maka hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia. (HR. Ibnu Majah).

2. Disunnahkan pada pagi hari raya Idul Fitri, untuk mandi, menggunakan minyak wangi dan berpakaian yang rapi. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

عَنِ الْفَاكِهِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ قَالَ وَكَانَ الْفَاكِهُ بْنُ سَعْدٍ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالْغُسْلِ فِي هَذِهِ اْلأَيَّامِ

Dari Fakih bin Sa’d bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa mandi pada hari jum’at, hari Arafah, hari Idul Fitri dan hari Idul Adha. Dan Fakih (Perawi hadits ini) senantiasa memerintahkan keluarganya untuk mandi pada hari-hari tersebut. (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain juga digambarkan :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى (رواه مالك)

Dari Nafi’, bahwasanya Abdullah bin Umar senantiasa mandi pada hari raya Idul Fitri, sebelum berangkat ke tempat shalat. (HR. Malik)

3. Mendatangi tempat-tempat dilaksanakannya shalat Ied. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بَنَاتَهُ وَنِسَاءَهُ أَنْ يَخْرُجْنَ فِي الْعِيدَيْنِ (رواه أحمد)

Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan anak-anak wanitanya dan istri-istrinya untuk kelur (mendatangi tempat shalat Ied) pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain dijelaskan :

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ (رواه البخاري)

Dari Ummu Athiyah ra berkata, kami diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat, bahkan perawan di pingitannya dan wanita yang haid diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat Ied. Hanya mereka berposisi di belakang shaf kaum muslimin. Mereka bertakbir dengan takbir kaum muslimin, dan berdoa dengan doa kaum muslimin, dengan berharap keberkahan dan kesucian hari tersebut. (HR. Bukhari)

Mendatangi tempat dilaksanakannya shalat Ied dengan berjalan kaki [1] Dalam hal ini juga perlu diperhatikan situasi dan kondisinya. Jika tempat shalatnya cukup jauh dan justru menyulitkan dengan berjalan kaki, maka tidak boleh dipaksakan. Demikian juga dengan orang yang udzur dan sakit. dan memakan sesuatu sebelum berangkat melaksanakan shalat Ied. Dalam sebuah riwayat dijelaskan :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنْ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ (رواه الترمذي)

Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata, termasuk sunnah jika kamu keluar mendatangi tempat shalat Ied dengan berjalan kaki dan memakan sesuatu sebelum pergi ke tempat shalat Ied.” (HR. Turmudzi)

4. Bertakbir mengagungkan Asma Allah SWT, dalam sebuah riwayat digambarkan :

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ (رواه البخاري)

Dari Ummu Athiyah ra berkata, kami diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat, bahkan perawan di pingitannya dan wanita yang haid diperintahkan untuk mendatangi tempat shalat Ied. Hanya mereka berposisi di belakang shaf kaum muslimin. Mereka bertakbir dengan takbir kaum muslimin, dan berdoa dengan doa kaum muslimin, dengan berharap keberkahan dan kesucian hari tersebut. (HR. Bukhari)

5. Melalui jalan yang berbeda ketika berangkan dan pulang dari tempat dilaksanakannya shalat Ied. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ رَجَعَ فِي (رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW apabila pergi (ke tempat shalat Ied) pada hari Ied melalui satu jalan, maka beliau kembali dari tempat tersebut melalui jalan yang berbeda.”

6. Saling bermaaf-maafan seraya mendoakan semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

عَنْ خَالِدٍ بْنِ مَعْدَانٍ قَالَ لَقَيْتُ وَاثِلَةَ بْنَ اْلأَسْقَعِ فِيْ يَوْمِ عِيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ فَقَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ وَاثِلَةٌ لَقَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ (رواه البيهقي في الكبري)

Dari Khalid bin Ma’dan ra, berkata, Aku menemui Watsilah bin Al-Asqo’ pada hari Ied, lalu aku mengatakan, ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka”. Lalu ia menjawab, ‘Iya, Taqabbalallah Minna Wa Minka,’. Kemudian Watsilah berkata, ‘Aku menemui Rasulullah SAW pada hari Ied lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah SAW menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi Dalam Sunan Kubra).

7. Boleh mengadakan hiburan pada hari raya Ied, dalam sebuah riwayat digambarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar yang pada waktu itu (Hari Ied) menghardik dua hamba sahaya perempuan yang mendendangkan syair di ruma Aisyah :

يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَإِنَّ الْيَوْمَ عِيْدُنَا

Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Nasa’I)

___

Catatan Kaki:

[1] Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa ungkapan atau doa ini bukan merupakan ‘hadits’ yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Kecuali pada kalimat ( تقبل الله منا ومنكم ) masih terdapat riwayat, yaitu dari Khalid bin Ma’dan (seorang Tabi’in) ketika hari raya Ied menemui Watsilah bin Al-Asqo’, ia mengucapkan ( تقبل الله منا ومنك ) kemudian Watsilah menjawab ( نعم تقبل الله منا ومنك ). Kemudian Watsilah berkata, Aku menemui Rasulullah SAW pada hari raya Ied, lalu aku mengatakan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka” kemudian Rasulullah SAW mejawab, ( نعم تقبل الله منا ومنك ) Ya Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita. (Sunan Baihaqi Al-Kubra, Juz III, hal 319). Namun menurut Ibnu Hajar pada sanad hadits ini terdapat Muhammad bin Ibrahim Asyami, dan ia dha’if (lemah). Jadi hadits ini merupakan hadits dha’if.


Sumber: dakwatuna.com

Ku Gapai Sukses Ramadhan

Oleh Ulis Tofa, Lc | 5 October 2007 @ 15:59 | 24/Ramadhan/1428 H | Kategori: Tafsir Ayat

Predikat taqwa yang menjadi tujuan diperintahkannya ibadah shaum Ramadhan dan ibadah-ibadah lain -baik ibadah yang berhubungan Vertikal langsung dengan Allah swt maupun ibadah horisontal- ternyata tidak menjadi prestasi puncak lalu berhenti, setelah itu selesai, bahkan mati.

Meraih predikat taqwa membutuhkan proses perjuangan panjang dalam hidup. Sehingga taqwa berarti sesuatu yang hidup, aktif, berkembang dan berkesinambungan. Madal hayah –seumur hidup-.

Mari kita renungkan panggilan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai. Allah swt berfirman:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

Dan Aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku takut akan siksaan hari yang besar jika Aku durhaka kepada Tuhanku”.

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. QS. Az Zumar : 10-14.

Kontinyu dalam Bertaqwa

Perhatikan, Allah swt memanggil orang beriman dengan panggilan kecintaan, kedekatan dan kehangatan; Wahai hamba-hamba-Ku, ini menunjukkan panggilan itu disukai Allah swt. Persis seperti sabda Nabi saw, ”Nama dan panggilan yang paling Allah sukai adalah Abdullah (nisbat penghambaan kepada Allah) dan Muhammad (yang terpuji).

Setelah itu Allah swt memerintahkan hamba-hamba-Nya yang benar tauhidnya agar bertaqwa. Ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah swt memerlukan perjuangan terus-menerus dan proses madal hayah (Tafsir Ibnu Katsir).

Dengarlah ungkapan sahabat Abu Bakar, ”Demi Allah, seandainya salah satu kaki saya berada di surga, sedangkan kaki yang lain masih di luarnya, maka aku tidak merasa aman dari makar Allah swt.”

Semua kosa kata dan terminologi yang berarti ketaatan, kebaikan, manfaat, amal shaleh, produktifitas adalah bagian dari taqwa. Sisi lain yang berarti keburukan, kesia-siaan, kemunkaran, pemborosan dan maksiat adalah yang merusak taqwa.

Lanjutan ayat ini berbunyi, ”Bagi orang-orang yang ihsan atau berbuat baik dalam kehidupan dunia akan mendapatkan kebaikan.”

Akar kata ihsan berikut turunannya (ahsanu, muhsinin dan ihsan) di dalam Al Qur’an sedikitnya terdapat di lima puluh tempat, yang kesemuanya bermakna kebaikan, amal positif, menuju proses sempurna, dan membawa manfaat.

Sebagaimana ihsan dalam terminologi Rasulullah saw adalah ”Anda beribadah kepada Allah, seakan-akan Anda melihatnya. Jika Anda tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah Ia melihat Anda.” . Ihsan disini bermakna kesungguhan dalam kebaikan dan ta’at.

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw mendefinisikan ihsan dengan berbuat baik secara optimal. ”Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kamu menyembelih, maka sembelihnya dengan sebaik-baiknya.”.

Ihsan juga berarti profesional, tepat waktu, dan proses menuju sempurna. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melaksanakan sesuatu atau pekerjaan, ia laksankan dengan sempurna.”

Sukses Sampai Akhir Ramadhan

Kalau kita hubungkan dengan konteks Ramadhan, maka bagaimana kita akhirnya terus bersemangat mengisi Ramadhan sampai selesai selama sebulan penuh, bukan hanya semangat di awalnya saja. Padahal hari-hari terakhir Ramadhan menjadi penentu kesuksesan kita dalam bulan ini.

Saudaraku, Rasulullah saw adalah menjadi bukti konkrit untuk kita teladani. Adalah beliau dalam hidupnya tidak pernah meninggalkan i’tikaf di masjid. Selama delapan atau sembilan kali beliau terus melaksanakan i’tikaf tersebut. Bahkan di tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau i’tikaf dua puluh hari akhir Ramadhan.

Rasulullah saw adalah seorang Nabi, kepala negara, suami, ayah dan otomatis tanggung jawab beliau sangat besar mengurus ummatnya, namun beliau tidak pernah meninggalkan ibadah ini, dengan alasan apapun termasuk pulang kampung. Ya, Rasulullah saw tidak pernah pulang kampung di hari-hari nan mahal di mata Allah swt ini.

Rasulullah saw menyibukkan diri dengan taqarrub ilallah, munajat, tilawah Al Qur’an, do’a, istighfar, muhasabah dan lainnya. Gambaran menghidupkan malam-malam itu beliau istilahkan sendiri dengan ungkapan ”Syaddul mi’zar. Mengencangkan ikat pinggang”. Beliau juga membangunkan keluarganya untuk begadang di malam-malam akhir Ramadhan. Rahasianya adalah untuk meraih lailatul qadar. Sunnah ini dilanjutkan oleh para istri-istri Rasulullah saw dan para sahabatnya radliyallahu ajma’in.

Rasulullah saw, istri-istrinya dan para sahabat radliyallahu ajma’in mengajarkan kepada kita untuk pandai mengambil prioritas amal, mana yang harus di dahulukan dan mana yang harus di akhirkan.

Lanjutan ayat ini menekankan kembali untuk bisa mengambil prioritas amal itu, ”Dan bumi Allah itu luas . Para ahli tafsir sepakat yang dimaksud ayat ini adalah perintah untuk berhijrah dan berjihad. Salah satu bentuk hijrah dan jihad dalam konteks kita, yang tidak ada peperangan adalah meningkatkan ketaatan dan mujahadah dalam kebaikan. Memburu lailatul qadar adalah bagian dari hijrah dan jihad ini, sebagaimana dicontohkan para salafus shaleh.

Dunia tidak secekak daun kelor, ternyata peribahasa ini dinukil dari firman Allah swt ini.

Di manapun kita menginjakkan kaki, di tempat kelahiran atau di rantau, adalah sama saja di mata Allah swt. Artinya adalah jangan sampai kita melewatkan hari-hari dan malam-malan mahal itu dengan alasan pulang kampung, antri panjang di loket, macet di jalan dan seterusnya, hanya karena mengejar, ”saya harus kumpul keluarga di hari raya”.

Bukan itu yang dicontohkan nabi saw. Beliau orang yang tidak pernah memutus hubungan tali silaturahim, dengan siapa pun apalagi dengan keluarga dan kerabat. Namun beliau sangat tahu persis bahwa malam lailatul qadar itu harus di raih dengan cara mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Untuk melaksanakan i’tikaf di masjid memang membutuhkan perjuangan yang besar, membutuhkan keseriusan yang tinggi dan kesungguhan dalam melaksanakannya. Banyak godaan dan tantangn untuk melakukan i’tikaf ini. Apakah karena alasan persiapan lebaran lah, atau bahkan animo dan persepsi masyarakat yang tidak benar, bahwa ”lebaran harus kumpul dengan keluarga”.

Saudaraku, permasalahannya adalah karena kita belum mempersiapkan ibadah ini jauh-jauh hari, serta belum memahamkan anggota keluarga kita bahwa ibadah sepuluh hari terkahir ini meskipun hukumnya sunnah muakkadah, namun tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Kalau toh pulang kampung bisa setelah shalat idul fitri. Sehingga kedua hasanah atau keutamaan bisa diraih sekaligus. Hasanah lailatul qadar dan silaturahim lebaran.

Kuatkan Kesabaran

Bagi orang yang mampu melawan godaan dan tantangan itu akan mendapatkan balasan tak terhingga. Allah swt menepati janjinya, ”Balasan orang yang sabar dalam ketaatan adalah pahala tanpa batas.” Sesuatu yang masih bisa dibilang dengan secanggih alat apapun, masih terhitung sedikit. Namun bagi orang yang sabar dalam ketaatan mendapatkan balasan bighairi hisab –tak terhitung-.

Saudaraku, balasan bagi orang yang sungguh-sungguh menghidupkan malam-malam sepuluh akhir Ramadhan akan mendapatkan kebaikan tak ternilai harganya. lailatul qadar bagian dari kebaikan tak ternilai harganya itu.

Saudaraku, pengorbanan dan keseriusan itu justru menjadi bukti kesungguhan peribadatan kita kepada Allah swt. Ayat selanjutnya Allah swt menyeru:

”Katakanlah, saya diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan ketundukan total dalam agama.”

Bahkan kita disuruh Allah swt agar menjadi orang muslim pertama dalam ketaatan. Bangga menjadi muslim yang taat. Allah swt berfirman: ” Dan Aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Menjadi Insan Rabbani

Saudaraku, Allah swt menginginkan dari kita, agar menjadi insan Rabbani, bukan insan ramadhani. Yang taqwa kepada Allah swt di bulan Ramadhan, juga di luar bulan Ramadhan. Karena itu kita dipesan untuk takut berbuat dosa dan maksiat lagi pasca Ramadhan. Allah swt berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya Aku takut akan siksaan hari yang besar jika Aku durhaka kepada Tuhanku.

Katakanlah: “Hanya Allah saja yang Aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. Allahu A’lam


Sumber dakwatuna.com

02 October 2007

Taubat sebagai Tangga Pertama Menuju Derajat Taqwa

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Allah, zat yang maha kuasa atas segala sesuatu. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw, seluruh keluarga, sahabat dan orang-orang yang istiqomah berpegang terus pada sunnahnya.

 

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan asas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (Al-Baqarah : 183).

 

Ulama seperti Said Hawwa dan Ibnu Qayyim sepakat bahwa pos pertama untuk menuju ketakwaan adalah taubat.

 

Ibnu Qayyim di buku Madarijus Salihin mengatakan bahwa taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhir dalam perjalanan menuju Allah. Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak pernah lepas dari taubat, sampai ajal menjemputnya.

 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Jibril datang kepadaku dan berkata,  'Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin! Aku pun mengatakan: Amin." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)"

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu." (Hadits Muttafaq 'Alaih).

 

Jadi tepatlah jika kita mengatakan bahwa bulan Ramadhan sebagai shahrut taubat atau bulan taubat. Taubat dari segala kesalahan-kesalahan kita di masa lalu dan titik dimana kita memulai lembaran baru yang putih bersih.

 

Ada empat hal yang harus dilakukan bagi seorang jika ingin bertaubat:

  1. Meninggalkan perbuatan dosa tersebut
  2. Menyesalinya
  3. Tidak mengulangi dosanya lagi
  4. Dan berbuat kebaikan untuk menghapus keburukan-keburukan dimasa lampau.

Rasulullah saw beliau bersabda: "Bertakwalah kepada Allah dimana saja kau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR Tarmidzi)

 

Dan di bulan Ramadhan ini kita bisa belajar banyak mengenai makna keistiqomahan/komiten dalam berpegang teguh pada kebaikan. Jika pada bulan ini apa-apa yang jelas-jelas dihalalkan oleh Allah saja bisa kita hindari, maka sudah barang tentu di luar bulan ini tentu akan lebih mudah bagi kita tuk menghindari hal-hal yang diharamkan olehNya.

 

Semoga di bulan Ramadhan ini kita bisa meraih ampunanNya dengan taubat kita dalam rangka perjalanan kita tuk menuju seorang mukmin yang bertakwa.

 

 

Syamsul Arifin

 

Jakarta, 1 Oktober 2007

20 Ramadhan 1428 H

Pengalaman ceramah Ramadhan pertamaku di musholah Al-Fitrah komplek Reni Jaya Pamulang Barat ^-^ (Glad it was over)

01 October 2007

Be More Patient

Rating:★★★★★
Category:Other
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.

O You who believe! endure and be more patient (than Your enemy), and Guard Your territory by stationing army units permanently at the places from where the enemy can attack you, and fear Allâh, so that You may be successful.

(QS. Ali-'Imraan: 200)

30 September 2007

[cerpen] Gara-gara Ikhwan Gang Kelinci

Akhirnya, bisa juga aku hidup mandiri. Yups, mulai minggu ini aku mengontrak sepetak rumah di daerah dekat tempat kerjaku, di kawasan industri Tangerang, dekat dengan pabrik keramik tempat ku memulai karir profesionalku sebagai seorang IT support di divisi PPIC alias Production Planning and Inventory Control.

Inilah pertama kalinya aku lepas dari orangtuaku. Hemm… perlu banyak belajar nih… untungnya sewaktu masih tinggal bareng orangtua, memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan mencuci piring merupakan hobiku. Jadi tidak banyak adaptasi yang perlu ku lalui.

Aku memang berprinsip bahwa seorang istri yang baik itu harus bisa melakukan semua urusan rumah tangga, sama sebagaimana prinsip guru ngaji pembina kajian keislaman rutin yang selama ini kuikuti. Makanya semenjak masih masuk kuliah dan ikut pengajian rutin, semua urusan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, dan mencuci baju serta piring menjadi menjadi hobi atau kesukaanku, bahkan terkadang aku suka sebal kalau adikku yang laki-laki terkadang menyerobot hobi-hobiku tersebut…. Hi3x… hobi yang unik ya…

Aku kan ingin menjadi istri idaman, makanya sampai sekarang, ku terus mengasah diriku dengan kemampuan seorarang ibu rumah tangga yang baik. Mulai dari urusan tetek-bengek urusan rumah tangga sebagaimana hobi yang unikku, sampai mempelajari mengenai pendidikan anak, kesehatan dasar, dan psikologi interpersonal atau psikologi hubungan antar personal yang baik. Memang aku ini akhwat idaman banget ya… Hi3x…

---

Meski jarak antara kontrakan dengan tempat kerja tidaklah begitu jauh, aku paksakan diriku tuk membeli sebuah motor bekas tahun 2004, yah lumayan lah, hitung-hitung penghematan uang. Kan lumayan tuh, apalagi sekarang harga ongkos naik bis sudah sangat mahal, tidak seperti zaman waktu saya SMA dulu. Sekarang ini beban pengeluaran rumah tangga untuk transportasi bahkan bisa melebihi duapuluh persen dari kebutuhan keluarga. Padahal proporsi pengeluaran transportasi yang baik itu seharusnya kurang dari duapuluh persen, jadi seharusnya tugas pemerintah lah yang menyediakaan transportasi yang terjangkau masyarakat. Lho kok jadi malah curhat pengeluaran rumah tangga begini ya…

Ku panggil motor dengan julukan si Pirate alias si bajak laut, karena kesukaanku atas filmnya Jhony Deep, Pirate of the Caribian. Seorang tokoh bajak laut antagonis yang tampan dan hebat.

---

Seperti biasa, kususuri perlahan jalan kecil dari kontrakan menuju jalan besar Moch Toha. Sebuah jalan yang bernama gang kelinci. Wah, sepertinya ada seseorang laki-laki yang juga mau berangkat bekerja. Rumahnya persis di samping jalan kecil tersebut. Dia hendak memanaskan motornya pula. Wuih… keren juga tuh orang. Perawakannya yang tinggi dan wajahnya yang lumayan keren sempat membuat denyut jantungku berdesir lebih cepat… wah3x… harus ghadul bashar nih… ternyata memang benar ya, bukan cuma ikhwan doang yang harus menjaga pandangannya, seorang akhwat pun juga harus menjaga pandangannya ya, batinku berbisik.

---

Hari ini, seperti biasa ku lewati lagi jalan kecil itu… semoga ketemu sama ikwan keren itu, ikhwan gang kelinci, begitu aku memanggilnya, bukan karena telinganya yang panjang mirip kelinci, tapi karena memang dia tinggal di gang kelinci. Astagfirullah hal adzim… segera ku tangkis pemikiran tuk mengharap perjumpaan dengannya jauh-jauh dari benakku.

Wah ternyata benar, hari ini melihat si dia lagi. Kali ini dia sudah siap tuk berangkat kerja juga. Kulihat dia sedang tinggal menaiki motornya tuk berangkat. Ku lihat sekilas, dia memakai jaket dengan logo salah satu partai Islam yang kemarin kalah dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta. Wah, ternyata dia aktivis partai juga nih, sama seperti diriku, cuma karena masih baru, belum sempat ku bersilaturahmi ke kantor dewan perwakilan ranting terdekat disini.

Dia melihat ke arahku saat ku lewati depan rumahnya. Ku pura-pura cuek dan pura-pura tidak melihatnya.

---

Sudah beberapa kali aku melewati jalan kecil ini dan sering kali bertemu dengan ikhwan gang kelinci tersebut. Apakah dia ‘ngeh” dengan kehadiranku sebagaimana aku memperhatikan kehadirannya?

--

Hari ini aku kesiangan bangun. Pagi tadi, setelah shalat subuh di masjid dan membaca dua lembar surat cinta dari Zat yang Maha Memiliki Cinta alias Al-Quran, ku lanjutkan tidurku lagi. Sebetulnya aku tidak begitu suka dengan tidur setelah subuh, terutama setelah mengetahui bahwa tidur setelah subuh merupakan hal yang dibenci Rasul, tapi mau bagaimana lagi, tadi malam aku pulang kerja pukul 10 malam, setelah mandi dan makan malam, alih-alih tidur, aku malah membaca novel The Kite Runner-nya Khalled Hosseini yang baru saja kubeli dua hari kemarin, habis lagi seru-serunya sih, jadi tidak enak kalau kepotong, dan akhirnya aku harus tidur pada pukul satu malam.

Setelah mandi dengan kecepatan super cepat, aku baru menyadari bahwa belum ada baju kerja yang dapat layak kupakai…. Waduh… lupa menyetrika euy minggu ini. Lalu dengan terburu-buru ku gelar alas tuk menyetrika dan mulai lah satu baju ku gosok dengan rapi. Huih… minimal satu dulu deh, yang penting hari ini ada baju yang bisa kupakai, begitu benakku dalam hati.

Jam menunjukkan pukul 7.00 pagi. Waduh, jam masuk kerja pabrik jam 7.30 nih. Dengan tergesa-gesa, ku memakai jaket tuk melindungi tubuh mungilku dari terpaan udara Tangerang yang penuh debu, mengambil bedak dan mengoles-ngolesnya kemukaku sambil setengah berlari kecil tuk mengambil sepatu. Weiiks….. ternyata sepatu kerjaku kotor, waduh ini gara-gara kemarin naik motor sewaktu hujan nih. Aduh joroknya, masak sih akhwat yang cool seperti aku ini pake sepatu yang kotor belepotan tanah. Hmmm, segera kuambil sikat dan semir sepatu yang berada di sisi rak sepatu, ku gosok-gosok dengan cepat, yang penting mah tidak terlalu kotor saya, batin ku dalam hati.

Dan weiiiks lagi, ternyata si Pirate juga kotor setengah mati. Wah klo untuk yang ini nyerah deh, nanti aja sepulang kerja baru dibawa ke tukang cuci steam, sekalian berbagi rezeki dengan mereka, eh itu berbagi rezeki atau karena malas aja ya, hi3x.

Dengan sedikit cepat ku pacu sepeda motorku. Wah, ternyata ketemu lagi sama si ikhwan gang kelinci. Hmmm… dia tetap keren seperti biasa. Ku lihat kearah dirinya, dan suatu waktu, pandangan kami bertemu. Wah, dia tersenyum kepadaku, aduh, lumer deh nih hati. Cessss. Senyuman yang indah.

Wowowo… karena senyuman itu, koordinasi otak dan otot tanganku menjadi kacau. Motorku oleng kekiri dan kekanan. Hingga akhirnya hidung si Pirate mencium gerobak sampah yang sedang parkir di samping gang yang sempit itu. Gubrak… si Pirate jatuh oleng ke kanan.

Aduh… aku meringis pelan. Si ikhwan gang kelinci tersebut menghampiri dengan tergesa-gesa. Dia membangunkan si Pirate sehingga aku dapat bangkit setelah kaki ku terhimpit motor. “Wah, makanya mba jangan buru-buru”, ia berkata, “jadi gini deh kejadiannya” ia menambahkan. Aku hanya diam dengan sedikit tersenyum kecut.

Dia tersenyum lagi kepadaku sembari setengah menahan ketawa. Wah nih ikhwan kejam juga ya, masak orang dapat musibah ia malah senyum-senyum gitu, wah ngga bakal terpesona lagi deh aku sama senyumnya, udah kayak menari diatas penderitaan orang aja.

“Maaf mba, tapi kayaknya saking buru-burunya, muka mba masih pada cemong tuh”, ia tetap dengan senyumnya. Weiiks. Tanganku mengusap muka, waduh, ternyata si semir sepatunya mampir ke mukaku. Ku lihat mukaku di kaca spion motor. Waduh, ternyata berantakan nih muka. Sekarang bukan hanya hitam, tapi mukaku kini bercampur warna merah merona karena malu.

Segera ku rapihkan make-up mukaku yang berantakan. Ku usap-usap dengan cepat dan seadanya. Segera ku raih si Pirate dari tangannya. “Syukron ya” aku berucap tanpa melihat wajahnya yang kuyakin masih menahan senyumnya. Ku tancap si Pirate tanpa menengok lagi kebelakang.

Jatuh dari motornya sih tidak seberapa sakit, tapi malunya itu lho. Ku pacu terus si Pirate dengan wajah yang tertunduk dan kuyakin merah merona.


---000----

Jakarta, 22 September 2007
Syamsul Arifin
Lho kok saya kayaknya sering banget bikin cerpen pake sudut pandang perempuan ya :D ha3x

Bahaya yang Mengancam Kesehatan Reproduksi Pekerja Pria 1)

Ada banyak faktor yang mempengaruhi lahirnya seorang anak yang sehat. Sudah umum kita ketahui bersama bahwa janin yang belum lahir bisa mendapatkan pengaruh buruk jika wanita yang mengandungnya tidak makan dengan baik (pola makan dan gizinya), memiliki kebiasaan merokok dan meminum minuman beralkohol. Lalu bagaimanakan dengan pria? Adakah pengaruh yang disumbangkan oleh pria terhadap perkembangan janin atau proses reproduksi?

Secara umum, sebagian besar pria bekerja atau menghabiskan waktunya ditempat kerja. Padahal ada banyak bahaya yang terdapat di tempat kerja. Radiasi, berbagai bahan kimia, obat-obatan, rokok, dan panas merupakan tipe-tipe bahaya yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk mempunyai anak yang sehat.

Meskipun lebih dari seribu bahan kimia di tempat kerja telah terbukti dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan reproduksi hewan, namun kebanyakan bahan tersebut tidak pernah diteliti pengaruhnya pada manusia. Bahkan lebih dari empat juta campuran bahan kimia tidak pernah diuji pengaruhnya.

Zat-zat berbahaya tersebut dapat memasuki tubuh kita melalui hirupan nafas (inhalation), kontak dengan kulit (absorbsion), atau tertelan (ingestion) jika pekerja tidak mencuci tangan dengan baik sebelum mereka makan, minum, ataupun merokok.

Bahan berbahaya yang terdapat di tempat kerja juga dapat secara tidak langsung membahayakan keluarga mereka yang berada dirumah. Beberapa bahan berbahaya dapat secara tidak sengaja terbawa ke rumah tanpa disadari para pekerja dan mempengaruhi kesehatan reproduksi sang istri atau kesehatan janin yang dikandungnya atau anggota keluarga lain yang masih muda. Sebagai contoh, timbal dapat terbawa pulang oleh pekerja melalui kulit, rambut, baju, sepatu, kotak peralatan kerja, atau kendaraan yang dibawa ke tempat kerja, padahal timbal tersebut dapat menyebabkan keracunan pada anggota keluarga dan bisa menyebabkan neurobehavioral dan gangguan pertumbuhan pada janin.

Bahaya-bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi para pekerja pria bekerja dengan mempengaruhi beberapa beberapa hal.

Pertama, jumlah sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat memperlambat atau bahkan menghentikan produksi sperma. Hal ini berarti bahwa hanya akan dihasilkan lebih sedikit sperma untuk dapat membuahi sel telur. Jika tidak ada sperma yang diproduksi, maka pekerja tersebut dapat disebut steril. Jika bahaya yang memapar dapat mencegah proses pembuatan sperma, label steril itu menjadi permanen.

Kedua, bentuk sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat membuat bentuk sel sperma menjadi berbeda. Jika sudah seperti itu, sperma akan mengalami kesulitan untuk berenang menuju sel telur atau membuahinya.

Ketiga, transfer sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat terakumulasi pada epididimis, seminal vesicles, atau prostate. Hadirnya bahan tersebut dapat membunuh sperma, merubah cara/arah sperma berenang, atau menempel pada sperma dan dibawa menuju sel telur atau kepada bayi yang belum lahir.

Ketiga, kemampuan seksual. Perubahan pada jumlah hormon dapat mempengaruhi kemampuan seksual. Beberapa bahan kimia seperti alcohol, bisa mempengaruhi kemampuan untuk mencapai ereksi, sedangkan pada beberapa orang dapat mempengaruhi keinginan seksualnya. Beberapa obat-obatan, baik yang legal maupun tidak, dapat mempengaruhi kemampuan seksual.

Keempat, kromosom sperma. Beberapa bahan berbahaya dapat mempengaruhi kromosom yang terdapat pada sperma. Sperma dan sel telur masing-masing menyumbangkan 23 kromosom saat proses fertilisasi. DNA yang tersimpan pada kromosom inilah yang menentukan akan seperti apa rupa, bentuk dan fungsi tubuh bayi yang akan lahir. Radiasi atau bahan kimia dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan pada DNA. Jika DNA sperma telah rusak, maka ia bisa jadi tidak akan bisa membuahi sel telur, atau jika ia berhasil membuahi sel telur, ia akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan janin. Beberapa jenis pengobatan terhadap kanker terbukti dapat menyebabkan hal tersebut.

Kelima, kehamilan. Jika sperma yang telah rusak dapat membuahi sel telur, sel telur bisa jadi tidak akan tumbuh dengan sempurna, sehingga dapat menyebabkan keguguran atau masalah kesehatan pada bayi yang akan dilahirkannya. Jika bahan berbahaya tersebut dibawanya oleh semen, janin mungkin akan terpapar sehingga dapat menyebabkan gangguan pada saat kehamilan atau gangguan kesehatan pada bayi setelah ia lahir.

Untuk melindungi dari bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi, beberapa langkah berikut dapat diterapkan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja.

  1. Simpanlah bahan kimia pada tempat/wadah yang tertutup saat tidak digunakan

  2. Mencuci tangan sebelum makan, minum dan merokok

  3. Hindari kontak antara bahan kimia dengan kulit

  4. Jika bahan kimia kontak dengan kulit, ikuti petunjuk untuk membersihkannya sebagaimana tertera pada MSDS (material safety datasheet). Pengusaha/manajemen wajib menyediakan MSDS untuk semua bahan berbahaya yang digunakan di tempat kerja

  5. Kenali bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi di tempat kerja anda.

  6. Untuk mencegah kontaminasi di rumah:

    • Gunakan pakaian yang berbeda pada waktu bekerja

    • Ganti dan cuci baju yang telah terkontaminasi dengan sabun dan air sebelum pulang ke rumah

    • Simpanlah baju yang akan digunakan untuk pulang kerja (atau berangkat kerja) dalam ruangan yang terpisah dari tempat kerja untuk mencegah kontaminasi

    • Cuci baju kerja terpisah dari bahan cucian lainnya, usahakan mencucinya di tempat kerja

    • Usahakan untuk tidak membawa baju kerja yang telah kotor/terkontaminasi atau benda lain ke rumah

  7. Berpartisipasilah dalam program kesehatan dan keselamatan kerja seperti pelatihan, pendidikan, dan monitoring yang telah disediakan perusahaan

  8. Pelajari menganai praktek kerja yang aman/baik, rekayasa engineering, dan alat pelindung diri (seperti sarung tangan, masker, coverall, google, dll) yang dapat mengurangi resiko paparan dengan bahan berbahaya.

  9. Patuhi prosedur dan praktek kerja yang aman yang telah diimplementasikan oleh perusahaan anda untuk mencegah paparan bahan berbahaya di tempat kerja yang dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi.


---ooo---

Sistem Reproduksi Pria

Untuk dapat memahami bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi pada pekerja pria diperlukan pemahaman mengenai cara kerja sistem reproduksi pria.

Testis memiliki dua fungsi utama: (1) memproduksi hormone testosterone, yang akan menghasilkan suara berat pada laki-laki, jenggot, dan dorongan seksual, dan (2) memproduksi sperma. Setelah sperma di buat (dalam kurun waktu 72 hari), mereka disimpan di dalam epididimis, struktur bagian luar dari testis. Sperma berada di dalam epididimis selama 15 sampai 25 hari. Saat berada disana, mereka menjadi matang dan mengembangkan kemampuan untuk berenang. Jika sperma tidak dikeluarkan, mereka akan mati dan diserap kembali oleh tubuh.

Saat seorang pria ejakulasi (mengeluarkan sperma), sel sperma yang telah matang bergerak dari vasdiferen (saluran di vasektomi) melalui seminal vesicles dan kelenjar prostate. Seminal vesicles dan kelenjar prostate menyediakan sejumlah besar cairan dalam bentuk semen. Semen ini akan mengendap di vagina dan sperma diharuskan berenang melalui servik menuju uterus sampai tiba di tuba falopi.

Jika ada sel telur, sperma akan membuahinya di tuba falopi. Telur yang telah dibuahi akan bergerak kebawah munuju uterus, dimana ia akan menempel pada dinding dan terus tumbuh. Jika tidak ada sel telur, sperma bisa bertahan hidup di uterus sampai dua hari.



Tipe paparan

Efek yang teramati

Jumlah sperma lebih rendah

Bentuk sperma tidak normal

Transfer sperma yang berubah

Perubahan hormon/kinerja seksual

Timbal

x

x

x

x

Dibromochloropropane

x




Carbaryl (Sevin )


x



Toluenediamine dan dinitrotoluene

x




Ethylene dibromide

x

x

x


Produksi Plastik (styrene dan acetone)


x



Ethylene glycol monoethyl ether

x




Pengelasan


x

x


Perchloroethylene



x


Uap merkuri




x

Panas

x


x


Radar militer

x




Kepone*



x


Uap Bromine*

x

x

x


Radiasi*(Chernobyl)

x

x

x

x

Carbon disulfide





2,4-Dichlorophenoxy acetic acid (2,4-D)


x

x



Tabel 1. Bahaya-bahaya yang dapat mengganggu kesehatan reproduksi pekerja pria.

Catatan. Penelitian terkini menunjukan bahwa beberapa pria menunjukan efek kesehatan yang tertera diatas akibat paparan di tempat kerja. Namun, efek ini tidak selalu muncul pada setiap pekerja. Lama paparan, jumlah/konsenstrasi paparan, dan faktor pribadi lainnya mempengaruhi perbedaan efek tiap individu.

* Pekerja yang terpapar pada konsentrasi yang tinggi akibat kecelakaan kerja.




Referensi

  • Website NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health), www.cdc.gov/niosh

  • The Effects of Workplace Hazardson Male Reproductive Health - DHHS (NIOSH) Publication No. 96-132

  • The Effects of Workplace Hazardson Female Reproductive Health - DHHS (NIOSH) Publication No. 99-104


1} Entah tabu atau tidak, namun segala pembahasan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi merupakan topik yang paling banyak digemari oleh masyarakat. Disisi lain, kita sebagai praktisi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) sepertinya kurang mengekspos mengenai tema kesehatan reproduksi ini. Karena itulah, tulisan ringan ini hadir untuk sekedar menggelitik kesadaran kita akan tema-tema yang terkesan monoton dan berulang.


Penulis:

Syamsul Arifin, SKM

Safety Professional
Alumni Dept. K3 FKM UI angkatan 2001
Email: syamsul.arifin@yahoo.com