Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al furqaan: 74)
Di youtube, ustadz Nouman Ali Khan (dalam bahasa Inggris) menjelaskannya dengan indah sekali, bisa dilihat di:
Di youtube, ustadz Nouman Ali Khan (dalam bahasa Inggris) menjelaskannya dengan indah sekali, bisa dilihat di:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." [waalladziina yaquuluuna rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a'yunin waij'alnaa lilmuttaqiina imaamaan] (QS. Al-Furqān 25:74)
Allah SWT menyuruh kita berkata "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) [qurrata a'yun], dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."
aatinaa = berikan kami hadiah yang indah, spesial, lana = khusus bagi kami.
hadiah khusus itu berupa = istri dan anak yang 'menyejukkan mata'
dzurriyyaatinaa = generasi penerus di masa mendatang
Doa itu berarti meminta agar diberikanlah 'mata yang sejuk' melalui istri dan anak-anak kami.
Doa ini menjadi kesukaan saya karena beberapa alasan:
Pertama, saya sudah menikah.
Kedua, kita semua harus menghargai doa ini, karena krisis yang ada di dunia kita saat ini. Institusi paling dasar yaitu keluarga kita sedang "diserang". Bahkan kita kaum muslim pun tidak kebal terhadap serangan ini. 'Badai' dalam konteks 'mencari kesejukan mata dari badai' diatas, bukan berada di luar rumah, tapi ada di dalam rumah kita. Dan kita harus keluar dari rumah supaya selama dari badai tersebut, badai berupa stres, teriakan, jeritan, penghinaan, pertengkaran antar suami-istri, adik-kakak tidak saling berbicara, orang tua tidak berbicara pada anaknya, krisis dalam rumah tangga.
Keluarga telah menjadi tempat kemarahan, kesedihan, penderitaan, yang orang-orang berusaha untuk keluar daripadanya.
Maka doa ini menjadi indah sekali, agar membuat rumah kita menjadi tempat perlindungan/naungan. Kita menderita karena badai yang ada di luar, dan tempat perlindungan kita ada di balik pintu rumah, ada di pasangan hidup dan anak-anak kita. Ketika kita melihat mereka, rasa cemas kita lenyap.
Penjelasan mengenai konteks ini secara lebih jauh lagi pada penggunaan konteks ini dalam Al-Quran adalah sebagai berikut.
Ikatan terbesar yang ada adalah pada ibu dan anak. Ketika sudah memiliki anak, naluri ibu akan selalu mengutamakan anaknya. Ibu-ibu bahkan akan sulit jika harus jauh dari anaknya, bahkan bisa jadi sangat khawatir ketika terlambat menjemput ke sekolah, terlambat menjemput di bandara.
Pada kisah Nabi Musa AS, kita perhatikan bagaimana kekhawatiran ibunya ketika harus melepas Musa di sungai yang nampak seakan melepasnya pada kematian, karena di belakangnya juga lebih menakutkan (pasukan Firaun yang membunuhi bayi-bayi laki-laki).
Ibu Musa berada pada situasi yang sangat sulit, tidak tahu bakalan kondisi anaknya seperti apa, dan kondisi anaknya sekarang dalam bahaya.
Di sisi lain, ada wanita lain yang juga berada dalam badai, yaitu istri Firaun, yang berada dalam kekerasan psikologis dengan suaminya Firaun, yang tidak bisa melepaskan diri darinya, karena dialah pemerintah dan polisi.
Maka perhatikanlah ketika istri Firaun menemukan Musa, dia berkata
"(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu". [qurratu 'aynin lii] (QS. Al-Qashash:9)
Berarti, dia akan menjadi tempat berlindungku dari badai, dia akan satu-satunya kegembiraanku, karena aku berada dalam kesedihan. Di ayat ini, istri Firaun mempergunakan kata walaka (dan bagimu), tidak mempergunakan kata 'bagi kita' karena dia tidak mengikat dirinya dengan Firaun.
Satu contoh lagi mengenai 'mata yang dingin' agar semakin memperjelas keutamaan doa ini.
Bayangkan perasaan bahagia/emosi seorang ibu yang dipertemukan dengan anaknya lagi yang sudah hilang, bagaimana perasaan bahagianya. Maka seperti itu pulalah perasan ibu kandung Musa ketika dipertemukan kembali dengan Musa,
"Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita." [faradadnaahu ilaa ummihi kay taqarra 'aynuhaa walaa tahzana] (QS. Al-Qashash:9)
Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, agar 'matanya menjadi sejuk'
Allah mempergunakan kata 'matanya menjadi sejuk'' untuk mengekspresikan kebahagiaan yang luar biasa ini.
Maka dari itu, kita meminta Allah agar Ia memberikan kita 'mata yang sejuk' lewat pasangan dan anak-anak kita.
Jika hendak menikah, mintalah lebih jauh lagi, bukan hanya hendak menikah, tapi menikah dengan seseorang yang bisa menjadi 'penyejuk mata', saya menjadi 'penyejuk mata' bagi mereka dan mereka akan menjadi 'penyejuk mata' bagi saya.
Bahkan Allah SWT menggiring doa ini lebih jauh lagi, waij'alnaa lilmuttaqiina imaamaan, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang (anak-cucu kami) yang shaleh, takut, bertakwa, kepada Allah.
Kalau ini diucapkan, kita telah menetapkan diri kita menjadi contoh bagi generasi kita (anak-cucu) di masa mendatang. Jika tidak bisa berlaku sebagai suami yang baik, istri yang baik atau anak yang baik, maka kita yang akan bertanggungjawab pada generasi di masa mendatang karena telah membuat tren/contoh yang tidak baik ini.
Maka doa di ayat ini adalah doa yang cerdas, agar kita bisa menjadi 'penyejuk mata' bukan hanya bagi keluarga kita saat ini, tapi bagi penerus di masa mendatang agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa pula.
Karena di akhirat nanti, kita tentu ingin agar dibantu doa oleh anak-cucu yang shaleh, yang bisa mengangkat diri kita ke surga.
Berdoalah dengan tulus, semoga Allah menganugerahkan kita, istri dan anak yang 'menyejuk mata' dan menjadikan kita sebagai pemimpin bagi orang-orang (anak-cucu) yang bertakwa. *amin
---000---
Balikpapan, 26 Desember 2012
Syamsul Arifin
No comments:
Post a Comment