13 November 2025

Apakah Uang Bisa Membuatmu Bahagia?

Pertanyaan lama, yang belum saya puas dengan jawabannya.

Beberapa waktu lalu nonton podcast The Diary of a CEO yang mengundang Morgan Housel, penulis The Psychology of Money.

Podcast 2 jam itu menarik, jawabannya tentang apakah uang dapat membuatmu bahagia, terdengar bagus, logis, dan memuaskan.

Morgan menjawab, bisa iya bisa tidak.

Ia menambahkan, pada dasarnya uang me-leverage (meningkatkan, menggaungkan, memperbesar) apa yang ada pada seseorang.

Kalau orang tersebut muram, penggerutu, kesepian. Punya uang tidak akan banyak mengubah itu.

Ia mungkin punya rumah besar, tapi ia akan tetap muram dan kesepian dalam kemewahannya.

Makanya menarik, kita tidak perlu menunggu untuk menjadi kaya untuk bisa bahagia.

Mensyukuri setiap apa yang dipunya. Bersikap positif. Bahagia dalam segala kondisi ternyata bisa.

Jadi ingat kata Dave Chappelle, komedian Amerika yang terkenal. Kekayaan itu sikap mental.

Orang yang merasa miskin, akan terus merasa miskin meskipun uangnya banyak. Maka tak heran, ia akan terus mencari, bahkan tak jarang lewat jalan yang haram, untuk bisa terus mengumpulkan uang. Karena ia tidak bisa merasa kaya (mentalnya miskin). 

Dan akan terus meminta-minta, bahkan bisa jadi memintanya dengan kekuasaan (kekerasan, paksaan, pemerasan), karena ia miskin meski secara harta berlimpah dan secara jabatan tinggi.

Orang tersebut tidak akan pernah merasa bahagia. Meski jalan-jalan ke luar negeri, naik mobil mewah, pesawat pribadi, pakai barang bermerk. 

Ia tidak bisa merasa bahagia, karena rasa yang di-leverage oleh uangnya adalah rasa yang dimilikinya juga kalau tidak punya uang. Seseorang yang jahat, tidak punya belas kasih, rasa sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia. 

Intinya, orang miskin yang sombong, kayanya pun sombong juga. Itu memang warna aslinya (true color).

Maka kalau melihat orang miskin yang sombong, tidak peduli orang lain, jika ia mempunyai uang banyak, akan semakin sombong. Naik level rasa sombongnya, ditingkatkan oleh hartanya.

Maka saya menyarankan, khususnya pada diri sendiri, agar selalu bisa merasa positif, bahagia, bersyukur, menikmati apa yang ada. Menjadi versi terbaik dirimu dalam kondisi apapun, karena uang tidak bisa mengubahmu. 

Ia hanya akan me-leverage dirimu yang sebenarnya. 

Jika kamu baik, maka dengan uang banyak, kamu akan jadi semakin baik.

Jadi pertanyaannya, apakah uang bisa membuatmu bahagia? Jawabannya: jika sebelum punya uang kamu sudah bahagia, maka setelah punya uang, kamu akan semakin bahagia.



---000---

Padalarang, 11 November 2025
Syamsul Arifin

14 May 2025

Jangan Biarkan Orang Lain Mendefinisikan Siapa Dirimu

Lagi trending konsep mirroring treatment, dimana kita memperlakukan orang lain seperti halnya dia memperlakukan diri kita.

Misalnya, kalau ada orang yang ramah sama diri kita, kita akan ramah juga kepadanya. Begitu juga sebaliknya.

Di satu sisi, ini bagus sih. Adil. Orang baik diberikan kebaikan, orang buruk/jahat dibalas hal yang sama.

Tidak salah sih. Namun, bagaimana jika, ternyata dalam hidupmu, ada begitu banyak orang buruk. Otomatis kamu akan semakin sering atau konstan berperilaku buruk. 

Kamu menjadi apa yang kamu lakukan. Perilaku yang dibiasakan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter. 

Watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.

Tanpa disadari, kita berubah menjadi orang yang kita benci. You become the person you hate.

Lantas, apa yang menurutmu baiknya dilakukan.

Menurut saya, jadilah diri sendiri. Versi terbaik dirimu di mana saja, kapan saja.

Berbuat baiklah, lalu lupakan.

Kadang kebaikan akan mengubah seseorang, namun seringnya, hal itu tidak akan berdampak apapun padanya.

Kamu bisa/boleh saja berbuat baik terhadap semua orang, tapi ingatlah, ular tetap akan menggigit orang yang memberinya makan.

Maksud kata "tapi ingatlah" untuk mematahkan ekspektasimu, harapan kalau orang yang sudah dibaiki akan berbuat baik juga padamu. Sama seperti ular, bertahun-tahun diasuh, dirawat, dibesarkan, dan dikasih makan, tetap saja akan menggigit sang empu/pemiliknya -jika ada kesempatan.

Kamu tidak dituntut untuk mengubah orang lain. Kamu boleh berbuat setimpal (mirroring) dan tidak mendapatkan apapun. Atau kamu bisa berbuat baik kepada semua orang, dan berharap hanya balasan dari-Nya.

Be kind to other, and be kind to yourself.


---000---

Depok, 14 Mei 2025
Syamsul Arifin.

05 January 2025

Memori Rasa

Definisi "memori rasa": kenangan emosi (bahagia, senang, takut, sedih, marah, dll) yang muncul ketika menikmati makanan atau minuman tertentu. (Ngarang sendiri)

Ingatan seringnya dikaitkan dengan gambaran visual, suara verbal, gerakan kinetik, dan semisalnya.

Namun tidak banyak yang menghubungkan antara memori dengan indera perasa/pengecap. Makan atau minum sesuatu yang mengembalikan lagi perasaan yang dulu dialami. 

Ada yang ketika makan sayur asem (dengan rasa tertentu), misalnya, jadi tetiba teringat dengan kenangan bareng ibunya yang sudah lama meninggal.

Kalau saya, ketika makan gudeg, jadi teringat perjalanan hidup ketika 2008-2009 dulu merantau di Samarinda, nge-kost sendiri di kota yang tanpa keluarga/saudara, makan siang di mall Lembuswasna.

Asosiasi/hubungan rasa dan ingatan itu tentu perlu dibentuk. Harus ada repetisi/pengulangan. Sering makan hal itu bareng siapa, atau ketika apa. Sehingga ketika suatu saat lagi makan hal tersebut (yang rasanya mirip-mirip), muncul nostalgia bawah sadarnya.

Dan rasa tersebut juga harus khas, agar ada specialty, kekhususan, diferensiasi antara rasa tertentu dengan kenangan tertentu.

Mungkin bagus juga kalau kita mau bentuk memori rasa ini dengan anak-anak, biasakan ia makan makanan rumahan, sehingga ketika ia makan makanan tertentu, ingatannya bisa melayang ke kita sebagai orang tua. 

Ada kenangan rasa bersama kita. Memori yang ia bisa munculkan juga ketika merindu kita (yang sudah mendahuluinya).



---000---

Depok, 5 Januari 2025
Syamsul Arifin
Foto warung gudeg Yu Djum di Yogyakarta (end of year travel with family)

24 September 2024

It's Just A Feature

Keanekaragaman manusia di dunia, bisa dianalogikan dengan fitur yang ada di mobil. 

Ada yang warnanya hitam, putih, silver, dst. Ada yang punya fitur kursi listrik, sehingga penyesuaiannya cukup hanya ditekan-tekan, ada yang pakai jok kulit, dengan pemanas, dapat dilipat sejajar lantai, dst.

Bahkan ada mobil dengan fitur canggih semisal cruise control (berkendara di kecepatan tertentu tanpa perlu mengijak pedal gas), dynamic cruise control, line assist, dst.

Namun yang terpenting adalah fungsinya, mengantarkan penumpang dari satu titik ke titik lain.

Fitur yang ada bisa membuat perjalanan lebih nyaman, menyenangkan, meningkatkan user experience, namun intinya tetap satu, apakah kendaraan tersebut bisa membantu kita berpindah tempat?

Manusia pun demikian, ada yang warna kulit dan rambut alaminya bermacam-macam, postur tubuh, tinggi, bentuk mata, mulut, telinga, yang bervariasi.

Namun jauh di dasar filosofi penciptaannya sama semua, dihadirkan ke dunia untuk beribadah, menyembah, membuktikan penghambaan kepada Tuhan yang maha esa.

Jika kita menyalahgunakan fitur kendaraan, sehingga malah terlambat sampai ke tujuan, maka buat apa punya mobil mahal tapi tidak bisa membantumu mencapai tujuanmu.

Jika punya tubuh bagus, sehat, bugar, mempesona, tapi malah memjerumuskanmu ke dalam kemaksiatan, penghianatan, durhaka terhadap Tuhan, maka buat apa punya itu semua?

Menariknya, semua hal akan dimintai pertanggungjawaban. Jika pernah menyewa/rental mobil, anda akan mengembalikan pada pemiliknya.

Begitu juga dengan diri/tubuh anda, akan dimintai pertanggunjawaban oleh sang pencipta. Digunakan untuk apa saja? Untuk kebaikan kah atau untuk keburukan yang telah Ia larang?

Semoga kita semua diberikan keistiqomahan dalam hidup, mengoptimalkan fitur yang diberi untuk beramal, membuktikan iman yang diucapkan. #amin



---000---

Syamsul Arifin
Jakarta, 24 September 2024
Bandara Soekarno-Hatta, otw to Pekan Baru - Duri (training SIKA PDSI)

17 August 2023

Berkata Tidak

Berkata 'tidak' adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki untuk bisa hidup tenang/bahagia.

Meski terdengar mudah, ada beberapa kesulitan untuk bisa mengatakan 'tidak'. Berikut catatan/pelajaran saya terkait hal ini.

1. Anda tidak perlu memberikan alasan untuk berkata 'tidak'. Ini adalah hidup anda, anda yang menjalani, orang lain tidak mesti/perlu tahu mengapa anda mengambil/tidak mengambil suatu keputusan/tindakan, dan anda tidak wajib memberikan alasan personal/pribadi. Cukup katakan tidak dilanjut tanda titik tanpa koma sudah memadai

2. Sebetulnya, anda tidak perlu minta maaf untuk berkata tidak. Bisa jadi anda khawatir/takut menyinggung orang yang mengajak/menawarkan/meminta/dst, jauh di dalam hati mereka tahu, respon wajar/normal yang akan diterima hanya dua, 'iya' dan 'tidak', sehingga tidak perlu minta maaf untuk berkata 'tidak' karenapun anda  yang nantinya akan jadi tidak bahagia/senang/mengalami kesulitan sendiri kalau justru berkata 'iya'

3. Berkata 'tidak' dengan jelas di awal lebih baik ketimbang memberikan jawaban ambigu. Antara 'iya' dengan 'tidak'. Anda (dan dia) bisa move one, melanjutkan diri dengan hal/masalah lain dalam hidup jika langsung memberikan jawaban 'tidak'

4. Kalau 'iya' akan memberimu masalah baru dalam hidupmu (yang sudah penuh masalah) atau menempatkanmu di posisi sulit. Maka jawaban terbaik adalah dengan berkata 'tidak'

5. Di masa kini, bisa jadi, jawaban terbaik atas banyak hal adalah berkata 'tidak'. Ditawari kartu kredit/produk keuangan, diajakin liburan/makan ke tempat yang dompetmu belum mampu, atau diajak melakukan aktifitas yang menurutmu merugikan semisal merokok, minum alkohol/narkoba, pacaran, tindakan pornoaksi, seks bebas, dst

6. Dijauhi/dikucilkan dari orang yang tidak bisa menerima jawaban 'tidak' adalah anugerah. Mereka bukan temanmu yang bisa saling mendukung kala susah-senang, mereka hanya memanfaatkanmu saja sebagai salah satu cara/jalan untuk mencapai tujuannya. Hidupmu akan lebih baik tanpa mereka.

7. Jika berkata 'tidak' akan membuatmu dicap buruk (bodoh, pelit, tidak asyik, dll) atau digosipin/dirumpiin/difitnah, itu adalah hak mereka. Pernyataan mereka tidak mencerminkan dirimu sesungguhnya. Anda tidak bisa mengatur bagaimana orang lain bersikap. Woles, biarkan saja karena toh hal itu tidak akan membuat anda sakit juga. Justru orang tersebut yang sakit (hatinya) 

8. Berkata 'tidak' mengajarkan orang (termasuk anak, istri/suami) bahwa ada beberapa/banyak hal yang akan berjalan tidak sesuai keinginanmu. Berdamailah dengan hal itu. Jangan terlalu memikirkannya. Tidak perlu stres, tertekan, sakit hati ketika menerima jawaban 'tidak'.


Kalau kamu, apa cerita, pelajaran, dan tipsmu dalam berkata 'tidak'?



---000g---

Syamsul Arifin, 
Depok, 16 Agustus 2023

14 December 2022

Persepsi, "Power imbalance", dan Kesombongan

Salah satu hal unik yang saya pelajari selama kuliah S3, khususnya ketika menyaksikan proses komisi/ujian/sidang rekan mahasiswa yang lainnya adalah perceived/persepsi diri sendiri atas keunggulan/kekuatan pribadi dapat membuat diri merasa lebih baik dari pihak lain = sombong. 

(Perceived) kekuatan/power ternyata tidak hanya muncul dari ketinggian posisi/jabatan, kemelimpahruahan harta, warisan ras/jalur nasab/keluarga/darah/kasta/marga tertentu saja, namun bisa juga muncul dari merasa diri lebih tahu/pintar dari orang lain.

Menarik.

Ketika kita merasa diri lebih baik dari orang lain (logisnya kita merasa orang lain lebih rendah juga), akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk belajar atau mengambil ilmu/hikmah yang dibawa orang tersebut. 

Bagaimana mungkin orang yang lebih kuat-tinggi-hebat-pintar akan mau menerima masukan dari orang yang lebih lemah-rendah-lemah-bodoh?

Beri tahu, bantu, arahkan, tunjukkan kalau memang tidak tahu, kurang baik, atau keliru. Tidak perlu diserang-dijelekkan-dicari kelemahan. Tidak perlu juga menunjukkan kalau anda lebih hebat, karena punya kekuasaan untuk membatalkan/menentukan lanjut atau tidak lanjutnya perjalanan akademik seseorang.

Power imbalance itu sebetulnya cuma masalah persepsi saja, merasa lebih tahu, padahal belum tentu seperti itu faktanya.

Tak usah sombong, karena kesombongan itu selendang Tuhan, hanya Ia yang berhak menggunakannya. Iblis terusir karenanya. Maukah dirimu mengikuti jejak langkahnya? 

10 November 2022

[Puisi] Buat Apa?

Buat Apa? 

Buat apa jadi burung emas kalau terkungkung sarang besi?
Bukankah lebih baik jadi burung pipit kecil yang merdeka mengepakkan sayapnya ke sana kemari?


---
Bandung, 10 November 2022
Ipin4u

16 August 2021

VIA Survey of Character Strengths

I try VIA Survey of Character Strengths, here are my result of the test.
The ranking of the strengths reflects your overall ratings of yourself on the 24 strengths in the survey, how much of each strength you possess. Your top five are the ones to pay attention to and find ways to use more often.

Your Top Strength: Spirituality, sense of purpose, and faith -

You have strong and coherent beliefs about the higher purpose and meaning of the universe. You know where you fit in the larger scheme. Your beliefs shape your actions and are a source of comfort to you.

Your Second Strength: Love of learning -

You love learning new things, whether in a class or on your own. You have always loved school, reading, and museums-anywhere and everywhere there is an opportunity to learn.

Strength #3: Fairness, equity, and justice -

Treating all people fairly is one of your abiding principles. You do not let your personal feelings bias your decisions about other people. You give everyone a chance.

Strength #4: Hope, optimism, and future-mindedness -

You expect the best in the future, and you work to achieve it. You believe that the future is something that you can control.

Strength #5: Honesty, authenticity, and genuineness -

You are an honest person, not only by speaking the truth but by living your life in a genuine and authentic way. You are down to earth and without pretense; you are a "real" person.



You can try it too at: https://www.authentichappiness.sas.upenn.edu/testcenter

20 June 2021

Pujian itu seperti hadiah

Pujian itu seperti hadiah. Jika ada yang memberimu hadiah, terimalah, ucapkan terima kasih. Jika mau, balaslah hadiahnya.

Jika ada yang memujimu, terimalah, ucapkan terima kasih (atas pujiannya).

Kita bisa jadi tidak terbiasa memuji, apalagi menerima pujian. Akibatnya kita bingung merespon apa.

Jangan jadi orang tak tahu budi, dikasih hadiah, malah hadiahnya dilempar. Dipuji malah bilang "ah ngga begitu deh kayaknya saya" (atau yang serupa itu).

Bilang saja "terima kasih".

Dalam Islam bahkan kita diajarkan untuk berharap/berdoa agar bisa lebih baik lagi (dari apa yang telah dipuji), bukan karena ingin dipuji (lagi), tapi karena semangat 'selalu menjadi lebih baik dari hari sebelumnya' itu diajarkan.

"Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan." (HR. Bukhari)

"Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya." *

*Perkataan dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad ketika mimpi bertemu dan mendapat wasiat dari Rasulullah SAW. Riwayat serupa berasal dari Ali bin Abi Thalib dianggap dhaif menurut para imam hadits.

17 June 2021

Ok to say no

It is perfectly OK to say "no" as an answer.

Sometime, the best answer is "no".

"No" can be seen as rejection, negatif respond or decision. It does mean that way. 

However, "no" can sometime play as an important tool, path, way, to learn, to be creative (thinking other alternatives), to achieve a better result, to pivot and pass the previous target/goal.

No can be a gift.

Learn to use it. Please.

26 February 2021

Jesus adalah Nabi yang Menyembah Tuhan yang Esa

Jesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

  • Tuhan tidak menyembah tuhan yang lain.
  • Yohanes 17:3 Bapa adalah satu Tuhan yang benar
  • Jesus sujud dan berdoa kepada Tuhan di taman getsemani agar tidak disalib, menandakan ada zat/Tuhan yang maha berkuasa, dan Jesus bukan Tuhan yang berkuasa
  • Tidak ada satupun ayat yang nyatakan ucapan Jesus bahwa ia adalah Tuhan di dalam injil.
  • Juga tidak ada tentang ayat yang menyebutkan konsep trinitas secara nyata dan benar konteksnya di dalam injil. Ada beberapa ayat yang dijadikan landasan trinitas, padahal kalau ditelaah di ayat sebelumnya dan dilihat konteks ucapannya, hal itu tidak sesuai. Yang ada hanyalah kredo trinitas yang ditambahkan 4 abad setelah Yesus diangkat

Jesus mengakui hanya satu Tuhan.

Yesus adalah Nabi, sama seperti Musa dan Ibrahim, yang disusul oleh Nabi terakhir Muhammad saw.

02 January 2021

Maksimalkan Ikhtiar dan Lengkapi dengan Doa

Kita memiliki kebebasan kehendak dan pilihan, namun kita tidak pernah bisa lari dari takdir yang sudah digariskan.

Itulah sebabnya kita diajarkan untuk optimal dalam berusaha. Bermusyawarah dengan orang yang ahli/bijak/berilmu/berpengalaman untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, mengerahkan seluruh sumber daya terbaik dalam bekerja. Memonitor dan menyesuaikan diri dengan kondisi atau informasi terkini untuk bisa mencapai target yang dituju.

Pada akhirnya, kita tidak pernah dituntut untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Yang dituntut adalah usaha yang maksimal.

Banyak orang percaya bahwa hasil itu berbanding lurus dengan usaha yang diberikan. Dan memang secara umumnya benar demikian. Itulah hukum alamnya, sunatullah.

Tapi bisa jadi ada pengecualian tertentu, sekali waktu.

Pencilan atau outlier, dalam terminologi statistik.

Meyakini bahwa semua sudah digariskan tidak untuk membuat kita malas berusaha. Tapi untuk membuat kita semakin banyak zikir kepada-Nya. Bersyukur atas segala anugerah dan berlindung atas kesombongan diri.

Keyakinan akan takdir adalah satu sisi mata koin, sisi yang satunya lagi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan/usaha hamba-Nya.

Alhamdulillah dan astagfirullah untuk semua di 2020 (segala kebaikan dan kekurangan diri).

Semoga Allah memberikan lebih banyak lagi kenikmatan, kesehatan, dan keimanan di 2021 #amin ya rabbal alamin.





---000---

Jakarta, 2 Januari 2021
Syamsul Arifin. 

08 September 2020

Keep Learning –if You want to Change to Become Better

If you’re stupid when you were young, there’s a chance you grow up to become stupid old man –if you don’t change along the way-.

If you’re mean, ignorance, stubborn, harsh, selfish, cruel, bully, or enjoy treating people bad when you were young, the same character will stick with you as your age added up –if you don’t do nothing about it-.

Becoming older doesn’t necessary make you wiser, better, knowledgeable person.

It required an effort to become a better man/women. Physical devotion, time allocation, financial spending, and most of the time: self-consciousness.

Learning, contemplating, taking input, acknowledging mistake we make; none of those sort kind of things are taken for granted. 

Learning is never ending process.

The only thing that can stop us from learning, becoming better person is only one thing, our grave/death.


---000---

Depok, 8 September 2020
Syamsul Arifin.

08 June 2020

Belajar dari Kelahiran Pancasila

1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Sangat menarik kalau kita membaca proses sejarah penetapan dasar ideologi negara ini.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar kisahnya, tapi hari ini lebih dari sekedar hari libur.

Beberapa kata kunci dan tokoh yang ada pada proses di belakang lahirnya Pancasila diantaranya #Penjajahan, #Jepang, #BPUPKI, #DasarNegara, #Radjiman Wediodiningrat, M. #Yamin, #Soepomo, #Soekarno, M. #Hatta, AA #Maramis, Abikoesno #Tjokrosoejoso, Abdul Kahar #Muzakir, Agus #Salim, Achmad #Soebardjo, Wahid #Hasjim, #Panitia9, #PPKI, #Pancasila, #UUD1945, #PiagamJakarta, #Nasionalisme, #Kemerdekaan, #Indonesia

Silakan digoogling cerita lengkapnya.

Setelah mengetahui kisah di balik Pancasila, kita sebagai milenial zaman now bisa menarik beberapa pelajaran berharga untuk pengembangan diri.

Pertama, jadilah kreatif/inovatif.

Sidang pertama BPUPKI mulai 29 Mei sampai 1 Juni 1945.

M Yamin (29 Mei) mengusulkan 5 dasar negara: peri kebangsaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Soekarno (1 Juni) juga menyampaikan pidato usulan dasar negara: internasionalisme atau peri-kemanusiaan; mufakat atau demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; kesejahteraan sosial; dan ketuhanan.

Masih jauh berbeda dari isi Pancasila yang kita kenal sekarang.

Ide kita bisa jadi tidak akan langsung sempurna, tapi ia bisa menjadi bibit yang akan tumbuh seiring waktu.

Inovasi juga tidak mesti muncul dari diri kita sendiri, mintalah pendapat/saran pihak lain, bisa jadi berguna.

Seperti yang dilakukan Soekarno, bisa jadi kita akan mengenal 5 asas negara dengan nama Panca Dharma jika ia tidak mengakomodir saran ahli bahasa.

Kedua, kolaboratif.

Menjadi pintar dalam pencapaian pribadi berbeda konteks dengan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain.

Banyak kita temukan individu yang cerdas tapi kesulitan atau tidak mampu bersinar dalam interaksi dinamika tim.

Perumusan Pancasila mengajarkan kita bahwa para bapak (dan ibu) pendiri bangsa adalah pribadi-pribadi yang cerdas dan mampu berkolaborasi secara baik guna mencapai tujuan besar bersama.

Mereka mungkin memiliki pengalaman hidup dan pendidikan yang berbeda, tapi semangat kerja sama tim yang ditunjukkan sungguh patut ditiru.

Ketiga, toleran, persatuan, dan positif thinking.

Dengan rasa saling memahami, pelibatan semua pihak, menghindari egoisme, kita bisa jadi bangsa besar yang merdeka.

Seperti yang terjadi pada sidang PPKI yang heterogen, terdiri dari orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan peranakan Tionghoa.

Dikatakan bahwa diversifikasi/keberagaman dalam pemikiran, latar belakang, budaya, dll dapat menjadi kekuatan suatu tim/organisasi, karena bisa mengambil banyak sudut pandang, pengalaman, praktik terbaik yang tersebar pada beragam personil, tapi hal ini butuh toleransi, semangat kebersamaan, dan lingkungan yang saling mendukung.

Itulah sedikit pelajaran yang bisa kita ambil dari lahirnya Pancasila.

Semoga bisa kita ambil hikmah dan melanjutkan semangat yang menjadi pendorong kebangkitan bangsa di masa lalu, agar bisa juga menjadi kebangkitan bangsa di masa kini.

Merdeka!

#BangkitkanEnergiPancasila



---000---

Depok, 1 Juni 2020
Syamsul Arifin.

Kesehatan Mental, Penting Juga Lho

Jika seseorang mengungkapkan secara verbal ataupun non verbal (tulisan/posting sosmed), badan/anggota tubuhnya sedang sakit, kemungkinan besar ia akan mendapat empati (atau minimal simpati), ucapan doa semoga lekas sembuh/GWS (get well soon), dukungan kesabaran*, maupun kalimat penghibur lainnya.

Di sisi lain, jika seseorang mengatakan kalau mental atau psikisnya sedang sakit/menderita (stres, depresi, dll), berapa banyak empati yang akan ia terima?

Ataukah justru perundungan (bullying) dan cemoohan yang akan ia terima, karena dianggap tidak tegar, cemen, lebay, lemah, drama queen, atau sebutan negatif lainnya?

Sangat bertolak belakang ya.

Sakit fisik dapat umpan balik/feed back yang positif, tapi sakit psikis kok malah dapat hal yang negatif?

Sepertinya ada yang salah dengan pola pikir kita.

Kita harus mulai mengakui bahwa sakit psikis itu nyata dan ada.

Hal yang sama harus diberikan juga pada penderita sakit psikis. Pengobatan, dukungan, motivasi, atau setidaknya sedikit simpati.

Banyak hal yang bisa membuat kesehatan jiwa seseorang terganggu. Terutama di era pandemi seperti sekarang ini.

Jangan takut untuk mencari bantuan atau memberitahu orang lain kalau dirimu mengalami depresi.

Dan jangan mem-bully penderita sakit mental. Kita tidak tahu kondisi apa yang telah ia alami/lalui.

Setidaknya dengarkan ia terlebih dahulu. Terkadang, obat terbaik adalah tersedianya telinga yang mau mendengar. Hanya sekedar melepaskan kegundahan dari dalam diri.

Mari hentikan diskriminasi sakit mental/psikis.



---000---

Depok, 31 Mei 2020
Syamsul Arifin.

* Definisi sabar secara aktif yaitu terus berusaha/optimis dalam usaha pengobatannya)

Membangun Normal (ke Dalam) di Zaman Now

Covid-19 telah menjungkirbalikkan banyak hal, kesehatan, bisnis, ekonomi, tak terkecuali praktik beribadah dan tradisi budaya banyak negara -dimana kita tidak imun juga atas dampaknya.

Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup, apalagi dalam skala pandemi.

Kita perlu fokus pada hal-hal yang BISA kita kendalikan untuk menghindari kecemasan berlebihan.

Salah satunya adalah bagaimana kita akan menjalani praktik ibadah, tradisi berlebaran, dan menghabiskan waktu dalam isolasi mandiri di rumah saja di zaman now, seperti sekarang ini.

Bicara via telpon atau video call kepada keluarga dekat yang berada jauh karena tidak bisa mudik.

Tidak perlu memaksakan diri. Tidak pergi mudik di momen seperti sekarang ini adalah normal. Wajar. Tidak salah alias benar bahkan patut didukung.

Shalat ied di rumah juga boleh. Ada fatwa MUI mendukungnya, banyak ulama juga telah menguatkannya.

Tidak bersalaman fisik dengan tetangga juga normal, justru perlu dikampanyekan di zaman now.

Berlawanan dengan pemikiran kebanyakan orang -bukan hanya sekedar anti mainstream- tapi saya justru menyarankan kita mengelola (membatasi) kuantitas waktu online/screen time ketika berlebaran.

Jangan sampai, dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan yang jauh, kita malah justru jadi semakin jauh dengan yang dekat (keluarga yang ada di rumah).

Kita perlu jujur mengevaluasi diri, seberapa besar intensitas kita menatap layar hp, apakah lebih banyak melihat gadget dibandingkan menatap wajah pasangan atau anak?

Tentu menyedihkan kalau iya.

Luangkan waktu, fokus perhatian, dan kedekatan fisik dengan mereka. Jangan hanya mendengar, tapi simaklah perkataan mereka.

Ada perbedaan antara mendengar (hearing) dengan menyimak (listening), perhatian penuh kuncinya. Mendengar sambil main hp beda dengan menyimak sembari menatap mata anak.

Pesan WA di berbagai grup yang diikuti tidak perlu dibaca/balas semua.

Menjaga kesehatan pribadi dan keluarga itu penting. Sehat fisik dan psikis. Luangkan waktu bermain bersama anak, jangan asyik/sibuk sendiri dengan gawai dan sosmed.

Kehidupan mereka (anak-anak) juga berubah. Mungkin jadi tidak bisa main di luar rumah, bertemu teman sekolah, dll. Mereka juga punya jiwa, bahkan mungkin lebih rentan.

Perhatikan tanda-tanda kelelahan mental. Jangan dicekoki terus dengan tayangan tv yang sering tak berguna atau screen time yang tanpa batas.

Bermainlah bersama mereka.

Jadikan momen ini menjadi penguat cinta kasih dalam keluarga.

Minta maaflah dengan tulus atas pengasuhan yang tak sempurna, kurangnya cinta kasih, dan buruknya kepemimpinan dalam keluarga.

Masa-masa sekarang ini tepat untuk menormalkan kembali hubungan dengan terkasih yang ada di dekat kita.

Hubungan yang normal dengan pasangan dan anak, perlu dicari, dibangun, dan dipertahankan.

Jika kita kesulitan mencari bentuk kehidupan yang ‘normal’ di luar sana, setidaknya kita masih bisa merasakan kehangatan normal di dalam (keluarga), di rumah sendiri.

Kalau kita kebetulan masih bisa bekerja dari rumah (dimana banyak orang tidak punya ekslusivitas ini), manfaatkanlah sebaiknya. Sebab waktunya bisa jadi berakhir esok hari, atau entah lusa nanti.



#PertaminaEmployeeJournalism #PertaminaSiagaCovid19 #Energitakberhenti #Berkahdirumah
@pertamina


---000---

Depok, 26 Mei 2020
Syamsul Arifin

03 March 2020

Relieved to be Pulled out of Balikpapan

For once, i can feel relieved to be pull out of Balikpapan.

25 March 2019, i remembered the first day i became a task force worker at Holding company, stationed at Jakarta.

It was a mix feeling stepping out of our comfort zone.

Balikpapan was a wonderful place to stay. I grew my small family, starting from just 2 youngsters living together, ended up having 4 beautiful children.

It was part of heaven. Small town near the beach, no traffic jam with plenty of quality time for the family.

Coming here can always able bringing back those memory. The smell of the sun in Saturday morning near the Kemala beach where white sand and shell clamp being collected by kiddos.

1 year a head. I feel that this city seems to loose it attaction. 3 March 2020, during a visit, i can't help to notice the place where we use to eat at Plaza Balikpapan are dissappeared. Shoping shops are also closing their doors.

There seem to be a constant draw back.

So, now my heart can stop mourning, for leaving this city.

Embarking a new journey, still together with the full pack. 1 wife, 4 children.

It probably time for me to release my self from the captive of the past, to a full set of opportunities.

Those who are stuck with their past, will surely have a hard time conquering their future.

I need to remember one thing. God plan will always be the best for us.

Even though it will be impossible to understand what God plan is, until it was revealed to us.

What i just need to do is to understand that the causality (God law) are being met. Do the best, grow capabilities, always learning, have open minded, never feel satisfied (in a good way), be humble (networking with anyone, learning from anyone), have integrity, dont be afraid to fail, challenge status quo, ask question(s), fulfill obligations to God, be kind to parent (and to siblings), love your family (wife and children) -schedule time with them, educate, and be their role model, etc.

By doing so, insya Allah, good things will come.


---000---

Balikpapan, 3 March 2020

08 January 2020

Daftar S3 Ilmu Manajemen Unbraw

Setelah browsing sana sini. Akhirnya memutuskan lanjut belajar ke UB. Mumpung lagi kerja di Jakarta. 

Pertengahan Juli 2019, tanya-tanya info ke sekretariatnya. Dan diinfokan ada pembukaan untuk semester genap -karena semester ganjilnya sudah tutup pendaftarannya. 

25 Agustus, tes TPA di Bappenas.
31 Agustus, tes TOEFL.

Sembari meminta rekomendasi ke pembimbing tesis, ketua PEI, dan dekan D-IV K3 Uniba. 

Awal Desember tanya-tanya lagi, ternyata, 12 Desember adalah hari terakhir daftar program S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, kelas Jakarta.

Segera mengumpulkan/menyerahkan persyaratan administratifnya, 7 Desember.

15 Desember, wawancara seleksi.

3 Januari 2020, Alhamdulillah diumumkan diterima jadi mahasiswa S3 Ilmu Manajemen Universitas Brawijaya, kelas Jakarta semester genap TA. 2019/2020, di kelas A.

Mulai kuliah matrikulasi 10 Jan - 2 Feb 2020.

Insya Allah, 2023, sudah resmi jadi Dr. Syamsul Arifin, SKM. MKKK. Grad IOSH. Amiiin ya Rabbal alamin.

28 November 2019

Feel Blessed to be Part of Organization to Support Indonesia Development

Energy demand will continue to increase in correlation with population and economic growth.

Despite full awareness on energy transition for lower emission/renewable energy (wind and solar power), fossil fuel will remain play significant portion through 2050.



Oil and gas provide better energy supply than coal, improve access to cleaner energy, and reduce greenhouse gas emission.

Pertamina, as one of the leading energy company in Indonesia have important role to fill this energy demand. Company’s main and subsequent activities will eventually help to reduce poverty, improve public health-education, and foster economic growth.

Indonesia’s government income resulted from upstream oil and gas sector reach US$17.2 billion or 145% from APBN-P 2018 target (US$11.9 billion).

Pertamina’s oil production in 2018 achieve 393 MBOPD, 15% exceeding previous year production, with gas production reach 3,059 MMSCFD, 50% exceeding previous year volume.

4 Pertamina’s subsidiary are at top 10 biggest oil-condensate producer during 3rd quarter 2019: Pertamina EP, Pertamina Hulu Mahakam, PHE OSES, and Pertamina Hulu Kalimantan Timur. In addition, 3 Pertamina’s subsidiary are at top 10 biggest gas producer on the same time interval: Pertamina EP, Pertamina Hulu Mahakam, and JOB Pertamina Medco Tomori Sulawesi.

Oil and gas industry can also support Sustainable Development Goals (SDG), which adopted by 193 United Nations member states.

SDG’s are the world’s plan for social inclusion, environmental sustainability, and economic development. The oil and gas industry has the potential to contribute to all 17 SDG. Below are the mapping of initiatives that can be provide by oil companies to support SDG.



Since 2017, thru Pertamina’s 8 Priorities of a World Class effort to accelerate the achievement of 2025 Vision -to become a World-Class National Energy Company-, there was mentioned step to develop new and renewable energy aspect.

Currently, thru its subsidiary, Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina had provide US$ 2.68 billion or Rp. 38.05 trillion investment to add additional 440 MW geothermal power plant capacity on 2026 from current production 700 MW.

In hand, plan to produce non-carbon energy: developing hydrogen and nuclear power are also being developed.

Hydrogen which being trialed is hydrogen use at refinery, to produce methanol, and for mobility. Nuclear power will be use as hydrogen mover to provide affordable energy source.

 


Having said all, I feel blessed to be part of this organization. Giving all I can do to support this nation, thru my actualization in the world-class national energy company.


#pertaminaemployeejournalism
#EnergiUntukMaju


---000---

Jakarta, 28 November 2019
Syamsul Arifin, SKM. MKKK.

Reference:

International Energy Agency (IEA). World Energy Outlook 2019. France
CNBC. Global energy demand means the world will keep burning fossil fuels, International Energy Agency warns. 2019. Accessed at https://www.cnbc.com/2019/11/12/global-energy-demand-will-keep-world-burning-fossil-fuels-agency-says.html on 28 Nov 2019
Heidenreich, Katy. The Oil Industry’s Best Kept Secret. 2018. UK
McKinsey. Energy 2050: Insights from the ground up. 2016. Accessed at https://www.mckinsey.com/industries/oil-and-gas/our-insights/energy-2050-insights-from-the-ground-up# on 28 Nov 2019
Kementerian Keuangan. Pendapatan Negara APBN 2019. Indonesia
SKK Migas. Laporan Tahunan 2018. Indonesia
Pertamina. Laporan Tahunan 2018. Indonesia
Liputan 6. Produksi Migas Indonesia Kuartal III 2019 Capai 1,7 Juta Barel. 2019. Accessed at https://www.liputan6.com/bisnis/read/4094278/produksi-migas-indonesia-kuartal-iii-2019-capai-17-juta-barel on 28 Nov 2019
IPIECA. Mapping the Oil and Gas Industry to the Sustainable Development Goals. 2017. USA.
CNBC Indonesia. Wow! Pertamina Bakal Kembangkan Energi Nuklir. 2019. Accessed at https://www.cnbcindonesia.com/news/20191127162910-4-118453/wow-pertamina-bakal-kembangkan-energi-nuklir on 28 Nov 2019.

12 November 2019

Pahlawan di Ujung Laut Lepas


Oleh: Syamsul Arifin, SKM. MKKK


Menemukan cadangan minyak dan gas (migas) menjadi semakin menantang. Lokasi temuan hidrokarbon semakin sulit dan terpencil. Jika dulu lapangan migas banyak dengan mudah dapat ditemukan di darat (onshore), saat ini aktivitas eksplorasi dan produksi mengarah ke arah laut lepas (offshore), bahkan ke menjauh ke laut dalam (deepwater).

Meskipun demikian, perkembangan teknologi telah memungkinkan ekplorasi (exploration), pengeboran (drilling), pengembangan (development), dan produksi (production) lapangan migas dapat dilakukannya secara ekonomis di lingkungan yang semakin bertambah sulit tersebut.

Analis memprediksi bahwa di 2020, migas masih menempati porsi terbesar konsumsi energi dunia, sebesar 56%, diikuti batu bara 26%, dan kombinasi energi terbarukan, hidro, dan nuklir sebesar 17%.

Secara umum, siklus penuh migas dibagi menjadi hulu (upstream) dan hilir (downstream). Di hulu, dilakukan eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak mentah, sedang di hilir dilakukan transportasi, pengilangan (refinery), dan distribusi produk jadi migas.

Para pelaku industri migas hulu secara sederhana dapat dibagi menjadi 2 kategori utama: perusahaan operator dan perusahaan jasa.

Perusahaan operator adalah perusahaan yang mendapatkan kontrak dengan suatu negara/badan pemerintah untuk melakukan eksplorasi, produksi, dan pengembangan lapangan/wilayah kerja migas.

Operator dapat dibagi menjadi beberapa sub kategori. Di sub kategori perusahaan terintegrasi -yang memiliki bidang usaha dari hulu sampai hilir- (integrated oil company), ada perusahaan migas internasional (International Oil Company/IOC) -kepemilikan sahamnya terbuka dan beroperasi secara internasional- contohnya Chevron, ExxonMobil, BP, Shell, Total; dan perusahaan nasional (National Oil Company/NOC) - kepemilikan sahamnya dikuasai oleh suatu negara/pemerintah- semisal Pertamina, Saudi Aramco, Petronas, China National Petroleum Corporation; ada juga operator migas yang hanya beroperasi di bidang usaha hulu dan kepemilikan sahamnya terbuka untuk umum (independent oil company) semisal Medco, Energi Mega Persada, ConocoPhillips, Anadarko, dll.

Sesuai nama kategorinya, perusahaan jasa (service company) adalah perusahaan yang memberikan produk dan/atau jasa migas tertentu. Perusahaan jasa di industri migas memegang peranan signifikan karena baik IOC ataupun NOC membutuhkan jasa yang sangat spesifk dan tidak memiliki waktu, uang dan energi untuk mengembangkan teknologi tertentu dalam rentang waktu proyek.

Perusahaan jasa migas yang baik memiliki departemen penelitian dan pengembangan (research and development) yang kuat sehingga dapat menyediakan klien/perusahaan operator dengan layanan atau produk berkualitas tinggi dengan harga yang lebih murah ketimbang mengembangkan sendiri mulai dari nol oleh perusahaan operator.

Contoh perusahaan jasa di bidang eksplorasi untuk survei seismic adalah CGG, Petroleum Geo-Services, TGS; untuk kontraktor utama pengeboran (drilling contractor) misalnya Apexindo, Transocean, Ensco, Seadrill; untuk jasa spesifik ketika pengeboran, penyelesaian sumur (completion), workover atau well service (perawatan sumur) diantaranya yaitu Elnusa, Schlumberger, Halliburton, Baker Hughes, Weatherford, dll.

Contoh lain perusahaan jasa di bidang Engineering, Procurement dan Construction (EPC) adalah Tripatra, Bukaka, Timas, JGC, Rekind, Technip, Fluor, Amec, McDermott, Saipem, Samsung Heavy Industries, Petrofac. Perusahaan EPC ini mendesain dan membangun (konstruksi, installation, commissioning) fasilitas produksi migas.

Perusahaan jasa lain-lain seperti untuk pekerjaan inspeksi, surveyor, transportasi darat-laut-udara, penyedia atau pengolahan pipa, pelatihan, penyedia tenaga kerja (labour supply), kesehatan, catering adalah BKI, Sucofindo, DNV-GL, Radiant, Franklin Offshore, IMECO, Altus, Petrosea, Abhitech, Supraco, SPIE, Alkon, Samson Tiara, Medica Paza, Pangan Sari Utama, Indocater, Baruna Raya Logistik, Travira Air, Pelita Air, CHAS, dll.

Begitu banyak pihak yang terlibat untuk bisa memproduksi migas. Kesemuanya saling terkait untuk kesuksesan operasional.



Bekerja di industri migas memiliki risiko yang sangat besar. Semua itu terjadi karena karakteristik lepas pantai yang khas berupa lokasi kerja yang terisolasi, potensi bahaya besar (kebakaran, ledakan), pola kerja 12 jam per hari dengan 2 atau 4 minggu kerja terus menerus, terpaparan banyak bahaya di waktu bersamaan (misalnya terpajan material berbahaya, kebisingan, getaran, panas, pengangkatan manual), dan kondisi lingkungan yang ekstrim.

Teknologi yang kompleks, interdepensi antar tim yang tinggi, ketidakpastian kondisi dengan perubahan dengan cepat, kerumitan pekerjaan, semakin menambah tantangannya.

Pada tahapan produksi migas, di satu anjungan lepas pantai (offshore platform), ada banyak profesi dan bisa jadi beberapa perusahaan yang terlibat.

Dipimpin oleh Offshore Installation Manager (OIM), ada pekerja produksi (pengawas, operator, dispatcher), insinyur (engineer) atau teknisi mekanik-listrik-instrumentasi-kimia-konstruksi, pengelas (welder), laboratorium, marine (mooring master, kapten kapal, penyelam/diver, rigger), operator crane, petugas keselamatan kerja, dokter atau paramedis, koki, operator radio, room boy, dll.


Dengan sistem manajemen yang terorganisir dengan baik, desain teknis yang mumpuni, kompetensi yang handal, kolaborasi yang erat, diharapkan mampu meminimalisir tingkat risiko, guna menjamin kebutuhan energi nasional. Kedaulatan energi bangsa.

Para pekerja offshore, merekalah para pahlawan teknologi, pejuang di ujung laut lepas dalam memenuhi kebutuhan bangsa akan energi yang terjangkau sebagai bahan bakar pembangunan.


#pertaminaemployeejournalism
#EnergiUntukMaju



Referensi:
Herkenhoff, Linda. A Profile of the Oil and Gas Industry. 2014. Amerika
BP. BP Energy Outlook 2019 edition. 2019. UK
Baker, Ron. A Primer of Offshore Operations. 1998. Amerika