13 February 2011

Salah Satu Sebab Ketidaksabaran

Kesabaran itu susah. Menjalani takdir yang diberi; berusaha terus melaju dengan apa yang ada, tanpa pernah putus asa, bukan suatu hal yang mudah.

Kesabaran bukan hanya kita praktekkan ketika menerima musibah, tapi juga harus bisa kita usahakan dalam bentuk yang aktif. 

Secara umum, kesabaran itu terdiri dari tiga jenis:
1. Kesabaran ketika ditimpa musibah
2. Kesabaran agar bisa terus menjalankan kebaikan, dan
3. Kesabaran untuk bisa menghindari diri dari keburukan

Orang-orang yang bersabar harus mampu menjaga dirinya dari melakukan perbuatan yang dilarang, dan harus juga bisa mengarahkan dirinya agar bisa terus berada di koridor kebaikan sebagaimana telah diperintahkan.

Penyebab Ketidaksabaran

Dari dialog antara Nabi Musa AS dan Khidhr, kita bisa mengetahui salah satu penyebab kita tidak sabar. Kisah perjalanan mereka berdua bisa kita lihat di surat Al-Kahfi. Salah satu potongan perkataan Khidhr kepada Nabi Musa AS yaitu:

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS. Al-Kahfi: 68)

Jika kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, terbentur kondisi realita tidak sesuai pengharapan/usaha, terkadang bisa menyebabkan ketidaksabaran. Akhirnya mempertanyakan keputusan Tuhan *naudzubillah.

Maha Suci Allah dengan segala Kesempurnaan-Nya

Kita lupa bahwa Allah memiliki sifat Al `Adl (maha adil), Al `Aliim (maha mengetahui/memiliki ilmu), Al Hakiim (maha bijaksana), juga Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rahiim (Maha Penyayang).

Lupa seakan-akan tidak ada kekuasaan Ilahi yang mengawasi kita, yang maha memelihara dan menjaga.

Kita merasa yakin bahwa apa yang kita rencanakan, inginkan, usahakan, merupakan satu-satunya hal yang terbaik bagi diri kita di dunia dan akhirat. Padahal dengan keterbatasan ilmu yang kita miliki, hal ini belum tentu 100% benar.

Bisa jadi Allah menetapkan suatu hal yang jauh lebih baik di balik kegagalan kita, mengatur skenario yang lebih indah dari apa yang telah kita sangka, menjaga dan mengarahkan diri kita dari keterpurukan di dunia dan kerugian di akhirat –karena sekali lagi, Allah maha mengetahui dan janganlah ragu, karena Dia juga pasti maha penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Yang perlu kita lakukan cukuplah sederhana, bersyukur ketika diberi nikmat, dan bersabar ketika diuji. Bersabarnya bukan hanya pasif, tapi juga aktif, terus mencari jalan keluar lainnya, terus mencari solusi, berusaha lagi tanpa pernah mengenal putus asa.



---000---

Balikpapan, 13 Februari 2011
Syamsul Arifin

Artikel yang lebih komprehensif membahas "sabar" bisa merujuk ke >sini<

05 February 2011

Menang Kompetisi Menulis Resolusi Tahun Baru 1432 H di MosqueLife.com

Hari Jumat, 4 Februari 2011 kemarin dapat kiriman paket. Isinya sebuah buku yang merupakan hadiah karena telah menang di kompetisi menulis resolusi tahun baru 1432 H di MosqueLife.com.

Resolusi saya diposting di: sini.

Para pemenang yang lain dan pengumumannya ada di sini (MP-nya Eko, si empu-nya situs mosquelife) dan di sini.

Alhamdulillah...

Diantara sekian banyak pilihan hadiah buku bagi para pemenang, saya memprioritaskan buku bertema akidah karena ilmu tentang akidah inilah yang seharusnya menjadi pondasi setiap muslim. Dan menurut saya, setiap muslim harus memiliki pengetahuan yang benar dan pemahaman yang kokoh dalam tema ini.

Penulisnya ternama, penulis buku fiqh yang bagus juga -Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq. Isinya pun terlihat sangat lengkap dan mencakup banyak topik. Meski belum baca seluruhnya, saya merekomendasikan buku ini bagi semua orang yang ingin mempelajari tentang Islam (baik muslim maupun non muslim).

Alhamdulillah, terima kasih atas kirimannya, insya Allah bermanfaat :)

Ringkasan Materi DR Daud Rasyid

*pengajian kantor, 1 Februari 2011


Sekulerisme adalah ajakan untuk menjadi kafir, karena Islam haruslah kaffah –menyeluruh, tidak boleh separuh-separuh.

Syariat Islam itu indah: adil, kasih sayang, ketika ada hudud/hukuman yang terkesan kejam maka hukuman itu dibuat agar kejahatan dibalas kejahatan yang setimpal dan agar pelaku kejahatan tersebut jera/berubah setidaknya kejahatannya tidak menyebar/menular di masyarakat. Bandingkan dengan produk hukum buatan manusia, hukum dimain-mainkan –dikorting, tidak mencerminkan keadilan.

Quran dan Sunnah adalah pedoman agar tidak terseret godaan dunia, seperti berada di pantai yang arusnya kuat, siapa yang berpegang teguh pada keduanya niscaya selamat dunia-akhirat.

4 hal yang akan diaudit di akhirat nanti (usia kita per menit semenjak baligh sampai mati akan dinilai): umur (shalat –ibadah yang utama, shalat nawafil untuk menutupi kekurangan -masa-masa muda dulu ketika belum shalat), masa muda (puncak kekuatan seseorang), ilmu (ilmu dunia punya, tapi ilmu agama punya tidak? Padahal ilmu agama adalah ilmu yang utama. Beserta pengamalan terhadapnya), harta (sumber dan alokasinya).

03 February 2011

Istri Bukan Pembantu

Sumber: http://www.ustsarwat.com/web/foto_berita/istri.pdf
Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.

Dalam format berpikir bangsa kita, posisi seorang istri memang lebih merupakan abdi atau pembantu buat suami. Secara tidak sadar, kita menganggap semua itu berasal dari ajaran agama Islam. Seolah-olah kita mengatakan bahwa Islam telah  mewajibkan para istri untuk melakukan banyak pekerjaan rumah tangga, layaknya seorang pembantu.

Istri harus menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, memasak, pokoknya semua pekerjaan rumah tangga lainnya. Waktunya akan tersita dengan pekerjaan sebanyak itu. Bahkan, waktu suami pulang, istri sudah lelah dengan pekerjaan rumah tangga hariannya. Tak ada waktu untuk melayani suami dan anak-anaknya.

Lalu, seperti apa sebenarnya peran seorang istri dalam rumah tangganya? Apakah seorang istri memiliki kewajiban untuk melakukan semua pekerjaan itu? Bagaimaan Al-Quran, Sunnah dan para ulama memandang masalah ini? Ataukah ini hanya merupakan kesalahan persepsi bangsa kita saja?

1. Dalil Al-Quran

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian  yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telahmenafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. AnNisa' : 34)

Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban suami adalah memberi nafkah kepada istri, bukan kewajiban istri untuk memberi nafkah kepada suaminya. 

Sedangkan yang dimaksud dengan nafkah termasuk makanan minuman, pakaian dan tempat tinggal.

Memberi makan itu merupakan kewajiban suami kepada istri. Dan kalau disebut makanan, artinya bukan bahan mentah melainkan makanan yang siap disantap. Sehingga proses memasaknya bukan menjadi tugas dan tanggung-jawab istri.

Memberi pakaian itu adalah kewajiban suami kepada istri, bukan kewajiban istri kepada suami. Dan kalau disebut pakaian, artinya adalah pakaian yang bersih, wangi, rapi siap dipakai. Maka kalau baju itu kotor dan bau karena bekas dipakai, mencuci, menjemur dan menyetrikanya tentu menjadi kewajiban suami.

Memberikan tempat tinggal adalah kewajiban suami kepada istri, bukan kewajiban istri kepada suami. Dan kalau disebut tempat tinggal, artinya rumah dan segala isinya yang siap pakai dalam keadaan baik. Bila ada yang kotor dan berantakan, pada dasarnya membersihkan dan merapikan adalah tugas suami, bukan tugas istri.

2. Dalil Sunnah

Kita temukan contoh real dari kehidupan Nabi SAW dan juga para shahabat tentang kewajiban suami kepada istri.

Ada pun kisah Fatimah puteri Rasulullah SAW yang bekerja tanpa pembantu, memang sering kali dijadikan hujjah kalangan yang mewajibkan wanita bekerja berkhidmat kepada suaminya. Namun ada banyak kajian menarik tentang kisah ini dan tidak semata-mata begitu saja bisa dijadikan dasar kewajiban wanita bekerja untuk suaminya.
Padahal Asma' binti Abu Bakar justru diberi pembantu rumah tangga. Dalam hal ini, suami Asma' memang tidak mampu menyediakan pembantu, dan oleh kebaikan sang mertua, Abu Bakar, kewajiban suami itu ditangani oleh sang pembantu. Asma' memang wanita darah biru dari kalangan Bani Quraisy.

Dan ada juga kisah lain, yaitu kisah Sa'id bin Amir radhiyallahu 'anhu, pria yang diangkat oleh Khalifah Umar menjadi gubernur di kota Himsh. Sang gubernur ketika dikomplain penduduk Himsh gara-gara sering telat ngantor. Siad bin Amir beralasan bahwa dirinya tidak punya pembantu. Tidak ada orang yang bisa disuruh untuk memasak buat istrinya, atau mencuci baju istrinya.

Loh, kok kebalik? Kok bukan istrinya yang masak dan mencuci?. Nah itulah, ternyata yang berkewajiban memasak dan mencuci baju memang bukan istri, tapi suami. Karena semua itu bagian dari nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri.

3. Pendapat 5 Mazhab Fiqih

Dan kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih para ulama, terutama mazhab-mazhab yang besar dan muktamad, kita akan menemukan bahwa pendapat mereka umumnya cenderung mengatakan bahwa para wanita tidak wajib melakukan semua pekerjaan pembantu.

Ternyata 4 mazhab besar plus satu mazhab lagi yaitu mazhab Dzahihiri semua sepakat mengatakan bahwa para istri pada hakikatnya tidak punya kewajiban untuk berkhidmat kepada suaminya.

a. Mazhab al-Hanafi

Al-Imam Al-Kasani dalam kitab Al-Badai' menyebutkan :

Seandainya suami pulang bawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, lalu istrinya enggan unutk memasak dan mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membaca makanan yang siap santap.

Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah disebutkan:

Seandainya seorang istri berkata,"Saya tidak mau masak dan membuat roti", maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santan, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan.

b. Mazhab Maliki

Di dalam kitab Asy-syarhul Kabir oleh Ad-Dardir, ada disebutkan:

Wajib atas suami berkhidmat (melayani) istrinya. Meski suami memiliki keluasan rejeki sementara istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat, namun tetap kewajiban istri bukan berkhidmat. Suami adalah pihak yang wajib berkhidmat. Maka wajib atas suami untuk menyediakan pembantu buat istrinya.

c. Mazhab As-Syafi'i

Di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi rahimahullah, ada disebutkan:

Tidak wajib atas istri berkhidmat untuk membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya, karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta'), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.

d. Mazhab Hanabilah

Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Ini merupakan nash Imam Ahmad rahimahullah. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Maka pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya.

e. Mazhab Az-Zhahiri

Dalam mazhab yang dipelopori oleh Daud Adz-Dzahiri ini, kita juga menemukan pendapat para ulamanya yang tegas menyatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak dan khidmat lain yang sejenisnya, walau pun suaminya anak khalifah.

Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam. Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur.

4. Pendapat Yang Berbeda

Namun kalau kita baca kitab Fiqih Kontemporer Dr. Yusuf Al Qaradawi, beliau agak kurang setuju dengan pendapat jumhur ulama ini. 

Beliau cenderung tetap mengatakan bahwa wanita wajib berkihdmat di luar urusan seks kepada suaminya.

Dalam pandangan beliau, wanita wajib memasak, menyapu, mengepel dan membersihkan rumah. Karena semua itu adalah imbal balik dari nafkah yang diberikan suami kepada mereka.

Kita bisa mafhum dengan pendapat Syeikh yang tinggal di Doha Qatar ini, namun satu hal yang juga jangan dilupakan, beliau tetap mewajibkan suami memberi nafkah kepada istrinya, di luar urusan kepentingan rumah tangga.

Jadi para istri harus digaji dengan nilai yang pasti oleh suaminya. 

Karena Allah SWT berfirman bahwa suami itu memberi nafkah kepada istrinya. Dan memberi nafkah itu artinya bukan sekedar membiayai keperluan rumah tangga, tapi lebih dari itu, para suami harus 'menggaji' para istri. Dan uang gaji itu harus di luar semua biaya kebutuhan rumah tangga.

Yang sering kali terjadi memang aneh, suami menyerahkan gajinya kepada istri, lalu semua kewajiban suami harus dibayarkan istri dari gaji itu. 

Kalau masih ada sisanya, tetap saja itu bukan lantas jadi hak istri. Dan lebih celaka, kalau kurang, istri yang harus berpikir tujuh keliling untuk mengatasinya.

Jadi pendapat Syeikh Al-Qaradawi itu bisa saja kita terima, asalkan istri juga harus dapat 'jatah gaji' yang pasti dari suami, di luar urusan kebutuhan rumah tangga.

5. Perempuan Dalam Islam Tidak Butuh Gerakan Pembebasan

Kalau kita dalami kajian ini dengan benar, ternyata Islam sangat memberikan ruang kepada wanita untuk bisa menikmati hidupnya. Sehingga tidak ada alasan buat para wanita muslimah untuk latah ikut-ikutan dengan gerakan wanita di barat, yang masih primitif karena hak-hak wanita disana masih saja dikekang.

Islam sudah sejak 14 abad yang lalu memposisikan istri sebagai makhuk yang harus dihargai, diberi, dimanjakan bahkan digaji. Seorang istri di rumah bukan pembantu yang bisa disuruh-suruh seenaknya. Mereka juga bukan jongos yang kerjanya apa saja mulai dari masak, bersih-bersih, mencuci, menyetrika, mengepel, mengantar anak ke sekolah, bekerja dari mata melek di pagi hari, terus tidak berhenti bekerja sampai larut malam, itu pun masih harus melayani suami di ranjang, saat badannya sudah kelelahan.

Kalau pun saat ini ibu-ibu melakukannya, niatkan ibadah dan jangan lupa, lakukan dengan ikhlas. Walau sebenarnya itu bukan kewajiban. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang teramat besar buat para ibu sekalian. 

Dan semoga suami-suami ibu bisa lebih banyak lagi mengaji dan belajar agama Islam

30 January 2011

Mesir Bergejolak

Apakah Mesir akan bisa seperti Indonesia (yang menggulingkan Soeharto) dan Tunisia (yang menggulingkan Ben Ali)..?

Tonton live Stream berita ini di Al jazeera (bahasa English) di: http://english.aljazeera.net/watch_now/


Korban sudah banyak berjatuhan euy...


Ataukah hanya akan terjadi estafet rezim otoriter saja.., sehingga Israel tidak akan kehilangan sekutunya di daerah Timur Tengah..?

29 January 2011

Saya, Internet dan Gaya Hidup

Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga semisal Singapura, Malaysia, Brunai dll, persentase populasi penguna internet di Indonesia memang masih kalah jauh. Tapi, data dari Bank Dunia (2008) menunjukkan peningkatan trend yang tinggi dan cepat sekali untuk penggunaan Internet di Indonesia.



Data dari Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI mengatakan bahwa pengguna Internet melalui komputer dan ponsel di Indonesia sudah mencapai angka 45 juta jiwa. Tak tanggung-tanggung, target Kominfo pada tahun 2015 nanti, separuh penduduk Indonesia harus sudah memiliki akses internet. Jadi, kalau ada 240 juta penduduk Indonesia, maka 120 juta di antaranya sudah mengakses internet. (sumber: detikinet.com). Sebuah angka yang fantastik!

Saya sendiri baru melek internet sewaktu kelas 3 SMA, 11 tahun yang lalu. MIRC, chatting adalah jalan masuk pertamanya. Setelah itu, ketika kuliah, barulah mulai mengenai bahwa internet, terutama mbah Gugel, bisa mendatangkan banyak sekali informasi yang kita butuhkan.

Mulai dari hal-hal yang serius sampai hal-hal yang ringan bisa diakses melalui dunia cyber. Berkenalan melalui Friendster (http://profiles.friendster.com/ipin4u), sampai saya belajar otodidak membuat website-website pribadi. Bisa di cek di: http://ipin4u.netfirms.com/ (bahasa English), http://ipin4u.esmartstudent.com/ (bahasa Indonesia) –udah lama ngebuatnya. Sehingga akhirnya setia dengan blogs di Multiply ini.

Media Sosial dan Sumber Referensi

Internet digunakan sebagai media mendekatkan jarak. Chatting via Yahoo Messenger, Skype, lewat jejaring sosial semacam Facebook, dll. Bisa tetap menghubungkan kita dengan banyak orang, bahkan yang berlainan benua sekalipun.

Mata kita menjadi terbuka dengan informasi yang berlimpah, walau kita juga harus tetap mempunya filter, selektif dan bijak dalam mengelolanya, karena terkadang informasi yang disajikan itu berat sebelah, tidak obyektif, memuat unsur kebohongan, dan lain sebagainya.

Gaya Hidup

Internet juga menjadi gaya hidup modern.

Cari uang (jual-beli) lewat bisnis online; mengontrol kerjaan via email dan netmeeting; belajar di kampus online yang terakreditasi; pesan tiket pesawat di website; transfer uang di bank melalui internet banking; bahkan mungkin ketemu jodoh pun via biro jodoh online.

Sesuai dengan gaya hidup modern, praktis, mudah dan efisien!

Kedepannya, mungkin kita tidak perlu ke luar rumah untuk berbagai macam kebutuhan. Bayar listrik, bayar air PDAM, transfer uang, beli makanan-minuman, beli buku, download musik dan film, cukup di depan layar monitor, klak-klik keyboard, beres semua.

Kehidupan Nyata

Namun gaya hidup seperti itu juga punya sisi negatif. 

Terus menerus duduk, kurang gerak, sedikit beraktifitas fisik bisa menimbulkan masalah kesehatan yang kronis. 

Hubungan dengan tetangga-teman tanpa kunjungan fisik juga pastinya terasa berbeda jika tanpa ketemu langsung melihat sendiri kondisi yang dialami, menghabiskan waktu berbincang hangat sembari minum teh dan makan kue serta saling bersalaman/berpelukan melepas kerinduan.

Belum lagi propaganda media online yang bertendensi buruk membuat framing berpikir yang salah.

Hidup Seimbang

Seperti pisau bermata ganda, internet juga bisa berakibat positif dan juga negatif. Tinggal kita yang perlu sedikit bijak penyikapannya. 

Penggunaan internet dengan sehat bisa membantu kita yang menginginkan sederhanaan dan kemudahan hidup.



---000---

Balikpapan, 29 Januari 2011
Syamsul Arifin
*Dibuat untuk mengikuti lomba Blogs Competitition Bhinneka.com

Biar saya jadi juara favorit, klik “like” link postingan ini di wall fanpage-nya bhineka ya… :D
thanks :)

27 January 2011

Rasa Manis Baru Terasa Setelah Mengecap Pahit?

Biasanya, kalau habis makan kue-kue yang manis, maka minum teh yang (aslinya) manis, akan terasa hambar di lidah.

Kalau sudah sering mendapat limpahan kenikmatan, yang dikhawatirkan adalah lupa untuk mensyukurinya. Makanya Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa yang beliau takuti terjadi pada umat ini adalah bukan kemiskinan atau derita, tapi beliau takut kalau umat dilimpahi harta kekayaan sehingga akhirnya terbuai dunia dan lupa akhirat bahkan melupakan pemberi nikmat itu sejatinya, Allah SWT,

“Dari Amru bin Auf al-Anshari ra bahwa Rasulullah saw. mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi saw. tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul saw., dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda,”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab, ”Betul wahai Rasulullah”. Rasul saw. bersabda, ”Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Apakah selamanya kita baru ingat setelah ditegur cobaan dan ujian kesulitan, sehingga kita baru tersadar mensyukuri indahnya kemudahan dan keberlimpahkan nikmat?

Setan memang selalu akan berusaha agar hamba-hamba-Nya menjadi makhluk yang durhaka. Tidak tahu diri dihadapan penciptanya. Tidak tahu diri dihadapan sang pemelihara (Rabb).

Bersyukurlah sedikit demi sedikit, dengan kondisi apapun yang kita jalani. Setidaknya, bersyukurlah atas karunia agung berupa kenikmatan Iman dan Islam yang ada di dalam dada.


---000---

Balikpapan, 27 Januari 2011
Syamsul Arifin

18 January 2011

Jihad adalah...

Jihad adalah kesungguhan untuk selalu berjuang di jalan Allah. Menapaki jalan yang bisa menurunkan keridhoan-Nya dan berusaha sekeras tenaga untuk menjauhi (bahkan melawan) hal-hal yang bisa mendatangkan kemurkaan-Nya. Bukankah dengan begitu kita bisa berjihad setiap hari..?

14 January 2011

Kesyukuran

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim: 34)


Sering kita meminta, tapi setelah mendapat apa yang diminta, lupalah kita kepada yang memberi. Mengklaim bahwa segala apa yang didapat adalah berhasil hasil jerih payah sendiri.

Apa sih susahnya mengucap syukur Alhamdulillah? Menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari-Nya, dan mempergunakan apa yang telah diberi dengan amanah?

Dulu berdoa agar diberi istri yang cantik, cerdas dan sholehah, Alhamdulillah sudah dikasih.
Beberapa waktu lalu, memohon persalinan istri agar lancar dan diberi anak yang cantik, cerdas, sehat dan sholehah, insya Allah sudah dapat juga.

So, puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, pemberi segala kenikmatan ini :)

04 January 2011

New Baby Born ^_^




Alhamdulillah, telah lahir, putri pertama kami, 2 Januari 2011, 02.55 WITA di RS Pertamina Balikpapan. Berat: 4 kg, panjang: 51 cm. Persalinan normal.
Mohon doanya, semoga menjadi anak shalihah :)
-Syamsul Arifin & Ridha Innatika-

31 December 2010

Pemimpin Rumah Tangga

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,..” (QS. An-Nisa`: 34)

Nyontek dari sini, maksud ayat tersebut yaitu: (Allah) Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa kaum lelaki itu pemimpin atas kaum wanita, yaitu menjadi penegak atas mereka dalam memerintahkan mereka untuk melaksanakan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar memelihara kewajiban-kewajiban dan mencegah mereka dari berbagai kerusakan. Maka kaum lelaki wajib memerintahkan hal tersebut kepada kaum wanita dan menjadi penegak atas mereka. Juga dalam hal memberi nafkah, pakaian, dan tempat tinggal kepada mereka.

Menurut pendapat saya, konsep pemimpin disini bukan dalam konteks feodal atau penjajah yang segala keinginan, perintah dan perkataannya harus selalu dituruti, yang bebas bersikap sewenang-wenang tanpa batas, bukan tipe kepemimpinan yang obedience without reserve.

Karena pada dasar konsepnya yaitu ‘taat selama bukan untuk urusan maksiat’.

Ketaatan yang mutlak harus diberikan adalah ketaatan atas perintah untuk melaksanakan hak-hak Allah SWT.

Dengan mengkombinasikan konsep kepemimpinan atau leadership modern, berikut hal-hal yang mungkin sepatutnya dilakukan oleh seorang pemimpin rumah tangga yang hebat:

1. Memiliki konsep yang visioner. Mau dibawa kemana rumah tangganya. Dan bukan hanya memperhatikan aspek duniawi saja seperti prestasi anak di sekolah, keuangan keluarga, pencapaian materi, kepemilikan rumah, kendaraan, dll, tapi juga harus bisa jauh meneropong sampai targetan di negeri akhirat. Visi yang besar seperti menjamin seluruh isi keluarganya masuk surga pastinya bukanlah suatu hal yang mudah. Padahal ini merupakan salah satu kewajiban seorang pemimpin rumah tangga,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api... (QS. At-Tahrim: 6)

2. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menjadi panutan bagi seisi anggota keluarga. Menjadi yang terdepan dalam mengerjakan kebaikan, sehingga bisa menjadi teladan, contoh, dan mampu membangkitkan motivasi bagi anak buahnya. Sebagaimana Rasulullah SAW menjadikan hal ini sebagai salah satu kunci kesuksesan kepemimpinannya,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…. (QS. Al-Ahzab: 21)

Hal ini adalah salah satu metode agar seluruh anggota keluarga menaati Allah, beribadah dengan baik kepada-Nya.

3. Menumbuh kembangkan orang-orang yang dipimpinnya. Mampu melihat potensi-minat anak-istri dan mampu mengarahkannya dengan baik. Mendukung dan menjadikan mereka sebagai individu yang berkepribadian/berkarakter baik. Sukses di dunia maupun di akhirat.

4. Mencukupi hak-hak dan menjamin kebutuhan orang yang dipimpinnya. Bukan hanya hak sandang, pangan dan papan. Tapi juga hak pengajaran agama/pendidikan, hak partisipasi, hak kesehatan, perlindungan, dll. (bisa lihat postingan terkait tentang hak-hak anak ini di: http://genkeis.multiply.com/journal/item/683/Hak-Hak_Anak dan link yang disertakan di dalamnya)


Pemimpin dalam rumah tangga bukanlah hal yang sepele. Karena kepemimpinan ini akan dimintai pertanggungjawabannya. Akan ditanyai sampai sejauh mana kesuksesan seorang pria dalam memimpin istri dan anaknya.

Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Segala kegagalan dalam memimpin akan menjadi penyesalan yang berkepanjangan di akhirat nanti, karena bisa jadi ada tuntutan dari anak atau istri akibat salah arahan (atau ketiadaan arahan) yang diberikan selama di dunia. Demikian juga dengan kesuksesannya, yang insya Allah bisa menjadi salah satu pemberat timbangan kebaikan dan penyokong melalui doa-doa yang tidak terputus dari anak-anak yang shaleh/ah walaupun orangtuanya sudah wafat.

Semoga saya dan kita semua bisa menjadi pemimpin yang hebat di dalam rumah tangga, lingkungan, karir dan bidang-bidang lainnya *amin



---000---

Balikpapan, 31 Desember 2010
Syamsul Arifin