12 January 2010

Berdamai dengan Masa Lalu (yang Kelam)

"Masa lalu/pengalaman/sejarah adalah guru yang (paling) berharga"

Salah itu Lumrah

 

Akan sulit bagi kita untuk dapat menemukan seorang manusia yang tidak pernah berbuat salah, keliru, khilaf, atau alpa. Konsep mencari manusia sempurna yang tidak pernah berbuat salah, malah terdengar sangat aneh dan absurd. Bahkan Nabi pun berbuat salah.

 

Berbuat salah sepertinya adalah salah satu ciri ke-manusiawi-an kita. Kita manusia, maka kita berbuat salah..?

 

Kalau kita ingin agar orang lain selalu berbuat benar, tanpa cela/salah, seakan-akan kita tidak mengizinkan dia untuk menjadi manusia (seutuhnya)-tanpa menyediakan cukup ‘ruang’ untuk toleransi (no room for error/celah untuk berbuat salah). Kita bertingkah seolah sedang berhadapan dengan malaikat, makhluk yang tak pernah salah.

 

What’s Next

 

Kita (mungkin) akan melakukan kesalahan, atau bahkan kita (mungkin) sering berbuat salah. Namun jangan dibiarkan begitu saja.

 

Segera setelah menyadari kelakuan kita yang tidak benar, perbaiki, dan susuli dengan kebaikan guna menutupinya.

 

Sebaik-baiknya orang, adalah seseorang yang mawas diri; lebih senang memperhatikan cela diri sendiri ketimbang mencari-cari kesalahan orang lain; bersegera meminta maaf (kalau bersalah kepada orang lain); bertaubat (kalau ada hak-hak Allah yang dilanggar); tidak mau mengulangi kesalahan yang telah lalu, dan berbuat kebaikan setelahnya.

 

Berdamai dengan Masa Lalu

 

Masa lalu yang penuh kesalahan adalah pelajaran yang mahal dalam kehidupan kita. Kita harus dapat bangkit dan melaluinya dengan baik, sebagaimana tertulis di paragraf sebelumnya.

 

Terkadang, kita masih suka sebal, kesal, benci, terperangkap dengan masa lalu kita sendiri. Terpuruk jatuh akibat kelakuan buruk kita di masa silam. Tidak dapat memaafkan diri sendiri –lebih tepatnya tidak mau memaafkan kesalahan diri sendiri-.

 

Seakan-akan lupa, bahwa kita ini manusia, yang mungkin saja berbuat salah.

 

Dan seakan-akan tidak ingat, bahwa Tuhan kita itu, Allah subhananu wa ta’ala, adalah Zat yang maha pengampun, yang rahmat-Nya mendahului kemurkaan-Nya.

 

Berdamai dengan Masa Lalu Orang Lain

 

Sifat pendendam, bisa jadi merupakan salah satu indikasi bahwa kita sedang mengalami kesulitan untuk berdamai dengan masa lalu (kesalahan) orang lain, apalagi kalau orang tersebut sudah berusaha memperbaikinya.

 

Tidak mudah memang memaafkan, apalagi kalau sudah sakit hati. Tidak gampang memang melupakan, apalagi kalau punya kesempatan untuk membalasnya.

 

Tapi sekali lagi, kesalahan mungkin saja terjadi. Selama dia memang sudah bersungguh-sungguh bertaubat, memperbaiki diri, dan mencoba menata kembali masa depannya dengan kebaikan, lalu apa alasan kita untuk tidak mau membantunya? Alih-alih malah membiarkannya tetap terpuruk dalam keburukan (kesalahan masa lalunya).

 

Maafkan, lupakan, cukup hanya dijadikan sebagai pengalaman (jangan diulangi-apalagi dicobain lagi), jangan diungkit-ungkit (jika ini yang terbaik), dan buka lembaran baru.

 

Contoh Teladan

 

Banyak orang yang sukses “berdamai” dengan masa lalunya. Umar bin Khattab RA adalah salah satu contohnya,

 

[mulai kutipan]

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Rasulullah SAW. Umar memiliki kebiasaan aneh, ia sering tertawa dan menangis sendiri. Ketika ditanya, menjawablah ia;

 

Aku akan tertawa bila melihat kesalahan dan dosanya dulu. Semasa belum masuk Islam, aku suka menyembah berhala yang terbuat dari batu atau roti. Aku menyembah patung yang tak bisa berbuat apa-apa dan tak pernah memberiku apa-apa. Aku menertawakan diriku sendiri; betapa bodohnya aku!

 

Lalu aku akan menangis bila teringat dosaku sebelum masuk Islam. Aku pernah mengubur hidup-hidup anak perempuanku. Tak kan pernah berhenti aku menangisi kekejamanku sendiri. Betapa teganya aku membunuh darah dagingku sendiri.

 

Sumber kutipan: http://tipex.multiply.com/journal/item/36/Catatan_5_Ramadhan_1429_H

[/akhir kutipan]

 

LIhatlah bagaimana sejarah akhirnya mencatat nama besar Umar dengan tinta emas. Sebagai salah seorang sahabat Nabi yang agung, menjabat sebagai khalifah sepeninggalan Abu Bakar RA, dan yang dikabarkan sendiri oleh Rasulullah SAW, bahwa ada istana di surga buat beliau. Masya Allah!

 

 

Bangkitlah, berdamailah, teroboslah, dan tukarlah masa lalu (kelam)mu, dengan coretan kemilau yang mencengangkan. Tentunya dibarengi dengan konsistensi/keistiqomahan.

 

"Setiap anak cucu Adam itu banyak berbuat salah, sedangkan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat". (HR.At-Tirmidzi)

 

 

 

---000---

 

Balikpapan, 12 Januari 2010

Syamsul Arifin

4 comments:

  1. Another Pencerahan and remind, Pin.. gracias yaaa

    ReplyDelete
  2. Gracias, ANother pencerahan..:d

    ReplyDelete