13 December 2007

Menghidupkan Tradisi Menulis di Kalangan Kiai

24 Nov 2006

Tak seperti dipahami orang awam yang kadang membatasi kiai sekadar sebagai agamawan, mereka ternyata juga penulis andal dan bahkan mampu melahirkan karya-karya yang monumental. Tidak hanya tentang agama, tapi juga mahir menulis tentang sastra, anekdot, cerita dan persoalan-persoalan sosial budaya.

Jangan tanya soal shalawat dan madaih nabawiyah (pujian kepada nabi), mereka gudangnya. Dari Qashidah Al Burdah karya Al Bushiri yang sangat imajinatif dan puitis, hingga beraneka prosa dan puisi maulid, terutama karya Ja'far Al Barzanji. Malah ada karya genuine yang mereka gubah sendiri, seperti Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur Tuban yang amat populer dan menjadi shalawat wajib bagi kaum sarungan.

Tentu saja tak boleh dilewatkan karya berupa tembang, cerita, dan enekdot yang juga banyak ditulis oleh para kiai. Siapa yang tak kenal dengan syair 'Tombo Ati' yang amat populer itu. Begitu populernya karya ini nyaris jadi bacaan wajib di surau-surau di pedalaman jawa. Belum lagi lir-ilir gubahan Sunan Kalijogo yang tak kalah kesohor.

Belakangan, tidak sedikit para kiai yang biasa berceramah menyusun sendiri tembang Jawa yang dirangkaikan bacaan shalawat dan digunakan sebagai selingan dalam pengajian. Soal cerita dan anekdot, Kiai Bisri Musthofa mungkin biangnya. Ayah Kiai Mustofa Bisri ini mengumpulkan banyak sekali anekdot dalam buku berjudul Kasykul. Kiai Abdurrahman Ar Roisi juga menerbitkan belasan jilid kumpulan cerita yang diberi judul '30 Kisah Teladan'.

Keakraban dengan bahasa Arab, menyebabkan karya intelektual yang lahir dari tangan para kiai tak lepas dari rumpun bahasa semit ini. Dari sebelas judul karya Kiai Hasyim Asy'ari yang pernah saya baca, misalnya, hanya empat buah yang menggunakan bahasa Jawa bertulisan Arab Pego. Sisanya berbahasa Arab. Gus Ishom, Cucu Kiai Hasyim, menggubah doa sebelum belajar dalam bentuk 12 nadzam (sajak berirama) berbahasa Arab yang wajib dibaca santri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang.

Menantu Kiai Siddiq, yaitu Kiai Abdul Hamid Pasuruan, tak kalah kreatif. Ia mensyairkan Sullam At Taufiq --sebuah kitab fikih sufistik yang bercorak ghozalian dan menjadi maistream pemahaman Islam Sunni Indonesia-- dalam 553 bait. Selain itu, ia juga menyairkan 99 nama Allah yang dikenal dengan Al Asma' Al Husna. Masih banyak lagi contoh lain yang bila diungkap satu per satu, akan membuat tulisan ini jadi terlalu panjang.

Makelar budaya

Di sini, terbaca jelas bahwa para kiai terdahulu tak cuma agamawan, melainkan juga penulis handal di bidang sastra, budaya dan lainnya sehingga kiai dahulu juga disebut budayawan dan sastrawan. Tidak berlebihan jika Eric Wolf menyebut peran kiai sebagai cultural broker alias makelar budaya yang menjembatani perubahan akibat pengaruh luar terhadap dunia pesantren dan komunitas Muslim tradisional yang relatif tertutup. Selain lewat pendidikan gaya pesantren, peran itu mereka implementasikan melaui proses kreatif di jalur budaya. Kiai dahulu memiliki apresiasi yang tinggi terhadap budaya serta mampu melahirkan karya-karya bermutu. Tradisi menulis seolah menjadi rutinitas sehari-hari setelah mengajar santri. Tiada hari tanpa mengajar dan menulis, mungkin itu motto hidup kiai di masa lalu. Tapi, sayangnya tradisi menulis dan kerja-kerja budaya kiai telah hilang dan tidak diwarisi oleh kiai-kiai sekarang. Apalagi, beberapa tahun belakangan, terlalu banyak aktivitas di luar yang mereka geluti, terutama di kancah politik. Sebagian besar potensi dan energi terkuras di medan perebutan kekuasaan. Proses kreatif yang dulu mampu menghasilkan karya-karya monumental tak ada lagi, sehingga tradisi menulis kiai mandek atau bahkan telah mati.

Kenyataan tersebut memunculkan ironi. Banyak kiai yang beralih profesi dari cultural broker menjadi political broker alias makelar politik yang ujung-ujungnya duit. Padahal, kekuasaan dan uang seringkali melenyapkan akal budi, menumpulkan hati nurani dan pada akhirnya menghentikan proses kreatif kiai.

Sebuah ironi

Maka, tak mengherankan bila pesantren belakangan ini cenderung kering dari sentuhan buku atau tulisan, karena para kiai dan ustadz tidak lagi produktif menulis buku. Memang ada beberapa nama yang pantas disebut, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari, jauh dibanding jumlah kiai yang jadi politisi.

Kini tak banyak lagi kiai atau gus yang memiliki malakah (naluri berekpresi), apalagi ikhtira' untuk menciptakan karya. Bahkan tingkat apresiasi mereka terhadap tradisi menulis bisa dibilang sangat rendah. Ini merupakan sebuah ironi, karena bila dibandingkan dengan generasi kiai terdahulu, mereka yang belajar di Timur Tengah kini jauh lebih banyak. Tapi intensitas menulis dan melahirkan karya tulis sangat kurang. Alumni Timur Tengah saat ini agaknya lebih suka menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke bahasa Indonesia ketimbang melahirkan karya genuine.

Mungkin para kiai kini telah lupa, atau boleh jadi memang tak tahu akan ungkapan yang begitu populer dari mantan Presiden AS, John F Kennedy, "jika politik mengotori, maka buku mencucinya". Pergeseran kecenderungan kiai dari menulis buku ke politik ini merupakan kenyataan pahit yang patut disesali.

(Penulis adalah Koordinator Majlis Tarbiyah Watta'lim Pesantren Mahasiswa Al Aqobah Jombang)
penulis : Ahmad Faqih

Sumber: http://www.mui.or.id/mui_in/hikmah.php?id=15

No comments:

Post a Comment