16 July 2008

[cerpen] Perjumpaan Rindu

“Dimanakah aku berada, sungguh taman yang sangat indah sekali. Belum pernah kulihat taman seindah ini sebelumnya”, kakiku menyentuh tanah yang lembut, ku ambil segenggam tanahnya, aih, terasa harum wanginya,”apakah ini tanah yang bernama za’faran”, batinku berguman. Ku amati kesekelilingnya, terlihat berkilau, owh, ternyata batu-batu dan kerikil di taman ini berupa emas dan perak, kemilaunya sungguh mempesona, memukau mata.

“Paman Yudi, Paman Yudi”, sebuah suara mungil yang tak asing lagi terdengar sayup-sayup memanggil-manggil diriku dengan riang, menyadarkanku dari ketertegunan. Kutengokkan kepala ke arah samping, ow, ternyata seorang gadis kecil bernama Nadia. “Ah, bukankah ia telah meninggal seminggu yang lalu karena demam berdarah”, pertanyaan itu berputar di kepala.

Dia menghampiriku dan memegang tanganku, dingin, terasa dingin.

“Akhirnya, Paman kesini juga”, dia mulai berceloteh, “mari Paman, kukenalkan pada sahabat-sahabat baruku disini”, dia menyeret tanganku tuk mengikutinya, menggiringku menembus keindahan taman. Dengan sedikit terhuyung-huyung aku mengikuti langkah-langkah kecilnya.

Kulihat lima orang yang sedang berdiri di kejauhan. Perlahan-laham kami mulai mendekat.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”, seorang pria yang berada di tengah mengucap salam kepadaku, dia tersenyum padaku. Wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama(1). Perawakannya sedang, bisa dikatakan mendekati tinggi, kulitnya putih, jenggotnya hitam, bulu matanya panjang, dan berdada bidang.(2)

“Paman Yudi, perkenalkan ini Rasulullah Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam”

Hah, aku tertegun, degup jantungku hampir-hampir berhenti, kakiku lemas, hampir-hampir tak bisa menopang berat tubuhku, nafasku tercekat dalam tenggorokan.

“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, jawabku terbata-bata
“Apakah ini benar Rasulullah?”, aku mencoba mengendalikan diri.

“Ya, saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, utusan Allah”, beliau tersenyum, senyum terindah yang melumerkan segala rasa dalam dada. Beliau menyalamiku, menjabatku erat. “Sungguh, tangannya lebih lembut dari kain sutera(3)”, batinku berbisik pelan.

“Paman Yudi adalah pengasuhku ketika di dunia, Rasulullah”, Nadia kecil mengeluarkan suara, “dia mencukupi segala kebutuhanku dan ibuku”.

“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti dua jari ini”(4), beliau menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya, “maka pada hari ini, engkau akan didekatkan kepadaku”

Amboi, sungguh merupakan kemuliaan yang tak terperikan, aku hampir-hampir menangis mendengar kalimat yang keluar dari lisan beliau. Air mataku meleleh pelan.

“Perkenalkan sahabat-sahabatku”, beliau berkata.

Ku tengok kearah kanan beliau, berdiri disampingnya, seorang pria bertubuh kurus dan berkulit putih.(5) “Dia adalah Abu Bakar As-Shidiq”, ujar Rasulullah, “disampingnya adalah Umar bin Khattab”

Bergantian setelah menyalami Abu Bakar, aku menyalami seorang lelaki yang tinggi, berkepala botak di bagian depannya, bermata hitam, dan berkulit kuning(6), Subhanallah, ini adalah pria yang ditakuti para setan, setan lari ketakutan jika bertemu dengannya, aku menjabat tangannya bangga.

“Sedang ini adalah Ustman bin Affan”, Rasulullah melanjutkan perkenalan.

Ternyata Utsman adalah seorang sahabat yang rupawan, mempunyai jenggot yang lebat, berperawakan sedang, mempunyai tulang persendian yang besar, berbahu bidang, berambut lebat, dan memiliki bentuk mulut bagus yang berwarna sawo matang(7)

“Disebelahnya adalah Ali bin Abi Thalib”, kata Rasulullah.

Aku menyalami pria terakhir yang memiliki kulit berwarna sawo matang, memiliki bola mata yang besar dan berwarna kemerah-merahan, berperut besar, berkepala botak, berperawakan pendek, dan berjanggut lebat. Wajahnya tampan dan memiliki gigi yang bagus, sedikit terlihat olehku bahwa beliau memiliki dada dan pundak yang padat dan putih, yang ditumbuhi bulu dada dan bahu yang lebat.(8)

“Paman Yudi ini biasa memberi aku dan ibuku uang setiap bulan, menyekolahkanku dan mengantarkanku makanan lho Rasulullah”, celoteh Nadia kecil, Rasulullah tersenyum, sungguh aku malu dihadapan beliau mendengar celotehannya, wajahku memerah.

“Bahkan beliau tidak sungkan tuk nyuapin aku”, tambah Nadia bangga.

“Haduh anak kecil, tidak bisakah engkau tenang dihadapan Rasulullah”, batinku berujar.

“Paman Yudi, suapi aku dunk”, kata Nadia, dia menyodorkanku sebungkus biskuit. Aku menatap Rasulullah, beliau mengangguk. Aku ambil dan membuka bungkusan biskuit tersebut, mengambil satu potong dan mematahkannya menjadi dua bagian kecil. Aku sedikit menunduk menyodorkan biskuit tersebut pada Nadia.

“Kalau engkau menyuapi Nadia, maka biar aku yang menyuapi dirimu”, Rasulullah berkata sembari mengambil bungkus biskuit dari tanganku, beliau melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan, mengambil satu potongan biskuit, mematahkannya menjadi dua bagian, dan menyuapinya ke mulutku.

Terasa tangan Rasulullah menyentuh bibirku. Air mataku berderai. Aku tidak bisa menahan diri.

“Wahai Yudi, berpuasalah engkau esok hari, dan berbukalah engkau bersama kami”, Rasulullah berpesan.

“Maksudnya ya Rasulullah?”, aku bertanya setelah menelan suapan pertamaku.

“Engkau besok akan berkumpul bersama-sama kami”, beliau menjawab.

“Lantas bagaimana dengan keluargaku?”, aku bertanya.

“Sebagaimana engkau telah menjaga anak-anak yatim di dunia, maka sungguh Allah yang akan menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka sepeninggalanmu”, beliau menenangkan, “Berwasiatlah kepada mereka agar tetap bertakwa kepada Allah, niscaya Ia akan mengumpulkan kalian pula di syurga ini”. Aku mengangguk pelan.


Tersentak aku terbangun dari tidurku. Dadaku terasa dingin. Lidahku masih merasakan manis makanan suapan Rasulullah. Menangis aku tersedu-sedu. Tangisan bahagia.

Aku bangkit dari tempat tidurku, dan bersegera sujud syukur karena telah berjumpa dengan kerinduanku. Dalam sujud aku menangis. Dadaku berguncang-guncang. Ku panjatkan pujian syukur dan doa mengharap kebaikan bagi diriku dan keluargaku.

Istriku terbangun dari tidurnya

“Kenapa mas”, tanyanya heran.

“Ah, tidak apa-apa, besok pagi kuceritakan”, jawabku sembari menyeka air mata, “yuk sekarang shalat qiyamullail dulu bareng-bareng”, aku beranjak bangkit dan menuju kamar mandi tuk mengambil air wudhu. Jarum jam menunjukkan angka 4.00.

Shalat malam kali ini, aku hanya membaca surat Muhammad, surat yang berisi tiga puluh delapan ayat itu sengaja kuulang-ulang dalam tiap rakaat. Aku masih saja menangis tak henti.

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau (QS Muhammad: 36)

Sayup-sayup terdengar, makmumku satu-satunya pun menangis pelan.

Ya Allah, berkahilah kami…

---

Pagi harinya, ketika istriku hendak menyiapkan sarapan, aku berkata bahwa aku ingin berpuasa hari ini, sehingga ia siapkan makanan buat dirinya saja dan buat Novi Khansa, bidadari kecil kami satu-satunya. Ternyata ia mau menemaniku berpuasa. Sehingga ia hanya memasakkan telor untuk buah hati kamu yang berumur lima tahun itu.

Saat ia sedang menyuapi Novi, aku ceritakan mimpiku kepada istri tercintaku. Dia menangis. Anakku satu-satunya, Novi Khansa, pun perlahan-lahan turut ikut menangis, mengikuti ibunya.

Aku mendekat pada istriku, “sayang, tidakkah engkau berbahagia bahwa aku akan bertemu dengan Rasulullah?”, bisikku.

Tangisnya perlahan mulai mereda. Ia mulai mengatur nafasnya.

“Insya Allah toko baju kita di Tanah Abang bisa dijaga sama si Samir, dia bisa dipercaya dan sudah pandai mengatur segalanya”, aku tersenyum padanya. Ia masih saja menunduk menahan tangisnya, jilbab coklatnya ia gunakan tuk menghapus airmatanya.

“Sayang, bolehkah aku titip pesan kepadamu”, aku bertanya

“Ya mas, silakan”, jawabnya masih dengan nada yang bergetar.

“Jika memang mimpi tersebut benar adanya, tolong engkau tabah, sabar dan ridha. Jangan terlarut terlalu dalam dengan kesedihan. Karena Insya Allah kita akan berjumpa kelak, jika kita bisa terus beristiqomah”, aku memeluknya, meletakkan kepalanya dalam dada.

“Sayang, jaga anak kita, jadikan ia menjadi seorang muslimah yang shalihah, ajari dan didik agar mengenal agama. Dan tetap sabarlah sampai kita berkumpul kelak”, aku menahan tumpahnya air mata, bibirku gemetar, “berjanjilah engkau kan terus sabar hingga kita berkumpul kembali”, aku merasakan anggukan pelan dari dirinya.

Cukup lama aku memeluk istriku. Entahlah, mungkin ini memang benar pelukan terakhirku.

“Novi pintar, jagain mama-mu ya”, aku mengalihkan perhatian kepada anakku disamping, dia ikut aku peluk juga bersama ibunya, aku berkata sembari tersenyum, gadis kecilku mengangguk, entah paham entah tidak.

“Udah ya, udah jam delapan nih, nanti si Samir nungguin ayah buka pintu toko-nya kelamaan lagi, dia pasti sudah datang sekarang”, aku perlahan-lahan melepas pelukanku. Jarak dari rumah ke toko sekitar dua puluh menit, dan hanya aku yang memegang kunci toko.

“Ayah berangkat dulu ya”, aku mengambil helm, dan keluar sejenak tuk memanaskan motor.

“Mas, hati-hati ya”, istriku berpesan

“Insya Allah”, aku hampiri lagi istriku, mengecup pipi kiri-kanannya. Aku beralih ke anakku, mengangkat dan menggendongnya, serta menciuminya.

“Ayah berangkat ya, Assalamualikum”, kataku seraya menjalankan motor.

“Wa’alikumsalam”, lambaian tangan mereka mengiringi kepergianku.

---

Aku berkendara seperti biasa, kecepatan tertinggiku hanya mencapai tujuh puluh kilometer perjam, tidak perlu tergesa-gesa, kalau memang takut terlambat, maka seharusnya mereka berangkat lebih awal, begitu pikirku ketika melihat banyaknya pengendara motor yang memacu kendaraan mereka serasa sedang berpacu dengan waktu.

Di sebuah jalan yang relatif tanpa hambatan, sebuah motor dengan kecepatan tinggi memotongku terlalu dekat, roda belakangnya menyentuh roda depanku, aku oleng, dia pun oleng, namun ia dengan cepat berhasil mengendalikan kendaraannya, sedang roda depanku yang tersenggol olehnya menyebabkan motorku berayun tak terkendali.

Aku terjatuh, tabrakan beruntun mengawali hari, aku terpental beberapa meter, terasa sebuah motor melindas diriku. "Astagfirullah", teriakku. Kejadiannya begitu cepat. Tanpa kusadari, aku sudah berbaring sepuluh meter dari motorku, aneh, aku tidak bisa menggerakkan apapun juga. Ahh…, sakit, terasa sakit sekali, “Ashadu alla ila ha illalah wa asyhadu ana muhammadar rasulullah”, begitu ucapku ketika nafasku sudah tidak bisa lagi dapat kuhembuskan.


---000---

Jakarta, 15 Juli 008
Syamsul Arifin

Peringatan: mimpi bertemu Nabi dalam cerita ini merupakan 100% kisah fiksi, tidak ada unsur kebenarannya sedikitpun (hanya daya imaginasi penulis belaka), sedang penggambaran-penggambaran Rasulullah dan para sahabatnya mengutip referensi yang tertulis sebagai berikut.

Referensi: Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wan-Nihayah, Masa Khulafa'ur Rasyidin; Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi, Sirah Nabawiyah; Ibnu Qayyim Al Jauzi, Tamasya ke Surga; Software HaditsWeb 3.0

Catatan kaki:
(1) Hadits riwayat Turmudzi dalam asy-syamail, Baihaqi dalam al-dala-il. Isnadnya dhaif
(2) Kitab al-adab al mufrad karya al-Bukhari bab idza at-tafat at-tafat jami’an
(3) Kitab al Manaqib karya al-Bukhari dalam bab sifat-sifat Nabi saw; kitab al-Fadha-il karya Muslim
(4) Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini. (HR. Bukhari)
(5) Thabaqat Ibnu Sa’ad
(6) Idem
(7) Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqataul Kubra; Ibnu Jarir, Thariq ar-Rusul wal Muluk
(8) Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqataul Kubra; Tarikh ath-Thabari

7 comments:

  1. Subhanallah
    :mewe: :mewe:
    aku rindu sekali dgn Rasulullah .. :mewe:

    ReplyDelete
  2. setelah baca cerpen ini, air mata langsung saja menetes...
    Cerpennya menyentuh banget...

    ReplyDelete
  3. Hmm,
    pertama datar, sih, bisa dieksplor lagi... lho :)
    kedua, oke juga bikin cerpen dengan banyak referensi (sip, apalagi ini pengambaran rasulullah dan sahabat yang ga boleh sembarangan)
    ketiga, hmm, apa ya, keren sih, tapi ada yang kurang, apa ya? :D
    keempat, cukup kaget pakai nama novi khansa :D, dasar , anak My Q.. seneng banget pakai nama my Qers :P
    kelima, huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, ipin jahat :((, jadi ingat bapakku... tapi, keren deh... :D (moga beliau juga di surga-Nya, aamin :) )
    keenam, coklaaaaat :D, halah

    ReplyDelete
  4. T_T spechless...subhanallah...

    ReplyDelete
  5. nice story,,,

    Tapi,,,tetep yah seneng banget kayaknya pake nama myqers di cerpennya.Pak ipin,,,pak ipin,,,^_^ peace

    ReplyDelete
  6. Subhanallah..

    ampir nangis ;'-( inget ayah juga..

    ReplyDelete