26 March 2009

Bertanyalah

Pepatah mengatakan bahwa “Pertanyaan adalah setengah dari ilmu”.

 

DR Yusuf Qardhawi di halaman 48 buku “Mengapa Fatwa Ulama Digugat?” menjelaskan mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan dari seseorang yang meminta fatwa, salah satu diantaranya yaitu bertanya mengenai hal-hal yang ada manfaatnya.

 

Pepatah di atas menerangkan bahwa ada keharusan dalam memilih pertanyaan, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan, haruslah berupa pertanyaan yang mengandung manfaat. Mengenai masalah yang kita hadapi atau dihadapi orang lain, mengenai kedudukan hukum suatu persoalan, dan bukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan menimbulkan keruwetan masalah (aghalit al-masail)

 

Abdullah bin Hudzaifah pernah membuat Rasulullah SAW marah karena mengajukan pertanyaan mengenai siapa ayahnya. Ini adalah salah satu contoh pertanyaan yang tidak baik, karena jika yang selama ini diketahui bukan ayahnya, tentu hal itu akan membuat aib bagi ibunya dan akan memalukan dirinya saja.

 

Khalifah Rasulullah, Umar bin Khattab RA, bahkan pernah menghukum orang yang bertanya tentang segala hal tentang ayat-ayat mutasyabihat, yang tidak ada hubungannya dengan hukum amali.

 

Imam Malik ketika ditanya tentang ‘istiwa’ (bersemayamnya Allah di arsy), beliau marah dan berkata, “mengenai istiwa itu ma’lum (sudah diketahui) dan tentang bagaimana (cara istiwa) mahjul (tidak diketahui), sedang mengimaninya adalah wajib, dan mempertanyakan hal tersebut adalah bid’ah.

 

Semua itu adalah contoh-contoh pertanyaan yang menimbulkan keruwetan, bukan pertanyaan yang bisa memberikan banyak manfaat.

 

Di sebuah kitab tafsir, dijelaskan bahwa ada sekelompok kaum yang bertanya kepada Nabi, “bagaimana keadaan bulan sabit yang tampak tipis bagaikan garis, kemudian berlanjut menjadi purnama, lalu menyusut hingga menjadi seperti semula?”

 

Allah SWT memberikan jawabanNya melalui surat Al-Baqarah ayat 189. Di ayat yang berbicara mengenai ibadah haji tersebut, jawaban yang diberikan dibelokkan dari inti pertanyaan mereka, sehingga mereka mendapatkan manfaat mengenai penggunaan bulan dalam urusan agama dan kehidupan.

 

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-Baqarah: 189)

 

Al-Quran juga memberikan kita contoh-contoh pertanyaan-pertanyaan yang bagus dan bermanfaat. Sebagaimana tertulis berikut,

 

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 215)

 

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir, (QS. Al-Baqarah: 219)

 

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

 

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya". Al-Maaidah: 4)

 

Kaum muslimin pada masa kejayaan Islam senantiasa bertanya mengenai perkara yang bermanfaat bagi mereka dalam urusan agama, kehidupan dan masa akhirat.

 

Bila ada yang menyimpang jauh dari jangkauannya, para ulama menjawab pada kebenaran yang lebih baik lagi, sehingga paham bahwa Islam menginginkan jawaban-jawaban yang benar-benar bermutu, serta memalingkan dari hal-hal yang sia-sia, serta berupa menyibukkan diri dan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, baik dalam perkataan, amal, maupun pemikiran.

 

Karena itu, mungkin kita perlu bertanya dahulu sebelum mengeluarkan pertanyaan, apakah pertanyaan yang akan saya lontarkan ini bisa menambah keimanan saya? Apakah pertanyaan ini akan membuat saya lebih bersemangat dalam beribadah..?

 

 

 

---000---

 

Samarinda, 26 Maret 2009

Syamsul Arifin

 

Referensi: halaman 48, buku “Mengapa Fatwa Ulama Digugat? Panduan Lengkap Mengeluarkan Fatwa” oleh DR Yusuf Qardhawi

2 comments:

  1. Jazakallah khaer sharingnya Syamsul

    ReplyDelete
  2. Kadang memang pertanyaan itulah jawabannya.

    ReplyDelete