26 December 2008

Hijrah Rasulullah saw (bagian 4-terakhir)

Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa setelah Abu Bakar ra melihat kaum Muslim sudah banyak yang berangkat hijrah ke Madinah, ia datang kepada Rasulullah sw meminta ijin untuk berhijrah. Tetapi dijawab oleh Rasulullah saw, “Jangan tergesa-gesa, aku ingin memperoleh ijin dulu dari Allah.“

 

Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau juga menginginkannya?“

 

Jawab Nabi saw, “Ya.“

 

Kemudian Abu Bakar ra menangguhkan keberangkatannya untuk menemani Rasulullah saw. Ia lalu membeli dua ekor unta dan dipeliharanya selama empat bulan.

 

Selama masa tersebut kaum Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah saw telah memiliki pendukung dan sahabat dari luar Mekkah. Mereka khawatir jangan-jangan Rasulullah saw keluar dari Mekkah kemudian menghimpun kekuatan di sana dan menyerang mereka.

 

Maka diadakanlah pertemuan di Darun-Nadwah (rumah Qushayyi bin Kilab, tempat kaum Quraisy memutuskan segala perkara) untuk membahas apa yang harus dilakukan terhadap Rasulullah saw. Akhirnya diperoleh kata sepakat untuk mengambil seorang pemuda yang kuat dan perkasa dari setiap kabilah Quraisy. Kepada masing-masing pemuda itu diberikan sebilah pedang yang ampuh kemudian secara bersama-sama mereka serentak membunuhnya, agar Bani Manaf tidak berani melancarkan serangan terhadap semua orang Quraisy. Setelah ditentukan hari pelaksanaannya. Jibril as datang kepada Rasulullah saw memerintahkan berhijrah dan melarangnya tidur di tempat tidurnya pada malam itu.“

 

Dalam riwayat Bukhari, Aisyah ra mengatakan: “Pada suatu hari kami duduk di rumah Abu Bakar ra, tiba-tiba ada seseorang yang berkata kepada Abu Bakar, “Rasulullah saw datang padahal beliau tidak biasa datang kemari pada saat-saat seperti ini. “Kemudian Abu Bakar berkata: “Demi bapak dan ibuku yang menjadi tebusan engkau, Demi Allah, Rasulullah saw datang pada saat seperti ini, tentu ada suatu kejadian penting.“ Aisya ra berkata: “Kemudian Rasulullah saw datang dan meminta ijin untuk masuk. Setelah dipesilahkan oleh Abu Bakar, Rasulullah saw pun masuk ke rumah, lalu berkata kepada Abu Bakar, “Suruhlah keluargamu masuk ke rumah.“ Abu Bakar menjawab, “Ya, Rasulullah saw tidak ada siapa-siapa kecuali keluargaku.“ Rasulullah saw menjelaskan, “Allah telah mengijinkan aku berangkat berhijrah.“ Tanya Abu Bakar, “Apakah aku jadi menemani anda, ya Rasulullah?“ Jawab Nabi saw, “Ya, benar engkau menemani aku.“ Kemudian Abu Bakar berkata, “Ya, Rasulullah saw, ambillah salah satu dari dua ekor untaku.“ Jawab Rasulullah saw. “Ya, tetapi dengan harga.“

 

Lebih jauh Aisyah ra menceritakan: “Kemudian kami mempersiapkan segala keperluan secepat mungkin, dan kami buatkan bekal makanannya yang kami bungkus dalam kantung terbuat dari kulit. Lalu Asma’ binti Abu Bakar memotong ikat pinggangnya untuk mengikat mulut kantong itu, sehingga dia mendapatkan sebutan “pemilik ikat pinggang“.

 

Kemudian Rasulullah saw menemui Abi bin Abi Thalib dan memerintahkan untuk menunda keberangkatannya hingga selesai mengembalikan barang-barang titipan setiap orang di Mekkah yang merasa khawatir terhadap terhadap barang miliknya yang berharga, mereka selalu menitipkannya kepada Rasulullah saw, karena mereka mengetahui kejujuran dan kesetiaan beliau di dalam menjaga barang amanat.

 

Sementara itu Abu Bakar memerintahkan anak lelakinya Abdullah supaya menyadap berita-berita yang dibicarakan orang banyak di luar untuk di sampaikan pada sore harinya kepadanya di dalam gua. Selain Abdullah kepada bekas budaknya yang bernama Amir bin Fahirah, Abu Bakar juga memerintahkan supaya menggembalakan kambingnya di sinag hari, dan pada sore harinya supaya digiring ke gua untuk diperah air susunya di samping untuk menghapuskan jejak. Kepada Asma’, Abu Bakar menugasinya supaya membawa makanan kepadanya setiap sore.

 

Ibnu Ishaq dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin ‘Ibad bin Abdillah bin Zubair dari Asma’ binti Abi Bakar ra, ia berkata: “Ketika Rasulullah saw berangkat bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa serta semua hartanya sejumlah enam atau lima ribu dirham. Selanjutnya Asma’ menceritakan: Kemudian kakekku yang sudah buta, Abu Quhafah, datang kepada kami seraya berkata, “Demi Allah aku melihat Abu Bakar berangkat meninggalkan kamu dengan membawa seluruh hartanya. “Aku jawab, “Tidak, wahai kakek. Dia telah meninggalkan kebaikan yang banyak untuk kami.“ Lalu aku ambil beberapa batu kemudian aku letakkan di tempat di mana Abu Bakar biasa menaruh uanngya, lalu aku tutupi dengan kain. Kemudian aku pegang tangannya dan aku katakan kepadanya, “Letakkanlah tanganmu di atas uang ini.“  Kemudian dia meletakan tangannya di antaranya seraya berkata, “Tidak mengapa, jika dia telah meninggalkan untukmu. Dia telah berbuat baik, dan ini cukup untukmu.“ Asma’ berkata, “Demi Allah sebenarnya dia tidak meninggalkan sesuatu untuk kami, tetapi dengan cara itu aku hanya ingin menyuruh kakek diam.

 

Pada masa hijrah Nabi saw orang-orang musyrik telah menunggu di pintu Rasulullah saaw. Mereka mengintai hendak membunuhnya. Tetapi Rasulullah saw lewat di hadapan mereka dengan selamat, karena Allah telah mendatangkan rasa kantuk pada mereka. Sementara itu, Ali bin Abi Thalib dengan tenang tidur di atas tempat tidur Rasulullah saw, setelah mendapatkan jaminan dari beliau bahwa mereka tidak akan berbuat kejahatan terhadapnya.

 

Maka berangkatlah Rasulullah saw bersama Abu Bakar menuju gua Tsur. Peristiwa ini menurut riwayat yang paling kuat terjadi pada tanggal 2 Rabi’ul awwal bertepatan dengan 20 September 622 M, tiga belas tahun setelah bi’tsah. Kemudian Abu Bakar memasuki gua terlebih dahulu untuk melihat barangkali di dalamnya ada binatang buas atau ular. Di gua inilah keduanya menginap selama tiga hari. Setiap malam Abdullah bin Abu Bakar menginap bersama mereka, kemudian turun ke Mekkah pada waktu Shubuh. Sementara Amir bin Fahirah datang ke gua dengan membawa kambing-kambingnya untuk menghapuskan jejak Abdullah.

 

Dalam pada itu, kaum musyrik setelah mengetahui keberangkatan Nabi saw mencari Rasulullah saw dengan mengawasi semua jalan ke arah Madinah, dan memeriksa setiap persembunyian, bahkan sampai ke gua Tsur. Saat itu Rasulullah saw dan Abu Bakar mendengar langkah-langkah kaki kaum musyrik di sekitar gua, sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan berbisik kepada Rasulullah saw, “Seandainya di antara mereka ada yang melihat ke arah kakinya, niscaya mereka akan melihat kami.“ Tetapi dijawab oleh Nabi saw, “Wahai Abu Bakar, jangan kamu kira kita hanya berdua saya. Sesungguhnya Allah berserta kita.“

 

Allah menutup mata kaum musyrik sehingga tak seorangpun melihat ke arah gua itu, dan tak serorangpun di antara mereka yang berpikir tentang apa yang ada di dalamnya.

 

Setelah tidak ada lagi yang mencari, dan setelah datang Abdullah bin Arqath seorang pemandu jalan yang dibayar untuk menunjukkan jalan rahasia ke Madinah, berangkatlah keduanya menyusuri jalan pantai dengan dipandu oleh Abdullah bin Arqath itu.

 

Pada waktu itu kaum Quraisy mengumumkan tawaaran, bahwa siapa saja yang dapat menangkap Muhammad saw dan abu Bakar akan diberi hadiah sebesar harga diyat (tebusan) masing-masing dari keduanya.

 

Pada suatu hari, ketika sejumlah orang dari bani Mudlij sedang mengadakan pertemuan, di antara mereka terdapat Suraqah bin Ja’tsam, tiba-tiba datang kepada mereka seorang laki-laki sambil berkata, “Saya baru saja melihat beberapa bayangan hitam di pantai. Saya yakin mereka adalah Muhammad dan para sahabatnya.“ Suraqah pun mafhum bahwa mereka adalah Muhammad saw, tetapi dengan pura-pura berkata, “Ia berhenti sejenak, kemudian menunggang dan memacu kudanya untuk mengejar rombongan itu, hingga ketika telah sampai dekat Rasulullah saw, tiba-tiba kudanya tersungkur, dan dia pun jatuh terpelanting. Kemudian dia bangun dan mengejar kembali sampai mendengar bacaan Nabi saw. Berkali-kali Abu Bakar menoleh ke belakang, sementara Rasulullah saw berjalan terus dengan tenang. Tetapi tiba-tiba Suraqah terhempas lagi dari punggung kudanya dan jatuh terpelanting. Ia bangun lagi dengan tubuh berlumuran tanah, kemudian berteriak memanggil-manggil minta diselamatkan.

 

Tatkala Rasulullah saw dan Abu Bakar menghampirinya, ia meminta ma’af dan mohon supaya Nabi saw berdoa memohonkan ampunan untuknya, dan kepada Nabi saw ia menawarkan bekal perjalanan. Oleh Nabi saw dijawab, “Kami tidak membutuhkan itu! Yang kuminta supaya engkau tidak menyebarkan berita tentang kami.“ Suraqah menyahut, “baiklah.“

           

Maka pulanglah Suraqah dan setiap kali bertemu dengan orang-orang yang mencari-cari Rasulullah saw dia selalu menyarankan supaya kembali saja. Demikianlah kisah Suraqah. Di pagi hari ia berjuang dengan giat ingin membunuh Nabi saw, tetapi di sore hari berbalik menjadi pelindungnya.

 

 

Tiba di Quba’

 

Sesampainya di Quba’ Rasulullah saw disambut dengan gembira oleh para penduduknya, dan tinggal di rumah Kaltsum bin Hidam selama beberapa hari. Di sinilah Ali bin Abi Thalib menyusul Rasulullah saw setelah mengembalikan barang-barang titipan kepada para pemiliknya. Kemudian Rasulullah saw membangun mesjid Quba’, mesjid yang disebut Allah sebagai “mesjd yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama.“

 

Setelah itu Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Menurut al-Mas’udi Rasulullah saw memasuki Madinah tepat pada malam hari tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Di sini Rasulullah saw disambut dengan meriah dan dijemput oleh orang-orang Anshar. Setiap orang berebut memegang tali untanya, karena mengharapkan Rasulullah saw sudi tinggal di rumahnya, sehingga Rasulullah saw berpesan kepada mereka, “Biarkan saja tali unta itu karena ia berjalan menurut perintah.“ Unta pun terus berjalan  memasuki lorong-lorong Madinah hingga sampai pada sebidang tanah tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim dari bani Najjar di depan rumah Abu Ayyub al-Ansary. Rasulullah saw bersabda: “Di sinilah tempatnya insya Allah.“ Lalu Abu Ayyub segera membawa kendaraan itu ke rumahnya, dan menyambut Nabi saw dengan penuh bahagia. Kedatangan nabi saw ini juga disambut dengan gembira oleh gadis-gadis kecil bani Najjar seraya bersenandung:

 

“Kami gadis-gadis dari bani Najjar, Kami harap Muhammad menjadi tetangga kami“

 

Mendengar senandung ini Rasulullah saw bertanya kepad mereka,“ Apakah kalian mencintaiku?“ Jawab mereka, “Ya.“ Kemudian Nabi saw bersabda: “Allah mengetahui bahwa hatiku mencintai kalian.“

 

 

Di Rumah Abu Ayyub

 

Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ibnu Ishaq dan Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari beberapa sanad dengan lafadzh yang hampir bersamaan, bahwa Abu Ayyub ra berkata, “Ketika Rasulullah saw tinggal di rumahku, beliau menempati bagian bawah rumah, sementara aku dan Ummu Ayyub di bagian atas. Kemudian aku katakan kepadanya, “Wahai Nabi Allah, aku tidak suka dan merasa berat tinggal di atas engkau, sementara engkau berada di bawahku. “ Tetapi Nabi saw menjawab, “Wahai Abu Ayyub, biarkan kami tinggal dibawah, agar orang yang bersama kami dan orang yang ingin berkunjung kepada kami tidak perlu susah payah.“

 

Selanjutnya Abu Ayyub menceritakan: Demikianlah Rasulullah saw tinggal di bagian bawah sementara kami tinggal di bagian atas. Pada suatu hari, gentong kami yang berisi air pecah, maka segeralah aku dan Ummu Ayyub membersihkan air itu dengan selimut kami yang satu-satunya itu, agar air tidak menetes ke bawah yang dapat mengganggu beliau. Setelah itu aku turun kepadanya meminta agar beliau sudi pindah ke atas, sehingga beliau bersedia pindah ke atas.

 

Pada kesempatan lain Abu Ayyub menceritakan: Kami biasa membuatkan makanan malam untuk Nabi saw. Setelah siap makanan itu, kami kirimkan kepada beliau. Jika sisa makanan itu dikembalikan kepada kami, maka aku dan ummu Ayyub berebut pada bekas tangan beliau, dan kami makan bersama sisa makanan itu untuk mendapatkan berkat beliau. Pada suatu malam kami mengantarkan makanan malam yang kami campuri dengan bawang merah dan bawang putih kepada beliau, tetapi ketika makanan itu dikembalikan oleh Rasulullah saw kepada kami, aku tidak melihat adanya bekas tangan yang menyentuhnya. Kemudian dengan rasa cemas aku datang menanyakan, “Wahai Rasulullah saw , engkau kembalikan makanan malammu, tetapi aku tidak melihat adanya bekas tanganmu. Padahal, setiap kali engkau mengembalikan makanan, aku dan ummu Ayyub selalu berebut pada bekas tanganmu, karena ingin mendapatkan berkat.“ Nabi saw menjawab, “Aku temui pada makananmu itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat kepada Allah. Tetapi untuk kalian makan sajalah.“ Abu Ayyub berkata: Lalu kami memakannya. Setelah itu kami tidak pernah lagi menaruh bawang merah atau bawang putih pada makanan beliau.

 

 

Beberapa Ibrah

 

Pada pembahasan terdahulu telah kami jeaskan makna hijrah dalam Islam. Dalam penjelasan tersebut kami kemukakan bahwa Allah swt menjadikan kesucian agama dan aqidah di atas segala sesuatu. Tidak ada nilai dan arti tanah air, bangsa, harta dan kehormatan apabila aqidah dan syiar-syiar Islam terancam kepunahan dan kehancuran. Karenanya Allah mewajibkan para hambah-Nya untuk mengorbankan segala sesuatu. Jika diperlukan demi mempertahankan aqidah dan Islam.

 

Sudah menjadi Sunnahtullah di alam semesta, bahwa kekuatan moral yang tercermin pada aqidah yang benar dan agama yang lurus, merupakan pelindung bagi peradaban dan kekuatan material. Jika suatu umat memiliki akhlak yang luhur, dan berpegang teguh dengan agamanya yang benar, niscaya kekuatan materialnya yang tercermin pada apa yang telah kami sebutkan tadi tidak lama lagi pasti akan mengalami kehancuran. Sejarah adalah bukti terbaik bagi apa yang kami tegaskan ini.

 

Karena itu, Allah mensyariatkan prnsip berkorban dengan harta dan tanah air demi mempertahankan aqidah dan agama manakala diperlukan. Dengan pengorbanan ini sebenarnya kaum Muslimin telah memelihara harta, negara dan kehidupan, kendatipun nampak pertama kali mereka kehilangan semua itu.

 

Bukti yang terbaik bagi kebenaran pernyataan ini ialah hijrah Rasulullah saw dari Mekkah ke Madinah. Secara lahiriyah hijrah ini mungkin nampak sebagai suatu kerugian bagi Rasulullah saw, karena harus kehilangan negerinya. Tetapi pada hakekatnya merupakan upaya untuk melindungi dan memeliharanya. Sebab upaya memelihara sesuatu itu boleh jadi berupa tindakan meninggalkan dan menjauhinya selama masa tertentu. Beberapa tahun setelah hijrahnya ini berkat agama Islam yang telah diterapkan negeri yang hilang (Mekkah) dapat direbut kembali dengan penuh wibawa dan kekuatan yagn tak dapat digoyahkan oleh orang-orang yang pernah mengejar-ngejarnya.

 

Kembali kepada pelajaran yang terkandung dalam kisah hijrah Rasulullah saw. Dari kisah hijrah ini terdapat beberapa hukum yang sangat penting bagi setiap Muslim:

 

 

Pertama:

Hal yang paling menonjol dalam kisah hijrah Rasulullah saw ini ialah pesan beliau kepada Abu Bakar supaya menunda keberangkatannya untuk menemaninya dalam perjalanan hijrah.

 

Dari peristiwa ini para ulama menyimpulkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling dicintai Rasulullah saw, paling dekat kepadanya, dan paling berhak menjadi khalifah sesudahnya. Kesimpulan ini dikuatkan oleh beberapa peristiwa lainnya, seperti perintah Rasulullah saw kepadanya untuk menggantikan beliau menjadi immam shalat ketika beliau sakit. Juga dikuatkan oleh sabda beliau dalam hadits shahih:

 

“Sekiranya aku mengambil seorang kekasih (khalil), niscaya Abu Bakarlah orangnya.“

 

Kepribadian dan keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada Abu Bakar memang layak untuk mendapatkan derajat dan tingkatan tersebut. Ia adalah contoh seorang sahabat ynag jujur dan setia, bahkan siap mengorbankan jiwa dan segala yng dimilikinya demi membela Rasulullah saw. Tidakkah kita lihat bagaimana Abu Bakar memasuki gua Tsur terlebih dahulu, demi menyelamatkan Rasulullah saw dari kemungkinan gangguan binatang buas dan ular. Kita saksikan pula bagaimana Abu Bakar menggerakan harta, kedua anak dan seorang penggembala kambingnya untuk membantu Rasulullah saw dalam perjalanan panjang dan berat ini.

 

Demi Allah kepribadian seperti inilah yang haru dimiliki oleh setiap Muslim yang beriman kepada Allah dn Rasul-Nya . Karena itu, Rasulullah saw bersabda:

 

“Tidaklah beriman salah seroang di antaramu sehingga aku lebih dicintai daripada anaknya, orang tuanya dan semua orang.“

 

 

Kedua:

Mungkin akan terlintas dalam benak seorang Mukmin untuk membandingkan antara hijrah Umar bin Khattab ra dan hijrah Nabi saw, lalu bertanya: “Mengapa Umar ra berhijrah secara terang-terangan seraya menantang kaum musyrik tanpa rasa takut sedikitpun, sementara Rasululalh saw berhijrah secara sembunyi-sembunyi? Apakah Umar ra lebih berani ketimbang Nabi saw?“

 

Jawabnya bahwa Umar ra ataupun orang Muslim lainnya tidaklah sama dengan Rasulullah saw. Semua tindakkan dianggap sebagai tindakan pirbadi, tidak menjadi hujjah syariat. Ia boleh memilih salah satu dari beberapa cara, sarana, dan gaya sesuai dengan kapasitas keberanian dan keimanan kepada Allah.

 

Akan halnya Rasullah saw, beliau  adalah orang yang bertugas menjelaskan syariat, yakni bahwa semua tindakannya berkaitan dengan agama merupakan syariat bagi kita. Itu sebabnya maka Sunnah Nabi saw yang berupa perkataan, perbuatan, sifat dan taqrir (penetapan)-nya, merupakan sumber syariat yang kedua. Seandainya Rasulullah saw melakukan seperti yang dilakukan oleh Umar ra niscaya orang-orang akan mengira bahwa cara dan tindakan  seperti itu adalah wajib, yakni tidak boleh mengambil sikap hati-hati dan bersembunyi ketika dalam keadan bahaya. Padahal Allah menegaskan syariatnya di dunia ini berdasarkan tuntutan sebab dan akibat. Bahkan segala sesuatu ini pada hakekatnya terjadi dengan sebab dan kehendak Allah.

 

Oleh karena itu Rasulullah saw menggunakan semua sebab dan sarana yang secara rasional tepat dan sesuai dengan pekerjaan tersebut, sampai tidak ada sarana yang bisa dimanfaatkan kecuali telah digunakan oleh Rasulullah saw. Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib supaya tidur di tempat tidurnya dengan menggunakan selimutnya. Juga membayar seorang musyrik setelah dapat dipastikan kejujurannya, sebagai penunjuk jalan rahasia, bersembunyi di gua selama tiga hari, dan persiapan-persiapan lainnya yang terpikirkan oleh akal manusia. Kesemuanya ini untuk menjelaskan  bahwa keimanan kepada Allah tidak melarang pemakaian dan pemanfaatan sebab-sebab yang memang dijadikan Allah sebagai sebab.

 

Rasulullah saw melakukan itu bukan karena takut akan tertangkap oleh kaum musyrik di tengah perjalanan. Buktinya, setelah Rasulullah saw mengerahkan segala upaya, kemudian kaum musyrik mencarinya sampai ke tempat persembunyiannya di gua Tsur, hingga apabila melihat ke bawah pasti akan melihatnya, sehingga menimbulkan rasa takut di hati Abu Bakar ra., tetapi dengan tenang Rasulullah saw menjawab, “Wahai Abu Bakar, janganlah kmu kira bahwa kita hanya berdua saja. Sesungguhnya Allah beserta kita. “Seandainya Rasulullah saw hanya mengandalkan kehati-hatian (faktor amniyah) saja pasti sudah timbul rasa takut di hati beliau pada saat itu.

 

Tetapi karena kehati-hatian itu merupakan tugas pensyariatan (wazhifah tasyriyat) yang harus dilaksanakan, maka setelah melaksanakan tugas tersebut hatinya kembali terikat kepada Allah dan bergantung kepada pelindung-Nya. Hal ini supaya kaum Muslim mengetahui bahwa dalam segala urusan mereka tidak boleh bergantung kecuali kepada Allah, kendatipun tetap   diperintahkan untuk melakukan usaha dan mencari kausal (sebab) yang diciptakan Allah apda alam nyata ini.

 

Di antara dalil nyata bagi apa yang kami katakan ini ialah sikap Nabi saaw ketika dikejar oleh Suraqah yang ingin membunuhnya dan mulai mendekatinya. Seandainya Rasulullah saw hanya mengandalkan usaha kehati-hatian yang telah dilakukannya, pasti beliau sudah merasa takut ketika melihat Suraqah. Tetapi Rasulullah saw tidak gentar sama sekali, bahkan dengan tenang melanjutkan bacaan al-Quran dan munajatnya kepada Allah. Karena beliau mengetahui bahwa Allah yang memerintahkannya berhijrah pasti akan melindunginya dari segala bentuk kejahatan manusia, sebagaimana telah dijelaskan-Nya di dalam Kitab-Nya yang terang.

 

 

Ketiga:

Tugas Ali ra menggantikan Rasulullah saw dalam mengembalikan barang-barang titipan yang dititipkan oleh para pemiliknya kepada Nabi saw merupakan bukti nyata bagi sikap yang kontradiktif yang diambil oleh kaum musyrik. Pada satu sisi mereka mendustakan dan menganggapnya sebagai tukang sihir atau penipu, tetapi pada sisi lain  mereka tidak menemukan orang yang lebih amanah dan jujur dari Nabi saw. Ini menunjukkan bahwa keingkaran dan penolakkan mereka bukan karena meragukan kejujuran Nabi saw, tetapi karena kesombongan dan keangkuhan mereka terhadap kebenaran yang dibawanya, di samping karena takut kehilangan kepemimpinan dan kesewenang-wenangan mereka.

 

 

Keempat:

Jika kita perhatikan kegiatan dan tugas yang dilakukan oleh Abdullah bin Abu Bakar yang mondar-mandir antara gua Tsur dan Mekkah mencari berita dan mengikuti perkembangan, kemudian melaporkannya kepada Nabi saw dan ayahnya, juga tugas yang dilakukan saudara perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar, dalam mempersiapkan bekal perjalanan dan mensuplai makanan, kita dapatkan suatu gambaran dan sosok kepribadian yang harus diwujudkan oleh para pemuda Islam yang berjuang di jalan Allah demi merealisasikan prinsip-prinsip Islam dan menegakkan masyarakat Islam. Kegiatan yang dilakukannya tidak hanya terbatas pada ritus-ritus peribadatan, tetapi harus mengerahkan segenap potensi dan seluruh kegiatannya untuk perjuangan Islam. Itulah ciri-ciri khas pemuda dalam kehidupan Islam dan kaum Muslim pada setiap masa.

 

Perhatikanlah orang-orang yang ada di sekitar Nabi saw pada masa dakwah dan jihadnya, sebagian besar terdiri dari para pemuda yang masih belia. Mereka tidak tanggung-tanggung dalam memobilisasi segenap potensi demi membela Islam dan menegakkan masyarakatnya.

 

 

Kelima:

Yang dialami oleh Suraqah dan kudanya ketika menghampiri Rasulullah saw merupakan mu’jizat bagi beliau. Para imam hadits menyepakai kebenaran riwayat tersebut, terutama Imam Bukhari dan Muslim. Peristiwa ini dapat dimasukkan ke dalam daftar deretan mu’jizat Nabi saw.

 

 

Keenam:

Di antara mu’jizat yang terbesar yang terjadi dalam kisah hijrah Nabi saw ialah keluarganya Rasulullah saw dari rumahya yang sudah dikepung oleh kaum musyrik yang hendak membunuhnya. Ketika Nabi saw keluar mereka semau tertidur, sehingga tak seorangpun melihatnya. Bahkan sebagai penghinaan terhadap mereka, ketika keluar dan melewati mereka Rasulullah saw menaburkan pasir ke atas kepala mereka seraya membaca firman Allah:

 

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.“ QS Yasin: 9

 

Mu’jizat ini merupakan pengumuman Ilahi kepada kaum musyrik pada setiap masa, bahwa penindasan dan penyiksaan yang dialami Rasulullah saw dan para sahabatnya di tengah perjuangannya menegakkan Islam, selama masa yang tidak terlalu lama, tidak berarti bahwa Allah membiarkan mereka. Tidak sepatutnya kaum musyrik dan segenap musuh Islam membanggakan hal itu, karena sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat, dan sarana-sarana kemenangan pun kian lama kian mendekati kenyataan.

 

 

Ketujuh:

Sambutan masyarakat Madinah kepada Rasulullah memberikan gambaran kepada kita betapa besar kecintaan yang telah merasuki hari kaum Anshar. Setiap hari mereka keluar di bawah terik matahari ke pintu gerbang kota Madinah menantikan kedatangan Rasulullah sw hingga apabila matahari telah terbenam, mereka kembali untuk menantikannya esok hari. Ketika Rasulullah saw muncul, tumpahlah segala muatan rasa gembira, dan dengan serempak mereka mengumandangkan bait-bait qashidah karena kegembiraan melihat kedatangan Rasulullah saw. Perasaan cinta ini oleh Rasulullah saw dibalas dengan cinta yang sama, sehingga beliau pun memperhatikan gadis-gadis kecil Bani Najjar yang sedang berdendang menyambut kedatangannya, seraya bertanya, “Apakah kalian mencintaiku? Demi Allah, sesungguhnya hatiku mencintai kalian.“

 

Semua ini menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah saw tidak semata-mata mengikutinya. Bahkan mencintai Rasulullah saw itu merupakan asas dan dorongan untuk mengikutinya. Jika tidak ada cinta yang bergelora di dalam hati, niscaya tidak akan ada dorongan untuk mengikutinya.

 

Karena itu, sesatlah orang yang beranggapan bahwa mencintai Rasulullah saw tidak memiliki arti lain kecuali dengan mengikuti dan meneladaninya dalam beramal. Mereka tidak menyadari bahwa seseorang tidak mungkin mau meneladani kalau tidak ada dorongan yang mendorongnya ke arah itu. Dan tidak ada dorongan yang mendorong untuk mengikuti kecuali rasa cinta yang bergelora di hati yang membangkitkan semangat dan perasaan. Oleh sebab itu Rasululalh saw menjadikan bergeloranya hati dalam mencintai dirinya sebagai ukuran iman kepada Allah swt, dimana kecintaan ini mengalahkan rasa cinta kepada anak, orang tua dan semua manusia. Ini menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah saw sejenis dengan cinta kepada anak dan orang tua, yakni masing-masing dari keduanya bersumber dari perasaan dan hati. Jika tidak  demikian, maka tidak mungkin dapat dilakukan perbandingan antara keduanya.

 

 

Kedelapan:

Gambaran yang kita lihat pada persinggahan Rasulullah saw di rumah Abu Ayyub al-Anshari menunjukkan betapa besar cinta para sahabat kepada Rasulullah saw.

           

Hal  yang perlu kita perhatikan ialah tabarruk-nya Abu Ayyub dan istrinya dengan bekas sentuhan jari-jari Rasulullah saw, pada hidangan makanan, ketika sisa makanan itu dikembalikan oleh Rasulullah saw kepada keduanya. Dengan demikian tabarruk (mengharapkan berkah) dari sisa-sisa Nabi saw adalah perkara yang disyariatkan dan dibenarkan oleh Nabi saw.

 

Bukhari dan Muslim meriwayatkan beberapa gambaran lain dari tabarruk-nya para sahaabt dengan sisa-sisa Nabi saw unttuk keperluan pengobatan dan lain sebagainya.

 

Di antara apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitabul-Libas pada bab Perihal Uban. Disebutkan bahwa Ummu Salamah, istri Nabi saw, pernah menyimpan beberapa lembar rambut Nabi saw, di dalam sebuah kotak. Jika ada salah seorang sahabat yang terserang penyakit mata atau penyakit lainnya.  Ummu Salamah mengirimkan segelas air yang sudah dicelupi dengan beberapa lembar rambut Rasulullah saw tersebut, kemudian mereka meminum air tersebut dengan mengharapkan berkahnya.

 

Muslim juga meriwayakan di dalam Kitabul-Fadhail pada bab keharuman keringat Rasulullah saw, bahwa Nabi saw pernah memasuki rumah Ummu Sulaim, kemudian tidur di tempat tidurnya pada saat Ummu Sulaim tidak ada di rumah. Kemudian Ummu Sulaim datang dan melihat Rasulullah saw meneteskan keringatnya. Lalu Ummu Sulaim menadahi keringat Nabi saw tersebut dengan sepotong kain di atas tempat tidur, kemudian memerasnya dan menyimpannya di dalam botol kecil. Tak lama kemudian Nabi saw bangun seraya bertanya: “Apa yang sedang kamu lakukan, wahai Ummu Sulaim?“ Ummu Sulaim menjawab: “Kami mengharap berkahnya untuk anak-anak kecil kami.“ Jawab Nabi , “Kamu benar.“

 

Juga apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang berebutnya para sahabat terhadap air bekas wudhu’ Nabi saw dan  tabarruk mereka dari beberapa benda ynag pernah digunakan oleh Nabi saw seperti pakaian beliau dan bejana bekas dipakai minum beliau.

 

 

 

Sumber: Sirah Nabawiyah oleh Dr. Muhammad Sa'id Ramadhani Al-Buthy

7 comments:

  1. “Aku temui pada makananmu itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat kepada Allah. Tetapi untuk kalian makan sajalah.“ Abu Ayyub berkata: Lalu kami memakannya. Setelah itu kami tidak pernah lagi menaruh bawang merah atau bawang putih pada makanan beliau.

    Maksudnya apa akh??

    ReplyDelete
  2. pin....
    Copas ya...cz mo di buat sebagai pelengkap tugas....:)

    ReplyDelete
  3. @aqse
    indah ya :)

    @erfiadi
    Rasulullah tidak suka makan bawang :)

    @yienda
    silakan ^_^

    ReplyDelete
  4. jazakallah akhi sirohnya, nambah banyak ibrohnya, copas slalu ya tulisan seperti ini buat kita semua...makasih....makasih....

    ReplyDelete
  5. IMHO,
    hijrahnya Rasul karena sudah tidak berdaya lagi menghadapi kaum Quraisy
    tapi beliau pun kembali ke negeri asal atas izin ALLOH subhanahu wata'ala (walhamdulillah :) )

    menilik pernyataan..
    genkeis saidDalam penjelasan tersebut kami kemukakan bahwa Allah swt menjadikan kesucian agama dan aqidah di atas segala sesuatu. Tidak ada nilai dan arti tanah air, bangsa, harta dan kehormatan apabila aqidah dan syiar-syiar Islam terancam kepunahan dan kehancuran. Karenanya Allah mewajibkan para hambah-Nya untuk mengorbankan segala sesuatu. Jika diperlukan demi mempertahankan aqidah dan Islam.
    <<< jadi mikir sendiri, apakah rakyat Palestina di sana masih mampu menghadapi zionis yahudi (la'natulloh)???
    hmmm...walohu a'lam
    maka dari itu, tugas kita untuk menguatkannya ^ ^

    sekiranya mereka sudah tidak mampu, kan alangkah baiknya demi mempertahankan Islam yang masih ada dalam zahir yang masih hidup. Daripada nantinya habis semua karena pembantaian zionis tersebut, maka apakah masih ada zahir yang bertuhankan ALLOH subhanahu wata'ala demi menambah pasukan ALLOH di bumi untuk kejayaan Islam? (halaah...tumben bahasanya begini)


    perkuat aqidah, bikin misi, merekrut pasukan, balik lagi ke negeri asal, bantai...



    WANTED:
    yang bersedia menjadi Himura Kenshin, batosai si pembantai yahudi (la'natulloh) !!!

    ReplyDelete