09 November 2007

[cerpen] Labuhan Hati

Akhirnya ku menemukanmu, saat raga ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu, saat hati ini ingin berlabuh

(Lagu “Akhirnya”, oleh Naff)

--- 

Hari-hariku kini kembali berputar sebagaimana biasanya. Meskipun aku tidak bisa mendapatkan Hani, tapi kini aku jauh lebih bahagia, karena ia telah berada di tangan yang jauh lebih baik. Radinal Husein, Mantan Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas Indonesia yang kini sedang mengurus keberangkatan tuk studi S2-nya ke negeri Paman Sam itu memang pantas bersanding dengannya. Bukankan seorang pecinta akan lebih bahagia jika orang yang dicintainya bahagia.

Kabar terakhir yang kudengar, Hani kini sedang mengandung tiga bulan. Mungkin sekarang sedang susah-susahnya nih, pasti sedang mual-mualnya, karena saya pernah membaca di artikel kesehatan bahwa trisemester pertama kehamilan, apalagi untuk kehamilan pertama, merupakan saat yang paling tidak nyaman bagi ibu hamil. Haaaaah, biarkan sajalah, sudah ada suaminya yang mengurusin kok. 

Kini aku kembali bergelut dengan keseharianku sebagai seorang risk management officer, pekerjaan yang menuntut peran besar otak kiriku yang sistematis, linear, dan logis. Hmmm.., mungkin itu sebabnya kali ya jadi gampang bikin puisi-puisi mellow, sebagai bentuk penyeimbang alias homeostatis perasaan kali ya… hmmm…

Kini puisi-puisiku berterbaran di mana-mana, dan dengan beberapa teman di situs komunitas myQuran, saya dan tiga orang teman lainnya telah menerbitkan sebuah buku antologi puisi cinta. 

---

Hari Senin yang cerah, begitu ku menyebutnya, karena si bos kali ini sedang dalam suasana hati yang enak, hingga sepertinya hari ini merupakan hari yang nyaman untuk sedikit bersantai dari pekerjaan yang mendera.

Lantunan lagu Jalan Juang-nya Izis menjerit dari handphoneku, menandakan ada telpon yang masuk. Radinal Husein, begitu nama yang terpampang di layarnya. “Assalamualaikum akh”, aku memulai, “waalaikum salam”, dia menyahut, “kaifa hal wa imanuk?(1)”, aku sedikit berbasa-basi, “alhamdulillah bil khoir, wa anta?(2), dia membalas, “alhamdulillah aydon(3)”, jawabku, “ada apa nih?’, aku menambahkan, “ada sesuatu yang ingin saya bicarakan. Tapi sepertinya kita tidak bisa bicara ditelpon nih, harus ketemuan”, suara berubah serius.

Hmmm…, hatiku berputar tak karuan, mencoba menerka-nerka dalam diri, kira-kira kenapa ya, kok sampe sedemikian pentingnya sih sampai tidak bisa disampaikan lewat telepon, padahal kan sama aja sudah bicara. “emang tentang apa sih?”, aku mencoba menyelidik, “ntar aja deh kita bicarakan klo kita sudah ketemuan. Kapan bisanya?”, dia menimpali, “hmmm, besok bisa sih. Gimana klo besok? Di Starbuck café Citos ya, dikau yang traktir”, lanjutku mencairkan suasana, “ok, besok jam 7 malam di Starbuck café Citos”, sahutnya datar, “ok insya Allah”, ucapku, “ok, sampai ketemu besok, assalamualaikum”, dia menutup pembicaraan, “wa’alaikum salam” kataku terakhir.

Hmmm.., batinku berguman, ada maksud apa ya... Apakah-apakah.., atau jangan-jangan.... Segera ku tampis pikiran itu dari benakku yang penuh ragu dan ingin tahu.

---

Hari ini aku harus keluar dari kantor dengan cepat. Aku sudah ada janji dengan Radinal Husein di Starbuck Café di Cilandak Town Square atau yang lebih terkenal dengan sebutan Citos. Aku memang tidak ingin telat jika sudah mengadakan janji, sebab dalam benakku, seorang muslim harusnya bisa menepati janji dengan baik, dan datang tepat pada waktunya merupakan salah satu bentuk penepatan janji yang baik.

Jarum jam di lenganku menunjukkan angka 6.13 ketika saya tiba di Citos, setelah shalat magrib di mushola yang terletak di basement, saya bergegas menuju tempat tujuan.Wah lumayan nih, tidak terlalu ramai, mataku memandang sekeliling. Masih bisa melakukan hobiku berselancar di dunia maya dan blogs traveling ke teman-teman FLP ku yang ada di Multiply menggunakan hotspot yang tersedia di café.

Ketika sedang asyik menikmati segelas coklat hangat dengan croissant, seorang lelaki yang sudah sangat ku kenal datang menghampiri. Disampingnya berjalan juga seorang wanita dengan jilbab putih yang rapi dengan bawahan hitam panjang.

“Assalamualaiku akh”, suara yang terdengar akrab ditelinga, menggema, ia datang padaku sembari mengembangkan senyum dan mengulurkan tangannya. Radinal Husein, saudara seperjuanganku di Rohis Fakultas dulu kini tampak lebih chubby, mungkin karena sudah ada yang mengurus kali ya.

“Wa’alaikum salam”, aku menjabat tangannya hangat, dia mengambil posisi duduk dihadapanku sementara wanita yang sedari tadi bersamanya duduk di samping kanannya, atau samping kiriku. “udah lama akh?”, dia bertanya, “ah, ngga kok, emang tadi kecepatan aja”, ku jawab seadanya, “oh ya nih kenalin adikku, Nisa, dia baru aja lulus dari LIPIA, dengan nilai mumtaz lho pin”, dia melirik kearah wanita yang duduk manis disampingnya, pipinya tampak tersemu merah, dia mengapitkan kedua tangannya ke depan, “Annisa Rahmadhani”, suara terdengar lembut, “Syamsul Arifin, tapi teman-temanku biasa memanggil ipin”, ku lakukan hal yang sama sembari sedikit mengangguk. Subhanallah, cantik dan pintar, wah-wah-wah, kriteria istri idaman sejuta ikhwan banget nih orang, batinku berguman nakal. Astagfirullah hal adzim, ku tepis pikiran itu sembari mengalihkan pandangan dari senyumannya yang renyah.

“oh ya pesan apa akh?”, saya mencoba mencairkan suasana, “Brazillian coffee dengan krim donk”, sahut Dinal, “kamu apa nis?”, dia bertanya kepada adiknya, “moccacino aja deh”, dia menjawab. “Tunggu ya, biar nanti saya yang pesankan”, aku beranjak dari meja bundar tersebut menuju tempat pemesanan.

Setelah datang membawa pesanannya, aku membagikannya, dan kembali menyeruput segelas coklat hangat keduaku. “Pin, saya mau tanya nih, kamu sekarang sedang dalam proses ta’aruf(4) dengan seseorang ngga?”, Radinal mengajukan pertanyaan yang paling tidak kuharapkan. Sedang berada di depan seorang akhwat, masak nanya pertanyaan yang sensitif gitu sih nih anak. Gleks, hampir-hampir saja aku tersedak. Tapi bukan Syamsul Arifin namanya klo tidak punya rasa percaya diri yang tinggi.

“Iya lah, kan sekarang saya lagi ta’aruf sama adikmu, baru juga kenal sekarang, hehehe”, jawabku sembari tertawa kecil, “yee, bukan yang itu akh, tapi ta’aruf untuk menikah”, balasnya, “hmmm’, aku berpikir lambat, “belum”, ujarku singkat dan pelan.

“Maukah engkau..”, tiba-tiba, perkataanya dipotong oleh adiknya yang memegang tangannya, “maukah engkau menikah denganku?”, lanjut adiknya. Aku bengong. Tiba-tiba kehampaan menyeruak memenuhi pikiranku.

Baru ku sadari, ternyata Radinal memang betul seseorang yang sangat hebat. Ia adalah anak laki-laki pertama dan ayahnya telah meninggal dunia. Semenjak masih kuliah dia biasa berbisnis untuk mencukupi kebutuhannya sebagai seorang mahasiswa, wuiiih, ternyata dia memang menjadi tumpuan beban keluarganya. Dan kini, peran seorang ayah, yaitu mencarikan pasangan bagi anaknya, telah beralih ke pundaknya.

“Mas Dinal dan Mba Hani telah banyak memberikan informasi tentang mas Ipin. Dan saya juga telah istikhara dengan baik. Insya Allah saya siap”, Annisa menambahkan seraya menanti-nanti perkataan yang kan keluar dari lisanku.

“Menikah bukan sesuatu yang mudah, makanya Al-Quran menyebutnya sebagai mistaqon kholidzo atau perjanjian yang kuat(5), mungkin akh Ipin butuh sedikit waktu. Silakan akh dipikirkan dulu baik-baik”, kata Radinal serasa menyelamatkanku, dia membuka tasnya dan memberikanku seberkas file.

---

Sudah beberapa hari ini aku bangun di sepertiga malam, terkadang lucu juga kalau mengenang masa itu. Pastinya tampangku akan terlihat sangat konyol sekali waktu itu.

---

Keputusanku kini bulat sudah. Waktu satu minggu yang sudah berlalu, saya rasa sudah cukup. Bismillah, ku angkat gagang telpon dan menekan nomor yang tertera pada seberkas file. “Assalamualaikum”, suara lembut seorang wanita terdengar menyapa, “wa’alaikum salam, ini saya Ipin, Syamsul Arifin. Ini benar dengan Annisa?”, saya bertanya, “ya, saya sendiri”, dia menjawab.

Ketegangan terasa menyumbat tenggorokanku. Bismillah. “Insya Allah, kapan saya bisa datang bersama orangtuaku tuk melamarmu?”, kataku lurus, “Subhanallah, semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita”, suaranya terdengar bahagia.

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqaan: 74-76)

---

Jakarta, 7 November, 2007
Syamsul Arifin

“Maafkan aku yang telah lama membiarkanmu tenggelam dalam lautan kegundahan tak bertepi…"
*Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen "Perahu Cinta di Tengah Badai"

Keterangan:
(1) Bagaimana kabarmu dan kabar imanmu?
(2) Segala puji bagi Allah, baik-baik saja, dan (kabar) kamu?
(3) Segala puji bagi Allah, saya juga (baik-baik saja)
(4) Taaruf = proses mengenal seseorang dengan tujuan untuk saling menggali lebih jauh masing-masing orang (pria-wanita) sebagai bagian dari proses menuju pernikahan.
(5) Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisaa': 21)

3 comments:

  1. hhhmmmmm.....perasaan cerpennya sama isinya dgn cerpen yang judulnya "I Love You, I Cry For You, and You Give Me Someone Better".......

    ReplyDelete
  2. :D hehehe
    Emang nih cerpen gubahan cerpen english tersebut
    Maklum lagi mentok n ngga ada ide :D hehehe

    ReplyDelete
  3. “Maafkan aku yang telah lama membiarkanmu tenggelam dalam lautan kegundahan tak bertepi…”

    buat puisi aja lagi ^-^

    ReplyDelete